
...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️ 』...
"Sharence, kamu tidak bisa terus seperti ini."
Ibuku selalu mengulang-ulang ucapan itu, setiap kali dia melihatku meringkuk ketakutan saat ada orang yang memiliki sifat ribut, terlalu banyak berbicara, dan terlalu sering berteriak bertemu denganku.
Usiaku baru menginjak umur 5 tahun, bukannya tidak aneh bagiku, untuk takut dengan anak-anak lainnya yang bertubuh lebih besar dan lebih ribut dariku.
Apalagi, mereka selalu tersenyum senang setiap kali melihatku ketakutan.
Anak-anak pelayan lainnya, semuanya selalu bekerjasama untuk mengambil mainanku, seperti buku atau hanya pembatas buku yang digambar khusus dari penjelajah dunia.
Tidak ada yang tahu aku selalu menangis diam-diam setiap kali itu terjadi, oleh karena itu, aku selalu memilih untuk ikut dengan pamanku berjalan-jalan berkeliling luar dari Kerajaan. Lebih baik melihat tanaman liar dan pepohonan di Dark Forest, dibandingkan berbicara dengan anak-anak lain.
Berbeda dari ibuku, jika aku mengatakan itu pada Pamanku, dia hanya akan tertawa dan menganggukkan kepalanya seperti mengerti.
Aku tahu dia hanya tidak ingin repot menasihatiku, tapi setidaknya aku tahu, beliau juga terkadang memilih untuk diam saat ada orang yang berusaha menipunya padahal dia sendiri tahu bahwa dirinya sedang ditipu.
Kerajaan Heart adalah tempat yang sering pamanku kunjungi karena ada seseorang yang pamanku sukai di sana.
Mungkin pamanku tidak tahu aku mengetahuinya jadi, dia memintaku untuk bermain sendiri dan tinggal di dalam kastil Kerajaan Heart, setiap dia pergi bersama wanita yang ternyata adalah teman lamanya selama bersekolah dahulu, yang bekerja sebagai pemimpin sesuatu di Kerajaan Heart.
Oleh karena itu, aku selalu bertemu dengan Pangeran Myles Heart, pangeran pertama sekaligus calon pewaris tahta Kerajaannya, sama sepertiku.
Kami sangatlah berbeda, awalnya aku juga selalu meringkuk ketakutan saat melihatnya berlari ke arahku dan mengajakku bermain.
Akan tetapi, dia selalu tersenyum dan pergi jika aku ketakutan. Dia tidak menggangguku seperti anak-anak lainnya. Suatu ketika, aku melihatnya menaruh sebuah lukisan bunga dandelion yang indah di tengah ruangan dalam kastil, aku bertanya padanya.
Dengan semangat, Pangeran Myles menceritakan bahwa itu adalah lukisan dari adiknya yang senang melukis. Aku jadi senang mendengarnya bercerita tentang adiknya yang selalu mendapatkan perlakukan tidak adil dan bagaimana adiknya hanya memilih untuk diam saja akan hal itu.
Mendengar bagaimana Pangeran Myles bercerita tentang adiknya, aku selalu membayangkan bahwa dia sama sepertiku, akan meringkuk ketakutan setiap kali di ganggu oleh orang lain.
Semenjak saat itu, kau jadi sering bermain dengan Pangeran Myles. Meskipun terlihat seperti orang bodoh yang selalu tersenyum dan ceria, Pangeran Myles adalah orang yang baik. Aku selalu bertanya-tanya kenapa aku tidak bisa pergi menemui adiknya dan dia hanya menghela napas sambil menjawab,
"Pamanmu meminta ayah dan ibuku untuk menjauhkan mu darinya..."
Aku bingung sekaligus bertanya-tanya. Mengapa pamanku seperti itu, saat aku ingin bertanya, aku tidak memiliki nyali yang besar untuk bertanya perihal itu.
Akhirnya, aku berusaha mengumpulkan informasi dari mendengarkan orang lain berbicara tentang rumor di dalam kastil.
Aku selalu berpura-pura membaca buku dan mendengarkan pelayan-pelayan bergosip sambil bekerja. Tapi, tidak ada yang membicarakan soal Pangeran Kedua di Kerajaan Heart, jadi aku mengganti siasat ku dengan akhirnya bertanya pada gadis yang selalu pergi bersama pamanku. Bibi itu sangat baik, jadi aku mencoba bertanya padanya.
