CEO & DOLL

CEO & DOLL
BAB 20


__ADS_3

Sinar mentari pagi menyeruak dari balik jendela kamar, siluet bayangan cantik melewatinya dengan anggun.


Bau sedap makanan menyeruak ke seluruh kamar.


Rose membawa semangkuk bubur ayam yang dibuat olehnya, Gabriel yang tadi malam tiba-tiba jatuh sakit karena kelelahan membuat Rose begadang semalaman untuk menjaganya.


"Bagaimana perasaanmu, merasa lebih baik?" tanya Rose sembari menyentuh dahi Gabriel yang sudah tidak panas lagi.


Rose kemudian duduk di sampingnya dan menyuapinya bubur.


Gabriel duduk dengan semangat karena pagi-pagi sudah mendapat perhatian ekstra.


"Trima kasih" Ucap Gabriel dengan menggenggam tangan Rose yang hendak menyuapinya lagi.


"Ayo habiskan makananmu" jawab Rose sembari tersipu


Setelah menyelesaikan sarapannya Gabriel yang merasa lebih baik segera mandi.


Rose yang sibuk merapikan bunga di taman dikejutkan oleh pelukan Gabriel dari arah belakang.


"Apa tukang kebun kita sudah tidak sanggup melakukannya?" Tanya Gabriel yang bergelayut manja di bahu Rose.


"Hmm Tuan Rowen yang terhormat aku melakukannya karena aku menyukainya, jadi jangan bawa-bawa tukang kebun yang sudah bekerja keras itu"


"Baiklah ... mari kita naikkan gajinya"

__ADS_1


Mendengar itu Rose sangat senang dan tak segan memberikan kecupan hangat di pipi kekasihnya itu.


Gabriel yang mendapat ciuman tiba-tiba itu langsung memerah wajahnya.


"Kalau begitu aku akan menaikan gajinya lagi"


Kata Gabriel murah hati.


"Pfftthh ... kalau tukang kebun itu mendapat kenaikan gaji 3x lipat maka aku akan mendaftar menjadi tukang kebunmu saat ini juga"


"Mana ada yang seperti itu, kamu cukup menjadi Nyonya Rowen"


Ucapan Spontan Gabriel membuat telinga Rose terasa panas dan sukses membuat hatinya meledak seperti kembang api.


"Apa aku pantas menyandang nama itu di belakangku??"


Dari kejauhan Rose memperhatikan Gabriel yang nampak serius dengan panggilan itu.


Cukup lama Rose menunggu namun tiba-tiba Gabriel pergi begitu saja tanpa pamit dan terlihat sangat terburu-buru.


Rose terus memperhatikan sosok Gabriel yang menjauh dan pergi dengan supir pribadinya.


Rose mencoba menghubungi Gabriel namun ponselnya di matikan.


Dia nampak khawatir dengan terus mondar-mandir di kamarnya dan terus berusaha menghubungi Gabriel namun tetap sama.

__ADS_1


Sampai tengah malam Gabriel belum kembali juga.


Rose semakin merasa gelisah, dia duduk bersandar pada kepala ranjang dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, dia terus melihat ponsel di tangannya berharap Gabriel memberinya kabar.


Pukul 03.15 Gabriel kembali dan tampak terkejut melihat Rose yang masih menunggunya.


"Gabriel ..." Ucap Rose sebelum ucapannya di potong olehnya.


"Aku lelah , biarkan aku istirahat" kata Gabriel yang langsung tidur membelakangi Rose begitu saja.


Air mata tanpa sadar jatuh membasahi pipi Rose yang duduk memperhatikan punggung Gabriel .


Perasaannya yang kecewa sudah menunggu begitu lama namun terasa sia-sia.


Rose turun dari tempat tidur dan kembali ke kamarnya sendiri lalu menguncinya.


Dia menangis semalaman hingga tertidur lalu bermimpi buruk.


Dia melihat Darshon yang kembali mengejarnya namun seseorang yang tidak begitu jelas menembaknya dan membuat Darshon tersungkur dan mati.


Di dalam mimpi itu Rose mencoba mengejar si penolong itu namun langkah kakinya terasa berat dan sosok itu seperti berjalan dengan begitu cepat dan kemudian menghilang dari pandangannya.


Rose yang terbangun dari mimpinya baru menyadari jika sudah pukul 09.45.


Dia kembali teringat kejadian semalam dan kembali merasa kecewa.

__ADS_1


Rose kemudian kembali menutupi dirinya dengan selimut dan ingin bermalas-malasan saja.


__ADS_2