BLUE MOON

BLUE MOON
CEMBURU


__ADS_3

“Apa Cedric sedang bersamamu?” tanya Flavia.


“Dia di Villa sedang bermain dengan Lily,” jawab Eryk.


“Mengapa tidak bersama mereka?” tanya Flavia lagi.


“Sedang mengerjakan sesuatu,” jawab Eryk lagi. “Aku akan menghubungimu nanti,” ujar Eryk seraya menutup panggilan telpon dari Flavia.


Merasa aneh, Flavia sampai mengernyitkan alisnya. Ini pertama kalinya Eryk berlaku tidak sopan seperti itu,  Merasa tidak senang atas sikap Eryk tadi, Flavia langsung saja menghubungi assisten He, “Kau ada di mana?” tanya tegas Flavia.


“Apa sedang bersama Tuanmu?” tanya Flavia lagi.


“Tidak, saat ini sedang menemani Tuan muda dan Lily bermain,” jawab asisten He.


“Tidak menemani Tuan?” tanya Flavia lagi.


“Tidak Nona,” jawab asisten He lagi.


“kirim lokasimu kepadaku!” pinta Flavia.


Merasa jika Flavia akan menjadi Nyonya muda Lin, maka asisten He dengan cepat memberikan lokasi mereka. Sebelum pergi menyusul  Flavia datang ke Klinik bersalinnya terlebih dahulu, baru saja ingin pergi tiba-tiba saja ada pasien gawat darurat dan harus segera operasi sesar demi menyelamatkan ibu dan anak.


Operasi kali ini berjalan cukup lama, Flavia merasa lelah karena merasa sedikit tertekan dengan kasus kelahiran yang ini.  karena semasa kehamilan ibu muda ini, mertua dan juga ibu kandungnya banyak menetapkan larangan ini dan itu, padahal itu adalah mitos  yang sesat yang justru malah membahayakan kehamilan.


Pada akhirnya baru sore hari Flavia bisa pergi menyusul Eryk dan Cedric. Berkendara satu jam lebih, Flavia merasa haus dan memutuskan menepi ke mini market terdekat. Dia mengambil satu botol air mineral dan satu botol air soda.


Flavia pergi ke kasir dan berdiri mengantri. Di depannya ada dua wanita yang sedang bergosip, "Apa kau sudah dengar ada pria tampan yang mencari-cari Ibunya Fang Yin."


"Iya, itu sepertinya tuan muda yang kaya raya," ujar wanita satunya menimpali.


"Apa menurutmu pria itu akan melamar Fang Yin?" ujar mereka berdua sambil terkekeh.


"Bisa jadi, Fang Yin memang gadis yang cantik," ujar Kasir menimpali sambil ikut tertawa juga.


"Tuan muda kaya, apa itu Eryk Lin?" gumam Flavia dalam hati.


Setelah membayar belanjaan, merekapun bergegas pergi seraya tetap meneruskan bergosip. Flavia pun juga bergegas membayar air yang dia ambil beli tadi.


Flavia langsung bergegas masuk ke dalam mobilnya sambil melempar tas berisi air mineral yang baru saja dia beli, "Hah ... satu tampan satu cantik!" gumam Flavia sedikit kesal.


Flavia pun sampai di Villa, menjelang malam, Karena ini adalah pertama kalinya Flavia datang ke sini maka para pelayan tidak mengenali Flavia, dan malah menahan Flavia di pintu gerbang masuk.


Flavia mencoba menghubungi Eryk namun, tidak terjawab, "Apa dia sedang bersama wanita itu," pikir Flavia.


Tak berapa lama sebuah mobil pun datang, pintu gerbang pun terbuka lebar. Flavia segera saja melajukan mobilnya, tepat ketika mobil Flavia masuk ke halaman Villa Eryk malah dihentikan oleh petugas keamaan di Vila itu.

__ADS_1


Eryk yang mengenali mobil Flavia langsung saja menepikan mobilnya, dia pun keluar dari mobil, "Flavia," ujarnya.


Semua monoleh, lalu Fang Yin Keluar dari mobil Eryk. Melihatnya Flavia pun menaikan satu alisnya, lalu dia bertelak pinggang seraya berkata, "Hah, masih ingat dengan aku ternyata!"


Petugas keamaanan pun menjadi bingung, dan berpikir apa ini tentang kisah cinta segitiga tuan muda mereka. Flavia memicingkan matanya kepada Eryk, lalu kembali masuk ke dalam mobil dan langsung melajukannya.