Awalnya, dia enggan bercerita karena dia pikir aku masih terlalu kecil untuk mendengarkan itu, tapi akhirnya beliau luluh dan memberikan ku informasi yang cukup penting.
Dia bilang, Pangeran Kedua adalah malapetaka di pulau Cyrus ini.
"Sebaiknya kamu jauh-jauh dari orang seperti itu, atau Kerajaanmu akan terkena kutukan dan musibah. Atau hal buruk akan terjadi padamu dan orang di sekitarmu!"
Pamanku akhirnya tahu aku bertanya-tanya tentang Pangeran Kedua sehingga, akhirnya aku dilarang ikut dengannya jika dia pergi mengunjungi Kerajaan Heart.
Aku pun akhirnya mulai melupakan itu dan kembali menjalani kehidupanku di dalam kastil, sambil terus diganggu dan dijahili oleh anak-anak lainnya.
...****************...
Suatu hari, nenekku yang sering berpetualang, mendatangi kastil dan memberikan anak-anak lainnya hadiah. Dari neneklah aku selalu mendapatkan pembatas buku yang dilukis dengan pemandangan yang ada di seluruh tempat di luar sana.
Kali ini, nenekku memberikanku kalung dengan liontin berupa kristal yang sudah dibubuhi sihir khusus.
Kalung itu akan membuatku terlindungi dari niat jahat orang padaku dan mereka akan tersetrum jika menyentuhku atau orang lain selain keluarga Diamond yang menyentuhnya.
Nenekku juga bilang, meskipun penyihir yang membubuhi sihir pada kristal itu sedikit skeptis, tapi sepertinya jika ada anak laki-laki yang kusukai ataupun anak laki-laki yang menyentuh kalung itu tetapi tidak tersetrum, maka dia adalah orang yang tepat untukku.
Peduli apa aku, anak umur lima tahun diberikan cerita seperti itu.
Aku hanya mengangguk singkat seperti paham, padahal tidak dan memakai kalung itu setiap harinya. Berharap berhasil menghalau anak-anak yang akan menjahiliku.
Ternyata itu berhasil, setidaknya untuk membuat anak-anak lain tersetrum saat aku menyentuh mereka.
Hahahaha, akhirnya aku bisa hidup dengan tenang karena kalung itu.
...****************...
Sebagai satu-satunya anak di keluarga Diamond, aku diharuskan untuk ikut ke acara ulangtahun Kak Myles. Mendengar itu, meskipun aku ragu untuk ikut dengan ibu dan ayah, akhirnya, mau tidak mau aku ikut.
Lagipula aku juga cukup dekat dengan Kak Myles, sehingga seharusnya aku menghormati hari ulangtahunnya.
Kereta kuda yang membawaku ke Kerajaan Heart sampai lebih awal daripada Kerajaan lainnya. Sehingga aku dapat waktu bermain dengan Kak Myles.
Dengan iseng aku melepas kalung itu dan meminta Myles untuk menyentuh kalung itu, sebelum dia menyentuhnya, aku menceritakan apa yang nenek bilang padaku.
Tertawa karena tidak percaya dan menganggap kalung itu hanya kalung biasa yang dibubuhi sihir pelindung biasa, Myles akhirnya menyentuh kalung itu...
...dan dia tersetrum !
__ADS_1
Untung saja tidak ada pelayan atau Sebastian yang berdiri di sampingnya, jika iya maka aku akan terkena masalah.
Meskipun sedikit kecewa bahwa pasangan takdirku bukanlah Pangeran Myles, akhirnya aku melupakan itu dan kembali bermain seperti biasa dengannya yang tak berhenti menertawakan dirinya sendiri.
Wah, kali ini adiknya melukis bunga liar yang sering kutemui di sekitar kastil.
...****************...
Di hari acara ulangtahunnya Kak Myles, aku memilih untuk berdiri di sudut ruangan untuk menghindari anak-anak bangsawan lainnya yang sangat banyak.
Setidaknya, sampai ada segerombolan anak-anak yang juga merupakan keluarga bangsawan dari Kerajaanku datang menghampiriku untuk bertanya mengenai kalung yang ku kenakan.
"Itu adalah kalung milikku!", katanya dengan lantang dan mereka menyeretku ke luar kastil.
