
#bab 67
Asisten He meletakan Flavia dengan lembut di kursi mobil lalu memasangkan sabuk pengaman. Dengan cepat dia duduk di kursi kemudi. Eryk langsung saja masuk, duduk kursi belakang.
Asisten He melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke rumah sakit terdekat. Sementara Ariana dan Carl langsung di bawa ke Mansion Mo oleh anggota Klan naga hitam.
Asisten He, melirik Flavia berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada Nona muda mereka ini. Jika tidak maka perang para gangster akan terjadi.
Naga besar mereka jelas akan marah, ketika dulu cucu perempuannya mati terbunuh. Maka dia sendiri yang turun tangan memerangi kelompok yang telah merenggut nyawa cucu perempuan satu-satunya itu.
Begitu sampai rumah sakit, kesadaran Eryk kembali. Dengan cepat dia keluar dari mobil lalu membuka pintu depan, dan langsung memggendong Flavia ke bagian unit gawat darurat.
Eryk langsung mengatakan riwayat kejadian, menjelaskan terluka karena jatuh dari tebing yang tinggi, menjelaskan keadaan pasca terjatuh. Asisten He paham,jika di rumah sakit maka Eryk berkuasa atas tempat dan kondisi, karena dia yang paling memahami.
Eryk bersama dokter jaga, memeriksa keadaan Flavia. Asisten He menunggu dengan tenang di luar ruang unit gawat darurat itu. Terlihat Beberapa dokter dengan jas putih lengkap baru saja datang ditemani dengan kepala rumah sakit, merekapun masuk ke ruang unit gawat darurat itu.
Asisten He memandangi mereka, itu adalah sebuah kelompok tim dokter. Dia pun sedikit mengintip ke dalam dan melihat tim dokter yang baru masuk itu mendatangi ranjang nona muda mereka.
Bukan hanya asisten He yang terkejut. Namun juga itu membuat Eryk terkejut. Karena dia mengenal jajaran dokter ahli yang datang dan memeriksa keadaan Flavia.
Jelas mereka berdua dibuat bingung, berpikir siapa orang dibalik yang bisa menghadirkan para ahli pakar nomor satu datang untuk memeriksa Flavia. Bahkan ada orang terakhir yang datang, yang mereka tak pernah sangka akan datang.
Austin Long berjalan masuk dengan elegan, penuh wibawa. Meski tidak memakai jas berwarna putih, yang menandakan simbol seorang ahli medis. Namun raut wajah Austin sudah tergambar dengan jelas, jika dia sangat jelas mengenal dunia medis.
Asisten He jelas mengetahui sepak terjang tuan Long yang sedang berjalan ke arahnya itu. Siapa yang tidak mengenal Austin Long, yang dulu dikenal sebagai bocah kecil yang menghabisi geng Luen dengan kecerdasan dan strateginya yang matang.
Jadi jelas nama Austin Long sangat berkibar di kelompok bawah tanah seperti Klan naga hitam ini. Asisten He masih tercengang, lalu menudukan kepalanya memberi hormat.
Austin berhenti melangkah di depan asisten He, lalu dia berkata, "Terima kasih karena sudah menjaganya dengan baik."
Sekali lagi asisten He mendundukan kepalanya, memberi hormat kepada Austin lagi.
Asisten He mengangkat kepalanya, menatapi punggung Austin Long yang sedang berjalan masuk ke dalam ruang gawat darurat. Dia menepuk-nepuk pipinya, memastikan jika tadi bukan mimpi.
"Tuan Long mengucapkan terima kasih kepadaku?" ujarnya dalam hati.
Di dalam ruang unit gawat darurat, semua dokter juga ikut menudukan kepalanya kepada master racun yang baru saja masuk.
__ADS_1
"T-tuan Long," ujar Eryk sedikit
terbata.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Austin seraya meminta data kesehatan yang sedang di pegang Eryk.
Dengan masih tercengan Eryk memberikannya begitu saja kepada Austin, lalu dia mengangguk-angguk ketika membaca laporan itu
Austin mengeluarkan sebotol cairan kecil, dan memberikan kepada salah satu tim dokter yang ada di sana.
