
Keesokan paginya, Flavia masih terpulas. Eryk baru saja kembali dari lari pagi. Melihat Flavia masih terpulas manis, dia pun tersenyum lalu mencium-ciumi lembut wajah istrinya itu.
"Apa kau ini adalah putri tidur?" bisik lembut eryk sambil menciumi daun telinganya Flavia.
"Oh ya ampun," jawab Flavia seraya membuka kedua matanya.
"Tuan muda Lin, bisakah pagi ini membebas tugaskan aku?" pinta dan tanya Flavia.
Eryk pun tersenyum, lalu berkata, "Makan pagi telah siap."
"Jika begitu aku akan mandi dulu," ujar Flavia sambil menyibak selimut dan berusaha bamgkit dari ranjang. Tapi, malah kedua kakinya melemas sehingga membuatnya terjatuh ke pelukan Eryk.
"Aku akan memandikanmu," ujar Eryk seraya menggendong tubuh ramping istrinya itu masuk menuju kamar mandi besar mereka.
Setelahnya mereka makan pagi bersama, "Apa ini tidak apa-apa kita meninggalkan Cedric selama ini?" tanya Flavia.
"Tidak apa, dia anak yang cerdas. Lagipula ada Papa He yang menemani, jadi dia tidak akan terlalu merindukan kita,"jelas Eryk.
"Papa He?" tanya Flavia bingung karena Eryk memgijinkan Cedric memamggil Papa kepada orang lain.
Iya Papa He, dia pantas mendapatkan gelar panggilan itu dari Cedric," jelas Eryk.
"Ah ...begitu," jawab Flavia melega.
Flavia meletakan sendok dan garpunya lalu bertanya, "Dengan Lily, apa yang akan kau lakukan?" tanya Flavia yang melihat jika putra satu-satunya itu sangat menyukai bermain dengan Lily.
"Dia akan bertumbuh dewasa, dengan kepintaran yang dia miliki tidak akan sulit jika ingin mencarikan dia pasangan, pria yang ingin menikahinya," jawab Eryk.
Flavia langsung saja tersedak, berpikir jika suaminya ini salah pahan atas pertanyaannya. Dia berkata lagi, "Apa kau menyukai Lily?" tanyanya.
Eryk meletakan sendok dan garpunya juga lalu berkata, "Dia anak yang baik, juga cerdas," jawabnya.
"Jadi kau menyukainya?" tanya Flavia lagi.
Eryk terdiam, menyesap jus jeruknya lalu berkata, "Dia sudah dianggap seperti putri sendiri," jawab Eryk memberitahukan posisi Lily.
Flavia pun tersenyum, perjalanan keduanya masih panjang, karena itu dia memutuskam untuk tidak berdebat lagi dengan suaminya itu. Waktu masih panjang, hal-hal kini akan banyak berubah pada waktunya nanti.
Flavia melanjutkan makan paginya. Menginap selama dua minggu, Eryk kebanyakan memilih menghabiskan waktu di kamar tidur mereka.
__ADS_1
Hari ini adalah hari terkahir berbulan madu, semalaman Eryk benar-benar melahap Flavia bermain dengan berbagai posisi, sampai membuat Flavia benar-benar kelelahan.
Sepanjang perjalanan, Flavia hanya bisa terpulas tidur. Mengisi daya tubuh yang benar-benar habis karena gempuran keras dari Eryk.
Di rumah utama Lin, Asisten He telah mengantarkan cedric kembali ke sana. Flavia langsung saja memeluk dan menciumi Cedric, bagi dia putranya ini adalah cinta pertamanya.
Cedric menatap kepada Eryk dan bertanya dengan Polosnya, "Bukankah Papa bilang akan memberikan adik perempuan yang cantik, imut dan gembul,"
Papa He dan Eryk langsung tertawa sambil mengangkat alis mereka, "Adik perempuan?" ujar Flavia sambil tertawa.
Eryk pun menjawab, "Kita biarkan Mama beristirahat dulu ya, karena Nanti adikmu harus tinggal di perut Mama dulu selama sembilan bulan."
"Iyakah Ma?" tanya Cedric.
Flavia pun tersenyum lalu berkata "Kau mau berapa adik, jika Papa mau maka Mama bersedia memberikan sebanyak yang kau mau."
"Aku mau sepuluh adik perempuan," jawab Cedric.
"Oh ya ampun, banyak sekali," ujar Flavia.
Cedric berpikir jika semua adiknya perempuan, maka dia akan tetap menjadi yang tertampan di dalam keluarga mereka, setelah papanya.
Flavia pun berkata sambil tertawa seraya merapihkan rambut putranya itu, "Itu semua tergantung Papamu, apakah mau memberikannya atau tidak, tugas Mama hanya menjaga adik dalam perut Mama agar selalu sehat," jawab Flavia yang menjelaskan jika ingin adik maka harus ada kerjasama antara dia dan Eryk.
