
Ben sedang bertarung 1 lawan 1 dengan ketua mafia dari markas yang dia datangi sendirian saat ini.
Pertarungan yang sangat sengit, tanpa ada yang mengganggu ben dan ketua mafia tersebut. Mereka malah jadi tontonan para mafioso dari ketua mafia tersebut, karena sekarang mereka bertarung di halaman markas.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Pertarungan tangan kosong, tanpa menggunakan senjata api maupun pisau belati.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Tidak ada yang lebih unggul di antara ben dan ketua mafia tersebut, karena mereka sama-sama kuat dan seimbang satu sama lain.
" Boleh juga kemapuan putra mereka.. Tak ku sangka wanita itu akan melahirkan bibit-bibit unggul seperti anak ini dan juga ke empat anak mereka lainnya ". Batin ketua mafia tersebut, di sela pertarungannya melawan ben.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
" Tuan dan pria itu sama-sama kuat.. "
" Sepertinya pertarungan ini akan memakan waktu yang lama ".
" Tapi siapa pria itu ? Apakah dia musuh tuan ? ".
" Entahlah, sepertinya pria itu terlihat memiliki banyak dendam pada tuan ".
Kira-kira seperti itulah percakapan para mafioso ketua mafia itu selama mereka menonton pertarungan sengit di depan mereka.
Tiba-tiba..
Bugh.
Jlebb..
Ben melototkan matanya dengan tajam, sedangkan ketua mafia itu langsung menyeringai puas.
Dengan perlahan ben mengarahkan pandangannya ke arah perutnya, yang ternyata sekarang sudah mengeluarkan banyak darah.
Ternyata ketua mafia itu melakukan hal yang curang. Mungkin saja ketua mafia itu sudah mulai kewalahan melawan ben, sehingga dia langsung menusuk perut ben menggunakan pisau belati yang ternyata ketua mafia itu simpan di dalam jaketnya.
" KAU !!! ". Ben menekan suaranya sembari menahan rasa sakit di perutnya akibat tusukan tersebut.
__ADS_1
Jlebb..
Tak terduga. Ben malah langsung mencabut pisau belati yang masih menancap di perutnya dengan cepat walaupun dia sangat merasa kesakitan.
Matanya terpejam, dahi berkerut menahan kesakitan yang sungguh luar biasa setelah pisau itu berhasil di cabut dari perutnya.
Tapi ternyata...
Jlebb...
Tanpa ada yang menduga dan tanpa ada yang bisa membaca gerakan ben. Dengan lihai nya ben langsung melempar pisau belati yang sudah dia cabut saat ini, ke arah tepat di kepala ketua mafia itu.
Brukk...
Ketua mafia itu pun seketika langsung tumbang dalam sejekap mata. Seluruh anak buah ketua mafia itu tentu saja syok dan tercengang dengan apa yang ben lakukan.
" Cih... "
" Katanya ketua mafia yang paling di takuti ! Tertancap pisau di dahi saja mati ". Pekik ben masih saja sempat-sempatnya menyindir ketua mafia itu yang sudah tumbang, padahal dia saja sudah hampir mulai kehilangan kesadarannya, karena luka tusuk tanda mata dari ketua mafia itu.
Dan akhirnya...
Brukk...
Ben pun terjatuh ke tanah halaman depan markas itu sudah tak sadarkan diri.
*****
Tapi ketika matanya sudah terbuka lebar. Dia mendapati kalau dia tidak sedang berada di halaman markas, tempat terakhir dia datangin.
" Apa aku di rumah sakit ? ". Gumam ben kebingungan.
" Dasar anak nakal ! Tentu saja kamu di rumah sakit ! ". Pekik seseorang yang suaranya sangat di kenal oleh ben.
Ben terkejut, tapi karena dia kesulitan untuk melihat orang yang berbicara padanya, akhirnya dia mencoba bangun dari posisi tidurnya. Tapi sama saja, dia tidak bisa melakukannya.
" Eekkkhh ". Ben meringis karena terlalu banyak bergerak, sehingga luka di perutnya terasa sangat sakit.
" Berhentilah bergerak ben ! Sudah tahu luka tusukan di perutmu belum sembuh. Masih saja banyak bergerak !". Ujar elisa bak emak-emak pada umumnya yang sedang memarahi putranya.
Ternyata elisa dan colten sedang berada di dalam ruangan dimana ben sedang di rawat saat ini. Tepatnya ben di rawat di rumah sakit Hope hospital yang di pimpin oleh arkan.
" Bibi ? Kenapa aku bisa ada disini ? ". Tanya ben dengan suara pelan karena tubuhnya memang masih lemah.
" Cih.. Seharusnya bibi yang akan bertanya padamu, anak nakal ! ".
" Kenapa kamu pergi sendirian ke kandang musuh dan bertindak nekat seperti itu ! Apa kamu sudah tidak memerlukan bantuan dari paman dan bibi lagi ? ". Sambung elisa yang sekarang sudah berdiri di sisi ranjang pasien yang di tempati oleh ben, dan menatap ben dengan tatapan tajam.