Eryk yang melihat itu pun juga ikut masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Fang Yin. Flavia turun dari mobil dan membanting dengan keras pintu mobilnya.


"Cedric ... cedric," panggil Flavia sambil masuk ke dalam ruangan-ruangan.


Para pelayan heboh melihat Flavia membuat keributan, semenjak dari klinik bersalin sudah membuat mood Flavia buruk. Di tambah mendengar gosip lalu melihat dengan mata kepala sendiri, maka moodnya semakin memburuk.


"Nona ... Nona, mohon tenang sedikit," ujar salah satu pelayan yang mencoba menghalangi Flavia.


"Maaf, Nona ini siapa?" tanya kepala pelayan.


Pada saat ini, Eryk Lin juga sudah masuk, ketika di tanya seperti itu maka Flavia pun terdiam, berpikir memang di Villa ini dia bukanlah siapa-siapa.


Flavia melihat Eryk masuk lalu berkata, "Di mana Cedric-ku!" ujarnya dengan nada setengah marah.


"Cedric-mu?" tanya Eryk sambil menaikan satu alisnya juga.


"Iya, cedric-ku, dan hanya punya aku!" jawab kesal Flavia seraya melirik ke arah Fang Yin.


Eryk menarik lengan Flavia, lalu berkata kepada kepala pelayan, "Bawa Nona Fang ke kamarnya!"


"Apa! Dia membawa wanita itu tinggal di sini," pikir Flavia lagi.


Dengan marah dia pun menarik tangannya dari genggaman Eryk, "Hei, tunggu," ujar Eryk seraya mengikuti langkah Flavia.


"Kau mau ke mana?" tanya Eryk.


"Tentu saja pulang," jawab Flavia ketus.


"Pulang?" tanya Eryk. "Tidak bisa," ujar Eryk lagi.


"Kenapa tidak bisa? Kau saja bisa membawa wanita lain tinggal bersamamu!" hardik marah Flavia kepada Eryk, sampai membuat wajahnya memerah.


"Apa kau cemburu?" tanya Eryk.


"Cemburu kepalamu," jawab Flavia dalam hati.


Dengan masih memasang wajah marah, Flavia pergi meninggalkan Eryk. Namun, Eryk malah tersenyum. Dia pun mengejar langkah ibu dari anaknya itu.


"Kalian tidak bisa pergi ke mana-mana, malam ini akan ada badai," jelas Eryk.

__ADS_1


Flavia tetap saja berjalan memanggil-manggil Cedric. Pada saat ini badai itu sudah datang lebih dulu dan memporak porandakan hatinya.


"Mama," jawab Cedric.


"Ayo, kita pulang," ujar Flavia sambil mengandeng cedric.


"Jangan pulang," ujar lily.


"Malam ini akan ada badai, dan itu berbahaya," jelas Lily.


"Ya Ma, berbahaya," jawab Cedric.


Flavia memijit-mijit lehernya sebentar, lalu melihat kilatan-kilatan petir dari balik langit malam, pada akhirnya dia pun memutuskan untuk tinggal.


"Ayo masuk," ajak Eryk karena melihat gerimis telah turun.


Cedric pun membawa mamanya ke kamar Papanya, Eryk juga ikut masuk lalu membuka jas-nya, membuka kancing lengan kemejanya dan mengendurkan dasinya.


Semua gerakan sederhana itu terlihat elegan di mata Flavia, "Mengapa dia jadi terlihat tampan," pikir Flavia.


"Ma," panggil Cedric beberapa kali.


"Ma," pangil Cedric lagi seraya mencubit tangan Flavia.


"Ah ya, ada apa sayang?" jawab Flavia.


"Papa tampan kan?" ujar Cedric.


"Eh itu ... emm," ujar Flavia dengan malu-malu.


Eryk yang menyadari jika sedari tadi Flavia memandanginya, lalu mendengar putranya berkata seperti itu langsung saja membuat dia berdehem, terbatuk menahan rasa senang di hati.


"Mama akan ke kamar mama," ujar Flavia langsung berdiri dari ranjang besar di kamar Eryk.


"Mama tidak tidur di sini?" tanya Cedric dengan tatapan mata kelinci yang jernih.


"Tidak sayang," jawab Flavia seraya menapuk wajah tampan putranya itu.


✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅


Di tunggu Votenya ya


Kuy nanti malam akan Up lagi ya ...


__ADS_1


__ADS_2