
Setelah kejadian itu aku dan Dion baik-baik saja.. Saat hamil memang aku sering merasakan kontraksi palsu, dan suatu hari, kontraksi palsu ku timbul bersamaan dengan ibu Dion yang sibuk mengurus pembagian sembako dari pemerintah untuk keluarga yang kurang beruntung.. Tentu saja saat itu rumah berantakan, aku tiduran dikamar, dan ibu Dion datang ke kamar bersamaan dengan Dion, dan Dion menyuruh ku untuk operasi saja tak lama ibunya Dion masuk kekamar, dan sama saja dia menyuruh ku operasi dengan alasan kalau begini siapa yang tahan.. Dari perkataan mereka aku bisa ambil kesimpulan bahwa yang tidak tahan itu bukan karena aku sering merasakan kontraksi palsu, tapi karena keadaan rumah yang berantakan.. Selama aku mengalami kontraksi palsu aku hanya berdiam diri dikamar menahan sakit, kalaupun mengadu, aku hanya mengadu ke Dion.. Aku tau posisi ku dirumah itu hanya sebagai orang luar yang masuk dan menumpang hidup kepada mereka.. Selama aku di rumah itu aku selalu membersihkan rumah mulai dari menyapu hingga melipat pakaian aku kerjakan.. Sampai-sampai aku di kenal sangat rajin di lingkungan rumah Dion.. Tapi ntah kenapa keluarga nya masih ada saja yang menyebutku dengan sebutan Tuan Putri karena aku terkadang suka bangun pagi itu kesiangan jam 7:00 pagi..
Aku menghadapi nya hanya tutup mata utup telinga, ibu ku yang selalu mengajari ku agar rumah tangga ku panjang.. Itulah resikonya kalau menikah dan tinggal dilingkungan keluarga suami apalagi satu atap dengan mertua.. Hanya Allah yang tau gimana perasaan ku saat selama di sini.. Terkadang ingin rasanya hatiku saat suami libur kerja, berlama-lama bersama suami makan hanya beli seperti yang terkadang dilakukan pasangan suami istri lainnya di hari weekend.. Tapi bagaimana aku merasakannya, telat sedikit saja waktu ku beberes rumah dengan waktu masak ibu mertua ku sudah berberes didapur untuk masak, sambil ngomel dan dengan muka yang begituuu merengut ketat tanpa senyum.. Bahkan ditegur pun dia tidak menjawab, seakan-akan dia sudah lelah membereskan rumah.. Aku hanya diam, aku elus dada dan memohon kepada Allah agar aku diberikan hati yang sabar, jiwa yang tegar, dan fisik yang kuat, tak lupa juga aku memohon agar batin ku tidak tertekan, agar tidak muncul perasaan ku untuk mengakhiri rumah tangga ku.. Ibuku dan keluarga ku selalu berkata padaku jangan pernah mengucap minta cerai apalagi menyesali sebuah pernikahan Allah sangat membenci orang seperti itu.. Setiap rumah tangga pasti ada rintangan dan halangan nya.. Bahkan setiap rintangan dan halangan yang aku hadapi itu ada pahala nya.. Mereka selalu meminta ku bersabar, bagaimana pun keluarga nya memperlakukan ku tetap hormati mereka sebagai orang yang lebih tua, bagaimana pun Dion memperlakukan ku tetap hargai dia sebagai suami.. Keluarga ku selalu menasehati ku tentang mempertahankan rumah tangga ku termasuk kakekku, dia sangat marah jika aku tidak menghormati Dion.. Aku yang statusnya hanya sebagai anak, cucu, sepupu, adik dan keponakan hanya bisa menurut dan mengiya kan permintaan keluarga ku.. Ditambah lagi aku adalah anak tunggal, aku hanya sendiri dimuka bumi ini, tidak ada adik, tidak ada kakak, dan tidak ada abang.. Bahkan ayah kandung ku pun seperti tidak mau tau tentang rumah tangga ku.. Hanya ibuku lah tempat aku mengadu dengan seluruh perasaan ku.. Tak jarang juga aku menangis saat mengadu ke ibuku.. Ibuku dengan suara yang menahan tangis memberi ku nasehat.. Dia tidak ingin aku merasa kan menjadi singgel parents seperti yang dirasakan nya dulu saat aku dilahirkan..