
Melihat senyum di wajah Cedric, ketika mengatakan jika Papanya mengajak mereka makan siang, Flavia pun tidak tega jika mengatakan tidak.
Flavia menganggukan kepalanya, seraya tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala putranya itu dengan lembut. Cedric pun menarik tangan mamanya itu agar menundukan tubuhnya, lalu 'cup' dia pun mendaratkan ciuman di pipinya.
Sebuah mobil bentley berwarna hitam pekat dan anti peluru, dengan kaca jendela hitam pekat berhenti di depan mereka. Pintu terbuka, terlihat sepatu mengkilat bersih, menjejak di tanah. Kaki panjang yang dibalut oleh celana buatan tangan dan terlihat sangat licin, hampir-hampir tidak ada kerutan yang terlihat.
Eryk tersenyum ketika melihat ibu dan anak seperti tengah berdiri menunggunya, "Benar-benwr waktu yang sangat pas," ujarnya.
Melihat jika yang keluar dari mobil itu adalah Papanya, maka Cedric segera berlari menyambutnya. Eryk sedikit membungkuk seraya merentangkan tangannya, "Apakah merindukan Papa," tanya Eryk.
Cedric pun mencium-ciumi wajah Papanya itu, lalu menoleh kepada Mamanya dan berkata, "Ma, ayo sini."
Flavia pun melangkah dengan sedikit canggung. Bagaimana pun juga ini adalah momen baru bagi Cedric, makan bersama papa yang terabaikan selama ini.
Di dalam mobil, cedric duduk di pangkuan Eryk. Dia memainkan dasi papanya itu sambil berbincang ringan, "Papa suka makanan apa?" tanya Cedric.
"Kau suka makana apa?" tanya balik Cedric.
"Udang, ayam, ikan, kepiting, kerang, tahu, sayuran, susu,telur, keju, kacang kedelai, timun, jeruk, anggur," jawab Cederic.
"Jika begitu itu juga makanan kesukaan Papa," jawab Eryk.
"Apa kau tidak suka makanan manis?" tanya Eryk.
"Suka, tapi mama bilang jika terlalu banyak makan permen, coklat, maka gigiku nanti bisa bolong," jawab polos Cedric.
"Jika begitu Papa akan menyiapkan dokter gigi terbaik untukmu, untuk merawat gigi-gigimu itu, jadi tidak perlu takut jika ingin memakan makanan yang manis lagi ok," janji Eryk.
Flavia secara spontan mencubit lengan Eryk, memberikan tanda tidak setuju jika Cedric memakan banyak makanan manis.
"Kenapa?" tanya Eryk seraya memandangi Flavia.
Cedric adalah anak yang peka, lalu dia pun berkata, "Aku akan memakan sedikit saja makanan manis."
Mendengar perkataan Cedric, membuat Eryk terdiam sesaat berpikir jika Flavia begitu kuat tersimpan di dalam hati Cedric. Merasa sedikit iri. Namun, karena menyayangi keduanya maka Eryk akan mengejar ketertinggalannya selama ini. Itu sudah dimulai dari menyukai apa yang Cedric sukai.
"Kita akan ke mana?" tanya Cedric.
__ADS_1
"Kita akan makan di atas parahu," jawab Eryk.
"Makan di tengah air?" tanya Cedric lagi
"Ya kau pasti akan samgat menyukainya," jawab Eryk.
Eryk membawa mereka ke restoran keluarga yang ada di pinggir kota. Belum juga sampai ke restoran yang di tuju, tiba-tiba mobil mereka dihentikan oleh seorang kakek tua. Supir segera mengerem. Eryk memegangi tubuh Cedric agar tidak terjatuh.
"Ada apa?" tanya Eryk.
"Itu tuan," jawab supir mereka seraya menunjuk ka arah kekak tua itu.
Dengan wajah panik, kakek itu pun mengetuk-ngetuk pintu kaca mobil. Supir itu keluar dan bertanya ada apa. Lalu supir itu mengatakan kepada Eryk, jika cucu perempuan kakek itu akan melahirkan, sementara mobil yang mereka pakai mengalami mati mesin.
Mendengar jika ada wanita yang akan melahirkan, langsung saja Flavia turun dari mobil dan berlari untuk mengecek keadaan wanita hamil itu. Dia membuka pintu mobil pengangkut sayuran, kol, kubis, wortel dan lain-lain.
