BLUE MOON

BLUE MOON
JURNAL MEDIS


__ADS_3

Asisten He, melihat ke arah Eryk lalu menyapanya, "Direktur Lin."


Eryk masih tersenyum senang, karena ide yang ada di kepalanya itu masih bergelayut. Mereka bertiga pun masuk ke dalam mansion Mo. Cedric menggandeng kedua papanya itu berjalan masuk.


Eryk bersimpuh di sisi kanan putranya itu, lalu berkata,"Pergi mandi sama kakak pelayan ya,"ujarnya.


"Kita tunggu Mama, nanti kita makan bersama," ujarnya lagi.


"Ok Pa," ujar Cedric seraya menerima gandengan tangan dari salah satu pelayan yang mengasuhnya.


Eryk berdiri lalu tersenyum kepada Asisten He, yang langsung menangkap signal seperti ada suatu keanehan, "Apa mau menemani minum kopi, sambil bermain catur?" tanya Eryk.


"Apa?" tanya heran asisten He.


"Oh ayolah, kita boleh bekerja keras. Tapi, tubuh kita juga butuh rileks. Ini adalah standar umum kesehatan," jelas Eryk.


Asisten He pun merasa pasrah ketika Tuan Muda Lin ini mendorongnya melangkah ke ruang santai keluarga. Lalu mendudukannya di kursi catur. Jika saja, Eryk bukanlah Papa dari si naga kecilnya, maka sudah di pastikan sedari tadi dia akan menendang kaki Eryk sampai tubuhnya tersungkur.


Mereka berdua pun memulai pertandingan caturnya. Meski Eryk adalah Papa si naga kecilnya. Tapi dalam hal bermain catur ini jelas dia tidak mau mengalah begitu saja.


Kepala pelayan, meletakan buang anggur dan makanan ringan dan juga teh krisan. Sambil memasukan anggur ke dalam mulutnya, Eryk bertanya, "Apa kau memiliki pacar?"


Asisten He menaikan satu alisnya sambil tetap memandangi papan catur yang ada di depannya, lalu menjawab dengan santai "Tidak."


"Astaga, setampan ini dia belum juga memiliki pacar ... Oh ya ampun apa dia sedang berencana mendekati Flaviaku," pikir Eryk.


"Bagaimanapun juga dia sudah berhasil mendekati Cedric, putra kami," pikirnya lagi.


"Tidak ... tidak boleh. Dia tidak boleh mengambil hati Flaviaku juga," ujar Eryk dalam hati.


"Apa mau aku kenalkan dengan seorang wanita?" tanya Eryk dengan sambil bersikap tenang.


"Itu bukan prioritasku," jawab sopan Asisten He.


"Katakan padaku tipemu yang seperti apa?" tanya Eryk penasaran.


Asisten he menarik napas, dan memilih menjawab. Karena dia yakin jika tidak dijawab maka Tuan Muda Lin ini akan terus bertanya.


"Sederhana, anggun, sabar, penyanyang, cerdas, dan manis." Jawab singkat tapi, padat.

__ADS_1


"Bukankah itu figure Flavia ..." pikirnya.


"Aku sudah melamar Flavia," kata Eryk.


"Apa kata Tuan Mo?" tanya balik asisten He dengan nada yang sangat tenang.


"Emm ... itu ... emm, tentu saja langsung menerimanya," jawab Eryk.


"Skak mat!" ujar asistem He sambil tertawa penuh kemenangan.


"Eh ... eh ..." ujar Eryk yang sedari tadi memamg tidak berkonsentrasi penuh karena sibuk memcecar asisten He.


Asisten He pun berdiri dari kursi panasnya, Seraya berkata "Apa kau pikir kami akan mudah melepaskan Nona muda dan naga kecil kami?"


Eryk mengernyitkan alisnya, lalu asisten He berkata lagi, "Makan malam pasti sudah siap," ujarnya seraya pergi meninggalkan Eryk yang masih berusaha mensinkronkan perkataan asisten He tadi.


Sikap yang diambil asisten He sama dengan sikap si naga besar. Dirinya itu merasa melihat, dan membersamai nona mudanya ketika di masa-masa kesulitan dalam hidup karena perbuatan tuan muda Lin. Jadi mana bisa dia menyerahkan Nona muda mereka dan naga kecil mereka kepada Eryk dengan begitu mudah.


