BLUE MOON

BLUE MOON
VILLA ANGGREK


__ADS_3

#bab 68


Di rumah sakit, Eryk telah menempatkan Flavia di ruang rawat inap VIP. Asisten He berkeringat dingin ketika melihat Tuan Mo datang.


Dengan raut wajah serius, Tuan Mo menatapi asisten He. Eryk sudah sedikit memahami perangai Tuan Mo, lalu mencoba berbicara untuk asisten He.


"Tuan ... Flavia sudah dalam keadaan baik-baik saja, berkat kerja bagus asisten He, maka dia bisa cepat ditemukan."


Mendengar penjelasan dari Eryk, barulah tatapan Tuan Mo meneduh. Dia pun berjalan ke sisi ranjang Flavia yang masih nampak terpulas itu.


"Lain kali Kakek akan menjagamu dengan lebih baik lagi," ujar tuan Mo.


"Aku juga akan menjaganya dengan lebih baik lagi," janji Eryk sembari menundukan kepalanya di depan Tuan Mo.


Asisten He pun melakukan gerakan yang sama, dirinya juga merasa gagal karena tidak bisa menjaga Nona muda mereka dengan baik.


"Cedric?" tanya Tuan Mo.


"Di tangan pengawal terbaik kita?" Jawab asisten He.


Tuan Mo pun duduk di sofa yang ada di ruang rawat inap itu, Eryk dan asisten He ikut duduk.


"Siapa pun yang membuat cucuku sampai seperti ini, harus ditemukan. Hancurkan, tak peduli sekalipun jika musuh itu adalah keluarga sendiri," ujar Tuan Mo memberikan perintahnya dengan tegas.


Eryk sedikit merinding mendengar nada bicara Tuan Mo. Ingin menghancurkan orang, terasa seperti ingin menepuk seekor lalat, begitu mudahnya.


"Apakah Tuan Long, datang melihat?" tanya Tuan Mo.


"Iya," jawab asisten He.


"Tuan mengenal Tuan Long?" tanya Eryk bingung.


"Tentu saja, siapa yang tak kenal dengan Legenda bocah tengil, ketua geng hutang lunas dan juga yang menghancurkan geng Luen," jawab Tuan Mo.


"Geng hutang lunas, kenapa aku baru mendengarnya. Bukakan dia hanya memiliki yayasan keluarga Long saja," pikir Eryk.


Tuan Mo pun, bergegas pergi diikuti oleh asisten He. Teringat dengan perkataan Austin Long, Eryk langsung saja memperketat penjagaan rumah utama, terutama mengatur orangnya untuk selalu bersama Nyonya besar Lin.


Eryk duduk di sisi ranjang Flavia, lalu malah ikut merabhkan diri di samping Flavia. Dia memeluknya, dan ikut terlelap.


Sementara di apartemen, Yuki sedang duduk di sofa, mempelajari berkas-berkas bisnis baru mereka. Yuki menoleh ketika mendengar suara Austin yang baru saja masuk.


"Apa sudah makan malam?" tanya Yuki sambil kembali menatapi berkas-berkas bisnis mereka.


Austin mengambil berkas-berkas bisnis itu dari tangan istrinya itu. Meletakan di atas meja. Dia pun duduk bersimpuh lalu meletakan kepalanya di kedua paha Yuki.

__ADS_1


"Belum ... aku belum makan," jawab Austin.


"Masakan aku sesuatu!" pinta Austin dengan manja.


Yuki mengusap.lembut puncak kepala suaminya itu sambil berkata, "Mengapa sangat manja, bahkan kau lebih manja daripada Neyzanya kita," ujarnya sambil sedikit tertawa.


"Neyza ..." ujar Austin lagi dengan merindu.


Yuki mencubit hidung Austin dengan lembut, "Tunggulah sebentar aku akan memasak untukmu."


Austin pun tersenyum, dia sengaja melewatkan makan malam diluar hanya demi menjaga perutnya agar tidak kekenyangan, karena dia hanya ingin memakan masakan istrinya itu.


Austin mengambil ponselnya ketika mendengar ada notifikasi pesan masuk, Itu adalah data orang yang mencelakai Flavia hari ini.


"Apa perlu kita bereskan?" tanya Andi, asisten Austin.


"Tidak perlu, Eryk Lin pasti akan bisa mengatasinya," isi pesan Austin kepada Andi.


