
Saat siang hari aku dengan menggendong anakku duduk di sofa yang letaknya tak jauh dari ruang tv yang disitu ada adik Dion dan ibunya berserta dengan Dion duduk disana.. Ku dengar mereka sedang membicarakan rencana kedepannya untuk adik Dion setelah tamat sekolah.. Adiknya ingin bekerja di perusahaan Dion, Dion dengan suara kecil mengatakan kalau dia tidak bisa mengajukan pekerja baru di sana, karena masih 2 tahun bekerja.. Dion menyuruh ibunya meminta tolong pada ibuku untuk mengajukan surat lamaran kerja adik Dion ke perusahaan itu.. Lalu ibunya setuju.. Beberapa menit sudah mereka membahas rencana kedepannya untuk adik Dion.. Di sela-sela percakapan itu ibu Dion mengatakan, bekerja lah dahulu setelah dapat apa yang diinginkan, baru menikah, jangan seperti Dion semenjak menikah tidak bisa membeli apa-apa dan tidak punya apa-apa.. Hati ku terasa hancur mendengar itu.. Didalam kalimat ibunya itu terselip makna bahwa akulah beban hidup Dion.. Akulah penyebab Dion tidak bisa membeli apapun.. Aku hanya mengelus dada dan ber istighfar didalam hati ku berkata, sebaik apapun aku, aku tetaplah sampah dimata ibu Dion.. Aku yang mendengar itu sontak ku gendong anakku dan aku masuk ke kamar.. Ternyata mereka mendengar pergerakan ku, tak lama Dion menyusul ku.. Dion berkata ibunya hanya bercanda saja,. jangan dimasukkan ke dalam hati.. Aku berpura-pura tidak mendengar apa yang mereka bahas.. Aku katakan pada Dion, emangnya yang kalian sindir itu aku? aku pikir bukan.. Karena aku sudah menganggap keluarga mu seperti keluarga ku.. Tapi aku ternyata salah ya? Rasanya aku tidak bisa menahan air mataku, aku yang baru beberapa Minggu melahirkan sudah merasakan stres yang begitu berat.. Hatiku hampir setiap hari ku rasakan.. Tapi kembali lagi ibuku menenangkan ku, menyuruhku untuk tidak melawan apa pun yang mereka perbuat dan katakan padaku.. Aku sadar, aku adalah wanita yang berasal dari keluarga miskin lalu datang ke keluarga yang katanya kaya.. Semua serba benar.. Di keluarga Dion, yang benar adalah yang bisa menghasilkan uang.. Dan yang tidak bisa menghasilkan uang itu selamanya akan menjadi orang yang selalu salah.. Ku kira semua tidak bisa di bayar pakai uang, tapi harga diri keluarga ini sungguh sangat bisa dibayar pakai uang.. Aku yang mengira keluarga ini berbeda dengan yang lain, ternyata aku salah.. Awal aku masuk dan mencoba beradaptasi dengan keluarga ini saja aku sudah banyak dihina, dikatain bodoh, dan dibilang aku hanya bisa bikin suami malu.. Sungguh mereka sangat tidak bisa menghargai orang lain, mereka hanya merasa kalau mereka lah yang paling benar.. walau begitu tidak sedikit pun ada niat ku untuk ikut mencari uang.. Pada suatu malam, aku, Dion, dan ibunya duduk di ruang tv, anakku yang saat itu sedang dipangku oleh ibu Dion hanya terdiam melihat kami, terkadang anakku juga mengedip kan matanya ke arah ku.. Lalu tiba-tiba ibu Dion mengatakan, semenjak ada anakku dia tidak bisa sholat, karena terkadang saat anakku dipangku nya pipis dan membasahi baju ibu Dion.. Aku langsung merasakan darahku tiba-tiba naik ke atas dengan cepat, lalu ku ambil anakku, ku bawak masuk ke dalam kamar.. Hatiku begitu sakit mendengar nya.. Setelah itu Dion menyusul ku, tiba nya dikamar Dion melihatku menangis, ku katakan padanya bahwa aku tidak pernah memaksa ibu Dion untuk menggendong anakku, aku lebih suka anakku di letak saja di tempat tidur.. Itu bukanlah salah anakku, tapi salah ibumu.. Jika memang ibumu tak ada niat untuk sholat, tanpa terkena pipis anakku juga ibumu tidak akan sholat.. ujar ku kepada Dion