
#bab 93
Ariana terdiam mendengar pertanyaan Flavia. Dirinya selama ini sudah sekuat hati untuk tak main hati di tiap-tiap kali sedang menyamar dalam tugas. Tapi kali ini, Carl benar-benar telah membuatnya pusing.
Ariana menjawab Flavia, "Tentang cinta, aku telah lama menghapusnya dari kamus hidupku," jawab Ariana sambil memaksakan senyumanya.
Flavia memegang bahu Ariana seraya berkata, "Karena itu kau memilih pergi." tanya Flavia.
"Ya, ini pilihan terbaik bagi kami berdua," jawab Ariana.
"Jika suka kenapa kau harus menahannya?" tanya Flavia.
Ariana terdiam sesaat, lalu berkata " Lalu bagaimana dengan kau dan Tuan Lin? Bukankah sama saja, kau masih menghindarinya?" tanya Ariana.
"Aku bukan menghindar, hanya saja memiliki alasan tersendiri," jawab Flavia.
"Aku juga, sama denganmu memiliki alasan sendiri," jawab Ariana.
Flavia mengehela napas lalu bertanya, "Kapan kau akan pergi?"
"Tak berapa lama lagi, ada beberapa hal yang harus aku urus di sini lebih dulu," jawab Ariana.
"Apapun keputusanmu, aku hanya bisa mendukungmu," ujar Flavia.
Di rumah sakit, Eryk menasehati kawannya itu lagi, "Jangan lupa tujuan awal perjuanganmu, jadi pikirkan dengan matang-matang." Ujarnya sembari menepuk-nepuk bahu kawannya itu.
"Aku pergi tidak bisa menemani petualanganmu lagi, ada hal yang harus segera aku selesaikan," ujar Eryk.
Carl pun mengangguk seraya mengucapkan terima kasih kapada kawannya itu. Carl menoleh lagi pada Belinda, "Apa yang harus aku lakukan?" ujarnya dalam hati.
Pada saat ini Gery masuk lalu melaporkan, "Nona Ariana akan segera pergi meninggalkan Beijing."
Carl yang sedang berdiri tertegun memandangi pemandangan di luar jendela kamar rawat inap itu. Dia pun menoleh seraya berkata, "Akan pergi?"
"Iya akan pergi," jawab Gery lagi.
"Jika ingin pergi maka biarkan dia pergi," ujar Carl dengan rasa getir di hati.
Gery pun terdiam sesaat, jika saja tuannya itu memintanya untuk menahan wanita pujaannya itu, maka dia akan langsung menghubungi tuan muda pertama Sebastian untuk membantunya menahan Ariana.
Tapi sepertinya tuan muda kedua Sebastian ini memilih menyerah pada Nona Ariana, jadi dia lebih ikut apa mau Tuannya.
Di Mansion Mo, cedric malam ini merengek meminta tidur bersama mama dan Papanya. Falvia sedang sibuk membujuknya, "Jika kali ini menuruti Mama, maka mama janji akan membelikan apa yang kau suka," janji Flavia seraya mengangkat satu tangannya untuk bersumpah.
"Mama!" ujar Cedric dengan sedikit kesal lalu merengek lagi, "Aku ingin tidur dengan Mama dan juga Papa."
"Hissh ... mengapa sekarang jadi begitu cengeng," ujar Flavia kepada cedric.
Pada saat ini, Eryk membuka pintu kamar Cedric. Sedari tadi dia berdiri di balik pintu dan mendengarkan percakapan ibu dan anak. Lalu dengan santainya dia masuk dan, menggendong Cedric, "kita tidur di kamar Papa saja Ok. Jika kau patuh maka kita akan segera pergi menemui Lily," janji Eryk.
Meski hati senang akan bertemu dengan Lily, tapi wajah tidak bisa berbohong. Cedric meletakan kepalanya di bahu Papanya itu, dengan tampilan wajah sendu. Ketika keduanya telah keluar kamar, pada akhirnya Flavia mengejar mereka.
Eryk menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka, lalu dengan malu-malu dia berkata, "Mama akan tidur di sini," ujarnya seraya mengambil Cedric dari pelukan Eryk.
__ADS_1
Dengan tersenyum tampan, Eryk pun mengedipkan mata kepada putranya seraya berkata dalam hati, "kerja bagus."
"Ayo gosok gigimu dulu," ujar Flavia.