Semangkuk mie daging pun sudah tertata rapi di atas meja, ada juga beberapa dimsum,"Ayo, kita makan," ajak Yuki sembari mengulurkan tanganya kepada Austin.


Austin memasukan jari-jari tangannya ke jemari Yuki, "Apa kau belum makan juga?" tanyanya.


"Belum, aku menunggumu untuk makan malam bersama," jawab Yuki.


Di Mansion Mo, Carl sedang berdebat dengan Leon. Kakaknya itu memaksa agar Carl mau meminta Ariana untuk mau melakukan video call dengan Khansa, si landak kecilnya.


Khansa menjanjikan malam romantis kepada Leon, jika dia berhasil membuat Ariana melakukan Video Call dengannya.


"Apa kau mau namamu keluar dari kartu keluarga?" tanya Leon sambil mengernyitkan alisnya.


"Hissh ... kau ini mengapa selalu menindasku," protes Carl.


Carl bukannya tidak mau, tapi karena baru saja kenal. Dia khawatir tentang penilaian Ariana nanti.


"Hah, keluarkan saja ... ya keluarkan saja, aku tidak takut," jawab Carl balik menggertak.


"Jika begitu aku akan mencari Paman lain untuk dikenalkan kepada Raynar sebagai pamannya," jawab santai Leon, sambil meniup-niup kuku tangannya.


"Oh ya ampun, kau ini benar-benar pembuli," ujar Carl.


"Baiklah ... baiklah, aku akan mencoba membujuk Ariana," ujar Carl.


"Nah, begitu baru betul," ujar Leon sembil tertawa dan memberikan tanda jempolnya.


Carl menutup sambungan video call dari kakaknya itu, lalu pergi mencari Ariana lagi. Pelayan mengatakan jika malaikatnya itu sedang berada di kamarnya. Dia segera saja pergi ke sana. Mengetuk pintu beberapa kali, dan terbukalah pintu kamar Ariana.

__ADS_1


Carl terdiam sesaat ketika melihat wajah indah itu lagi, "Ada apa?" tanya Ariana.


"Itu ... aku sedikit membutuhkan bantuanmu," jawab Carl dengan gugup.


"Bantuan apa?" tanya Arian.


Tiba-tiba saja Carl malah mendorong Ariana masuk ke kamar, dan dia segera menutup pintu kamar itu.


"Hei ada apa ini?" tanya Ariana.


"Kakak iparku ingin berkenalan denganmu?" Jawab Carl.


"Apa dia mengenalku?" tanya Arian dengan heran.


"Kalian belum saling mengenal, tapi dia tahu tentang kau," jawab Carl.


"Dari mana dia tahu?" tanya Ariana lagi.


"Aku yang menceritaknnya, kau adalah malaikat penyelamatku," jawab Carl.


Wajah Ariana bersemu merah karena mendengar pujian Carl. Berpikir beberapa saat lalu pada akhirnya dia menyetujui video call itu.


Ketika membaca pesan dari carl yang mengatakan jika Ariana telah bersedia, Leon pun langsung saja melompat kegirangan. Padahal dia sedang di tengah rapat kerja yang baru saja dimulai.


Gery terperanjat melihat gaya tuannya yang barusan. Menyadari jika sedang dalam rapat kerja, Leon pun langsung mengembalikan wibawanya. Dia menarik kursi dan berkata,"Sampai di mana tadi? Silahkan lanjutkan!"


Adik kakak itu bersepakat akan melakukan video Call ketika Leon sudah sampai di villa anggrek.


Khansa dan Raynar hari ini mengunjungi Nenek buyut, juga menemui kakek Nenek. Selesai rapat, tentu saja Leon segera meluncur ke Villa Anggrek.


"Pa,Ma" sapa Leon sembari mencium pipi Papa dan Mamanya itu.


"Khansa di mana?" tanya Leon sambil mencium Raynar yang tengah di pangku oleh papanya itu.


"Sepertinya di kamar," jawab Mamanya.


Leon pun segera saja pergi ke kamarnya, terlihat jika Khansa sedang duduk bersandar di ranjang besar mereka.


"Jangan ingkar janji ya!" ujar Leon sembari duduk di sisi ranjang besar mereka itu.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


JANGAN LUPA VOTE DAN POINNYA GAES, TUAN AUSTIN LONG, juga YUKI dah datang lhooo di bab ini


😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2