
Sarah menelepon nomor Gabriel namun tidak di jawab,Sarah kemudian mencoba menghubunginya sekali lagi dan dalam dering ketiga akhirnya di jawab.
"Hallo ..." Suara tegas terdengar dari sebrang telepon.
"Ha hallo ..." jawab Sarah tergagap.
"Siapa ini?"
"Ah begini pak,Saya Sarah, kebetulan anak anda sekarang bersamaku"
"Jadi kamu menculiknya?"
"Bu bukan ... Jangan salah paham"
"Lalu di mana kalian sekarang ,apa anakku baik-baik saja?"
"Ya ... Anda bisa menjemputnya di kedaiku,aku akan share lokasinya"
Panggilanpun berakhir, Sarah segera mengirimkan lokasi kedainya.
"Ayahmu terdengar seram" kata Sarah dengan wajah yang sedikit pucat setelah menelepon Gabriel.
"Tidak ... Mungkin karena dia mengkhawatirkanku"
"Aku telah mengirim lokasi kedai ini kepada ayahmu,mungkin tidak lama lagi dia akan menjemputmu"
"Terima kasih"
"Hmm ... Baiklah, Bibi akan beres-beres dan menutup kedai, kamu habiskan susunya"
__ADS_1
Luca mengangguk dan memperhatikan Sarah yang mulai bersih-bersih, Luca berpikir senyum Sarah sangatlah mirip dengan ibunya.
Pukul 19:35 Gabriel sampai di depan kedai kopi milik Sarah, terlihat dari luar Luca duduk dan memakan sebuah cupcake, di sebelahnya terlihat seorang wanita menemaninya, Gabriel tidak bisa melihat wajahnya karena dalam posisi membelakangi jendela.
Gabriel turun dari mobil dan segera masuk ke dalam kedai, Luca dan Sarah langsung melihat ke arahnya.
Gabriel seketika berlari saat melihat Luca dan kemudian memeluk ,menciuminya dengan perasaan lega luar biasa.
"Ayah benar-benar mengkhawatirkanmu, ayah sudah berkeliling kemana-mana namun tidak menemukanmu ,ayah hampir gila " kata Gabriel dengan suara pilu.
"Maafkan aku ayah"
"Tidak apa-apa ,yang terpenting kamu dalam keadaan baik-baik saja"
"Ayah ... Bibi Sarah yang membantuku"
Gabriel melepas pelukannya dan menatap Sarah yang berada di hadapannya.
"Tidak apa-apa, aku tahu kamu seperti itu karena mengkhawatirkan putramu"
"Ya anda benar" kata Gabriel sambil memberikan amplop berisikan uang kepada Sarah namun segera di tolak olehnya.
"Maaf pak , aku menolong putramu bukan untuk hal seperti ini, aku menolongnya karena itu naluriku sebagai seorang ibu" katanya sambil menunduk.
"Kalau begitu baiklah terima kasih atas kebaikanmu dan maaf aku tidak bermaksud merendahkanmu"
Sarah mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban, melihat senyum Sarah Gabrielpun berpikir sama dengan Luca jika senyumannya sangat mirip dengan Rose.
Setelah berpamitan Gabriel dan Luca pulang ke rumah, Sesampainya di rumah Gabriel.mengantar Luca ke kamarnya tanpa bertanya apapun padanya.
__ADS_1
"Kenapa Ayah tidak bertanya apapun padaku?" tanya Luca heran
"Jika aku banyak bertanya aku takut Luca akan pergi lagi"
"Tidak ... Aku tidak akan melakukannya lagi ayah"
"Bagus" kata Gabriel sambil mengusap kepala putranya itu.
"Ayah aku memukulnya bukan tanpa alasan"
"Ya ayah percaya padamu ... Lalu apa Luca keberatan jika ayah ingin tahu cerita di balik kejadian itu?"
"Ya ... Aku melakukannya karena dia menghina ibu, saat dia menghinaku aku bisa mengabaikannya ,namun jika tentang ibu aku tidak bisa membiarkannya"
"Apa dia sering mengganggumu?"
"Ya namun aku selalu membiarkannya"
"Hmm ... Apa Luca ingin pindah dari sana?"
"Tidak ayah ... Tidak semua temanku nakal sepertinya, banyak yang baik denganku terutama sherin"
"Sherin??"
"Hemm ..." jawab Luca yang langsung membuat ayahnya tersenyum.
"Baiklah istirahatlah, Ayah sudah pastikan dia tidak akan pernah mengganggumu lagi"
"Apa ayah mengancamnya?"
__ADS_1
"Tidak ... ayah tidak sekejam itu hingga tega mengancam anak sekecil itu, tidurlah, selamat malam" kata Gabriel sambil mencium kening putranya lalu mematikan lampu kamar dan menutup pintu.
Gabriel kembali ke kamar dan duduk di sofa , doa teringat akan senyuman penolong Luca yang sangat mirip dengan Rose.