BLUE MOON

BLUE MOON
TETANGGA


__ADS_3

Setelah Eryk pulang, Carl pun menatapi apartemen yang terbilang luas itu. Dia pergi ke luar, dan berdiri di balkon kamarnya yang luas itu. Menatapi keadaan malam, sambil memikirkan kira-kira malaikatnya ada di sebelah mana dan sedang apa.


Carl menatap ke langit, lalu berkata dalam hati, "Tuhan, jika dia adalah wanita yang Kau ciptakan untuku maka pertemukanlah kami."


"Jika bukan, maka aku mohon tetap jadikanlah dia pasanganku," ucap doa carl yang terdengar sedikit memaksa.


Setelah mengedipkan mata kepada langit, dia pun kembali masuk ke kamar. Sementara itu Ariana, baru saja selesai berbelanja bahan makanan, dan melihat ada sebuah kotak di depan pintu apartemennya itu.


Sebagai seorang agent dia terbiasa waspada, dia pun meletakan belanjaanya, dan langsung memegang pistol kecil yang dia bawa di bagian pahanya. Dia melihat ke sekeliling koridor. Mengecek tidak ada hal yang aneh, dia pun berjongkok lalu membuka sebuah surat dan membacanya, "Halo, aku adalah tetangga barumu, ini ada sedikit oleh-oleh dariku. Ini akan lebih enak jika kau memakannya dengan nasi yang hangat."


Ariana membuka kotak kertas itu, dan melihat ada sebuah botol berisi potongan cabai dan cumi, "Apa ini, ini dari tetangga yang mana?" pikir Ariana seraya melihat setiap pintu yang tertutup rapat itu.


Ariana membawa masuk belanjaan dan kotak hadiah itu. Dia meletakannya di dapur, lalu mengambil sesuatu yang bisa menguji apakah makanan itu memgandung racun atau tidak.


"Hmm ... aman," ujarnya.


Setelah memastikan itu aman, maka dia pun mencicipi itu, dan merasa itu sangat lezat. Ariana mengambil semangkuk nasi hangat, lalu mencoba mencampurnya.


"Wuah benar, ini terasa semakin lezat ketika dicampur dengan nasi hangat," ujar Ariana seraya memasukan suapan lain lagi ke dalam mulutnya.


Ariana harus berterima kasih kepada tetangganya itu, dia pun menganlisa jika kemungkinan besar tetangga yang memberi dia oleh-oleh ini adalah tetangga di depan unitnya.


Merasa jika dia adalah penghuni baru, maka Ariana beranggapan jika mungkin saja dia belum membeli bahan makanan. Dia pun mengeluarkan isi kantong belanjanya. Tadi dia membeli susu almond sedikit banyak. Lalu memutuskan membagi satu untuk tetangganya itu.


Dia pun menuliskan pesan di sana, "Terima kasih oleh-olehnya, ini terimalah susu Almond ini, kau pasti akan menyukainya."


Ariana meletakan itu di depan pintu unit Carl, tanpa menekan bel. Lalu dia segera masuk kembali ke unit apartemennya itu.


Di pagi harinya, Carl ingin berjoging, ketika dia membuka pintu, melihat ada sebuah susu dan sebuah pesan. Dia hanya tersenyum lalu membawa masuk susu tersebut. Dan bergegas pergi joging.


Di bawah Ariana sudah selesai dengan joging rutinnya, hanya saja dia melakukannya lebih pagi. Pintu lift terbuka, Ariana masuk. Beberapa detik kemudian pintu lift di sebelahnya terbuka, dan Carl pun keluar dari lift itu.


Ariana melihat jika susu almond yang dia berikan sudah tidak ada di tempat, dia pun tersenyum dan masuk ke unitnya.


Ariana duduk di sofa, sambil melihat ponselnya. Merasa tidak ada pesan penting dia pun segera mandi, lalu mulai berkemas. Dia akan bersiap terbang ke negara lain. Masa cutinya belum selesai, jadi masih ingin melihat warna dunia lain.


Baru beberapa langkah meninggalkan unit yang di sewanya, dia pun menghentikan langkahnya, dia meletakan sebuah Pin penghargaan pertamnya, dalam sebuah amplop dan menuliskan pesan, "Jika mengalami kesulitan, maka tekanlah tombol kecil yang ada di Pin ini, maka bantuan akan datang kepadamu," isi pesan di surat itu.

