
Asisten He turun dari mobil berwarna hitam, membuka pintu mobil yang ditumpangi Cedric dan segera saja menggendongnya, “Naga kecil, tetap pejamkan mata,” ujarnya.
Selama ini pengawal bayangan naga kecil ini bertebaran di mana-mana, semenjak peristiwa bayi Xi’nger dan kakek sayur. Maka, asisten He langsung membentuk pengawal bayangan untuk Cedric. Jadi ketika orang-orang paman Lin mengejar mobil Cedric, pengawal bayangan naga kecil juga telah ikut bergerak, mengintai menunggu waktu yang tepat untuk menerjang lawan.
Asisten He meletakan Cedric di kursi belakang mobilnya, lalu menutupnya. Pengawal bayangan itu masing mengacungkan senjata di depan kaca mobil musuh. Lalu Asisten He berjalan dan berdiri di depan mobilnya. Dia mengambil sebuah koin yang memiliki dua gambar yang berbeda di tiap sisinya.
Asisten He lalu melemparkan koin itu, salah satu dari pengawal bayangan memperhatikan gambar apa yang akan keluar. Jika bunga berarti orang-orang yang di dalam mobil itu akan dihukum menurut aturan negara yang berlaku, jika wajah Kakek Mo, maka itu artinya kematian bagi mereka semua.
Koin telah terlempar ke atas, asisten He menyeringai lalu melangkah masuk ke dalam mobilnya. Hukuman telah diputuskan oleh koin dan langit. Ketika mobil asisten He sudah pergi berlalu meninggalkan tempat kejadian, maka para pengawal bayangan itu langsung mengeksekusi semua yang ada di dalam mobil itu.
Sepanjang perjalanan ke Mansion Mo, asisten He menggenggam tangan naga kecilnya itu, “Apa merasa takut?” tanyanya.
“Tidak,” jawab Cedric yang merasa akan selalu ada orang yang melindunginya.
“Bagus, jika begitu kau sudah bisa membuka matamu,” ujar asisten He.
Eryk baru saja tiba di klinik bersalin Flavia, begitu mendengar kabar itu langsung saja menerabas masuk ke ruang kerja Flavia, tanpa berkata-kata dia langsung mengambil tas dan menarik tangan Flavia lalu membawanya masuk ke dalam mobil.
“Hei, kau ini kenapa?” tanya Flavia.
Wajah Eryk sudah tidak sedap di pandang, lalu dengan nada menahan marah Eryk berkata, “Beraninya dia menyentuh Cedricku.”
“Apa … siapa maksudmu?” tanya penasaran Flavia.
__ADS_1
“Cedric … apa ada yang ingin melukainya?” tanya Flavia mulai panik.
“Apa itu Paman Lin?” tanya Flavia lagi.
Eryk menganguk seraya tetap fokus melajukan mobilnya, kali ini Paman Lin telah menghabiskan batas kesabaran Eryk. Dia menghubungi asisten He, “Keluarkan semua bukti yang kita punya, rampas semua asetnya, dan jangan kasih ampun ketika dia di penjara!” perintahnya dengan nada suara tegas.
Begitu sampai, Flavia melihat Cedricnya sedang asyik menikmati aneka puding kesukaannya. Dengan sedikit berlari dia mendekati putranya itu, menggendong lalu menciumi seraya berkata, “Kesayangan Mama … kesayangan Mama.”
Eryk pun merasa lega melihat putranya baik-baik saja, dia pun ikut memeluk Cedric. Flavia berkata, “Sampai huru hara ini selesai maka kami akan tinggal di Mansion Mo.”
Eryk pun mengangguk tanpa perlawanan, Mansion Mo saat ini adalah tempat teraman, “Maafkan aku,” ujarya sambil menciumi bahu Flavia.
Setelah memastikan jika Cedric baik-baik saja, Eryk pun segera pergi meninggalkan Mansion Mo untuk menyelesaikan semua sampai ke akar-akarnya. Di luar dia bertemu dengan asisten He, lalu berkata, “Aku mengijinkan Cedric memanggilmu Papa,” ujar Eryk menyampaikan tanda terima kasihnya.
