CEO & DOLL

CEO & DOLL
BAB 17


__ADS_3

.Malam ini Gabriel benar-benar mabuk dan merasakan sakit kepala.


Pengawal segera membantunya berbaring ke tempat tidur.


Setelah tertidur lelap Gabriel bermimpi bertemu sosok yang tak asing baginya, dia adalah ibunya.


Didalam mimpinya dia masih berusia sekitar 8 tahun, ibunya yang terlihat cantik dan anggun memeluknya penuh kasih.


senyuman yang selalu tersungging di bibirnya membuat jiwanya merasa tenang.


keesokan paginya Gabriel bangun dan merasakan kedamaian yang selama ini pergi darinya.


Dia segera mandi dan menikmati sarapannya sembari mengawasi pergerakan Amber melalui laptopnya.


Setelah berjam-jam di depan laptop , Gabriel belum mendapatkan apapun.


Pengawal datang dan membawakan beberapa dokumen yang harus di tandatangani olehnya.


Rupanya Amber sedang berbicara dengan seseorang yang suaranya tidak asing baginya.


"Halo sayang" Ucap laki-laki yang sedang di hubungi oleh Amber.


"Hai ... bolehkah aku meminta bantuanmu?" jawab Amber.


"Tentu ... Apa itu?"


"Hmm ... aku ingin kamu menjaga seseorang untuk ku"


"Siapa?"


"Dia seorang wanita tua yang berharga"


Gabriel langsung memahami siapa wanita tua yang di maksud oleh Amber dan membuat Gabriel meluapkan emosinya dengan cara mencengkram dokumen di tangannya.


"Baiklah ... aku akan membantumu ... Datang dan temui aku, kamu tahu aku sangat merindukanmu"


"Baiklah Azof aku akan memesan tiket besok dan langsung menemui mu"


"Kenapa kamu ingin aku menjaga wanita itu?


"Ini ada hubungannya dengan Gabriel, aku belum bisa menceritakannya sekarang, nanti ketika kita bertemu aku akan menjelaskannya.


Gabriel melempar dokumen di tangannya setelah mengetahui jika Azof telah berkhianat kepadanya dan Raja Frederick.


"Tuan ... dokumen-dokumen ini rusak semua" pengawal menyadarkan Gabriel dan memungut kertas-kertas itu.


"Suruh asistenku membuatnya lagi dan kembalilah setelah mendapatkan yang baru " seru Gabriel bersandar pada sofa dan pengawal segera pergi.


Dia meraih ponselnya dan segera menghubungi Azof, di dering ke tiga dia mengangkatnya.


"Halo tuan Rowen" Jawabnya.


"Hmm ... Azof aku ingin bertanya denganmu"


"Tentang apa?"


"Amber White" ( seketika Azof seperti tersambar petir ketika nama itu di sebut oleh Gabriel)


"I itu kenapa kamu bertanya padaku, aku bahkan tak sedekat itu?"


Gabriel mencengkram ponselnya penuh emosi.


"Apa perlu aku memberikan bukti kepada Raja Frederick jika kamu sangat dekat dengan Amber dan sedang mengkhianatinya dan aku?"


Terkejut Azof langsung kehilangan kata-kata.


"Bekerja samalah denganku dan aku akan diam , maka Rajamu itu tidak akan menggantungmu" Tawar Gabriel percaya diri.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan" tanya Azof bergetar ketakutan.


"Lakukanlah yang di minta Amber dan ingat jika kamu menyakiti ibuku maka kita akan lihat apa yang akan aku lakukan pada kalian berdua" Ancam Gabriel sungguh-sungguh.


"Baiklah aku akan melakukannya"


Dua hari kemudian Amber white bersama ibunya Gabriel ( Erica ) terbang ke Negara Diamor untuk bertemu dengan Azof.


Di sisi lain Gabriel juga terbang ke sana menggunakan Jat pribadinya.


Setelah sampai di bandara Supir Azof telah menunggu kedatangan Amber dan langsung membawa mereka berdua.


Sesampainya di rumah , Azof menyambut keduanya dengan hangat dan mengajak mereka untuk makan siang.


"Halo bibi aku Azof temannya Amber"


Erica tersenyum dan mengelus pundak Azof dengan hangat.


Mereka semua pergi ke ruang makan dan segera menyantap makan siang yang telah di siapkan, di sela-sela makan Amber White memberitahu Erica alasan dia membawanya ke sini.


"Bibi aku ada pekerjaan di sini, jadi aku menitipkan mu kepada Azof untuk sementara waktu"


"Baiklah ... kamu harus berhati-hati, kita bukan sedang di Negara kita sendiri" pesan Erica.


"Tentu bibi ... terima kasih atas perhatiannya"


Setelah makan pelayan membawa Erica ke kamara untuk beristirahat sedangkan Amber menemani Azof.


Mereka berdua pergi ke kamar dan Amber segera mandi dan di susul oleh Azof.