Aku sempat bertatapan dengan pengawal Kerajaan, namun mereka mengalihkan mata mereka seakan tidak peduli dan membiarkanku ditarik keluar oleh banyak anak laki-laki begitu saja. Mereka juga sepertinya menahan setruman ketika mereka menarikku keluar.
Tidak ada yang peduli, jadi aku berusaha berlari namun kalungku mereka tarik begitu saja dan anak yang bernama Ryder itu tersetrum dan melemparnya ke arah wilayah kastil yang selalu dilarang kukunjungi oleh Pamanku. Mereka bilang itu adalah tempat dimana Pangeran Kedua tinggal.
"Ahahaha, cepat ambil kalung itu, calon ibu Ratu Penakut!" mereka mulai tertawa setelah Ryder mengatakan itu padaku.
"He..Hentikan!"
Mereka tertawa lagi, dan saat Ryder akan berjalan mendekatiku, tiba-tiba seseorang muncul begitu saja di belakang mereka. Salah satu anak bangsawan yang berambut warna hijau berteriak pada orang itu, "Hei! Sejak kapan kau ada disini?!"
Semuanya melihat ke arah anak lelaki yang berambut hitam itu dengan nanar termasuk diriku, bukannya takut, dia hanya tersenyum ke arah kami semua dan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya dengan santai, "Aku ada di sini sekarang, tidak ada yang aneh soal itu..." serunya.
Anak bangsawan yang berdiri di samping kanan Ryder menyahut dengan panik, "Sebaiknya kamu pergi dari tempat ini sebelum Tuan Ryder marah! Cepat pergi dari sini dan tinggalkan kami mengurusi urusan kami sendiri!"
Dia terkekeh mendengarnya, tanpa sadar wajahku sedikit memucat, kenapa anak ini terlihat lebih menyeramkan dari anak-anak lainnya yang selalu menggangguku ?
Dia mengambil satu langkah mendekati anak-anak itu yang sepertinya melangkah mundur, lalu dengan tenang dia mengatakan, "Mau disuruh pergi dari sini pun tidak bisa, aku tinggal di dalam kastil ini soalnya".
Kami semua terdiam mendengarnya, sebelum satu orang yang paling ujung, berambut pirang berbisik, "Tinggal dalam kastil ini?? Jangan bilang, dari rambut dan matanya itu...dia adalah si 'bajingan'?"
Mendengar itu, aku melihat reaksinya yang awalnya tenang dan santai menjadi sedikit menyeramkan, alisnya terangkat dan matanya terlihat sedikit mengeluarkan cahaya berwarna merah...
"...kau...kau jangan macam-macam, meskipun kau ini adalah Pangeran Kerajaan Heartㅡ"
"Cepat pergi sana, sebelum aku ambil jiwamu," dia dengan cepat memotong ucapan Ryder yang terdengar ketakutan.
"Hiiii!!!"
"Ayo kita pergi!!!"
"Akan kuadukan pada Ayah!!!"
Keempat anak laki-laki itu langsung pergi melesat kalang kabut dengan panik dan wajah pucat. Kini hanya tersisa aku sendiri.
Dia baru saja menyelamatkanku kan ? Tapi kenapa aku juga ingin lari dari sini ?!!
Dia berjalan mendekatiku dan tanpa sadar aku semakin mundur sambil bergumam, ".. tolong jangan..."
"Ah, tenanglah. Aku hanya bercanda saja. Bukan aku yang punya kemampuan menyeramkan seperti itu..." ucapnya sambil melambaikan tangannya. Aku melirik kiri dan kanan, berusaha mencari bantuan, namun karena tidak ada siapapun akhirnya aku menunduk dan melihatnya untuk meminta maaf, "....ma...maa...maafkan aku..."
"Kenapa kamu harus minta maaf? Sebenarnya ada masalah apa? Aku mendengar mu berteriak tadi."
"...emmm..itu...anu...sebenarnya...ummm," aku terus membuka dan menutup mulutku tapi suaraku tidak ingin keluar, aku ingin menangis tapi nanti dia akan mengangguku.
"...Apakah ada barangmu yang dilempar mereka?" dia akhirnya bertanya lagi, setelah beberapa menit aku tidak dapat menjawab pertanyaan yang sebelumnya.
Aku terkesiap karena baru mengingat kalung itu dan menganggukkan kepalaku, lalu aku menunjuk ke arah rumput yang berada di depan pilar besar.
