CEO & DOLL

CEO & DOLL
BAB 37


__ADS_3

Rose melihat Gabriel yang berdiri di depan ruko.


"Apa kamu mau menemuinya?" Tanya Zact saat melihat kebingungan di mata Rose.


"Ya aku harus menemuinya , aku tidak ingin menghindar lagi" kata Rose yakin.


"Baiklah, aku akan keluar dan naik ke atas, kamu bisa menyelesaikan masalahmu di manapun kamu merasa nyaman"


Zact hendak turun namun kemudian berhenti.


"Jika kamu merasa tertekan kamu bisa pergi" pesan Zact sebelum turun dari mobil.


Gabriel menatap ke arahnya, Zact yang berjalan mendekat tak kalah menatapnya tajam, hawa dingin tiba-tiba terasa ketika mereka saling bersimpangan.


Nuna yang menyaksikan dari dalam nampak bingung dengan apa yang sedang terjadi.


Zact masuk ke toko dan melewati Nuna begitu saja saat gadis itu hendak bertanya padanya.


Nuna menggigit jarinya sambil terus menyaksikan Rose yang turun dari mobil.


Di luar Gabriel yang melihat Rose keluar dari mobil langsung berjalan mendekatinya.


Saat keduanya saling berhadapan angin tiba-tiba datang berhembus pelan, rambut Rose tertiup angin membuatnya berantakan dan beberapa helai menutupi wajahnya.


Gabriel mengambil beberapa helai rambut Rose dan di tautkan ke telinganya, Wajah Rose seketika memerah.


"Ikutlah denganku sebentar" Kata Gabriel sembari memegang tangan Rose yang dingin.


Rose hanya diam dan mengikuti Gabriel yang menggandeng tangannya ke mobilnya.


Mobil sport warna biru metalik itu terparkir di sebelah mobil Zact.


Gabriel membuka pintu mobil untuk Rose, dengan ragu Rose masuk kedalam mobil Gabriel.


Setelah menutup pintu mobil, Gabriel membuang nafas untuk menenangkan dirinya lalu segera masuk.


Gabriel membawa Rose ke sebuah danau yang indah , meski tidak luas tapi danau berhias bunga-bunga warna-warni dan pepohonan membuat siapapun yang datang merasakan nyaman.


Gabriel menggandeng Rose ke tempat duduk di sekitar danau.


Mereka berdua kemudian duduk menatap ke arah danau.


"Rose" panggil Gabriel setelah ragu beberapa saat.


Rose menengok ke arah Gabriel, seperti biasa dia selalu saja terlihat tampan meski matanya terlihat lelah dan pipinya muncul beberapa jerawat.


Rose baru menyadari jika penampilan Gabriel ini pasti karena banyak pikiran salah satunya tentang hubungannya dengannya.


"Rose aku hanya ingin memastikan untuk yang terakhir kalinya, jika kamu ingin aku berhenti aku akan mengakhirinya dengan Joanna" Kata Gabriel pasrah.


Rose merasa seperti di hantam dengan harus memutuskan apa kelanjutan hubungan ini.


"Kenapa kamu tidak memutuskannya sendiri, kenapa harus aku?" tanya Rose sedikit kesal.

__ADS_1


"Ya semua ada di tanganmu, aku akan melakukan apapun yang kamu putuskan"


Rose kemudian terdiam cukup lama, dia berpikir apa yang harus di lakukan.


Gabriel hanya bisa diam menunggu dan sesekali mencuri pandang ke arah Rose.


"Gabriel jika aku boleh egois maka aku akan menyuruhmu berhenti, aku pernah berpikir sempit saat itu dengan menyuruhmu datang meski aku sudah mendengar penjelasanmu, ya aku egois saat itu,tapi aku seharusnya memahami posisimu saat itu juga,aku malah menyudutkan mu, selesaikan apa yang sudah kamu jalani, aku tidak akan membencimu lagi, berikanlah kisah cinta yang indah padanya yang tak memiliki kesempatan hidup untuk kedua kalinya sepertiku"


Kata-kata Rose membuat Gabriel merasa terhempas, air matanya jatuh tak tertahankan begitu juga dengan Rose.


Mereka sama-sama saling mencintai namun takdir harus memisahkan keduanya.


Gabriel kemudian memeluk Rose sangat erat membuat tangis keduanya pecah bersamaan,


Seakan ingin menghentikan waktu, Gabriel ingin memeluk Rose hingga akhir.


Gabriel melepas pelukannya dan menghapus air mata Rose yang terus menetes.


Hujan tiba-tiba turun menambah dalam rasa sedih keduanya.


