CEO & DOLL

CEO & DOLL
BAB 117


__ADS_3

Gabriel dan pihak sekolah sama-sama mencari keberadaan Luca, namun hingga sore hari tidak di temukan keberadaan putranya itu, perasaan gelisah dan khawatir sangat menyiksanya.


Hujan turun begitu lebat, Langit semakin gelap,Luca berjongkok di bawah hujan dan kedinginan, tubuhnya basah kuyub,tiba-tiba seorang wanita memayunginya.


Luca mendongak dan melihat wanita itu tersenyum,Luca yang terpaku melihat senyumannya langsung teringat senyum manis ibunya.


"Ibu ..." kata Luca tanpa sadar.


Wanita itu terlihat sedikit terkejut karena Luca memanggilnya ibu,Dia kemudian berjongkok dan mengusap wajah Luca yang basah.


"Nak ... Kenapa kamu hujan-hujanan,mana ibumu"


Mendapat pertanyaan itu Luca yang sedang sangat gelisah dan sedih langsung saja menangis sesenggukan.


Wanita itu kebingungan melihat Luca yang tiba-tiba menangis.


"Nak ... Maafkan bibi, ayo ke kedai aku akan memberimu baju ganti" katanya khawatir namun Luca menggeleng menolaknya.


"Jika kamu di sini terus dan kehujanan kamu akan sakit dan bibi akan tetap di sini menemanimu"


Mendengar ucapan wanita itu yang nampak serius Luca kemudian ikut dengannya.


Wanita itu membawanya ke kedai miliknya,dia mengeringkan rambutnya dan mencarikan baju untuk Luca.


Wanita yang bernama sarah itu membuka lemari kecil bergambar animasi singa,tangannya bergetar saat hendak membukanya, tumpukan baju anak lelaki tersusun rapi, matanya berkaca-kaca melihat baju-baju di hadapannya.


Kenangan lama akan putranya yang meninggal karena mengidap penyakit, membuat hatinya terasa sakit,Sarah berusaha kuat dan menenangkan diri lalu segera mengambil baju untuk Luca.

__ADS_1


Luca yang duduk di depan perapian menerima baju pemberian Sarah.


"Nak apa kamu bisa memakainya sendiri?"


Luca mengangguk dan Sarah menunjukan ruangan untuk Luca berganti pakaian, Luca segera menuju ke ruangan itu untuk mengganti seragamnya yang basah dengan baju pemberian Sarah.


Lima menit kemudian Luca keluar dari ruangan, Sarah yang melihatnya keluar,seakan melihat putranya berjalan mendekat,air matanya jatuh dan langsung memeluk Luca saat berada di hadapannya.


Luca yang kaget di peluk oleh Sarah hanya bisa diam terpaku.


Sadar dari khayalannya, Sarah segera melepas pelukannya dan dengan cepat menghapus air matanya.


"Bibi kenapa menangis?" tanya Luca merasa kasihan.


"Hufft ... Melihatmu aku seperti sedang melihat putraku yang telah meninggal" cerita Sarah.


"Ya dia sakit, dia seumuranmu"


"Bibi ... ibuku juga meninggal namun aku tahu ibu dan anak bibi pasti berada di tempat yang jauh lebih baik untuk mereka" kata Luca sembari menghapus air mata Sarah.


"Kamu bicara seperti orang dewasa" kata Sarah sambil tersenyum


"Ya itu karena ayah bilang seperti itu padaku" jawab Luca jujur.


"Hmm Bibi akan membuatkanmu susu hangat dan makanan"


Sarah kemudian menuju dapur untuk memasak omlet dan susu hangat untuk Luca.

__ADS_1


Luca yang kelaparan langsung memakan masakan Sarah saat di hidangkan di hadapannya, dia begitu lahap hingga makanan habis tak tersisah.


"Apa kamu masih lapar" tanya Sarah


"Tidak ...terima kasih bibi sudah memberiku makanan yang sangat lezat"


Sarah kemudian memberikan susu yang ada di atas meja kepada Luca, dia lalu meminumnya perlahan.


"Oh ya nak ... kenapa kamu di sini sendirian dan kehujanan? Apa kamu tahu dimana rumahmu?"


"Aku sedang kesal karena salah satu teman dikelasku terus menggangguku dan mengejekku, aku tidak ingin menanggapinya namun aku tidak akan tinggal diam karena dia menjelekkan ibuku"


"Hmm lalu ...?"


"Aku memukulnya hingga terjatuh" kata Luca dengan wajah puas.


Dengan sabar dan tersenyum Sarah menjelaskan pada Luca jika menyelesaikan masalah dengan kekerasan itu malah akan menimbulkan masalah lain.


"Oh ya nak siapa namamu?"


"Luca"


"Sepertinya aku tahu dimana kamu bersekolah, apa aku harus mengantarmu kesana?"


"Tidak ... Bibi bisa menelepon ayahku, dia akan menjemputku"


Luca yang hafal dengan nomor ayahnya kemudian meminta tolong pada Sarah untuk menghubunginya.

__ADS_1


__ADS_2