CEO & DOLL

CEO & DOLL
BAB 19


__ADS_3

Amber mundur satu langkah dan segera berbalik untuk pergi namun langkah kakinya terhenti di hadang pengawal Gabriel.


Nyonya Ericha datang menghampirinya dengan perasaan sedih dan kecewa.


"Amber" Panggilnya lirih.


"Bibi aku bisa menjelaskannya" Kata Amber berbalik menghadap Nyonya Ericha.


"Apa lagi??kamu tahu aku sama sekali tidak suka kebohongan ,aku lebih menghargaimu jika kamu mengaku salah"


"Bibi tidak ada yang salah dengan cinta kamu tahu itu" Ucap Amber dengan nada sedikit meninggi.


"Cinta memang tidak salah Amber, tapi caramu yang salah".


"Hahaha ... lalu apa yang akan bibi lakukan? menghukumku? memukulku?"


Nyonya Ericha mendekat dan memeluk Amber dengan tulus.


"Amber kamu tahu bibi sangat menyayangimu, kenapa kamu tidak berterus terang padaku jika kamu menyukai putraku, mungkin aku bisa membantumu waktu itu"


Mendengar itu air mata Amber jatuh dengan penuh penyesalan.


"Bibi maafkan aku, aku bodoh, aku bahkan menyakitimu"


"Tidak sayang , mari kita perbaiki bersama hal yang telah rusak, jadilah Amber yang baik hati lagi seperti dulu"


Amber memeluk Nyonya Ericha dengan erat dan bersungguh-sungguh menyesalinya.


Nyonya Ericha membawa Amber bergabung dengan yang lain di ruang tengah.


Amber menunduk tidak berani memandang siapapun di sana.


Azof merasa kasihan kepadanya namun dia tidak tahu harus berbuat apa.


"Mari kita mulai lembaran yang baru dan saling memaafkan" Kata Nyonya Ericha tulus.


Akhirnya Gabriel bersama Medi kembali ke Sanor.


Sesampainya di rumah Gabriel sudah tidak sabar bertemu dengan Rose.


Rose yang sibuk memasak bersama Daisha tidak menyadari kedatangan Gabriel.


Dia terus memandangi kekasihnya yang nampak serius memasak sampai Daisha menyadari kedatangannya lalu bergegas meninggalkan Rose sendiri.


Gabriel melangkah pelan untuk menghampiri Rose dan mengejutkannya dengan memeluknya dari belakang.

__ADS_1


Tanpa berbalik dia tahu jika itu adalah Gabriel karena mencium aroma tubuhnya.


"Gabriel kapan kamu kembali" tanya Rose sambil terus memasak.


"Baru saja , kamu terlalu fokus pada masakanmu aku jadi merasa cemburu" rengek Gabriel sambil membenamkan kepalanya di bahu Rose.


"Pffthh ... lucu sekali"


"Aku sangat merindukanmu" katanya sambil mencium tengkuk kekasihnya itu.


Rose berbalik dan memberikan ciuman kecil di bibir Gabriel lalu melanjutkan masakan.


" Ah ... kenapa cuma begitu, aku ingin lebih" Gabriel kembali merengek.


"Bayiku ... aku akan memberimu hadiah besar jika kamu menurut dan duduk di sana seperti anak baik" Ucap Rose membalik badan dan mendorong tubuh Gabriel menjauh.


Gabriel tak sabar untuk hadiah itu dan segera duduk dengan manis sedangkan Rose menyiapkan makanan yang telah matang.


"Kamu sepertinya sudah siap menjadi istriku" goda Gabriel yang sukses membuatnya tersipu.


Rose baru teringat dan menyadari jika Gabriel cuma pulang sendiri.


"Dimana ibumu?? kenapa aku tidak melihatnya?"


"Dia bersama Amber??"


"Apa ada masalah?"


Gabriel menggelengkan kepala dan kemudian menceritakan apa yang telah terjadi di rumah Azof.


"Hmm ... lalu apa kamu tidak mengkhawatirkan ibumu jika bersamanya?"


"Tentu ... tapi aku tidak bisa memaksa ibu bersamaku, dia bilang dia akan datang jika Amber telah menikah"


"Aku mengkhawatirkannya" Ucap Rose bersedih.


"Kamu tidak perlu khawatir , aku telah memberikan pengawal untuk menjaganya, Amber tidak akan melakukan apapun"


"Syukurlah ... ayo makan , kamu pasti lapar" Rose kemudian memberikan Sup itu kepada Gabriel.


" Apa ini enak?" Tanya Rose ketika Gabriel selesai memasukan satu sendokan pertamanya.


Gabriel terdiam sejenak dan membuat Rose khawatir jika masakannya gagal.


"Enak... enak sekali ,Rose ... Sup ini mengingatkanku pada masakan ibuku, ini sangat mirip dengan buatan ibuku, terima kasih sudah memasaknya"

__ADS_1


Merasa lega Rose tidak menyangka jika masakannya akan membuat Gabriel senang.


Selesai makan Gabriel menagih hadiahnya dan itu membuat Rose menghindar.


"Ayo mana hadiahku, jangan menghindar aku pasti akan mendapatkannya"


Mendengar itu Rose segera berlari menuju lantai atas untuk bersembunyi.


Gabriel bangun dari kursi dan berjalan cepat ke lantai atas.


Dia mencari-cari Rose ke kamar dan tidak menemukannya begitupun ruangan lainnya, hanya tersisa kamarnya sendiri yang belum dia masuki.


Gabriel membuka perlahan dan terkejut sekaligus terpanah dengan Rose yang berdiri di jendela membelakanginya dengan pakaian seksi yang pernah dia belikan.


Tak di sangka baju itu akan terlihat sempurna di pakai oleh Rose.


Gabriel berjalan mendekat dan memeluk erat Rose dengan lembut.


"Kamu semakin nakal sejak aku pergi" bisik Gabriel di telinga Rose yang membuatnya terasa panas.


Rose berbalik dan menatap Gabriel.


"Aku belajar darimu" Ucap Rose sembari membuka kancing baju kemeja Gabriel satu persatu dan melepasnya.


Rose kemudian berjinjit dan mencium bibir Gabriel dengan lembut.


Tangan Gabriel mencengkram pinggul Rose dengan tak sabar, Dia membalas ciuman Rose dengan tak sabar.


Tangannya menurunkan gaun minim Rose dan mulai menjelajahinya dengan lembut.


Sentuhan demi sentuhan membuat Rose menjadi lemas namun tangan kokoh Gabriel mencegahnya terkulai.


Gabriel mulai menggendong Rose ke tempat tidur dan menyatukan rindu pada titik kepuasan.


Ke esokan harinya Gabriel memberitahu Rose jika dirinya telah mendapatkan salinan bukti kejahatan Darshon.


Rose merasa gugup saat mendengarnya, perasaan takut dan lega bercampur menjadi satu.


"Apa ini akan berjalan dengan baik?" tanya Rose khawatir.


"Mungkin akan berjalan sedikit sulit tapi bukan berarti tidak ada jalan untuk menghukumnya"


"Aku sangat gugup"


"Jangan khawatir, aku akan melakukan yang terbaik untukmu" kata Gabriel menenangkan Rose.

__ADS_1


Gabriel kemudian bangun dari tempat tidur dan segera mandi.


Hari ini dia akan sangat sibuk karena meninggalkan pekerjaannya selama beberapa hari.


__ADS_2