Sudah menjelang makan malam. Namun, Flavia belum juga pulang ke Mansion Mo. Asisten He, menggendong Cedric lalu berkata, "Mama tidak akan malam dengan kita, karena ada sesuatu hal yang penting yang harus di kerjakan."


"Dari mana kau tahu?" tanya Eryk penasaran.


Eryk sedikit tidak percaya, lalu mencoba menghubungi Flavia. Tapi, malah tidak terjawab. Sementara itu Flavia memberi kabar kepada asisten He karena terbiasa seperti itu dari dulu. Karena sedari dalam kandungan dia telah ada menemani Cedric.


"Papa," lapar ujar Cadric menarik tangan Eryk.


Melihat sikap putranya itu. Hati Eryk pun sedikit terhibur. Lalu memggendongnya melangkah masuk ke ruang makan. Sementara itu, Flavia dan felix sedang berada di lab rahasia.


Kata Felix, Tuan Austin Long memberikan sebuah jurnal medis untuk Flavia. Karena itu dia mengantarnya ke Lab ini, karena dia memiliki akses untuk masuk ke sana.


Ketika akan masuk ke lab rahasia, segala perangkat ponsel harus di tinggalkan. Ini adalah protokol yang harus para tamu patuhi.


Flavia membaca nama yang tertera kecil di bagian belakang jurnal tersebut, "Stephanie ... Gala Quin," bacanya.


Salah satu staff lab rahasia itu berkata, "Yang aku dengar mereka adalah sepasang suami istri, yang kehilangan nyawa demi menyelamatkan umat, orang banyak."


"Manusia-manusia hebat," puji Flavia.


Flavia dan beberapa staff lab rahasia pun berdiskusi membahas isi dari jurnal medis itu.

__ADS_1


"Ini hanya salah satu jurnal, dari tiga jurnal yang seharusnya ada." ujar salah satu staff itu lagi


"Lalu sisanya?" tanya Flavia.


"Yang pasti di tangan orang baik," jawab staff lab itu.


Flavia pun berpikir seperti itu, karena jika bukan di tangan orang baik. Maka gurunya itu pasti akan mengambilnya dengan berbagai cara.


Flavia melirik jam di tangannya, merasa jika jurnal itu begitu bernilai, maka dia menitipkan itu agar tetap berada di lab rahasia.


Staff lab itu pun kembali meletakan jurnal medis itu di lemari besi yang hanya bisa dibuka oleh kode.


"Hei, mengapa kau tidak membawa jurnal itu bersamamu?" tanya Felix.


"Belum waktunya," jawab Flavia tenang.


Felix pun mengantarkan Flavia ke Mansion Mo, Eryk duduk di kursi teras, dan mimilih sisi yang agak gelap.


Begitu Flavia turun dari mobil Felix, dan berjalan masuk langsung saja dia menarik tangan Flavia seraya berkata dengan suara magnetisnya, "Dari mana saja?"


"Astaga ... Tuan muda Lin," ujar terkejut Flavia.


"Apa kau sedari tadi sedang mengintaiku?" tanya Flavia.


"Jangan mengalihkan pembicaraan!" ujar Eryk sedikit kesal.


Falvia mendorong tubuh Eryk yang tengah mengekangnya di dinding, lalu berkata, "Tuan muda Lin, aku adalah wanita dewasa, yang sudah bisa bertanggug jawab penuh atas segala sikap yang aku ambil."


"Kau adalah ibu dari putraku, jadi segala sikpamu adalah tanggung jawab aku juga," jelas Eryk.


"Demi Cedric, maka jangan membantah aku," ujarnya lagi.


Eryk menyerukan hidungnya ke tengkuk Flavia, mencium aroma manis dari tengkuknya, mengecup sekilas lalu menggigit kecil tengkuk Flavia, setelah itu barulah melepaskan kungkungannya.


"Tanda ini adalah tanda cecap kepemilikanku?" Ujar Eryk sambil sedikit mengusap tanda merah yang ada di tengkuk leher Flavia.


Eryk pun melangkah pergi, masuk ke mobil dan mulai melaju. Lagi-lagi sentuhan Eryk benar-benar membuat tubuhnya meremang.


"Oh ya ampun, tuan muda Lin," ujarnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2