__ADS_1


Ariana pun memakai kacamatanya lalu pergi masuk ke mobil yang menjemputnya. Baru saja sampai di bandara, dua orang berjas hitam menghadangnya.


"Nona sebaiknya ikut kami!" perintahnya.


"Apa aku mengenal kalian?" tanya Ariana.


"Tidak, tapi Tuan kami mengenal Nona,"


"Ah begitukah," jawab Ariana dengan tenang.


Tidak ingin memancing keributan di keramaian dia pun berpura-pura mengikuti mau kedua pria berjas hitam tersebut. Ariana penasaran dengan orang yang menginginkannya. Dia pun ikut masuk ke dalam mobil, meninggalkan penerbangannya.


Ariana memperhatikan segala atribut di dalam mobil, menyimpanan ingatan sebuah lambang yang tengah dia lihat. Lalu dengam diam-diam dia menekan jam tangannya, dan keluarlah jarum linglung. Lalu menembakan ke pria satunya lagi. Kedua Pria itu pun langsung menjadi linglung, dan malah membebaskan Ariana.


Dengan cepat Ariana pergi menjauh dari mobil yang membawanya, "Jarum linglung milik keluarga Long ini memamg benar-benar hebat," pujinya.


Ketika sedang menggeret kopernya, mobil Flavia kebetulan saja lewat. Dia mengenali Ariana. Lalu menepikan mobilnya.


"Ariana?" Panggilnya.


"Flavia," ujarnya sembari teriak senang dan berlari menghampirinya.


"Ceritanya panjang," jawab Ariana.


Ariana melihat ada mobil lain yang sedang mengejarnya, lalu segera menarik tangan Flavia "Ayo kita lari!"


"Hei, ada apa ini?" tanya Flavia.


Ariana membuka pintu penumpang dan melemparkan kopernya ke dalam, juga menarik Flavia untuk masuk. Lalu dia mengambil alih kemudi mobil Flavia.


"Oh ya ampun, ada apa ini?" tanya Flavia.


"Pegangan yang kuat," ujar Ariana.


"Dasar sial, tidak bisakah kalian membiarkanku tenang menjalani liburanku," ujar Ariana mengumpat komplotan itu.


Flavia yang duduk di kursi belakang terpelanting ke kiri dan ke kanan. Baru menstabilkan duduknya, sudah terpelanting lagi, kali ini wajahnya malah sampai menempel di kaca, terlihat seperti ikan yang sedang tergencet.

__ADS_1


"Oh Ya Tuhan, Ariana kau sedang terlibat masalah apa?" tanya Flavia.


Sebenarnya Flavia ingin menyusul Eryk dan Cedric yang sedang ke Villa, tapi melihat Ariana, jadilah sekarang dia memgalami hal seru.


"Maafkan aku, sepertinya kita tidak akan ke tempat tujuaanmu," jawab Ariana yang semakin membawa Flavia jauh dari Villa milik Eryk.Sementara itu di Villa, Eryk sedikit-sedikit melirik jam tangannya, "kenapa belum tiba juga," pikirnya.


"Bukankah dia sudah meninggalkan klinik sedari tadi," pikir Eryk lagi.


Jika Eryk sedang menunggu Flavia, maka Cedric sedang mencari keberadaan Lily. Bertanya kepada tukang kebun, "Di mana Lily?"


"Ah ... si kecil Lily, dia dan ibunya sudah tidak bekerja di sini lagi," jawab tukang kebun itu.


"Semenjak kejadian di hutan, ibunya di pindahkan bekerja oleh agensi yang mengirim dia bekerja di sini," jawab tukang kebun itu.


"Kenapan kalian mengijinkan mereka memindahkan ibunya Lily!" bentak Cedric.


Dia pun segera berlari menemui papanya, Eryk menoleh dan melihat Cedric berlari ke arahnya dengan terburu-buru.


"Ada apa?" tanya Eryk.


"Lily ... kenapa Papa membiarkan mereka membawa Lily," ujar Cedric setengah menangis.


"Jadi kau sedang menangisi Lily?" tanya Eryk.


"Dia adalah temanku, Papa!" jawab Cedric dengan samhil terisak lagi.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


DUKUNG NOVEL ini dengan :


- Vote


-Like


-Komen


- Tap favorit yang tanda hati ya

__ADS_1


- Poin, hadiah.


__ADS_2