
Beberapa hari kemudian semuanya berjalan dengan normal..
Hari-hari ku dipenuhi dengan sindiran halus yang di lontarkan ibu Dion kepadaku.. Aku hanya menyimpan semua nya didalam hati karena kalau aku cerita ke Dion, Dion hanya memberi respon yang biasa saja, tidak ada pembelaan terhadap diriku, dan Dion terpampang jelas dari sikapnya kalau dia membela ibunya.. Suatu hari Dion membayar uang tinggal pada ibunya dengan jumlah 700 ribu 2 Minggu, lalu ibunya mengatakan uang yang diberi Dion itu kurang Dion pun menanyakan ibunya ingin berapa, ibunya langsung menjawab dengan kata-kata yang agak sedikit menjatuhkan Dion dengan air mata nya ibu Dion marah ke Dion.. Aku tidak tau ibunya menangis karena apa, kalau karena sakit hati, ibunya sakit hati karena apa? Dion pun menangis karena perkataan yang menjatuhkan harga diri nya itu, dan berkata padaku untuk segera pindah rumah dari rumah ibunya.. Aku bersyukur karena Dion akhir nya mau ngontrak rumah.. Tapi beberapa hari kemudian Dion dan ibunya sudah berbaikan dan yang aku kagetkan Dion mengundurkan niat nya untuk pindah rumah.. Dan balik lagi Dion berpihak pada ibunya.. Betapa terpuruk nya aku saat itu ternyata suami ku tidak memiliki pendirian yang tetap.. Suatu hari saat aku lelah telah beberes rumah dan baru saja selesai mencuci pakaian, saat itu aku yang belum makan pagi dan baru mau makan pukul setengah 12 siang, aku takut terjadi apa-apa pada bayi yang ada di kandungan ku.. Lalu aku mengambil sepiring nasi yang di lengkapi dengan sayur dan lauk, saat aku makan Dion berkata padaku, dengan kata-kata tidak enak, yaitu kerjaan ku hanya taunya makan saja, aku yang sudah terlalu banyak memendam perilaku buruk Dion akhir nya meninggal kan nasi itu bersama Dion, aku pergi kekamar dan mengambil uang untuk membeli nasi, aku berfikir uang yang ku simpan ini akan habis kalau ku pakai untuk makan, belum lagi untuk makan nanti malam dan besoknya, akhirnya aku menahan lapar sampai pukul 2 sore, bayiku terus saja menendang seakan-akan dia memintaku untuk makan.. Akhirnya aku membeli nasi dan makan di rumah kakak ipar ibu Dion.. Saat itu betapa sedihnya aku rasa makan sambil menangis, yang kutangisi ternyata selama ini aku makan itu diperhatikan oleh orang yang ada dirumah Dion, lalu bagaimana aku menyambung hidup untuk kedepannya? uang simpanan ku tidak akan cukup.. Lalu aku berniat meminjam uang pada ibuku, ibuku heran bukan main kenapa aku meminjam uang padanya, ku katakan aku sedang ada kebutuhan mendesak.. Ternyata ibuku mempunyai batin yang kuat tentang aku, dia mengatakan kalau Dion memperlakukan ku buruk? aku dengan menangis mengatakan iyaa.. Lalu ibuku berkata tetaplah bertahan, pernikahan yang kamu inginkan itu terjadi karena kemauan ku tidak ada paksaan dari pihak mana pun.. Dan Allah sangat membenci perceraian.. Ibu sudah pernah merasakan menjanda, dan ibu tidak ingin kamu merasakannya juga.. Tutur ibuku, aku pun menurut apa kata ibuku.. Lalu Dion menjemput ku dirumah kakak ipar ibu nya.. Dia pun melihat ku yang sedang makan dengan mata memerah, dan ditemani kakak ipar ibu nya.. Lalu Dion di nasehati oleh kakak ipar ibu nya.. Dan Dion mengajak ku untuk pulang.. aku jelas tidak mau.. Aku mengatakan kalau aku bisa berjalan sendiri tanpa harus diiringi orang seperti Dion..