Dia berjalan melewati ku, aku mundur sedikit saat dia berjalan ke arah rumput yang kutunjuk.Tunggu, apa yang akan dia lakukan ?
Dia berjongkok dan akan mengambil kalung itu, namun, sebelum tangannya menggapai kalung itu, aku baru teringat jika dia akan tersetrum jika menyentuhnya. Tanpa sadar aku terkesiap lagi.
Dia menoleh ke arahku, "Ada apa?"
"Ummm...itu..anu..." aku kembali membuka mulutku namun menutupnya kembali, terus seperti itu, entah mengapa sekarang ini aku jadi lebih gagu dan menyedihkan dari biasanya...
Setelah beberapa saat berlalu dan aku tetap tidak bisa mengatakan apapun, dia melambaikan tangannya ke arahku untuk memintaku tidak perlu khawatir, "Iya, kalungmu ini kuambil sekarang. Jangan khawatir, akan kukembalikan padamu."
Em, tapi aku bukan khawatir tentang itu...
Saat dia meraih kalung itu, untuk waktu yang cukup lama bagiku, kristalnya memancarkan cahaya namun kembali meredup.
Eh, barusan itu ?!
Dia memperhatikan kalungnya beberapa saat seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan berjalan kembali ke arahku.
Kemudian dia melihatku yang masih memandanginya dengan tatapan tidak percaya, mulutku kembali membuka dan menutup, mataku melihatnya dan ke kalung yang ada di telapak tangannya.
Dia...tidak tersetrum ?
__ADS_1
Dia menghentikan lamunanku dan langsung menyodorkan kalung itu padaku, "Ini, sepertinya kalung ini tidak rusak." Aku terkejut dengan suaranya dan mengangguk sebelum mengambil kalung itu dari telapak tangannya dengan cepat.
Oh, tangannya lebih besar dari yang terlihat...
Tanpa sadar, aku tersenyum lebar dan menatap kalung yang sudah ada di genggamanku dengan penuh rasa sukacita.
"Perlu ku antar kembali ke Aula?" Dia bertanya sambil tersenyum padaku. Ah, dia masih disini? Aku memasukkan kalungku ke dalam saku bajuku dan langsung menganggukkan kepalaku.
"..mohon bantuannya, Pangeran Kyle..." cicit ku sambil memandang sepatunya.
Dia terdiam beberapa saat, sebelum terkekeh dan berjalan melewati ku untuk menuju ke dalam kastil. Ah, aku belum berterima kasih padanya! Dengan cepat, aku menarik lengan kemejanya, dia menoleh ke arahku. Bisa kurasakan wajahku sangat panas namun aku mengumpulkan keberanianku untuk berkata, "...te.. terima kasih...Pangeran.."
Aku menunduk lagi dan menatap nanar bebatuan di tanah, tiba-tiba saja, tangannya sudah berada di atas kepalaku dan mengusap-usapnya.
Aku terkesiap lagi dan melihat ke arahnya.
.........
"Tidak masalah, kalau boleh kutahu, kamu siapa ya? Kenapa kamu bisa tahu aku ini Pangeran Kyle?" Dia bertanya padaku sebelum menarik tangannya dari kepalaku.
Ah, aku belum memperkenalkan diriku !
Aku menjadi panik dan takut jika aku sudah bertingkah tidak sopan. Melihatku yang kelabakan, dia menenangkan ku dengan memberikanku coklat di saku celananya.
Setelah aku membuka dan memasukan coklat ke dalam mulutku, dia kembali mengusap kepalaku, jadi aku menutup mataku karena malu.
...tapi, setelah itu aku menjadi sedikit tenang.
"Maafkan saya... perkenalkan saya adalah SharenㅡUuuuu," saat aku akan memperkenalkan diriku, aku malah menggigit lidahku sendiri. Sekilas, aku dapat melihatnya menahan tawa...Uuuuuu...
"Ah, jangan-jangan kamu adalah Sharence Diamond?" dia bertanya padaku setelah memperhatikanku beberapa saat. Ah, apa dia mengenalku? Dengan cepat aku menganggukkan kepalaku dan menjawab,
"Benar sekali, nama saya adalah Sharence Diamond! Akhirnya, saya bertemu dengan Pangeran Kyle juga, Kak Myles selalu menceritakan Pangeran setiap saat kami bermain..." aku menyebutkan nama kakaknya dengan semangat agar tidak terdengar bahwa aku mengenalnya lewat rumor.
