
Pagi-pagi sekali Sarah telah merapikan kedai dan menyiapkan segala menu untuk hari ini,Joli yang datang dengan nafas terengah-engah menghampiri Sarah.
"Kakak kenapa masih sibuk di sini? bukannya mau ke kantor Zinx?"
Sarah kemudian pergi mengambil air untuk Joli.
"Hmm ... Ini masih pagi jadi aku menyiapkan segalanya, jadi kamu tidak akan kebingungan nantinya" jawab Sarah sambil memberikan minuman kepada Joli.
"Aku sampai buru-buru ke sini ,aku kira kakak akan segera ke sana"
"Kamu bersemangat sekali"
"Ya kakak benar, aku sedang melihat cahaya terang menuju jalan kesuksesan" kata Joli bersemangat.
"Hahaha kamu selalu optimis"
"Hmm ... Kakak aku mau rekomendasikan seseorang untuk bekerja di sini"
"Boleh ... Siapa? Apa kamu mengenalnya dengan baik?"
"Ya ... Dia putra bibiku"
"Hmm ... Baiklah suruh datang besok, aku perlu tahu seperti apa saudaramu itu"
"Baiklah ... Kakak pergi saja ,aku yang akan menangani pekerjaan hari ini"
"Benarkah?? Apa tidak apa-apa?"
__ADS_1
"Tidak ... Aku senang melakukannya , apa lagi kakak selalu menambah gajiku"
"Baiklah terima kasih, aku akan bersiap-siap"
Sarah kemudian melepas celemeknya dan kemudian bersiap.
Dia memesan sebuah taksi untuk ke kantor Gabriel,10 menit menunggu taksipun datang, mereka segera menuju kantor Zinx yang berada di tengah-tengah kota.
Selama perjalanan,Sarah nampak gugup, dia memandang ke arah luar jendela yang berada di pusat perkantoran, tidak lama lagi mereka akan sampai di gedung Zinx.
Sarah menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya, dia mengulangi beberapa kali sebelum turun dari mobil.
Setelah keluar dari mobil, hawa panas menyeruak, matahari sangat terik, dia berdiri melihat Kantor Zinx yang nampak kokoh, Sarah melangkah pelan memasuki kantor, di dalam seorang receptionis menyapanya.
"Selamat sian, ada yang bisa saya bantu?"
"Ah begini, kemarin saya bertemu dengan tuan Rowen"
"Ya ... Dia menyuruhku datang ke sini" kata Sarah nampak gugup.
"Baiklah mohon tunggu sebentar" Receptionis itu menelepon sebentar lalu mengarahkan Sarah ke ruangan Gabriel.
Sarah masuk ke dalam lift ke lantai 5, tepat di depan lift adalah ruangan Gabriel.
Dia keluar dari lift dan memandang pintu ruangan Gabriel,dengan ragu dia mengetuk pintu.
"Masuk" terdengar suara yang tidak asing tegas dan dalam.
__ADS_1
Sarah membuka pintu dan masuk ke ruangan,di sana Gabriel duduk dan sedang memeriksa beberapa dokumen.
"Duduklah" kata Gabriel sambil mendongak ke arah Sarah.
Sarah kemudian duduk , ruangan Gabriel begitu besar,tertata rapi, harum dan dingin.
Gabriel menutup dokumen dan mengeluarkan dokumen yang berada di sebelahnya.
"Kamu datang berarti menyetujui tawaranku?:
"Benar tuan" Jawab Sarah dengan senyum gugup.
"Baiklah ini dokumen yang harus kamu tanda tangani , kamu bisa membacanya dulu" kata Gabriel sambil menyerahkan dokumen itu kepada Sarah.
Dia membaca dokumen itu dengan seksama lalu menandatanganinya tanpa ragu.
"kamu bisa mendapat deposit 50% jika kamu mau" tawar Gabriel.
"Tidak tuan anda bisa membayarnya jika pekerjaanku sesuai dan selesai"
"Baiklah"
"Terima kasih ... kalau begitu apa saya boleh pergi sekarang?"
"Boleh ... Oh ya jika Luca makan atau memesan apapun di sana, kamu masukan saja pada tagihan"
Sarah mengangguk dan keluar ruangan, dia masuk ke dalam lift dengan perasaan gembira, akhirnya sekian lama dia berjuang, dia mendapatkan pesanan yang begitu banyak.
__ADS_1
Dia kembali ke kedai dengan senyum yang terus melekat di bibirnya.
Joli yang melihatnya ikut merasa bahagia, dia sangat tahu bagaiman Sarah berjuang setelah kematian anakanya.