"Bisakaha menghadap ke aku?" tanya Flavia.
Sambil mengatur napas, wanita hamil tersebut pun perlahan memutar tubuhnya ke arah Flavia. Lalu dia merentangkan kaki wanita hamil itu untuk melihat tanda-tanda kehamilan.
"Apa sudah sering merasa Mulas, nyeri perut yang menjalar pada punggung, muncul secara teratur dan cukup lama?
Eryk memberikan Cedric kepada supir mereka untuk di gendong sementara, dia ikut melangkah ke wanita hamil itu dan juga Flavia.
Flavia memeriksa jika telah Keluar lendir atau darah dari ******.
Keluar/rembesan air ketuban lalu dia berkata, "Ya ini saatnya Nyonya untuk melahirkan."
"Siapa namamu?" tanya Flavia
"Xing er?" Jawabnya.
"Apa kau sanggup berjalan?" tanya Flavia lagi.
Xing Er pun menggelengkan kepalanya,
Setelah melihat kontraksi yang muncul terasa semakin hebat, Flavia berpikir jika tidak akan sempat membawanya ke klinik bersalin.
__ADS_1
Melihat Eryk mendekat, dia langsung saja menarik lengan pria itu. Berpikir sejenak mencari tempat untuk persalinan darurat. Melihat sayur-sayuran lalu timbul sehuah ide di kelapa Flavia.
"Kau bantu aku menurunkan sayuran dan menyulap mobil ini menjadi tempat bersalin," ujar Flavia sembari menarik eryk lagi.
Flavia langsung naik, dan menyeret sekarung wortel dan memberikannya kepada Eryk tang tidak ikut naik ke mobil.
"Ini kita singkirkan dulu," ujarya sembari sedikit melempar karung itu kepada Eryk.
Karung-karung telah di singkirkan, saatnya membuat alas darurat. Flavia membuat alas yang sedikit empuk menggunakan daun-daun sawi pakcoy sambil berkata, "Apakah di mobil ada handuk," tanynya kepads Eryk.
"Ada," jawab Eryk.
"Ambilkan semuq handuk yang kau punyax juga air panas jika ada," ujar Flavia lagi.
Cedric terkagum melihat Mama dan Papanya sangat antusias pada saat menolong orang yang sedang kesusahan ini. Cedric pun berkata menghibur hati si kakek, "Mama, Papa ku sangat hebat. Pasti bisa menolong cucu kakek."
Eryk membawakan handuk yang dipinta dan juga sebotol air hangat. Flavia langsung saja melebarkan handuk itu di atas sawi-sawi pakcoy yang telah dia susun rapi.
"Bawa Xing Er ke sini!" perintah Flavia pada Eryk.
"Bawa Cedric pergi sedikit jauh dari sini!" perintah Flavia kepada supir yang sedang menggendong Cedric.
Eric mendekati Xing Er, lalu berkata, "Nyonya ayo turunlah, kita pindah tempat," ujarnya.
"D-dia tidak bisa melihat," jelas Kakek Xing Er.
"Apa," ujar Eryk dalam hati.
Dengan hati-hati maka Eryk langsung saja menggulung lengan kemejanya dan memggendong Xing Er, membawanya ke tempat bersalin yang telah di siapkan.
Eryk merebahkan Xing Er di alas handuk dan sayur itu. Kemudian Flavia memegang tangannya lalu brkata," kini saatnya aku ajarkan teknik pernapasan ringan untuk membuat tubuhmu lebih nyaman saat melahirkan dengan cara normal ini,"
Xing Er mengangguk tanda jika dia mengerti, Flavia pun tersenyum memberikan semangat seraya menepuk-nepuk lembut tangan Xing Er.
"Ambil napas secara teratur, Mulai dengan tarikan napas yang sebanyak-banyaknya, lalu embuskan setelahnya," ujar Flavia mulai mengajari Xing Er.
Lalu Flavia berkata lagi, "Ambil napas melalui hidung, lalu buang melalui mulut."
__ADS_1
Flavia menjaga agar laju pernapasan Xing aer tetap teratur sekitar 1 tarikan napas setiap 1 detik. Eryk sedari tadi terdiam, terkesima oleh penampakan Flavia pada saat ini. Meski keadaan sedang tidak baik. Namun, dia tetap bisa menangani Xing Er dengan baik.