
Setelah bekerja seharian ,Rose yang telah menyelesaikan pekerjaannya dan pulang bersama Zact.
Di rumah Zact mengajaknya minum kopi di balkon sembari menikmati pemandangan di sore hari.
"Apa kalian sudah berbaikan??" tanya Zact membuka obrolan.
Rose menggeleng pelan lalu meminum kopi di hadapannya.
" Apa ada masalah yang tidak bisa di selesaikan??"
Rose kemudian menceritakan apa yang telah terjadi dan Zact sangat mengerti kekacauan hubungan Rose dan Gabriel.
"Zact apa aku bis merepotkan mu sekali lagi??"
"Apa itu?"
"Bisakah kamu membantuku, aku ingin membuka sebuah toko roti di kota sebelah, aku ingin menata hidupku, aku harus pergi"
"Itu bukan masalah besar, tapi apa kamu yakin ingin pergi dari sini?"
"Ya ... jika Gabriel tidak datang malam ini maka tolong rahasiakan dimana aku akan tinggal darinya" pinta Rose sungguh-sungguh.
"Baiklah aku akan membantumu, nanti jika aku libur aku akan mengunjungimu"
__ADS_1
Mendengar ketulusan Zact Rose tersenyum lega.
"Aku sangat berterima kasih padamu Zact, maaf aku terus merepotkan mu"
"Itu gunanya teman, kalau begitu aku harus pergi , jika Gabriel tidak datang segera hubungi aku dan aku akan mengantarmu ke kota sebelah"
Zact kemudian pergi sedangkan Rose duduk bersantai menikmati kopi dan sunset yang indah.
Setelah menikmati sunset Rose menuju kamar dan segera berkemas, dia harus bersiap dengan semua kemungkinan yang ada.
Dia tidak memiliki banyak barang sehingga tidak memakan waktu yang lama , hanya 1 koper dan tas kecil yang sering di pakainya .
Rose kemudian segera mandi dan bersiap, jam menunjukan pukul 19:35, belum ada tanda² kehadiran Gabriel.
Di sisi lain Gabriel dengan riang akan segera menemui Rose, dia tidak membawa pengawal dan juga supir.
Ketika hendak memasuki kompleks perumahan mewah milik Zact ponselnya berdering, telepon dari Raja Frederick membuatnya menepikan mobilnya, tidak biasanya dia menelepon dengan nomor pribadinya.
"Hallo tuan Frederick" jawab Gabriel.
Suara isak tangis terdengar dari sebrang telepon, Gabriel nampak terkejut mendengarnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Gabriel.
__ADS_1
"Joanna kritis, tolong datanglah" mohon Raja Frederick disela-sela tangisannya.
Tak lama panggilan berakhir, Gabriel menatap jalanan di depannya yang menuju ke arah Rose berada sudah tidak jauh lagi.
"Siaaalllll" pekik Gabriel sembari memukul setir dihadapannya.
Gabriel segera menghubungi asistennya untuk membooking tiket untuk penerbangan awal.
Dia mendapatkan tiket penerbangan jam 21:00 ,dia sudah tidak memiliki banyak waktu, Gabriel memutar mobilnya dan melesat ke bandara dengan kecepatan tinggi.
pikirannya saat ini benar-benar kacau, dia meninggalkan jalan itu berarti hubungannya dengan Rose berakhir.
Di rumah Rose yang mondar-mandir menunggu kedatangan Gabriel sesekali melihat jam di ponselnya.
Jam sudah menunjukan pukul 19:59 , kaki Rose terasa lemas sehingga membuatnya tersungkur ke lantai , tidak ada tanda-tanda kedatangan Gabriel.
Rose menelepon Zact sambil terisak.
"Rose aku akan datang" jawab Zact yang langsung menyadari ketika mendengar tangisan Rose yang seakan telah berbicara meski belum berkata apa-apa.
Rose turun bersama tas dan kopernya, dia menunggu Zact di teras, 20 menit kemudian Zact datang dan langsung turun dari mobil lalu berlari menghampiri Rose, dia kemudian menghapus air matanya.
Rose tiba-tiba memeluknya erat-erat dengan tangis yang pecah, Zact mendekapnya dengan lembut,dia mengusap rambut Rose dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara Zact mengantar Rose ke tempat tujuan, dia membiarkan Rose tenang lebih dahulu, sehingga di dalam perjalanan dia hanya diam dan tidak banyak bertanya.
lelah menangis Rose tertidur, Zact mengusap bekas air mata yang tersisa di sudut mata Rose yang terpejam.