Mereka mandi bersama.


"A azof" Rintih Amber di sela-sela hujaman senjata Azof yang memeluknya dari belakang.


"iya sayangku ... aku sangat merindukanmu"


"tentu" Ucap Azof terus menggoyangkan tubuhnya maju mundur penuh gairah.


Setelah mandi sambil bercinta ,Azof menggendong Amber yang tak berpakaian ke kasur dan kembali memuaskan hasratnya.


Azof yang Gila dengan tubuh indah Amber tak melewatkannya sejengkal pun, Amber merintih di sela-sela ciuman Azof di tubuhnya


Dengan semangat Azof menikmati dada Amber yang besar dan kenyal membuat amber menggeliat pasrah.


" Ah ... Azoff ..." pekik Amber ketika Azof menikmati bagian sensitifnya dan spontan menjambak rambutnya.


Azof benar-benar kuat dan terus menghujam Amber , mereka terus beradu dan saling memuaskan hingga akhir.


Setelah itu mereka berdua tertidur dan terbangun di sore hari.


Amber bangun perlahan dan segera membersihkan diri.


Azof membuka matanya dan melihat Amber telah berpakaian rapi.


"Aku harus pergi"


"Kenapa buru-buru" tanya Azof bangun dari tempat tidur dan meraih piyamanya.


"Aku ada jadwal malam ini"


Azof langsung memeluk Amber , mencium bibirnya lembut lalu membiarkan dia pergi.


Malam hari pun tiba Gabriel datang bersama Medi ke rumah Azof.


Mereka di sambut dengan tatapan dingin oleh nya dan membawa mereka ke ruang tengah.


" Hei Bro apa kamu tidak mengajak kita makan malam? ini waktu yang tepat untuk makan malam" Ucap Medi tanpa malu.

__ADS_1


"Apa bosmu tidak mampu memberimu makan malam?" Ejek Azof.


"Haha ... Aku malah mengkhawatirkan kamu, jangan-jangan kamu yang tak mampu memberi kami makan" Balas Medi.


"Hmm ... Azof aku tidak ingin berbasa-basi, di mana ibuku" Tanya Gabriel sembari melihat sekelilingnya.


"Duduklah dan bersantai lah dulu" Ucap Azof mengambil sebotol Anggur dan menuangkannya di masing-masing gelas.


Medi langsung menenggaknya dengan sekali minum.


Sedangkan Gabriel tidak ada minat untuk minum.


"Apa dia baik-baik saja" Tanya Gabriel penasaran.


"Hmm ... nanti kamu juga akan melihatnya sendiri"


"Kenapa kamu tidak membawanya sekarang saja" Ucap Gabriel tak sabar.


"Bersenang-senanglah dulu, jangan membuat ini semua begitu kaku" Kata Azof sambil menyesap anggurnya.


"Kalian minumlah aku akan ke toilet sebentar" Kata Gabriel dan langsung di arahkan pelayan ke kamar mandi tamu.


Di dalam kamar mandi Gabriel mengambil ponselnya di sakunya dan menghubungi Rose, dia sangat merindukannya beberapa hari ini.


" Halo Gabby" Kata Rose di sebrang telepon.


"Gabby??? imut sekali" Ucap Gabriel dengan muka memerah.


"Ya itu panggilan sayangku untukmu, Apa kamu suka ?"


"Tentu ... apa yang sedang kamu lakukan"


"Aku baru selesai makan, aku ingin bilang sesuatu "


"Apa itu?"


"Aku sangat merindukanmu"


Mendengar itu Gabriel menjadi sangat senang dan kepanikannya segera hilang.


"Aku juga sangat merindukanmu, aku akan menyelesaikan urusanku dan segera pulang"


"Aku akan menunggumu, apa kamu sudah bertemu dengan ibumu?"


"Belum dan sekarang aku merasa sangat gugup"


"Semua akan baik-baik saja, kamu pasti bisa melakukannya"


"Ya ... hmm ... Rose tunggu aku dan aku akan membawa ibuku lalu mengenalkan kalian berdua"


"tentu"


Panggilan Pun berakhir , setelah menghubungi Rose Gabriel mendapatkan kembali ketenangannya.


Gabriel keluar kamar mandi dan kembali ke ruang tengah.


Azof yang melihat Gabriel kembali langsung berdiri dan mengajak Gabriel menemui Erica.


Mereka berjalan menuju lantai atas dan berhenti di depan sebuah kamar.


Azof kemudian pergi meninggalkan Gabriel sendiri .


Gabriel berdiam diri cukup lama di depan pintu, jantungnya berdetak tak karuan.


Dia memegang pintu di depannya dan ragu-ragu mengetuknya.


Setelah beberapa kali ketukan, terdengar suara langkah kaki mendekat ke pintu.

__ADS_1


Gabriel semakin gugup dan sudah tak sabar ingin melihat dan memeluk ibunya yang sangat di rindukannya.


__ADS_2