Dia tertawa dan mengusap-usap tengkuk lehernya dengan malu, "Benarkah? Semoga kakakku tidak mengatakan hal yang buruk tentangku...ahahaha", ucapnya.
Aku segera menggelengkan kepalaku, "Tidak. Kak Myles selalu bercerita bahwa adiknya sangat pintar dan baik. Seperti yang dikatakan kak Myles, Pangeran Kyle sebenarnya sangat baik. Sekali lagi, saya ucapkan terimakasih banyak atas bantuannya!". Akhirnya aku dapat menunduk hormat 90° padanya untuk berterima kasih sebelum kembali berdiri tegak dan merasa malu. Kenapa dia terus memperhatikanku?
"Kalau begitu, ayo..", dia sekali lagi tertawa kecil dan berbalik sebelum langsung berjalan masuk kembali ke dalam kastil. Melihat punggungnya, aku menjawab, "Baik" dan berjalan mengikutinya dari belakang.
"OHHHH!!!" dia tiba-tiba terkesiap seakan kaget oleh sesuatu, sehingga membuatku melotot ke arahnya dengan seluruh tubuhku bergetar dari ujung kaki ke atas kepalaku.
Aㅡada apa?!! Kenapa?!
Aku bergidik begitu dia mengusap-usap lagi kepalaku terutama bagian ubun-ubunku. Um, dia terlihat sangat bersalah sekarang.
"Maafkan aku, Tuan Putri Sharence...um.."
"ㅡTi-tidak masalah...ehehe."
Entah mengapa, melihat punggungnya membuatku merasa tenang dan aman.
...****************...
Sesampainya ke dalam kastil, dia menabrak seseorang. Sebelum aku mengerti apa yang terjadi, semua orang sudah memandanginya dengan tajam dan suasana di dalam kastil menjadi sesak.
Aku ingin berlari kabur dari tempat itu untuk mencari Kak Myles karena sepertinya, Pangeran Kyle terkena masalah dengan anak-anak bangsawan dan Tuan Putri dari Kerajaan Spade hanya karena dia tak sengaja menabraknya. Suara anak bangsawan itu terus mencecar Pangeran Kyle. Pandangan dari orang-orang dan juga bisikan mereka yang terarah seakan padaku membuatku meringkuk ketakutan.
Sesaat aku berpikir, apakah aku akan terus seperti ini selamanya?
Bersembunyi di balik seseorang, meringkuk ketakutan, tidak berani mengeluarkan suaraku sendiri, menghindari semuanya...
Saat aku mendengar perempuan itu meminta Pangeran Kyle untuk meminta maaf dengan cara berlutut, entah mengapa aku merasa sangat marah...
Pangeran Kyle sama seperti Pamanku dan yang lainnya, memilih untuk diam dan menundukkan kepalanya, sama sepertiku...
Suara bisikan dan suara tawa yang tertahan semakin menggema di sekitarku. Pangeran Kyle akhirnya mulai berlutut...
"Umm, umm...Pangeran tidak perlu melakukannya...umm", tanpa sadar aku berceloteh dan gadis yang sedari tadi memaki Pangeran Kyle melotot ke arahku dan memekik, "Diam kamu, Kerajaan Diamond tidak perlu ikut campur disini!".
Suaranya yang sangat menggelegar membuatku langsung menjadi semakin meringkuk dan meringis. Tubuhku bergetar karena terkejut dan takut.
Meskipun aku membuka suaraku...ini terjadi..
Aku menutup mataku dengan erat, berharap ini semua berakhir...
"Kalau aku tidak ingin berlutut minta maaf, lalu apa? Apa yang akan, kau, bukan siapa-siapa, lakukan? Merengek ke ibumu?", suara Pangeran Kyle terdengar ke seluruh Aula dan membuatku membuka mata sebelum melihat ke arahnya.
Aku melihat punggungnya, dia menyadari tatapanku dengan melirik sesaat ke arahku sambil tersenyum menyeringai sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke arah anak-anak bangsawan dan Putri itu dan berdiri tegak sama seperti saat dia menghadapi Ryder.
Ah, aku juga ingin berubah untuknya...
__ADS_1
......................
...「 Interlude III. Sharence's Heart 〈 selesai 〉」...