
Bab 75
Hari ini Eryk Lin akan pergi ke sekolah asrama orang tuanya dulu. Tapi, sebelumnya dia pergi dulu ke mansion Mo. Di sana Cedric tengah bersiap menunggu papanya itu untuk mengantarnya ke sekolah seperti biasa.
Eryk menggendong Cedric lalu berkata, “hari ini dan mungkin sampai besok, papa tidak bisa mengantarmu,”
“Kenapa?” tanya Cedric.
“Ada hal yang harus papa kerjakan,” jawab Eryk.
“Apa kami tidak bisa ikut?” tanya Cardric.
“Hmm … begini saja, papa pergi mengurus pekerjaan, kalian pulang ke rumah utama Lin. Dan nanti, Papa akan mengirimmu ke sekolah Lily untuk bermain dengannya,” ujar Eryk memberikan penawaran.
“Bagaimana, mau tidak?” tanya Eryk lagi.
“Lily?” tanya Cedric.
“Ya bukankah dia temanmu, jadi Papa ijinkan kau bertemu dengannya dan bermain bersama,” janji Eryk lagi.
Flavia datang dengan membawa tas sekolah Cedric sambil berkata, “Ayo! Hari ini Mama yang akan mengantarmu ke sekolah.”
“Supir akan mengantar kalian, lalu dia akan mengantarmu ke rumah utama Lin,” ujar Eryk seraya melihat ke arah Flavia.
Wajah Flavia bersemu merah, dia pun sedikit menundukan wajahnya, Eryk pun berkata lagi, “Mama merindukan kalian.”
Flavia pun menggandeng Cedric untuk menemui Tuan Mo, “Kakek,” panggil Cedric dengan mulut manisnya.
Tuan Mo langsung saja memangku naga kecil kasayangannya itu, lalu dia menundukan kepalanya dan Cedric pun memberi ciuman selamat pagi untuk Tuan Mo. Cedric pun berkata, “kakek jangan kuatir, aku akan tetap menjenguk kakek, dan melindungi Mama.”
“Ya … ya kau adalah naga kecil terkuat yang kami miliki,” puji Tuan Mo.
Eryk pun masuk ke dalam mobil, meletakan Cedric duduk tapi Eryk melihat tatapan Cedric yang seakan memohon kepadanya, agar mau mengantarka ke sekolah pagi ini. Pada akhirnya Cedric duduk di tengah diapit oleh Eryk dan Flavia. Dengan senyum-senyum Cedric pun mengambil tangan Flavia dan juga tangan Eryk, lalu membuat mereka saling bergenggaman tangan.
“Tangan Papa,” ujar Cedric meletakan tangan Eryk di bawah. Lalu berkata lagi, “Tangan Mama,” ujar Cedric meletakan tangan Flavia di telapak tangan Eryk.
“Tanganku,” ujar Cedric sambil tersenyum kepada keduanya dan meletakan tangangnya di atas tangan Flavia.
__ADS_1
Eryk lalu menggenggam tangan Flavia dan Cedric, “ Jika sudah menggenggam maka, tidak akan dilepaskan lagi,” ujarnya dalam hati.
Flavia pun hanya terdiam, tidak menarik tangannya, takut membuat kecewa hati Cedric yang sudah kadung senang. Pada saat ini, Eryk tidak tega mau melepaskan tangan mereka tetap bergenggaman tangan sampai di sekolah Cedric.
Eryk dan Flavia juga ikut turun, kali ini mereka menggandeng Cedric masuk ke kelas. Cahaya sinar matahari menyinari tubuh mereka bertiga, sungguh itu terlihat seperti siluet yang sangat indah. Sebelum masuk kelas, Eryk dan Flavia pun mencium putra semaya wayang mereka itu.
Cedric masuk ke kelas dengan raut wajah yang dipenuhi oleh senyuman. Flavia terpaku melihatnya, lalu berpikir jika kehadiran Eryk benar-benar membawa efek yang sangat besar bagi kebahagian putranya itu. Lamunan Flavia terbuyarkan oleh perkataan Eryk, “Apa mau menunggui di sini?”
Flavia pun menoleh kepada Eryk dan menggelengkan kepalanya, Eryk tersenyum lalu berkata, “Jika begitu supir akan mengantarkanmu ke rumah kita,” ujarnya.
Eryk akan pergi dengan mobil lain yang telah menunggunya, Flavia memandangi Eryk yang berpindah ke mobil lain, lalu mobilnya pun melaju meninggalkan pelataran sekolah Cedric.
Sesampainya di rumah utama, kedatangan flavia langsung saja disambut oleh Nyonya Lin yang memeluknya dengan erat. Flavia pun tersenyum sambil memanggil ,”Ma.”