Di kamar ini, Eryk sudah menyediakan keperluan Flavia dan Cedric. Dari awal ketika menemukan mereka dia sudah sangat yakin jika akan datang masa-masa seperti sekarang ini. Jadi di kamar ini, dia sudah membuatkan walk in closet untuk Flavia dan Cedric, tentunya dengan seijin Tuan Mo. Hal yang sama juga dia lakukan di rumah utama Lin.
Secara definisi, walk in closet sebetulnya merupakan sebuah ruangan untuk menyimpan pakaian seseorang seperti pakaian, sepatu, dasi, ikat pinggang, perhiasan, dan lainnya. Ruangan ini juga bisa menjadi tempat untuk berpakaian dan merias wajah.
Fungsi Walk in closet jelas berbeda dengan wadrobe, jika wardrobe hanya lemari dinding yang berfungsi sebagai tempat menyimpan barang, sementara walk in closet adalah suatu ruangan untuk menyimpan pakaian dan aksesories pendukung penampilan seperti sepatu, dasi, ikat pinggang dan lainnya.
Letak ruangan yang biasa ditempatkan untuk walk in closet adalah di dekat kamar tidur atau dekat dengan kamar mandi.
Mereka bertiga pun menggosok gigi bersama, pantulan di cermin terlihat seperti pantulan sebuah keluarga kecil bahagia. Flavia sedikit terpesona ketika melihat Eryk membersihkan busa pasta gigi yang ada di hidung Cedric.
"Nah, sudah bersih," ujar Eryk seraya mencubit hidung putranya itu.
Flavia mengambil piyama Cedric, lalu memakaikannya. Pada saat ini Eryk juga sudah berganti piyama. Senyuman di wajah Flavia menghilang, berganti dengan kegugupan ketika dia melihat satu kancing piyama Eryk terbuka.
"Oh ya ampun, apa dia sengaja," ujar Flavia dalam hati seraya menyelipkan rambut panjang hitamnya itu ke balik telinganya.
Dengan gaya yang disengaja agar terlihat mempesona, Eryk naik ke atas ranjang besarnya lalu duduk bersandar dan berkata, "Sudah malam, ayo saatnya tidur."
Eryk menepuk-menepuk sisi ranjangnya, Cedric pun patuh dan langung merebahkan dirinya di tengah ranjang besar itu, "Ma ... ayo tidur," panggil Cedric.
Flavia pun mau tak mau ikut naik ke ranjang dan masuk dalam selimut, berbaring di sisi Cedric. Eryk segera merapihkan selimut untuk Flavia dan Putranya itu. Pada saat ini Eryk sedikit mengambil kesempatan. Dia mencium kening Cedric, lalu mencium kening Flavia.
"Tidur yang nyenyak ok," ujar Eryk sambil tersenyum-senyum.
Keesokannya ketika pagi hari, Carl yang tertidur di sisi ranjang terbangun dengan gerakan kecil dari tangan Belinda.
Dia langsung saja memanggil dokter-dokter yang merawat Belinda dalam kurun waktu ini, "Cepat periksa dia," ujarnya lagi.
Cark merasa lega melihat teman baiknya ini selamat dan tersadar. Belinda memandangi Carl dengan tatapan sendu. Meski koma, tapi Belinda bisa mendengar semua yang dikatakan Carl ketika dia dalam keadaan koma.
Di Mansion Mo, Eryk sudah berpakaian rapih ketika ponselnya berdering. Itu adalah panggilan dari Carl yang mengabarkan jika Belinda telah sadar.
Flavia terbangun karena bunyi dering ponsel Eryk, melihat pria itu sudah rapi di saat pagi-pagi sekali. Eryk menoleh kepada Flavia dan berkata, "Belinda sudah sadar," ujarnya.
"Ah sykurlah," ujar Flavia yang ikut merasa lega.
"Dia akan menikahi Belinnda," ujar Eryk lagi.
"Apa ... apa yang baru saja kau katakan?" tanya Flavia yang merasa salah dengar.
"Ya dia akan menikah dengan Belinda. Persiapan sedang di lakukan di rumah sakit, dalam tujuh hari ke depan mereka akan menikah," jelas Eryk lagi.
Flavia pun terduduk lemas seraya berkata, "Dia akan menikah."
Eryk menaikan satu alisnya dan berkata, "Kau kenapa, jangan bilang kau menyukai Carl dan cemburu karena dia akan menikah," ujar Eryk memperingatkan.
