
Cedric segera saja turun dan menyapu bersih jejak kecanggungannya. Dia langsung saja masuk kembali ke gedung Grup Lin dan masuk ke ruang kerjanya, pada saat ini dia melihat lurus ke arah pintu yang belum terbuka juga sedari tadi, “Pergi ke mana dia?” pikirnya.
Ketika di lobi, Lily bertemu dengan Mark. Senior semasa kuliah dia dulu, “Kau sedang di sini?”
“Aku ingin menjengukmu,” ujar Mark sambil sedikit bercanda.
“Kau ini masih sama saja seperti dulu,” Imbuh Lily seraya memukul pelan bahu Mark.
“Jadi apa yang membuatmu sampai di sini?” tanya Lily serius. .
“Ada hal bisnis, Bos meminta ku datang ke sini. Bertemu dengan tuan Lin. Perusahaan kami dengan Grup Lin akan melakukan Kerjasama,” jawab Mark.
“Jika begitu jangan sampai mebuat Direktur Lin menunggu,” ujar Lily.
Cedric mengamati dari lantai dua, “Siapa dia, mengapa terlihat begitu akrab,” pikirnya.
Lily membawa Mark bertemu dengan asisten He, “Terima kasih,” ujarnya kepada gadis itu.
Interkom telpon lily berbunyi, Cedric memanggilnya masuk ke ruanganya, begitu melihat Lily dia langsung saja berkata, “Rapihkan berkas ini , berdasarkan warna!” perintahnya.
Lily mengangguk lalu mengambil berkas itu dan mulai merapihkan berdasarkan warna, gadis itu melakukannya dengan cepat, “Ini sudah selesai,” imbuh Lily.
Cedric meletakan penanya, lalu memeriksa pekerjaan Llily seraya berkata, “Eum … sebaiknya di urutkan berdasarkan abjad saja!”
“Apa!” gumam Lily dalam hati seraya menaikan satu alisnya.
Dengan hati sedikit dongkol Lily pun mengurutkan berkas-berkas itu sesuai abjad, ketika sudah selesai Cedric menatapnya, lalu telpon di mejanya berdering. Setelah menutupnya Cedric berdiri bergegas keluar ruanggnya.
Lily segera saja mengikuti dari belakang, begitu masuk Mark langsung saja berdiri menyambut kedatangan Cedric. Melihat ada Lily juga mark melemparkan senyuman tampannya. Hati Cedric bertambah masam melihatnya.
__ADS_1
“Halo Tuan Muda Lin, aku adalah Mark dari Grup Oracle,” ujarnya sembari memberikan jabat tangannya.
Dalam pertemuan ini, Grup Lin akan melakukan Kerjasama dengan Grup Oracle pimpinan Leon Sebastian dan Mark adalah perwakilan yang dikirimkan oleh Leon. Kerjasama ini terjalin berkat bantuan dari Carl Sebastian teman baik dari Eryk Lin.
“Kau dan Lily akan pergi ke Indonesia untuk bertemu dengan Tuan Leon Sebastian,” ujar Eryk .
“Baik Pa,” jawab Cedric.
Lily dan Mark saling melempar tawa. Sementara wajah Cedric terlihat menggelap karena awan kemarahan tengah menutupi wajahnya. Ketika usai jam kerja, dan ketika sudah sampai di rumah. Cedric mengamati jika Lily pergi ke luar lagi. Cedric segera saja keluar dan juga ikut melajukan mobilnya untuk membututi kemana perginya gadis itu.
Lily melakukan janji temu dengan Mark, Cedric pun ikut turun dari mobil. Merasa jika penampilannya yang rapi sekarang ini akan menarik perhatian lalu dengan sembarang dia memanggil petugas kebersihan yang sedang menyapu jalan, agar mau bertukar pakaian dengannya.
Cedric mengeluarkan satu lembar uang untuk membayar satu setel pakaian itu, “Wuah terima kasih Tuan,” ujar petugas penyapu jalan tersebut.
Cedric melihat dompetnya dan hanya tinggal selembar uang tunai saja, selama ini segala hal kebutuhnanya sudah ada yang mengurus, mana pernah dia menyimpan uang tunai dalam jumlah banyak di dompetnya.
