BLUE MOON

BLUE MOON
MENYEMBUR


__ADS_3

#Bab 63


Carl sudah berada di atas langit, hatinya sedikit merasa sentimentil karena melihat dia semakin menjauhi langit tempat kakaknya tinggal menetap. Namun, bersemangat kembali ketika mengingat malaikatnya ada di tempat yang sedang dia tuju sekarang.


Begitu koleganya mengabarkan jika sudah menemukan lokasi malaikat yang Carl cari. Maka dia segera saja memutuskan untuk segera mengejarnya. Sementara itu, Flavia merasa sangat senang berkenalan dengan Ariana, wanita cerdas dengan selera humor yang tinggi juga cantik dan berwawasan luas, dan yang pasti karena Ariana mengenal Austin Long, gurunya.


Ariana mengatakan jika dia hanya tinggal sebentar saja, kedatangannya hanya untuk menyerahkan jurnal medis yang dia temukan waktu itu. Dia juga menceritakan bagaimana petualangannya waktu itu. Dan pertemuannya dengan seorang ilmuan, yang pintar.


Flavia merasa heran, gurunya itu seharusnya tahu, siapa pemilik asli medis itu, "Tapi mengapa malah memberikannya kepadaku," pikirnya.


Flavia pun menepis segala pertanyaannya, dia sangat mempercayai segala tindakan gurunya itu pasti ada alasannya. Sementara itu, setelah menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya Carl pun tiba.


Gery sudah menyiapakan supir untuk menjemput dan mengantar Carl ke apartemen yang telah disiapkan oleh Leon. Menolak saham, bukan berarti tidak bisa menikmati fasilitas yang kaluarga Sebastian miliki.


Leon telah menyiapkan sebuah apartemen yang nyaman untuk adiknya itu, memiliki Gery sebagai asisten yang serba cepat, membuat kebutuhan tempat tinggal untuk Carl cepat terpenuhi juga.


Eryk baru saja tiba di rumah utama, "Di mana Nyonya dan Cedric?" tanyanya kepada kepala pelayan seraya, mengendurkan dasinya dengan gerakan elegan, dan membuka satu kancing atas kemejanya itu.


"Di ruang keluarga," jawab Kepala pelayan.


Saat ini, Cedric dan Flavia sudah tinggal di rumah utama keluarga Lin. Ketika masuk ke ruang keluarga, hati Eryk terasa hangat melihat semua kesayangannya ada di sana.


"Papa," ujar cedric seraya turun dari pangkuan Nyonya Lin.


Eryk bersimpuh seraya merentangkan tangannya dan langsung menangkap tubuh putranya yang memerjangnya dengan cepat.


Flavia tersenyum melihat pemandangan itu, Eryk pun menoleh ke arahnya, mata mereka pun saling bertatapan, wajah Flavia pun bersemu merah, dia lalu menundukan kepalanya, dan membolak balikan halaman majalah yang sedang dia pegang meski tidak fikus membacanya.


Sedang bermain, ponsel Eryk berdering, dia berdiri lalu menjawab dengan suara magnetisnya, "Kirim lokasinya kepadaku, aku akan segera ke sana."


"Papa mau pergi?" tanya Cedric.


"Ya, ada perlu sebentar," jawabnya sambil sedikit mengacak rambut Cedric.


"Tidak ajak Mama?" tanya polos Cedric.


Eryk menoleh ke arah Flavia seraya berkata, "Lain kali Papa akan ajak Mama pergi bermain," janjinya.

__ADS_1


"Papa pergi," Ujarnya sembari mencium Cedric, lalu mencium Nyonya Lin, dan terkhir ingin mencium Flavia.


Eryk menghentikan gerakannya. Melihat Cedric sedang memandanginya, Eryk pun mengecup kecing Flavia. Lalu beranjak pergi dari rumah utama.


Cedric pun tersenyum, sementara hati Flavia melemas, tubuhnya seperti baru saja tersengat listrik. Eryk segera pergi begitu mendapatkan panggilan telpon dari Carl yang mengatakan jika dia sudah tiba.


Carl menjemput Eryk di lobi, mereka berdua sudah lama tidak bertemu. Kawan baik itu pun saling berpelukan, "Di mama anakmu?" tanya Carl.


"Hei, bawa aku masuk dulu ke unitmu," protes Eryk.