“Apa obatnya di minum dengan baik?” tanya Flavia.
Nyonya Lin mengangguk, flavia pun membawa Nyonya Lin ke ruang keluarga, “Aku akan memeriksa mama sebentar, ok.”
Di perjalanan, nampak Eryk terdiam, menatap jalan menuju sekolah asrama orang tuanya dulu. Berpikir dan menebak-nebak kira-kira apa yang akan dia temui di sana. Eryk melihat pada foto yang sedang dia pegang lagi.
Eryk pun tiba di sekolah asrama itu, dia disambut oleh kepala sekolah yang menjabat pada saat ini. “Tuan Lin,” sapa si kepala sekolah.
“Terima kasih karena sudah mau berkunjung ke asrama sekolah kami,” ujar si kepala sekolah.
Eryk beralasan akan memberikan sumbangan kepada asrama sekolah ini, karena keluarganya adalah alumni dari sekolah ini. Sebagai imbalannya, dia meminta data-data masa sekolah ketika orangtuanya ada di sini dulu.
Hanya meminta itu, tentu saja dengan mudahnya di penuhi oleh pihak sekolah. Setelah memberikan selembar cek, maka Eryk diantar ke perpustakaan untuk melihat-lihat data sekolah tempo dulu itu. Eryk pun melihat jika dulu Paman Lin dan mamanya itu adalah murid terpintar dan beprestasi, sementara Papanya lebih popoler karena meski pintar tapi sedikit nakal.
Dalam setiap kegiatan pasti selalu ada foto paman Lin dan juga mamanya. Eryk merasa heran jika sedekat itu dengan Paman Lin mengapa mamanya malah menikah dengan papanya. Lagi-lagi Eryk mengernyitkan alisnya ketika melihat wanita yang sama, yang tertangkap sedang menatapi Paman Lin dan mamanya itu.
“Siapa kau sebenarnya,” gumam Eryk dengan pelan.
Eryk pun mengambil buku kenangan sekolah di tahun Papa dan mamanya bersekolah di sini. Lalu mencari wajah yang sama yang ada dia lihat di beberapa foto yang dia temukan, “Ketemu,” ujarnya dengan senang.
Dia pun mengambil ponselnya, memfoto lalu mengirimkan pada asisten He, “Cari dan segera temukan dengan cepat,” perintah Eryk.
Wanita itu bernama Hua An Ran, seorang siswa yang mendapatkan beasiswa sehingga bisa bersekolah di sekolah asrama para bangsawan ini. Eryk merasa ada hal skandal besar di balik kisah foto-foto yang tadi baru saja dia lihat.
__ADS_1
Pada saat ini, ponsel Eryk berdering, itu adalah panggilan dari Carl, “Hei kau di mana?” tanya Carl.
“Di sekolah asrama,” jawab Eryk.
“Apa kau ingin bersekolah lagi?” tanya Carl lagi.
“Aku hanya mengantarkan sumbangan saja,” jelas Eryk
“Ada apa, sudah merasa bosan dengan rumah aman?” tanya Eryk lagi.
“Bosan, hah! Ada malaikatku di sini, mana bisa aku merasa bosan,” ujar Carl dengan sambil tertawa.
“Hei, aku ingin bertanya kepadamu. Menurumu jika aku belajar bela diri bagaimana?” tanya carl.
Eryk pun tertawa terbahak-bahak, lalu berkata, “Kawan, dalam dunia ini tidak semua yang kau inginkan bisa kau dapatkan,” nasehat bijak eryk.
Dulu ketika mereka satu sekolah, waktu berolahraga ada bola basket yang mengenai kepala carl dengan kencang. Dan, seketika saja carl langsung pingsan. Belum lagi kejadian muntah-muntah ketika diajak mengebut. Jadi belajar bela diri sepertinya bukan sesuatu yang bagus untuk carl.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
PROMO NOVEL TEMAN
Aleta Winandra. gadis ceria yang suka membuat kegaduhan dimana pun dia berada bersama dengan teman-teman semaksiatan nya.
Mereka suka melakukan sesuatu hal diluar kewarasan manusia lainnya, dan selalu membuat orang lain sial saat berada di dekat mereka.
Namun suatu ketika, terjadi masalah dalam keluarga Aleta yang membuatnya harus melakukan sebuah rencana besar.
Dalam rencananya itu, Aleta melibatkan seorang pengusaha terkenal bernama Agra Mahesa.
"lihat saja. aku akan menjeratmu dan mengikatkan rantai diseluruh kehidupanmu," ucap Aleta disuatu malam.
Apakah Aleta bisa menjerat Agra ? atau malah Agra yang akan membakarnya dengan sifat liciknya ?
Yuuk ikuti kisah mereka yang penuh dengan tawa dan kegaduhan.
__ADS_1