Mark dan Lily pergi ke taman bermain, saat ini mereka sedang mengantri untuk naik bianglala pasar malam. Mereka nampak akrab sambil memakan gulali. Sementara, Cedric sedang menghitung-hitung apakah uang tunainya itu akan cukup untuk membayar tiket bianglala ini.
Apa daya mau marah tidak memiliki kekuatan untuk marah, karena pada saat ini uang tidak berpihak kepadanya. Jadilah dia hanya bisa menunggu Mark dan Lily keluar. Setelah Bianglala berhenti dia dengan sigap berdiri, melihat Mark dan Lily berjalan dengan akrabnya dia pun mengikuti lagi. Kali ini dengan membawa gerobak sampah dorong plastik yang kebetulan ada di dekatnya.
Dia mencoba mendekat dan mencoba menguping pembiacaraan keduanya, “Apa sudah mempunyai pacar?” tanya Mark.
“Belum?” jawab lantang Lily.
Mendengar jawaban itu Cedric pun serasa ingin melompat karena terlalu senang, “Kau apakah sudah punya wanita yang kau sukai?” tanya Lily.
“Jika aku katakan, apakah kau akan percaya?” tanya Mark.
“Coba saja ,” jawab Lily.
__ADS_1
Mark tertawa, lalu dia malah berkata, “Dan, kau apakah sudah memiliki pria yang kau sukai?” tanyanya.
“Eum … entahlah aku bingung,” jawab Lily.
“Bingung?” tanya Mark.
“kami itu seperti air tawar dan air asin, saling berdampingan namun tidak akan pernah bisa menyatu,” jawab sendu Lily.
“Dia langit dan aku bumi, dia air dan aku api, jika kami Bersatu maka air akan selalu memadamkan api … ironis bukan?” imbuh Lily kepada Mark.
Mark tiba-tiba menyentil kening Lily, “Kau ini melihat dari sudut pandang yang seperti apa?”
“Hissh,” ujar Lily seraya mengusap keningya.
“Air tawar dan air laut tidak akan menyatu itu karena mereka bekerja saling melengkapi. Yang satu menjadi pembatas bagi ikan air tawar agar tidak menyebrang ke air laut, sementara yang satu menjadi pembatas agar ikan laut tidak menyebrang ke air tawar, karena kondiri alam mereka berbeda. Dengan begini maka keseimbangan barulah bisa terjadi,” jelas Mark dengan panjang lebar.
Lily menyimak seraya memaknai perkataan Mark, “Jadi jika cinta jangan mundur karena perbedaan,” nasihat Mark lagi.
Tiba-tiba saja Cedric merasa kagum terhadap pria yang bernama mark itu. Lily mengangguk seraya berkata, “Ya kau ada benarnya juga, dalam sebuah hubungan persamaan bukanlah hal yang terpenting, tetapi bagaimana kita melengkapi satu sama lain dengan segala perbedaan yang ada,” jawab Lily.
“Jadi apa kau ingin mengatakan siapa pria beruntung itu?” tanya Mark.
Cedric semakin menajamkan telinganya, ingin mendengar jawab Lily Tapi malah membuat gaduh, gerobak sampahnya tanpa sengaja terdorong dah dia malah terjatuh di kaki Lily dan Mark, “Tuan apa baik-baik saja?” tanya Lily seraya memapah Cedric.
“Aku baik-baik saja,” jawab Cedric
Lily menaikan alisnya merasa mengenali suara yang barui saja di dengar. Dia lalu segera membuka topi yang sedikit menutupi wajah tuan mudanya itu, “K-kau …” imbuhnya dengan terheran.
“Tuan Lin,” ujar Mark.
__ADS_1
Merasa sudah ketahuan dan sudah mendengar jelas perkataan Lily tadi dia merasa yakin jika dalam hati gadis yang sedang menatapnya itu pasti juga mencintai dirinya. Di depan Mark dia langsung saja menarik pinggul Lily dan mencium bibirnya.
“Apakah pria itu adalah aku?” tanya Cedric.