Carl pun tertawa kecil lalu menempelkan kartu aksesnya, apartemen yang Leon sediakan terbilang luas. Memiliki dua kamar tidur.


Karena Carl sangat memyukai warna putih, karena itu Leon memberikan apartemen yamg di dominasi oleh warna putih tulang. Terlihat juga di bagian dapur ada penggunaan lantai kayu yang dipadukan dengan perabot berwarna gelap membuat dapur apartemen itu terasa elegan namun tetap minimals.


Keleluasaan dalam gerak ketika sedang memasak pun ingin ditonjolkan pada model apartemen pilihan Leon itu.karena ingin terlihat bahwa ketika sedang sibuk memasakpun masih merasa nyaman.


Semua perabotannya juga sengaja menggunakan material kayu yang dipadukan dengan kontras warna putih yang segar.


Hasilnya, hunian akan terasa lebih nyaman Tidak banyak menggunakan dekorasi merupakan salah satu tips yang perlu di contoh untuk kesan apartemen yang terlihat lapang.


Eryk langsung saja melemparkan tubuhnya yang sedikit merasa lelah ke aofa empuk milik Carl itu. Carl pun pergi ke dapur menyiapkan segelas air, sepiring nasi, dan satu botol kecil sambal matah cumi pedas.


Eryk melirik ke arah nasi, dan sambal berwarna warni yang ada di atas nasi, "Apa itu?" tanyanya.


"Makan saja, ini masakan kakak iparku," jawab Carl.


Eryk pun bangun lalu duduk. Dia memggulung lengan bajunya, lalu mengambil piring berisi nasi dan sambal itu. Dia mulai memasukan satu suap, mengunyah dan menelannya.


"Emm ..." gumamnya lalu kembali memasukan satu suapan selanjutnya.


"Ini lezat," pujinya.


"Tentu saja, kakak iparku itu pandai memasak," jawab bangga Carl.


Eryk menghabiskan nasi dan sambal matah cumi itu dalam sekejap. Lalu duduk membantu Carl mengeluarkan barang-barang dari kopernya yang lain, sambil berbincang.


"Lain kali ajak aku berkenalan dengan anak dan istrimu," ujar Carl.

__ADS_1


"Aku belum menikah," jawab Eryk.


Carl langsung saja menyemburkan minuman kaleng yang sedang dia sesap, menyemburkan ke wajah Eryk.


"Oh ya ampun," ujarnya seraya mengangkat setengah kaosnya ke atas untuk dia pakai membersihkan bekas semburannya itu, dari wajah Eryk.


Eryk mengehela napas, lalu menepis tangan Carl. Dia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan melap wajahnya sendiri seraya berkata, "Kau ini kapan kebiasaanmu itu hilang, mengapa suka sekali memyembur ke wajahku!" protes Eryk.


"He he he ... anggap saja aku sedang membantu mysophobiamu itu untuk sembuh," ujarnya.


"Hissh ..." ujar Eryk yang langsung berdiri dan segera mencuci wajahnya.


"Jadi kau datang ke sini, dalam rangka apa?" tanya Eryk sembari mengeringkan tangan dan wajahnya dengan tisu.


"Malaikatku," jawab Carl.


"Malaikatmu?" tanya Eryk bingung.


"Ya dia sangat cantik, dan dia sangat lihai dalam ilmu bela diri," ceritanya lagi dengan sangat bersemangat.


"Bagaiman awal kau bertemu dengannya" tanya Eryk.


"Ketika aku dan dia dalam penyamaran," jawab Carl.


Eryk merasa jika itu akan menjadi cerita yang menarik, lalu duduk dengam tenang di sofa, menjadi pendengar yang baik.


"Jadi menurutmua dia ada di sini?" tanya Eryk.


"Aku harap begitu," jawab Carl.


"Katakan saja jika nanti kau membutuhkan bantuanku untuk menemukannya," kata Eryk.


"Ok," jawab Carl.


Teringat perkataan Eryk yang berkata dia belum menikah tapi malah sudah memiliki anak, maka Carl pun juga bertanya tentang kisah Eryk.


"Wow, sunggh keluarga yang unik," ujar Carl menyindir sekaligus memuji.

__ADS_1


Eryk pun berdiri sambil melemparkan bantal sofa ke wajah Carl seraya berkata, "Aku pulang, lain waktu kita bertemu lagi."


__ADS_2