CEO & DOLL

CEO & DOLL
BAB 18


__ADS_3

Langkah kaki kian mendekat, tak lama kemudian pintu terbuka dan sosok asing muncul di balik pintu.


"Anda siapa?" Tanya seorang pelayan yang masih sangat muda.


"Apa Nyonya Ericha sudah tidur?"


Gadis itu mengangguk dan melangkah minggir sehingga Nyonya Ericha yang sedang tidur terlihat oleh Gabriel.


Perasaan campur aduk menyergapnya, tubuhnya gemetar tak karuan, ingin rasanya dia menyerbu begitu saja dan memeluk ibu yang sangat di rindukannya.


Gabriel memutar badan dan kembali kebawah , Azof dan Medi melihat ke arah datangnya Gabriel yang nampak murung.


"Kenapa begitu cepat kembali, apa ada masalah?" Tanya Medi kemudian.


Gabriel duduk dan menuangkan Bir ke gelas dan langsung meneguknya lalu kembali mengisi gelasnya dan meminumnya lagi hingga berulang kali.


Medi segera menarik botol anggur yang di pegangnya.


"Hei apa-apaan ini , bukannya kamu sedang tidak ingin minum dan malah menghabiskannya, ada apa? apa kamu bertengkar dengan ibumu??" Tanya Medi lagi.


"Medi kamu cerewet sekali, aku hanya ingin minum, kembalikan itu padaku." Ucap Gabriel sembari berusaha menarik botol di tangan Medi.


"Baiklah aku akan memberikan ini , tapi ceritakan apa yang terjadi"


Gabriel setuju dan Medi menuangkan segelas anggur untuknya.


"Hah aku sangat gugup bahkan rasanya seperti mau mati karena susah bernafas, aku belum bertemu dengannya tapi aku sudah melihatnya" jelas Gabriel.


"Apa kamu segugup itu sehingga tidak berani menemuinya?" Tanya Azof.


"Bukan, aku memang gugup, tapi dia sedang tidur, sialnya aku semakin gugup walau hanya melihatnya dari jauh" Curhat Gabriel yang sudah mulai mabuk.


Azof kemudian menyuruh Medi membawa Gabriel ke kamar tamu.


Keesokan harinya Gabriel terbangun dan teringat jika dia harus menemui ibunya.


Dia segera mandi dan bersiap-siap, Di sisi lain Nyonya Ericha sedang di taman dan merapikan bunga-bunga di depannya, dari kejauhan Gabriel melihatnya dari jendela kaca besar kamar itu.


Tak sabar Gabriel segera melangkah keluar untuk menemui ibunya.


Semakin dekat dengan jarak ibunya Gabriel semakin gugup, Gadis pelayan itu menyadari kehadirannya dan akan memberitahu Nyonya Erika namun Gabriel mengkodenya agar tidak memberitahunya.

__ADS_1


Gadis itu kemudian mundur dan menjauh dari keduanya.


Gabriel berdiri tepat di belakang ibunya, sekarang dia bingung harus melakukan apa.


Setelah sedikit berfikir Gabriel dengan ragu-ragu memanggil ibunya.


" i ibu ... " Panggil Gabriel dengan suara serak.


Terkejut Nyonya Ericha menjatuhkan gunting di tangannya.


Dia berbalik dan semakin terkejut melihat sosok tinggi dan tampan di hadapannya.


"Maaf anda siapa?" Tanya Nyonya Ericha.


Air mata Gabriel jatuh begitu saja ketika melihat dan mendengar suara ibunya setelah sekian lama, bahkan itu terasa mimpi baginya.


"Ibu lupa siapa aku?" Jawabnya sembari memegang tangan ibunya.


"Tidak mungkin kamu adalah dia" katanya sambil mulai terisak.


"Ibu ini benar-benar aku ,Gabrielmu? Ucapnya meyakinkan.


Ibunya menatapnya cukup lama dan ketika melihat matanya dia menyadari jika itu benar adalah putranya.


