
Apalagi ketika Eryk menyebutkan jika bisa membawa mama dan papa mereka, Cedric lebih-lebih menggalau lagi.
'Papa He, atau Papa Felix' pikir Cedric.
Ketika Eryk akan pergi, guru meminta para murid berdiri dan menundukan kepalanya untuk memberi hormat kepadanya.
Eryk menatapi Cedric sambil mengernyitkan alisnya, 'kacamata hitam' pikirnya seraya ke luar dari kelas.
Cedric terduduk lemas, 'bagaimana ini' ujarnya dalam hati.
Di dalam mobil, tiba-tiba saja Eryk memutuskan membawa mereka ke taman bermain yang ada di luar kota.
Bawahan asisten He, bergerak dengan cepat. Ketika anak-anak itu pulang, mereka diberi formulir pendaftaran dan brosur taman bermain yang akan mereka kunjungi.
Dalam perjalanan pulang, Cedric mengamati brosur yang ada di tangannya, "Paman Zhang, antarkan aku ke klinik mama," pinta Cedric.
Di klinik terlihat sedang sangat sibuk, meski baru dibuka tapi sudah ramai pasien. Rumor telah menyebar jika di sini, ada dokter wanita yang cantik, juga handal.
Salah satu perawat mengenali Cedric, lalu menyapanya, "Adik tampan, Mama sedang sibuk. Tunggu Mama di ruang tunggu saja ya."
Cedric mengangguk, lalu duduk tenang-tenang di sofa yang ada di ruang VIP itu, menunggu mamanya senggang. Cedric sedikit mengantuk lalu tertidur.
Pintu ruangan VIP itu pun terbuka, Flavia pun berjalan masuk lalu bersimpuh di sisi sofa. Dia menciumi wajah putranya itu dengan lembut. Melihat cedric tidur sambil memeluk sebuah kertas, dengan perlahan dia pun mengambil itu dari tangan putranya itu.
Flavia membacanya, ‘Formulir pendaftaran” gumam pelannya.
Dia juga melihat kepada brosur yang tadi Cedric peluk, ‘taman bermain’ ujarnya dalam hati.
Flavia melihat Cedric dengan sedikit sendu, merasa akhir-akhir ini dia sangat sibuk menangani pasien, sehingga sedikit mengabaikan putra kesayangannya ini.
Cedric membuka matanya, “Ma,” panggilnya kepad Flavia.
“Apa kau ingin pergi ke taman bermain?” tanya Flavia.
“ Ya Ma,” jawab Eryk dengan nada sendu. Namun, penuh dengan tatapan penuh harap.
Flavia mengusap lembut puncak kepala putranya itu, mengambil pena yang di jepit di sakunya lalu langsung saja mengisi formulir itu, dan mendantanganinya.
“Mama akan menemanimu bermain nanti,” janjinya.
Cedric meneteskan air matanya, lalu mengecup pipi Flavia seraya berkat, “I Love you Ma.”
“Sekarang pulang ya, Mama masih harus menangani pasien di sini,” ujarnya.
Cedric mengangguk sambil memeluki formulir yang baru saja di tanda tangani oleh Flavia. ‘Mama akan pergi piknik bersamaku’ ujar senang Cedric dalam hati.
Sesampainya di rumah, Cedric langsung pergi ke tempat berdoa yang ada di mansion Mo. Memberi hormat pada altar leluhur keluarga Mo. Benar-benar bersykur tanpa perlu membujuk tapi Mamanya menyetujui pergi piknik bersamanya.
__ADS_1
Klinik bersalin Flavia ini selalu ramai, karena selain menangani wanita hamil, flavia juga memberikan terapi akupuntur kepada para lansia. Karena itulah kadang membuat Flavia pulang malam. Keesokan paginya, Cedric dengan senyuman tampannya memasukan formulir keramat itu ke dalam tasnya.
Sesampainya di sekolah dengan senang hati Cedric menyerahkan formulir piknik itu, “Ibu guru, ini formulirnya,” ujarnya sambil tersenyum.
Setelah terkumpul, tak berapa lama, bawahan asisten He mengambil formulir itu. Di Lin Grup, ketika meeting, Eryk sedikit-sedikit melihat ke jam tangannya. Seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.
Eryk Menoleh ketika mendengar bunyi pintu terbuka, Dia langsung saja berdiri ketika melihat bawahan asisten He itu membawa setumpuk formulir.
“Rapat kita lanjutkan nanti,” ujarnya seraya mengambil formulir itu dan membawa ke ruangannya.
Eryk langsung saja duduk di kursinya dan mencari-cari formulir atas nama Cedric, ‘Ini dia’ ujarnya dalam hati.
Eryk langsung melihat tanda tangan di bawah bertuliskan nama Flavia di bawah tanda tangan yang di torehkan di formulir itu.
“Dia benar-benar ibu dari bocah tengil itu,” ujar Eryk dengan nada sedih namun senang.
Eryk mengambil ponselnya dan meminta asisten He untuk menyiapkan semua penginapan mereka yang dekat dengan taman bermain itu untuk digunakan dalam piknik keluarga ini. sementara itu Cedric meminta kepada Tuan Mo, agar di ijinkan pergi berbelanja aneka sncak untuk piknik kali ini.
