BLUE MOON

BLUE MOON
AHLI WARIS KELUARGA LIN


__ADS_3

Cedric pun mengangguk mengerti, barulah Flavia melapaskan bekapan tangannnya dari mulut Cedric. Pada saat ini ada seorang pelayan yang mendekati mereka berdua.


"Direktur Lin, meminta kalian berdua untuk pergi menemuinya," ujar Pelayan itu sambil menundukan kepala memberi hormat.


Flavia sedikit panik, lalu menggandeng tangan Cedric dan megikuti pelayan yang menjemputnya itu.


Ketika masuk ke ruangan, Flavia melihat wajah serius Eryk. Tidak ingin berdebat di depan Cedirc maka Flavia pun bersikap tenang.


Melihat Cedric datang, Eryk pun langsung mengubah wajah dinginnya menjadi wajah yang penuh kehangatan.


"Tuan tampan," sapa Cedric.


Hati Eryk seperti terluka tapi tak berdarah ketika mendengar putranya sendiri memanggil dirinya dengan sebutan Tuan.


Eryk langsung saja berdiri dan menggendong Cedric. Dia menatap Flavia yang tengah berdiri juga sambil berkata.


"Apa papa kalian tidak ikut?" tanya Eryk kepada Cedric.


'Degh' kali ini gantian Flavia yang merasa hatinya terluka tapi tak berdarah. Berharap cedric tidak salah menjawab.


"Emm ... Papa Felix sedang sibuk mencari uang. Papa He sedang sibuk menemani Kakek bekerja," jawab Cedric polos.


'Oh Ya Tuhan ...' ujar Flavia dalam hati sambil menggigit ujung bibirnya.


"Kau memiliki dua papa?" tanya Eryk seraya memandang kepada Flavia.


"Mama mengijinkanku memanggil mereka papa," jawab polos Cedric lagi.


"Mereka bukan Papamu?" tanya Eryk lagi.


Cedric melihat ke arah Mamanya, berpikir sedikit lama, lalu cedric berbisik ke telinga Eryk, "Mama bilang tidak boleh kasih tahu orang lain jika Papa telah di surga, jadi Tuan tampan juga jangan kasih tahu yang lain ya!" pinta polos Cedric.


'Aku pergi ke surga' kata dalam hati Eryk seraya memandang Flavia dengan tatapan melemparkan tatapan bersuhu dingin.


Eryk mendudukan Cedric ke sofa, lalu berkata, "Ini coklat untukmu, ini adalah yang paling enak sedunia."


Cedric mengambil coklat itu dengan mata berbinar, lalu mengucapkan "Terima kasih Tuan."


Eryk mengusap lembut puncak kepala putranya itu, lalu membukankan bungkus coklat itu dan memberikannya kepada Cedric.

__ADS_1


Dengan binar bahagia Cedric menggigit coklat itu, "Emm enak sekali," ujarnya.


Eryk tersenyum lalu berdiri menghampiri Flavia, dia menarik tangannya lalu berkata, "Sejak kapan aku pergi ke surga?" tanyanya sambil mengernyitkan alisnya.


"Kau mengijinkan dia memanggil orang lain papa, bukan hanya satu tapi dua papa?"


"Sungguh hebat sekali!" Kata Eryk sambil menyandarkan tubuh Flavia ke dinding.


"Hah! Surga," ujarnya sedikit tertawa dan sambil memasukan kedua tangan ke saku celana panjangnya yang licin itu.


Flavia hanya terdiam tidak menjawab, beribu-ribu kecanggungan tengah mendera hatinya. Eryk masih menatapinya lalu berkata, "Kau, Cedric ikut aku. Kita tinggal bersama!"


"Apa?" tanya Flavia panik.


"tinggal bersama," kata Eryk sekali lagi.


"Tapi, Cedric bahkan tidak tahu tentang apa yang terjadi. Bagaimana cara kau menjelaskan kepadanya karena tiba-tiba kami harus pindah ke rumahmu?" tanya Flavia.


"Kita katakan yang sejujurnya," jawab santai Eryk.


"Sejujurnya?" gumam pelan Flavia.


"Ya katakan jika aku adalah Papanya," ujar serius Eryk.


Tanpa mendengar persetujuan dari Flavia, Eryk pun langsung menghampiri Cedric lalu bersimpuh di depannya.


