
Sudah beberapa hari Gabriel menyibukan diri kedalam pekerjaannya.
Ketika dirumah dia berdiam diri di kamar dan nampak murung.
Rose ingin sekali berbicara padanya namun setiap dia mengetuk pintu tidak pernah ada jawaban.
Gabriel benar-benar tidak ingin diganggu.
Hari pemotretan tiba dan Rose ditemani pengawal menuju kantor.
Disana Zact telah menunggunya, mengenakan kaus oversize dan celana selutut dan sebuah topi melengkapi penampilannya, meski outfitnya biasa namun jika Zact yang memakainya maka terlihat sempurna dan memberikan kesan nyaman.
"Hay Zact " sapa Rose sembari melambaikan tangan saat melihat Zact yang duduk di kursi.
"akhirnya kamu datang, aku sudah tidak sabar bekerja sama denganmu" ucap Zact antusias.
Para kru sibuk mempersiapkan keperluan syuting hari ini.
Zact dan Rose bersiap diruangan yang berbeda.
Tema iklan kali ini adalah Cinta musim semi, Rose dan Zact mengiklankan sebuah parfume keluaran terbaru dari Zinx Group dimana nantinya Rose berperan sebagai kekasih yang hilang namun tidak sengaja bertemu dengan kekasih lamanya yaitu Zact, berkat mencium aroma parfume yang dikenalinya akhirnya menemukan cinta yang telah hilang.
Syuting berakhir disore harinya,Zact mengantar Rose pulang ke rumah.
"Zact terima kasih telah mengantarku" ucap Rose hendak turun dari mobil.
"tidak masalah, oh ya boleh aku mampir ?" tanya Zact dengan senyum penuh arti, disisi lain Rose nampak bingung karena takut mengganggu Gabriel.
"baiklah ... sepertinya kamu tidak mengizinkanku" ucap Zact sedih
"Buk bukan begitu ,baiklah ayo mampir dulu minum teh , karena lain kali kita belum tentu bertemu lagi" pikir Rose.
__ADS_1
Zact dan Rose memasuki kediaman mewah milik Gabriel.
Daisha menyambut mereka dengan ramah, Zact dan Rose melepas sepatu dan berganti sendal rumah.
"Silahkan duduk" ucap Rose mempersilahkan.
Zact duduk dan memperhatikan betapa mewahnya rumah ini.
"kamu memiliki selera yang bagus tentang rumah ini" puji Zact.
"hmm rumah ini memang indah tapi aku cuma menumpang disini" jawab Rose dengan senyum seadanya.
Daisha datang dengan 2 cangkir teh dan makanan ringan,Setelah meletakkannya dimeja Daisha pergi.
"Silahkan diminum tehnya"
Zact mengambil secangkir teh hijau dan menyesapnya perlahan.
"itu tidak akan diragukan karena Daisha yang membuatnya"
Mereka mengobrol dengan santai dan sesekali tertawa kecil,tanpa mereka sadari sepasang mata tengah mengawasi mereka dengan tatapan tajam.
Gabriel memperhatikan keduanya dari lantai atas,tangannya mencengkram pembatas didepannya.
Dia ingin segera turun dan mengusir Zact namun dia tidak bisa, jika dia melakukannya maka Zact akan tahu jika Rose dan dirinya tinggal serumah.
Setengah jam berlalu ,Zact kemudian pamit kepada Rose.
"Baiklah Rose aku harus pulang, dan terima kasih atas teh yang enak ini"
Rose mengantar Zact sampai depan rumah dan ketika Zact pergi ,Rose segera masuk kedalam rumah dan dikejutkan oleh sosok tinggi Gabriel yang menunggunya dibelakang pintu dan tiba-tiba menggendongnya dipundakknya.
__ADS_1
"Tu tuan apa yang kamu lakukan,turunkan aku" Rengek Rose.
Gabriel membawa Rose kekamarnya dan melemparnya pelan ke ranjang empuknya.
Jantung Rose berdebar tak karuan, Gabriel mendekatinya dan naik di atas tubuh mungilnya.
"kamu benar-benar sudah menjadi gadis yang nakal" ucap Gabriel menatap tajam Rose yang berada di bawah kungkungannya.
"Tadi siang aku gagal memberikan hukuman padamu, maka sekarang aku akan menghukummu lebih berat lagi karena kamu berani-beraninya membawa pria lain"
"tu tuan maaf tapi" .belum sempat menyelesaikan ucapannya, Gabriel dengan cepat ******* bibir Rose dengan ganas.
Gabriel seakan gila dan bibir Rose seperti memiliki efek candu baginya,dia terus menyiksa bibir Rose dan memaksa lidahnya memasuki dan menjelajah kedalam mulut gadis cantik itu.
Wajah Rose kian memerah,jantungnya tak mau kalah dan berdetak semakin keras begitu pula dengan Gabriel.
Gabriel menciumi leher putih Ros dan terdengar erangan kecil dari mulut gadis itu, Tangannya dengan lembut membuka pakaiannya dan menyusuri setiap lekuk tubuh indah Rose.
"Hmm tuann " ucap Rose lirih menambah keinginan Gabriel semakin tak terbendung.
Setelah menanggalkan pakaiannya sendiri Gabriel kembali menc*mbui Rose yang sudah merasa melayang dan dengan susah payah tubuh Gabriel memaksa masuk kedalam tubuh Rose.
Tubuh mereka bersatu dengan erangan keras dan cengkraman tangan Rose di bahu bidang Gabriel yang meninggalkan luka.
Setelah berguncang dan mencapai puncaknya Gabriel memeluk Rose dengan sangat erat.
Dengan nafas yang terengah-engah Gabriel melepas pelukannya dan berbaring disebelah Rose.
Rose telah tertidur, Gabriel memandanginya dengan perasaan campur aduk.
Malam ini benar-benar membuat Gabriel tidak bisa menahan diri, dia menarik Rose kedalam pelukkannya dan tertidur.
__ADS_1