Setelah lama berpelukan dan saling menangisi satu sama lain , Gabriel mengajak ibunya duduk untuk berbicara.


"Ibu selama ini tinggal dimana?" Tanya Gabriel membuka obrolan.


"Hmm ibu menikah lagi , suami ibu bernama Jhosef White,aku tinggal dengannya di Sanor"


Gabriel terkejut mendengar nama Jhosef White yang tak lain adalah ayah Amber White.


"Kita begitu dekat dan ibu bahkan tak pernah menemuiku sekalipun"


Mendengar kata Gabriel ,ibunya mulai menangis lagi, Dia segera menggenggam tangan ibunya untuk menenangkannya.


"Ibu benar-benar tidak memiliki kekuatan apapun saat itu, ayahmu yang memiliki kekuasaan tidak mengizinkanku menemuimu sebagai syarat perceraian, sungguh ibu melakukan itu karena ibu sudah tidak sanggup bersamanya lagi" Jelasnya dengan air mata yang terus mengalir.


Gabriel kemudian memeluk ibunya dengan erat, lagi-lagi Ayahnya yang menjadi dalang dari semua penderitaan.


"Lalu bagaimana hubungan ibu dengan keluarga White"

__ADS_1


"jhosef telah meninggal beberapa tahun yang lalu, dia sangat baik padaku dan juga anak-anak tiriku juga baik, Mereka Gavin White dan Amber White , Apa kamu mengenalnya?"


"Iya aku mengenalnya , ibu maukah kamu tinggal denganku?" Ucap Gabriel penuh harap.


Mendengar permintaan putranya membuat Nyonya Ericha terdiam.


"Gabriel ibu sangat ingin tinggal bersamamu, tapi ibu tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja karena mereka telah merawatku selama ini" Katanya sambil menundukkan kepala.


"Ibu ... aku melakukannya demi kebaikanmu, Amber sangat menyukaiku sehingga membuat ibu sebagi umpan agar aku menerimanya"


"Apa yang kamu katakan?" Ucapnya terkejut.


"Ya akhir-akhir ini Amber terus mengancamku menggunakan ibu, ibu pikir kenapa ibu tiba-tiba di bawa ke sini? itu semua rencananya, kalau ibu tidak percaya padaku aku akan memberikan buktinya" Gabriel kemudian memberikan ponselnya yang berisikan bukti-bukti itu.


Setelah mendengar dan mengetahui kebenarannya hatinya terasa sakit, Dia mencengkram ponsel di tangannya berusaha meredam amarahnya.


"Apa kamu tahu kapan Amber akan menjemputku??" Tanyanya dengan nada dingin.


"Aku dengar dari Azof dia akan menjemput ibu sore ini"


"Baiklah kalau begitu kita akan menunggunya lalu aku akan memutuskan apa yang harus aku lakukan selanjutnya"


Gadis pelayan itu kembali dan memberitahu jika Azof mengajak mereka sarapan.


Keduanya lalu meninggalkan taman dan menuju ruang makan, di sana Azof dan Medi telah menunggu mereka.


Medi segera menyapa Nyonya Ericha.


"Halo tante, saya Medi teman baik Gabriel" Ucapnya dengan ceria.


"Medi kamu penuh dengan semangat" puji Nyonya Ericha.


Mereka kemudian menyelesaikan sarapannya lalu mengobrol dengan santai.


Sore harinya Amber datang untuk menjemput Nyonya Ericha namun terkejut melihat kebersamaan Ibu dan anak itu.


Tasnya terjatuh dari tangannya membuat semua orang melihat ke arah datangnya suara.


"Amber" panggil Nyonya Ericha.


Tubuh Amber bergetar ketakutan melihat Gabriel yang terus menatapnya tajam.

__ADS_1


Nyonya Ericha yang mendekat dengan tatapan dingin juga tidak kalah membuatnya semakin takut.


__ADS_2