"Berikan ini kepadanya!" perintah Austin seraya berbalik pergi meninggalkan ruang unit gawat darurat itu.
Eryk berlari mengejar Austin, dan memanggilnya, "Tuan."
"Apa mengenal Flavia?" tanya Eryk.
Austin menghentikan langkahnya lalu menjawab, "Ya ... dia adalah muridku."
"Hah, apa ... murid?" tanya Eryk lebih terperanjat lagi.
"Waspadai semua musuhmu, terutama musuh dalam selimut," nasehat Austin lagi lalu pergi.
Asisten He mendekati Eryk yang masih terpaku menatapi kepergian si ahli racun, "Tuan Long itu benar-benar keren. Datang tak diundang, pergi tak diantar," puji Asisten He.
Di Mansion Mo, nampak Carl yang tidak henti-hentinya memandangi Ariana. Dan mengekori Ariana.
"Apa kau tidak ada kerjaan lain?" tanya Ariana sambil bersedekap.
"Tidak, pekerjaanku sudah selesai," jawab Carl dengan sambil tetap memandangi Ariana.
Pekerjaan yang Carl maksud adalah, mencari-cari Ariana selama ini. Dan ketika sudah bertemu maka dia menganggap pekerjaan yang itu sudah tidak ada lagi.
Bagi Carl, malaikatnya ini sudah memenuhi tiap ruangan yang ada di pikirannya. Carl selalu bisa merasakan Ariana ada di sana sini, melompat-lompat di setiap sudut pikirannya.
"Terima kasih karena sudah mau terjun ke sungai dan menyelamatkanku," ucap Ariana.
Dari gerakan dan beberapa goresan di tangan putih Carl, maka Ariana yakin betul jika pria yang terjun ke sungai itu bukan tipe petualang. Karena itu Ariana memuji keberanian Carl.
__ADS_1
"Apa kau terluka?" tanya Ariana.
"Oh ini maksudmu?" jawab Carl sembari memperlihatkan luka-luka di tangannya bahkan lehernya.
"Ini tidak sakit sama sekali," jawab Carl sambil tertawa.
Rasa sakit tidak terasa penting, yang paling penting adalah dia sudah menemukan malaikatnya. Sudah melacaknya selama ini, begitu bertemu jadi sesaat lupa akan segalanya, termasuk rasa sakit di tubuh.
"Apa Nona Flavia akan baik-baik saja?" tanya Ariana.
"Tenanglah, Dokter Lin adalah dokter yang hebat," jawab Carl.
"Tapi, tadi aku lihat dia menangis," jawab Ariana.
"Aah itu ... mungkin otaknya sedang sedikit kemasukan air, jadi sedang mengeluarkan melalui tangisan," jawab Carl sembarang.
Ariana langsung saja tertawa mendengarkan jawaban dari Carl, lalu dia berkata, "Kau ini sungguh setia kawan sekali. Pandai menutupi kekurangan teman," pujinya sembari memberi tanda jempol untuk Carl.
Wajah Carl pun bersemu merah, dipuji seperti itu oleh pujaan hati, jika dia pandai bernyanyi maka dia akan bernyanyi sambil berjoget untuk menumpahkan rasa senangnya itu.
Carl diam-diam mengambil foto Ariana lalu mengirimkannya kepada Leon," Aku telah menemukan malaikatku," isi pesannya itu.
"Jadi ini adalah calon Tante Raynar?" balas pesan Leon kepada adiknya itu.
"Aku akan segera membawanya untuk berkenalan dengan Mama dan Papa," balas pesan Carl lagi kepada Leon.
Melihat Carl yang tertawa-tawa sambil mengetik pesan, Ariana pun penasaran dan bertanya, "Apa itu pacarmu?"
Carl langsung menengadah melihat Ariana, lalu dengan spontan menjawab, "Tidak ada pacar."
Jawab Carl dengan cepat, karena tidak ingin Ariana salah paham. Belum berjuang mengambil hati malaikatnya, tapi malah sudah di salahpahami. Bukankah itu akan sangat buruk bagi perkembangan hubungan mereka.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
JANGAN LUPA VOTE DAN POINNYA GAES, TUAN AUSTIN LONG dah datang lhooo di bab ini
😁😁😁
__ADS_1