
Dikantor Gabriel merasakan hatinya berbunga-bunga setiap kali mengingat kejadian semalam dan itu membuatnya sangat merindukan Rose.
"Gadis ini membuatku gila dengan terus merindukannya" ucap Gabriel didalam hati.
Gabriel meraih ponselnya yang tergeletak di depannya,segera ia menghubungi nomor Rose dan setelah berkali-kali berdering namun tidak ada jawaban dan itu membuat Gabriel mengernyitkan dahinya.
Dia mencobanya hingga beberapa kali namun tidak mendapat jawaban juga.
Gabriel mulai khawatir dan segera menelepon Daisha.
Di Dering ketiga Daisha menjawab panggilannya.
"Halo tuan ..." jawab Daisha di sebrang telephon.
"Apa Rose sedang pergi??"
"Tidak tuan dia bahkan belum keluar dari kamar"
Gabriel lantas berpikir mungkin Rose masih tidur karena kelelahan.
"Baiklah jangan ganggu dia ,biarkan dia tidur"
Gabriel mengakhiri panggilan dan melanjutkan pekerjaannya.
Dilain sisi, Rose terus dibayang-bayangi kejadian yang baru diingatnya, itu seperti film yang diputar berulang-ulang.
Rose meringkuk ketakutan di lantai, dia merasa tubuhnya seperti sedang dijemur ditengah-tengah terik matahari.
panas dan sangat panas itu yang dirasakannya sekarang.
Tengah hari karena sangat merindukan Rose, Gabriel segera pulang.
Sesampainya dirumah Gabriel di sambut Daisha dan menawarkan makan siang yang telah siap.
"Apa Rose belum bangun" tanya Gabriel setelah matanya berkeliling dan tidak menemukan sosok Rose.
__ADS_1
"Belum tuan"
Gabriel segera menaiki tangga dan menuju kamarnya, Setelah membuka pintu dia dikejutkan dengan sosok Rose yang meringkuk dibawah tempat tidur.
"Rose " ucapnya berlari .
Gabriel langsung memeluknya dan menyadari jika tubuh Rose sangat panas.
Gabriel merasa bersalah mungkin itu disebabkan olehnya karena melakukannya semalam begitu lama.
Gabriel menggendong Rose dan membaringkan tubuh gadis itu di ranjang, badannya terus bergetar , Gabriel menyelimuti Rose dan dengan panik menelpon dokter pribadinya.
"Halo tuan Rowen"
"Tolong segera datang " ucap Gabriel dan langsung mengakhiri panggilannya.
Gabriel memeluk tubuh Rose yang menggigil sampai akhirnya dokter datang.
Gabriel baru teringat jika Rose adalah sebuah boneka , apa dokter itu berguna? Pikirannya berkecamuk sekarang dan tidak bisa berpikir secara jernih dan membiarkan dokter memeriksanya.
"Tuan Rowen dia sepertinya mengalami serangan panik,aku akan memberikannya infus agar menurunkan demamnya dan juga memberinya suntikan penenang untuknya"
Gabriel duduk di kursi disudut kamarnya dan memperhatikan Rose yang tengah dirawat.
Tubuh Rose mulai berhenti bergetar dan mulai terlelap.
Dokter menghampiri Gabriel dan memberikan resep obat yang diperlukan oleh Rose.
"Tuan Rowen aku akan meninggalkan asistenku disini untuk menjaga gadis ini, jika kondisinya tidak kunjung membaik kita harus membawanya ke rumah sakit" Ucap Dokter sebelum pergi.
"Baiklah ... terima kasih atas bantuanmu". Dokter mengangguk dan segera pergi.
Gabriel menghampiri Rose dan duduk disampingnya, Tangannya membelai kepala Rose dengan lembut .
Wajah Rose nampak pucat membuat Gabriel semakin merasa bersalah.
__ADS_1
Di sore hari Rose terbangun dan mendapati sosok Gabriel tertidur disampingnya.
Rose kembali teringat memori buruk itu dan mulai menangis.
Dadanya terasa begitu sesak dan terasa mencekik,Rose menangis tersedu-sedu sehingga membuat Gabriel terbangun.
"Rose ... " Gabriel memeluknya dengan panik.
Tubuh Rose berguncang seiring tangisnya yang pecah.
Gabriel merasa sulit bicara karena perasaan bersalahnya.
"Maafkan aku Rose" ucap Gabriel lirih.
Mendengar permintaan maaf Gabriel membuat Rose berhenti menangis dan melepaskan pelukannya.
Gabriel menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap wajah Rose yang penuh penderitaan.
"Tuan ... kenapa meminta maaf padaku?" tanya Rose dengan suara parau.
"Aku telah menyakitimu semalam, aku tidak tahu jika itu akan membuatmu semakin menderita".
Mendengar penjelasan Gabriel membuat Rose tertegun sejenak lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara.
"Ini bukan salahmu dan penderitaanku tidak ada hubungannya denganmu tuan , jangan merasa bersalah padaku" jelas Rose dengan air mata meluncur ke pipinya.
Gabriel mengusap air mata Rose sebelum bertanya lebih jauh.
"Lalu apa yang begitu membuatmu menderita seperti ini"
"itu ... Aku telah mengingat semuanya, dan itu begitu mengerikan, aku ... aku ... Sebelum menyelesaikan ucapannya Gabriel langsung memeluk Rose dengan erat.
"jadi kamu telah mengingatnya, baguslah sekarang aku tinggal memberikanmu keadilan" Ucap Gabriel meyakinkan.
"Tuan kenapa kamu tidak terkejut dengan masa laluku??"
__ADS_1
" hmm ... jadi awal-awal aku bertemu denganmu ,aku bermimpi tentang kejadian buruk yang menimpamu dan aku bertemu dengan seorang kakek yang memberitahuku segalanya, aku tahu namamu adalah Deera, tapi aku tidak yakin dan mengira itu hanya mimpi, tapi ternyata itu benar-benar kisahmu yang sudah aku selidiki berbulan-bulan, sekarang yang harus kamu lakukan hanya harus bahagia dan tinggalkan Deera bersama masa lalu mu , sekarang kamu adalah Rose dan aku akan memberimu kisah indah mulai hari ini"
Mendengar kata-kata Gabriel, Rose sangat terharu dan mengencangkan pelukkannya dan membuatnya jauh lebih tenang.