
Hari-hari ku berlalu seperti biasa.. Bedanya kali ini ku lalui dengan rasa sakit yang begitu dalam.. Dion dengan tingkahnya seakan-akan tidak terjadi apa-apa.. Tibalah hari pernikahan kami.. Tapi saat itu kami hanya melaksanakan akad nikah saja tidak ada resepsi pernikahan.. Dikarenakan Dion masih menyicil uang hantaran pernikahan untuk ku.. Tapi aku dan keluargaku tidak masalah asal itu kehendak ku sendiri.. Pernikahan kami begitu sangat langka menurut ku.. Karena saat kami menikah apapun belum dibeli, kasur, lemari baju, dan meja hias belum dibeli.. Bukan karena keluarga ku tidak sempat membeli nya atau aku dan Dion belum ada toko yang dipilih untuk membeli perabot rumah tangga, tapi karena uang hantaran pernikahan dari Dion sedikit pun belum diserahkan ke keluarga ku.. Aku dan Dion pun tidur hanya di alasi ambal tahu dan dibalut dengan sprei agar tidak gatal dibadan saat di tidurin.. Sebulan aku menikah dengan Dion aku dan ibuku bercekcok mulut dan aku memilih pindah dari rumah ibuku.. Suamiku menawarkan kalau kami tinggal di rumah ibunya, kami akan menyewa rumah, bukan gabung dengan orang tua Dion.. Aku pun mengikuti kemauan Dion.. Sebulan kami tinggal dirumah ibunya Dion, ku tagih janji Dion yang katanya mau menyewa kan rumah untuk kami berteduh.. Dengan alasan nya Dion menyuruh ku bersabar hingga hutang-hutangnya selesai.. Dengan hati yang sedikit kecewa aku mengikuti keinginan Dion lagi.. Bulan kedua kami menikah akupun hamil, aku memberi tau Dion tentang kehamilan ku, hasilnya Dion begitu sangat bahagia.. Lalu ia tunjukkan hasil tespek yang bergaris 2 berwarna merah itu ke ibunya, ibunya hanya biasa saja.. Bahkan raut wajahnya terlihat tidak menginginkan hal itu.. Aku pun teringat dengan kata-kata ibu Dion yang mengatakan kalau aku tidak boleh hamil sebelum kami punya rumah sendiri.. Saat itu hutang Dion berjumlah 20 juta dan dengan gaji sebulan hanya 1 juta itu sangat sulit untuk terbayar dengan cepat.. Hari-hari berlalu begitu indah Dion memperlakukan ku dengan sangat sempurna.. Aku sangat senang.. Lalu lama kelamaan sifat dan sikap Dion mulai berubah padaku.. Lalu, aku yang sebagai pendatang dikeluarga mereka mencoba mencari tempat tukar pikiran, lalu ku temui kakak ipar ibu Dion yang dimana wanita itu juga mendapat kan perlakuan tak enak di keluarga ini.. Aku bercerita dan wanita itu juga bercerita.. Hingga datanglah pertanyaan mengapa aku dan Dion belum membeli kasur, lemari baju, dan yang lainnya.. Lalu kujawab dengan jujurr.. Aku mengira wanita itu sudah tau cerita Pernikahan ku.. Ternyata tidak.. Dua hari kedepannya ibu Dion berkata padaku kalau mau uang perabotan rumah tangga cepat dibeli makanya jangan hamil dulu.. Kalau hamil gini bagaimana uangnya terkumpul.. Mendengar perkataan ibu Dion aku langsung rapuh merasa tidak ada yang perlu di pertahankan di rumah tangga ku ini.. Aku ingin sekali mengakhiri semuanya walaupun harus rumah tangga ku yang menjadi korban.. Aku pun mengatakan niatku kepada ibuku, kukira aku akan mendapatkan dukungan dari ibu ku tapi ternyata tidak.. Ibu ku membantah keras niat ku, dan menasehati ku.. Aku mengikuti kemauan ibuku.. Aku tau niatnya baik, tidak mau aku merasakan menjadi seorang janda yang dimana dulu sewaktu usiaku 20 hari ibuku sudah menjadi janda..