"Papa mau ... iya kan Pa?" tanya Cedric seraya melangkah mendekati Eryk dan memegang jemari Eryk.
Eryk bersimpuh di depan Cedric, "Dua adik saja Ok," ujar Eryk.
"Jika terlalu banyak, maka tubuh Mama akan kelelahan," jelas Eryk lagi.
Cedric melihat Mamanya, lalu teringat bagaimana terkadang Mamanya ini kelelahan ketika merawatnya waktu sedang sakit, Cedric pun mengangguk lalu berkata, "Ok, Pa dua adik saja sudah cukup."
Hari-hari berikutnya dijalani dengan bahagia, keluarga kecil bahagia yang saling mencintai. Eryk sudah mulai menyusun pelajaran yang harus dikuasai oleh seorang ahli waris.
Dengan asisten He dari keluarga Lin, Cedric akan di didik tentang dunia bisnis. Dengan Asisten He dari Klan naga hitam maka Eryk akan di didik tentang dunia seni bela diri, dan juga tentang dunia hitam. Meski tidak sedarah. Namun, Kakek Mo telah memilih Cedric sebagai naga besar, kelak nanti.
Dalam beberapa hari ini, Eryk semakin sibuk, pekerjaannya sebagai CEO Lin Grup sedang sedikit banyak. Karena itu terkadang mengharuskan dia berpegian dinas untuk beberapa hari.
Hari ini Eryk tiba tengah malam di rumah utama Lin. Baru saja mengganti sepatu dengan sandal rumah, tiba-tiba tubuhnya sudah di peluk. Tahu jika itu adalah istrinya Eryk pun langsung membalas pelukan itu.
__ADS_1
"Apakah rindu?" tanya Eryk.
"Sangat ... sangat rindu," jawab Flavia seraya menenggelamkan kepalanya di di dada bidang suaminya itu.
"Aku lebih merindukanmu," ujar Eryk.
"Benarkah?" tanya Flavia seraya mendongakan kepalanya.
Eryk pun berkata, "Bagaimana tidak rindu, kau telah membuat semua beban dunia di pundakku ini terasa menjadi ringan seperti kapas,ketika keadaan tengah sulit kau hadir, itu seperti mengubah hujan menjadi pelangi."
"Kau telah mantato hatiku dengan namamu," ujar Eryk menggombali istrinya itu.
Flavia pun mengalungkan lengannya ke leher Eryk, membuatnya menunduk lalu mencium bibir lembut suaminya itu.
Masa pun berlalu, Cedric saat ini sudah duduk dibangku sekolah menengah atas. Cedric semakin pandai dalam ilmu seni bela diri karena hasil tempaan dari asisten He klan naga hitam. Dan pandai dalam bidang akademik hasil didikan ketat dari Eryk Lin dan Asisten He keluarga Lin.
Hari ini adalah hari ulang tahun Flavia, makan malam sederhana bersama kekuarga pun disiapkan, "Ma, duduk saja. Nanti adik di perut Mama juga ikut lelah." Ujar Cedric dengan nada khawatir.
"Papa akan memarahiku jika Mama sampai kelelahan," ujar Cedric lagi.
"Mama hanya hamil, bukannya sakit," jawab Flavia seraya berjinjit untuk mengacak-acak rambut putranya itu.
Cedric pun menundukan kepalanya agar memudahkan Mamanya itu ketika ingin mengacak-acak rambutnya. Flavia pun tersenyum, naga kecilnya telah bertumbuh dewasa dan tahu bagaimana menjaganya dengan baik.
Flavia melanjutkan memotong sayuran sambil berkata, "Lily sebentar lagi mungkin akan tiba."
Gerakan Cedric yang sedang membantu mencuci sayuran seketika saja berhenti, "Ah begitukah," jawab Cedric seraya melanjutkan mencuci sayurannya.
Pada saat ini kepala pelayan mendekati Flavia lalu berkata, "Lily telah tiba."
Flavia meletakan pisaunya, mencuci tangannya, melepaskan celemek dapurnya. Lalu bergegas pergi menemui Lily.
Cedric terus mencuci sayuran, sambil menimbang-nimbang apakah akan pergi menemuinya atau tidak. Selama ini setiap kali dia mengirim surat untuk Lily, satupun tidak pernah menerima jawaban surat dari Lily.
Pada akhirnya Cedric memutuskan untuk melihat Lily dan ingin bertanya langsung mengapa selama ini satu pun surat darinya tidak pernah dibalas.
Langkahnya terhenti ketika melihat Lily tengah berdiri tersenyum berbincang dengan Mamanya, kakinya seperti terpaku melihat Lily kecilnya tengah berdiri dengan anggunnya di sana.
"Dia begitu sempurna, apakah aku masih bisa berharap jika itu benar-benar kau. Saat kau tidak terlihat terkadang ada dalam pikiranku. Berharap aku menemukan sekilas tentang kita di pelupuk binar matamu," ujar Cedric dalam hati.
__ADS_1