Asisten He menggendong Gladius lalu berkata, “Mengapa main diluar, mengapa tidak menemani Mama.”
Gladius hanya tertawa-tawa kecil saja, “Aku akan mengantar kepada Mamanya,” ujar asisten He kepada pelayan yang menjaga Gladius.
Pada saat ini di paviliun, Xing’er sedang merawat tanaman bunga. Asisten He memperhatikan gerak- geriknya. Meski tidak melihat tapi dia melihat jika wanita itu bisa dengan sangat lembut memperlakukan. Merawat tanaman-tanaman itu.
Gerakan tangan Xing’er terhenti sesaat lalu dia berkata, “Apakah itu kau, asisten He?” tanyanya.
Asisten He mengernyitkan alisnya, “Dari mana dia tahu ini aku. Sementara dia tidak melihatku,” pikirnya.
__ADS_1
“Iya ini aku,” jawab asisten He.
Xing’er membalikan tubuhnya lalu tersenyum seraya merentangkan tangannya, “Terima kasih karena sudah mengantar Gladiusku,” ujarnya mendengar sura tawa putranya itu.
Asisten He segera memberikan Gladius ke pelukan Xing’er. Meski buta namun, tetap terlihat jika binar matanya memancarkan kasih sayang yang sangat besar kepada putranya itu. Dia memandangi interaksi ibu dan anak itu, dan merasa dunianya menjadi lebih sedikit sejuk dan indah.
Menjadi asisten nomor satu di sisi naga besar klan naga hitam, sudah tentu telah melihat banyak pertumpahan darah. Di suguhi pemandangan seperti ini hatinya pun terasa menjadi hangat. Ketika asisten He diam-riam akan pergi, Xing’er pun berkata,” Apa akan pergi?”
“Ya, ada hal yang harus aku kerjakan,” jawab asisten He.
“Jika begitu hati-hati,” ujar Xing’er seraya melambaikan tangan Gladius kepada asisten He.
Melihat itu asisten He pun tersenyum, bersemu merah. Lalu bergegas meninggalkan ibu dan anak itu dengan langkah jejak yang tegap. Tuan Mo telah mendengar apa yang terjadi, pada naga kecilnya, dan meminta kepad asisten He agar memastikan Paman Lin tidak akan pernah bisa bangkit lagi.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula, ini hukuman yang akan diberikan dari Tuan Mo. Sudah di pukul oleh Eryk Lin, maka Tuan Mo memastikan jika Paman Lin akan tersungkur terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi.
Dalam berberapa hari Eryk Lin bergelut dengan kasus Paman Lin yang daftar kejahatannya semakin bertambah saja. Flavia pun ikut menyumbangkan bukti komposisi racun yang waktu itu diberikan kepada Nyonya Lin. Karena kejadian ini, membuat Eryk beberapa hari tidak datang berkunjung ke Mansion Mo.
Dia ingin menyingirkan semua duri yang mungkin nanti akan menyakiti Flavia dan Cedric. Jadi kali ini dia tidak ingin menyisakan sedikit pun benih-benih racun di keluarganya. Malam ini Eryk mengumpulkan para tetua Lin dan beberapa kerabat lainnya.
Dalam pertemuan ini jelas dia ingin memperjelas posisi Flavia dan Cedric, “Kekuasaan penuh adalah aku, jika ada yang berkeberatan maka katakan sekarang,” ujarnya.
“Jika aku mengetahui ada yang ingin menikam dari belakang, maka sudah aku pastikan entitas mereka akan menghilang tanpa jejak,” ancam Eryk kepada semua yang hadir di aula keluarga itu.
__ADS_1
Para tetua pun bergidik mendengar ancaman Eryk. Mereka bukan tidak tahu kesusahan-kesusahan yang dialami Paman Lin di penjara adalah ulah ahli waris utama kelurga Lin ini. Eryk benar-benar sudah memiskinkan Paman Lin tanpa celah.