Mereka saling berciuman di bawah hujan yang turun,seakan enggan terpisahkan.


"Rose meski kita tidak berakhir bersama, kamu tahu apa yang ada di dalam sini" Ucap Gabriel sambil meletakkan tangan Rose di dadanya.


"Semoga kita bisa melalui hari-hari dengan mudah meski sangat sulit pada awalnya" kata Rose sembari tersenyum.


"Hah meski menyakitkan, aku merasa sedikit lega ini berakhir dengan baik". ucap Gabriel


Mereka kemudian berjalan bergandengan menyusuri danau di bawah air hujan yang melengkapi perpisahan mereka


Langit sudah gelap, Gabriel mengantar Rose kembali ke ruko.


"Menginap lah, kamu harus berganti pakaian"


Kata Rose saat sampai di depan Ruko.


Gabriel berpikir sejenak sebelum mengiyakan tawaran Rose, ini juga malam terakhir dia bebas menemui Rose sebelum hari pernikahannya dengan Joanna.


"Baiklah , apa kamu ada baju ganti untukku?" tanya Gabriel yang mulai kedinginan.


" Aku akan meminjamkan mu pakaian Zact" jawab Rose.


" Ah sepertinya aku tidak memerlukannya" kata Gabriel gengsi


"Ayolah sudahi pertengkaran itu, kalian bukan lagi anak-anak" bujuk Rose yang sukses menurunkan ego Gabriel.


Mereka kemudian masuk ke ruko dan Rose mengajak Gabriel naik ke lantai atas.


"Ini kamarku kamu bisa mandi di sana, aku akan meminjam baju pada Zact"


Gabriel mengangguk lalu masuk ke kamar Rose.


Aroma Parfum yang biasa Rose pakai merebak di seluruh kamar, membuat Gabriel semakin rindu momen kebersamaannya di kamar bersama Rose.

__ADS_1


Gabriel kemudian cepat-cepat menghapus pikiran itu dan segera mandi.


Rose mengetuk pintu kamar Zact, tak lama kemudian pintu terbuka.


"Apa dia sudah pulang?" tanya Zact penasaran.


Rose menggelengkan kepalanya yang membuat alis Zact terangkat sebelah.


"Maksudmu... jangan bilang dia akan menginap di sini" Tebak Zact dengan suara yang sedikit keras,Rose kemudian mendorong Zact masuk dan menutup pintunya.


"Hei ... kamu mulai nakal ya" Goda Zact yang langsung mendapat cubitan dari Rose di perutnya.


"Ahh ... (Teriak Zact yang langsung di bungkam oleh Rose)"


"Gadis ini benar-benar menakutkan, apa kalian berbaikan?"


Rose mengangguk dengan senyum misterius.


"APA!!!" Teriak Zact terkejut.


"Ya kita baikan , tapi kita mengakhiri semuanya" kata Rose dengan senyum di paksakan.


"Kalian benar-benar membingungkan, Apa kamu tidak kedinginan seperti ini?"


"Ya , aku ke sini karena ingin meminjam bajumu untuk Gabriel"


"Hei!! kenapa harus bajuku !! tidak ada !!" kata Zact memasang wajah kesal.


"Zact ... jika kamu meminjamkan bajumu maka aku akan terima tawaranmu bergabung di agensimu" kata Rose sambil memainkan alisnya menggoyahkan Zact.


"Aiiissshhh baiklah ... ambil sana, tapi kamu harus menepati ucapanmu"


"Hmmm ..." Rose kemudian mengambil piyama Zact dan segera keluar dari kamarnya.


Rose kemudian menyiapkan baju itu di atas ranjang lalu mengambil bajunya di lemari dan segera mandi di kamar Nuna.


"Tok .. tok ...tok " Rose mengetuk pintu kamar Nuna.


Dia membuka pintu dengan cepat dan langsung menarik Rose ke dalam kamar.


" Kakak apa yang berdiri tadi siang itu Gabriel Rowen??" tanya Nuna dengan ke antusiasannya.


"Ya kamu benar" jawa Rose dengan suara bergetar kedinginan.


"Apa dia pacar kakak?? kalau iya wah kak Rose benar-benar beruntung" oceh Nuna tanpa henti.


" Nuna bisakah aku menumpang mandi dulu, aku kedinginan dan aku harus mandi dan berganti pakaian"


"ok ok "


Saat hendak masuk kamar mandi Nuna menghentikannya.


" Kakak aku nggak sabar mendengar cerita kakak, jadi mandilah dengan cepat ok" bujuk Nuna yang langsung kabur setelah Rose melototinya.

__ADS_1


__ADS_2