"Tidak, bukan itu ... hanya saja Ariana ... menurutmu akan bagaimana?" Tanya Flavia.
Eryk pun mengehela napas, tadi ketika disambungan telponnya, Carl meminta agar Mereka pergi dengan membawa Ariana juga. Karena ini adalah permintaan dari Belinda.
__ADS_1
"Tentang itu, bagaimana kita akan mengatakannya kepada Ariana?" tanya Flavia.
Eryk mengangkat kedua bahunya tanda jika tidak memiliki cara untuk hal ini. Di saat sarapan pagi, Ariana mengatakan jika akan pamit pergi hari ini meninggalkan Mansion Mo.
Eryk dan Flavia saling memandang, lalu Eryk memberi kode mata berupa kedipan. dia meminta agar Flavia menahan Ariana pergi. Dia pun dibuat sama pusingnya oleh Tuan muda sebastian itu.
Flavia pun memberanikan diri untuk menyampaikan pesan dari Carl, "Apa sudah selesai makannya?" tanya Flavia yang melihat jika Ariana hanya sedikit menyentuh makanannya.
"Ah iya, sudah," jawab Ariana.
Flavia pun berdiri lalu berkata, "Temani aku ke taman, ada hal yang ingin aku sampaikan," ujar Flavia.
Ariana pun mengikuti langkah Flavia, Cedric yang melihat wajah Mamanya begitu serius dan melihat Ariana begitu tidak bersemangat, dia pun menoleh ke papanya, "Apakah Mama dan Tante Ariana sedang bertengkar?"
"Tidak sayang, ayo habiskan makananmu. Nanti papa akan mengantarmu ke sekolah," ujar Eryk seraya mengusap puncak kepala putranya itu.
Di taman, Flavia masih belum berani menyampaikan permintaan Carl kepada Ariana. Dia memandangi wanita itu sambil berpikir bagaimana cara mengatakannya.
"Ada apa?" tanya Ariana.
"Hmm ... Carl akan menikah dan dia memintamu untuk datang," ujar Flavia.
Mendengar perkataan Flavia, hati Ariana terasa seperti teremas-remas, namun dia berusaha untuk tersenyum, "Benarkah?" tanyanya.
"Apa mau datang bersama kami?" tanya Flavia lagi.
Ariana terdiam sejenak, lalu menjawab, "Aku akan datang bersama kalian, jika dia yang memintanya seperti itu."
Sebagai wanita, tentu dia memahami dalamnya hati Ariana tentang permasalahan hati yang pelik ini. Flavia pun langsung memeluk Ariana seraya berkata, "Jika ingin menangis, maka menangislah."
Hari-hari pun berlalu, persiapan pernikahan Carl dan Belinda pun telah rampung. Hari ini Gery menjemput kedatangan Tuan dan Nyonya Sebastian.
Leon dan Khansa segera mengurus kepergiannya ke Beijing ketika mendengar kabar jika Carl akan menikah. Meski terkejut wanita yang akan dinikahi bukanlah yang dikejarnya selama ini. Namun sebagai Kakak, dia tetap mendukung keputusan adiknya itu.
Leon juga telah mendapatkan laporan lengkap dari Gery, karena itu juga tidak melarang keputusan Carl. Esok adalah hari pernikahan Carl. Gaun pengantin dan catering dan juga dekor sederhana telah dirampungkan oleh Gery. Acara akan diadakan di aula rumah sakit.
Hanya sebuah acara pernikahan sederhana yang di hadiri orang terdekat saja. Hari pernikahan pun tiba. Carl sudah nampak tampan dengan setelan jasnya. Khansa membantu Belinda merias diri.
"Cantik sekali," puji Khansa.
"Aku pasti akan bahagia jika memiliki kakak ipar sepertimu," ujar Belinda.
"Hei kau ini, kita sebentar lagi akan menjadi ipar lho. Mengapa malah bicara seperti itu," ujar Khansa sambil menepuk tangan Belinda.
"Apa ku benar-benar tidak akan memberitahu keluargamu jika kau akan menikah?" tanya Khansa.
Belinda menggelengkan kepalanya, sambil memasang wajah sendu dan mata berkaca-kaca, khansa pun langsung berkata lagi, "Kami menghormati keputusanmu."
Khansa tidak bertanya lagi, meski merasa aneh, Belidna terlihat seperti akan menikah tapi sikapnya terlihat seperti bukan dia yang akan menikah.
✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅
Promo Novel Teman
__ADS_1