"Cedric, jika Papamu selama ini tidak tinggal di surga apakah akan merasa senang?" tanya Eryk kepada putranya itu.


"Tentu saja, aku akan mengajaknya bermain bola lalu bermain sepeda, lalu pergi ke taman bermain," jawab Cedric bersemangat.


"Jika aku adalah Papamu, senang tidak?" tanya Eryk lagi.


Cedric menatapi Mamanya lalu menatapi Eryk, "Tapi mana bisa, Papaku sudah ada di surga. Mama bilang tidak akan bisa kembali," jawab polos Cedric.


Eryk memaksakan senyumannya sembari mengelus tengkuk lehernya sendiri. Eryk mengehela napas lalu berkata lagi, "Mama sedang marah besar, sehingga membuatnya sangat-sangat marah lalu pergi menghilang begitu saja, tidak kasih kesempatan meminta maaf." Jelas Eryk dengan nada suara penuh makna.


"Jadi saat itu Mama marah dan pergi membawamu pergi, lalu meninggalkan papa sendirian di rumah," jelas Eryk dengan nada suara sendu.


Cedric merasa bingung, lalu memandang ke arah Flavia. Matanya sudah terlihat memerah.

__ADS_1


Flavia pun duduk di sisi Cedric lalu memeluknya dan, "Maafkan Mama."


Eryk mengusap lembut ke puncak kepala Cedric, "Maafkan Papa, karena sudah membuat Mama marah besar kepada Papa."


Cedric menatap kearah Eryk, dari kedua matanya terlihat ada butiran air bening yang terjatuh, lalu tangis Cedric pun pecah.


"Papa ... Papa," ujarnya dengan isak tangis.


Eryk segera saja menggendong putranya itu. Memeluknya dan menciumi wajahnya agar berhenti menangis.


Flavia pun ikut berdiri, pada saat ini mereka seperti sepasang suami istri yang sedang menenangkan putra mereka yang merajuk.


Eryk langsung saja membawa Cedric pergi, Flavia mengikuti langkah pria yang sedang menggendong putranya itu. Mobil Maybach hitam tengah menunggu mereka.


Eryk masuk dengan tetap sambil menggendong Eryk, Flavia tertegun sesaat lalu cepat-cepat ikut masuk ke dalam mobil. Duduk di sisi Eryk yang sedang memangku Cedric.


Sepanjang perjalan mereka berdua terdiam, sementara Cedric terpulas. Mereka pun tiba di kediaman Lin. Seisi rumah menjadi riuh ramai ketika melihat Eryk membawa seorang bocah laki-laki yang sedang terpulas di pelukannya. Dan seorang wanita cantik yang berjalan di belakangnya.


Lin Fei Wei, melihat Eryk membawa mereka ke kamar utama, merasa heran lalu bertanya, "Siapa mereka?"


Eryk memberi tanda agar Fei Wei jangan sampai membuat Cedric terbangun karena mendengar suaranya yang kencang.


"Keluar!" perintah Eryk kepad Fei Wei.


'Apa, kak Eryk mengusirku hanya karena dua mahluk yang entah datang dari mana' pikir Fei Wei merasa jengkel.


Eryk menatapi Fei Wei yang masih terdiam, melihat hal itu langsung saja gadis itu pergi meninggalkan kamar tuan muda Lin itu.


Eryk menoleh kepada Flavia lalu berkata, "Sementara, menyiapkan kamar untuk kalian, maka sampai itu siap kalian tidur di sini bersamaku."


"Apa maksudmu?" tanya Flavia sambil mengusap-usap keningnya seakaan tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Lima tahun kau memisahkanku dengannya, apa tidak boleh jika aku ingin lebih lama dengan putraku, ingin menemani dia tidur?" kata Eryk dengan nada suara yang dingin.


"T-tapi aku ... mengapa harus tidur di kamar ini juga?" tanya sekaligus protes Flavia.


"Kau bisa tidur di sofa," jelas Eryk.


Eryk teringat ketika Flavia datang terlambat, maka Cedric sudah banyak menangis. Karena itu dia menahan Flavia agar tidur juga di kamarnya itu.

__ADS_1


"Nanti malam kita akan makan malam bersama dengan keluarga Lin," ujar Eryk seraya meninggalkan kwmarnya


Flavia terduduk di sofa, sambil berpikir jika Eryk pasti akan mengumumakn tentang ahli waris keluarga Lin, tentang Cedric.


__ADS_2