
Di dalam perjalan menuju pulang, Zact tiba-tiba menepikan mobilnya dan menelepon sang asisten.
"Hallo pak "
"Carikan kontak Letta secepatnya"
"Letta??siapa Letta?"
"Itu teman si brengsek yang mau menipuku"
"Ah iya iya ... Secepatnya akan saya cari" Ucap asisten Zact setelah mengingat siapa Letta.
Zact kembali menyalakan mobil dan segera menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah dari luar terdengar suara Moran yang sedang menangis, Zact mempercepat langkah kakinya memasuki rumah.
Dia mengganti sepatu dengan sendal rumah, di langsung menuju kamar Moran dan di sana ibunya tengah menggendongnya.
"Kenapa Moran menangis ibu?" tanya Zact khawatir.
"Dia demam" jawab Anna sambil mengusap punggung Moran dengan lembut.
"Kenapa tiba-tiba dia demam? Sepertinya saat aku pergi tadi dia baik-baik saja"
"Itu ... Moran habis ibu bawa untuk imunisasi, ini mungkin reaksinya" jelas Anna dengan sabar.
"Apa kita bawa ke dokter saja?"
"Tidak perlu, ini merupakan proses pembentukan imunnya , jadi kamu tidak perlu khawatir, aku telah memberikan obat penurun panas, sebentar lagi dia pasti baik-baik saja" kata Anna menenangkan Zact.
"Ah jadi begitu ya ... Baiklah ibu aku akan membersihkan badan dan bergantian menjaga Moran"
"Tidak perlu, beristirahatlah saja, aku akan menjaganya, kalaupun ibu capek masih ada suster yang menjaganya"
__ADS_1
Zact kemudian menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Di malam hari Moran sudah tertidur dan demamnya telah turun.
Anna duduk di sofa dengan buku di tangannya, semenjak Clarkson meninggal, dia menyibukkan dirinya dengan menjaga Moran dan membaca buku untuk menghilangkan kesepian juga kesedihannya.
"Apa ibu merindukan paman?" tanya Zact sambil duduk di samping ibunya.
Anna melepas kaca mata bacanya dan menatap putranya dengan senyuman yang hangat.
"Tentu ... Ibu sangat merindukannya, tapi ibu tidak ingin berlarut-larut dan akan membebanimu"
"Ibu tidak akan pernah menjadi bebanku, ibu selalu ada untukku, dan sebaliknya aku selalu menjadi beban untuk ibu meski aku sudah memiliki anak"
Zact kemudian memeluk ibunya dan merasa nyaman seperti waktu dia masih kecil.
"Zact ... Apa kamu tidak berniat menikah kembali?"
Mendengar pertanyaan ibunya, Zact kembali duduk dan dengan ragu-ragu menjawab ibunya.
"Hmm ... Apa itu?"
"Apa ibu ingat dengan adik Gabriel?"
"Ya ... Tapi ibu lupa namanya ... Kenapa?"
"Ibu maafkan aku ..."
"Kenapa tiba-tiba kamu meminta maaf?"
"Karena aku telah membuat kesalahan"
"Kesalahan?" Tanya Anna kebingungan.
__ADS_1
"Aku menghamilinya" Ucap Zact tertunduk tidak berani memandang ibunya.
"Ha hamil?? bukannya kalian tidak saling kenal?" tanya Anna masih tak percaya.
"Ya aku baru tahu jika dia adalah adik Gabriel"
"Zact ... Terus apa Gabriel sudah tahu?"
"Ya ..."
"Dia pasti marah besar padamu?" tanya Anna khawatir
"Awalnya ... Namun aku telah menjelaskan segalanya, yang terpenting aku mau bertanggunv jawab"
"Tunggu ... Kenapa semua ini bisa terjadi? Ibu benar-benar tak habis pikir"
"Ceritanya panjang ibu, itu semua terjadi karena sesuatu yang tidak perlu di ceritakan, yang pada intinya aku menghamilinya dan harus bertanggung jawab"
"Sepertinya kita harus bicara dengan kedua bela pihak,tidak bisa kita memutuskan sendiri" saran Anna.
"Ya ibu benar, tapi sekarang Letta entah pergi kemana"
"Pergi? Kok bisa?" tanya Anna terheran-heran
"Ya mungkin dia pikir aku terlalu kecewa dan tidak ingin bertanggung jawab, makanya dia pergi"
"Lalu sekarang bagaimana?"
"Aku sudah menyuruh asistenku untul mencari tahu ibu"
"Kenapa kamu tidak bertanya pada Gabriel?"
"Sudah ... Tapi dia tidak mau memberitahuku dengan alasan adiknya sedang menenangkan diri"
__ADS_1
Anna terdiam karena tahu perasaan Gabriel sebagai seorang kakak.
Dia hanya bisa menyarankan Zact untuk lebih berusaha lagi mencari keberadaan Letta.