Ben memejamkan matanya. " Aku tidak bermaksud seperti itu bi ".
" Bukan aku tidak memerlukan bantuan paman dan bibi lagi. Hanya saja aku sudah muak dengan semua orang yang ingin menyakiti keluargaku. Apalagi ketua mafia itu yang telah membuat baby dan skay mengalami kecelakaan 3 tahun yang lalu ".
__ADS_1
" Sudah cukup aku diam saja selama ini dan ternyata diamku di anggap remeh oleh musuh ! ".
Ben pun mengatakan hal yang sebenarnya dia rasakan. Elisa dan colten pun langsung terdiam setelah mendengarkan semua ucapan penjelasan dari ben.
" Ya, tapikan kamu tidak perlu membahayakan dirimu sendiri, pergi ke markas musuh seorang diri ".
" Lihatlah akibat dari ke nekatanmu. Kamu bahkan harus mendapati luka tusukan di perutmu dan harus menjalani operasi ".
" Bahkan jika kamu ingin tahu. Kamu sudah tidak sadarkan diri selama 2 hari, setelah operasi lukamu selesai ".
Elisa berkata seperti itu, karena dia sangat khawatir dan panik ketika dia dan colten berhasil menyusul ben ke markas musuh. Untung saja elisa dan colten datang di waktu yang tepat, disaat ben baru saja jatuh dan tidak sadarkan diri.
" Tapikan dia juga mati di tanganku ! Setidaknya aku puas dengan apa yang aku lakukan, bi ".
" Setidaknya juga, aku berhasil melenyapkan musuh terakhir yang selalu mengganggu keluargaku ".
" Apalagi setelah aku tahu kalau baby berhasil selamat dari kecelakaan itu dan sekarang sedang mengandung calon keponakanku ". Sambung ben dengan lirih.
" Aku hanya takut jika mafia itu kembali melakukan hal jahat pada baby, disaat dia sedang hamil seperti itu ".
Ternyata ben sudah di hubungi oleh lano. Dimana lano telah memberikan kabar bahwa vira berhasil selamat dari kecelakan pesawat 3 tahun yang lalu dan ternyata lano juga sudah memberitahukan pada ben, tentang pernikahan vira dan skay, dan juga tentang kehamilan vira.
Tapi anehnya. Kenapa ben bisa tahu kalau ketua mafia yang dia lenyapkan itu adalah dalang dari kecelakaan vira dan skay 3 tahun yang lalu ?.
Padahal, ben saja baru mengetahui tentang adanya dugaan kalau kecelakaan 3 tahun lalu itu ada sabotase dari seseorang. Ini sangat membingungkan.
" Tapi bibi tidak memberitahukan soal ini pada ayah, bunda dan keluarga lainnya kan ? ". Tanya ben ingin menyembunyikan hal ini dari keluarganya.
" Hmm.. Kami belum sempat memberitahukan apa yang kamu lakukan pada nyonya flo dan tuan bian. Tapi kamu harus tahu kalau arkan yang mengoperasi lukamu. Yang artinya arkan sudah tahu apa yang kamu lakukan ". Jelas elisa jujur.
Deg.
Mata ben melotot kaget setelah mendengarkan penjelasan elisanya bibinya.
" Tapi tenang saja. Dia sudah berjanji pada paman dan bibi untuk merahasiakan hal ini dari siapapun, terutama keluarga kalian ". Sambung elisa yang peka dengan perubahan ekspresi ben saat ini.
" Hah ".
Ben langsung menghembuskan nafas leganya karena ternyata dia tidak perlu khawatir kalau arkan akan memberitahukan hal ini pada seluruh keluarga mereka.
" Istirahatlah sebentar, karena arkan akan datang menemuimu 2 jam lagi. Setelah dia selesai dengan semua jadwal operasinya ". Ucap elisa menasehati ben.
Ben menganggukkan kepalanya pelan. Dia pun langsung beristirahat saat itu juga, sedangkan elisa memilih kembali duduk di sofa ruangan VVIP tersebut bersama dengan colten yang ternyata sedang tertidur karena kelelahan.
*****
Di sisi lain, vira dan erika baru saja bertemu untuk kedua kalinya di restoran yang sama.
Dan ternyata erika datang membawah masakan flo yang di minta oleh vira.
Tapi ini sudah ke 2 kalinya erika membawahkan masakan flo, hari ini dan kemarin. Karena ternyata kemarin vira meminta erika lagi untuk membawahkan dia masakan sang bunda yang sangat dia rindukan.
__ADS_1
" Makanlah yang banyak adik ipar, biar nanti keponakanku bisa sehat di dalam perutmu, hehe ". Ucap erika sedikit mencairkan suasana, karena vira masih terlihat dingin padahal sedang makan.