
Zact dan Gabriel sampai di rumah, saat itu Luca baru bangun tidur dan sedang di gendong oleh Anna.
Gabriel yang melihat putranya tumbuh dengan baik merasa tidak sabar untuk segera memeluknya.
"Ayah ..." panggil Luca
Seketika Zact dan Gabriel menjawabnya secara bersamaan.
"Ya ..." jawab mereka berdua.
Lucapun terlihat bingung,Zact yang memahami kebingungannya langsung menghampiri Luca dan menggendongnya.
"Lihat Luca" tunjuk Zact pada Gabriel, Luca memandangi Gabriel dengan tatapan asing dan sedikit takut.
Gabriel menatap putranya itu dengan penuh harap.
"Hay nak" sapa Gabriel yang mendekat dan mengusap rambut pirang Luca yang panjang.
Luca terlihat sedikit takut dan langsung bersembunyi di pelukan Zact.
"Tidak apa-apa,dia sangat baik, dia juga ayahmu seperti kamu memanggilku" jelas Zact dengan sabar.
Luca yang semakin bingung seketika menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Anna dengan cepat mengambilnya dan membawanya pergi untuk menenangkannya.
"Beri dia waktu" kata Zact yang melihat semburat kekecewaan di wajah Gabriel.
"Ya ... Aku akan bersabar dan pelan-pelan mendekatinya"
"Kamu pasti bisa membujuknya, Luca anak yang sangat baik dan penuh pengertian"
"Aku iri padamu karena dia begitu dekat denganmu" Kata Gabriel jujur.
"Ya karena dia bersamaku dari semenjak dia lahir, jadi wajar jika dia melihatku sebagai ayah kandungnya, dan juga dia belum mengerti hal rumit seperti itu, aku harap kamu memakluminya"
"Kamu benar, aku akan lebih berusaha lagi, mungkin nanti aku akan lebih sering berkunjung ke sini"
"Tidak masalah, itu bagus jadi kalian berdua bisa lebih sering bertemu dan saling mengenal"
"Ya karena kamu berhak, dia anakmu"
"Ya ... Aku harap kita bisa melupakan permusuhan kita di masa lalu, Rose pasti tidak bahagia melihat kita terus bermusuhan, mari berbaikan" kata Gabriel mengulurkan tangan, tanpa ragu Zact kemudian menjabat tangan Gabriel tanda perdamaian.
Gabriel kemudian pulang ,selama di perjalanan kepalanya terasa sakit, berita mengejutkan tentang meninggalnya Rose terus berputar di ingatannya.
Gabriel masih tidak percaya Rose akan pergi secepat itu,Sesampainya di rumah, Sora yang sedang tidur di kamarnya terbangun mendengar langkah kaki yang sangat familiar dan sangat dia tunggu-tunggu.
__ADS_1
"Ayah ..." Teriak Sora sebelum ayahnya sempat memanggilnya.
Gabriel langsung menghampirinya dan menggendongnya dengan penuh kasih sayang.
"oh Soraku ..." Gabriel menciumi pipi gembul dan merah milik sora.
"Oh ya ayah tadi bertemu dengan kakakmu, dia tumbuh lebih tinggi darimu dan sangat tampan"
Sora pun mendengarkan cerita ayahnya dengan seksama.
"Sayangnya kakakmu tidak mengenali ayah, dan itu sangat membuatku sedih, tapi syukurnya ayah bisa melihatnya lagi oh ya Sora,Ayah juga sangat sedih mendengar berita kematian bibi Rose.
Dia sangat baik namun tuhan lebih menyayanginya, ayah hanya bisa berdoa bibi Rose bisa berbahagia di atas sana.
Gabriel kemudian mengajak Sora keluar kamar dan menuju dapur.
Daisha yang melihatnya langsung menawarkan Gabriel untuk menggantikannya menjaga Sora .
"Tuan biar saya yang menjaga Nona kecil"
"Tidak ... Tolong siapkan makanan Sora ,aku akan menyuapinya"
"Baik tuan aku akan segera menyiapkannya"
__ADS_1
Sambil menunggu makanan siap, Gabriel mengajak Sora bermain terlebih dahulu, dia merasa bebannya sedikit berkurang setiap kali dia menghabiskan waktu dengan Sora.
Sora sejak lahir adalah anak yang sangat aktif namun juga sangat pengertian kepada semua orang yang dekat dengannya.