“Jika begitu Paman Zhang akan menemanimu,” ujar Tuan Mo memberikan ijinnya.
Cedric dan Paman Zhang pergi ke pusat perbelanjaan, naga kecil itu hanya tinggal menunjuk maka Paman Zhang mengambilnya. Troli belanja pun penuh dengan snack pilihan si naga kecil. Cedric terbiasa menyiapkan bawaannya sendiri.
Di Mansion Mo dengan telaten dia memasukan makanan-makanan itu kedalam tas. Memisahkannya mana tas untuk di isi dengan air mineral, susu kalengan, Yogurt. Dan, mana tas yang akan di isi oleh aneka sncak makanan.
Akhir pekan pun tiba, Cedric sudah bersiap, pelayan sudah memasukan barang bawaan Cedric ke dalam mobil. Flavia pun sudah rapih denan baju kaos putih dan juga celana pendek. Rambut di kuncir tinggi dan memakai sepatu olah raga.
“Ayo, kita pergi,” ajak Flavia.
Gadis muda yang waktu itu datang dan tiba-tiba pingsan, sekarang datang lagi dengan keluhan akan segera melahirkan padahal usia kandungannya masih enam bulan, Flavia terdiam sesaat lalu memandangi putranya yang sudah rapih lengkap dengan kacamata hitamnya.
Cedric adalah anak yang pengertian, “Ma, bantu lahiran ade bayi dulu saja, nanti baru Mama menyusul,” ujarnya.
“Tunggu aku, dalam beberapa menit akan datang kesana,” jawab Flavia disambungan ponselnya.
Flavia bersimpuh, “ Kau memang cinta dalam hidup Mama,” ujarnya sambil menciumii wajah Cedric berkali-kali.
Cedric pun di antar pergi oleh supir, sementara Flavia pergi ke klinik. Sesampainya di sana, supir yang mengantar tuan mudanya itu langsung saja melakukan registrasi kamar atas nama Tuan He. Petugas memberikan kunci kamar dan segera membawa tuan mudanya untuk beristirahat.
Eryk segera menyelesaikan pekerjaannya hanya demi bisa segera pergi ke taman bermain dan penginapan lalu bermain dengan si bocah tengil. Namun, sampai menjelang sore pekerjaan pun belum selesai juga. Sementara itu pekerjaan Flavia di klinik sudah selesai. Dia berhasil menyelamatkan bayi premtur di usia kandungan enam bulan itu.
“kalian ambil alih dari sini ya, putraku sedang menungguku,” ujar Flavia kepada para perawatnya, sambil membersihkan dirinya lalu pergi bergegas menyusul Cedric itu.
Setelah berkendara beberapa jam, akhirnya flavia pun tiba di penginapan. Dia keluar dari mobil sedikit memijat-mijat bahunya. Menangani kelahiran prematur lalu berkendara selama berjam-jam benar-benar membuatnya lelah.
Flavia pergi ke bagian receptionist, “kamar atas nama Tuan He?” tanyanya.
Petugas yang bertugas di siang hari dan malam hari adalah petugas yang berbeda. Setelah mendengar nama Tuan He di sebut, dan melihat jika kunci kamarnya masih belum di ambil, maka petugas itu langsung saja memberikannya kepada Flavia.
Flavia terlalu lelah sehingga tidak menyadari apa yang terjadi, hanya ingin menanyakan nomor kamar, tetapi malah di beri kunci kamar. Sedang tidak fokus dia malah mengambil kunci itu lalu masuk ke kamar.
__ADS_1
Melihat jika kamar itu kosong, terdiam sesaat lalu berpikir jika mungkin anak-anak di beri kamar yang berbeda, agar bisa saling bersosialisasi.
Flavia melepaskan sepatunya, menggerai rambutnya, membuka bajunya. Masuk ke kamar mandi dan menyalakan kran shower air panas untuk mengguyur tubuh lelahnya itu.
Beberapa saat kemudian, Eryk juga sampai di penginapan, “Apakah Tuan He sudah di sini?” tanya Eryk.
Merasa jika dia sudah memberikan kunci akses masuk atas nama Tuan He maka petugas itu mengatakan sudah. Eryk pun langsung pergi menuju ke kamarnya itu. Dia membuka pintu kamar, lalu masuk.
Dia tidak merasa heran ketika melihat lampu sudah menyala, dia mengambil satu botol air mineral, lalu masuk ke kamar tidur , duduk di ranjang besarnya. Gerakan minumnya terhenti ketika mendengar ada suara seseorang sendang mandi di kamar mandinya itu.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
DUKUNG NOVEL ini dengan :
- Vote
-Like
-Komen
- Tap favorit yang tanda hati ya
- Poin, hadiah.
🤗🤗🤗 LEMPAR VOTE DAN POIN YANG BANYAK YAH GAES
DUKUNG JUGA FLAVIA DAN ERYK, YANG SEDANG IKUT LOMBA NOVEL GENRE WANITA MANDIRI
__ADS_1