CHANCES - Battle Of Heart : Online

CHANCES - Battle Of Heart : Online
Chapter 60. Now 『Part - II』


__ADS_3

...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️ 』...


Previously :


Kenapa aku seperti melupakan sesuatu yang begitu penting ???


Apa ya ???


ㅡAH ?!


HERO !!!


...****************...


Menoleh dengan panik ke arah luar jendela dari dalam kamar asramaku, terlihat langit sudah gelap dihiasi oleh banyak taburan bintang, menandakan hari ini hampir berakhir.


Memasukkan sampah cup ramen ke dalam tas ajaib, aku segera berlari keluar dari ruangan asramaku. Aku sedikit ragu jika si HeroㅡHaylee akan menungguku selama itu.


Chae Rin ! Kenapa kamu tidak memberitahu dan juga mengingatkanku bahwa aku ada janji bertemu dengan si Hero sore tadi ??


...「Bukan salahku jika Host melupakannya. Lain kali, jika ada janji temu mungkin sebaiknya Host tulis pada Note sehingga aku mungkin bisa mengingatkan mu seperti salah satu fungsi dalam kartu identitas itu」...


Ugh, maafkan aku. Bagaimana ini ?? Apakah aku membuatnya menunggu ?


...「Dasar pelupa」...


Sambil mendengarkan omelan panjang dari Nona Chae Rin, aku setengah berlari ke arah taman di belakang gedung utama Unity Academy. Merasakan angin malam yang langsung menerpa wajahku saat kakiku sampai di luar gedung, aku menghembuskan napas pendek sebelum kembali berlari.


Menyusuri jalan bebatuan yang indah karena diterangi oleh lampu-lampu sihir berwarna oranye cerah, mataku menangkap sebuah sosok bayangan yang berdiri di tengah taman.


Sial, ternyata dia menungguku.


Suara dari derap langkahku diikuti dengan helaan napas berat sehabis berlari, mulai terdengar begitu jelas saat sepatuku menapaki rerumputan untuk mendekati sosok bayangan itu. Bahkan di malam hari, rambut pirangnya tetap bersinar dengan begitu cerah dibawah lampu taman yang berkelap-kelip.

__ADS_1


"Oh? Akhirnya kamu datang juga!"


"HhhㅡMa-maafkan aku! Aku benar-benar lupa bahwa kita akan bertemu di sore hari... apakah kamu terus menungguku sejak tadi sore?" setelah mendengar suaranya yang begitu ringan seperti angin sejuk di musim panas, aku langsung membungkukkan tubuhku sembilan puluh derajat sambil meminta maaf padanya.


Mataku ini terasa sulit untuk diarahkan dan bertemu dengan tatapan miliknya.


"Hm? Tidak masalah. Seharusnya aku tidak mengganggu waktumu, tapi karena ada sesuatu yang harus ku sampaikan hari ini jadi aku menunggumu," balas Haylee. Terlihat dari bayangannya, dia sedang mengibaskan kedua tangannya tanda menolak.


Aku mengangguk singkat dan memilih untuk tetap memperhatikan ujung sepatunya yang berwarna hitam sebelum dia melanjutkan, "Kyle? Meskipun kamu ini sebelumnya adalah Pangeran, sepertinya kamu tidak memiliki etika yang baik ya? Apakah kamu sama seperti anak bangsawan lainnya? Tidak menghargai ku karena aku bukanlah seorang bangsawan melainkan hanya warga biasa?"


Mendengar ocehannya itu yang seperti sedang menggerutu, aku sontak mendongakkan kepalaku sehingga mataku langsung bertemu dengan mata birunya, "Uh! Tidak, Haylee...aku tidak bermaksud untuk membuatmu merasa tidak dihargaiㅡ"


Haylee mendengus kecil sambil menaruh kedua telapak tangannya di setiap sisi pinggulnya, "Lalu apa?! Kenapa kamu tidak mau menatapku tadi? Jika sedang berbicara, seharusnya kamu menatapku seperti ini!" potongnya.


Aku tersenyum malu dan mengusap-usap tengkuk leherku sambil mengangguk singkat, "Umm...maafkan aku sekali lagi. Seharusnya aku lebih peka."


"Baguslah jika kamu sadar akan tindakanmu itu. Lain kali, jangan lupakan hal krusial itu agar dirimu tidak dianggap sebagai orang yang sombong ataupun lemah."


Haylee langsung menepuk tangannya sambil mengucap 'Oh, Iya!' sebelum mengatakan, "Uhm...sebenarnya aku dimintai tolong oleh Sharence untuk mengatakan padamu bahwa Pak Heinz akan menunggumu besok pagi jam delapan pagi di depan gedung Unity Academy untuk melakukan hukumanmu? Iya, seperti itu katanya."



Alis mataku terangkat mendengarnya, "Maksudmu, Tuan Putri Sharence memintamu untuk menyampaikan semua itu padaku?"


"Panggil dia Sharence, Kyle! Kamu tidak tahu aturan bahwa kita tidak boleh menyebut nama gelar dari seorang bangsawan ataupun keluarga Kerajaan karena jika dibiarkan maka itu berarti kita tidak setara?!" selorohnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Ah, benarkah? Aku tidak tahu soal itu..."


"Seharusnya kamu mengambil buku panduan Akademi ini yang ada di depan perpustakaan gedung utama, di dalam buku itu juga terdapat peta seluruh area dari Akademi ini."


Mendengarkan informasi baru itu, seketika membuatku tersenyum tipis dan kembali membungkukkan tubuhku ke arahnya, "Buku itu terdengar berguna sekali! Sekali lagi, terima kasih sudah mau repot-repot menyampaikan semua itu padaku, Haylee."


Membusungkan dadanya dengan bangga, Haylee menganggukkan kepalanya, "Tentu. Untuk seorang Hero sepertiku mendapatkan kesempatan untuk membantu sesama adalah suatu kewajiban! Akan kuterima permintaan maafmu dan rasa terima kasih mu itu, Kyle!"

__ADS_1


Aku ikut terkekeh dengannya sambil berpikir, kenapa setiap Hero harus bersikap sedikit aneh seperti ini sebelum kembali bertanyaㅡ


"Kalau begitu, apakah kamu tahu kenapa Tuan Putriㅡmaksudku, Sharence...tidak ingin menyampaikan itu langsung padaku??"


Pertanyaanku itu sontak membuat Haylee melompat kaget dan matanya mulai bergerak kesana-kemari menuju sudut taman yang terdapat sebuah kursi taman yang tertutup oleh semak belukar, namun dia berusaha menatapku kembali sambil tersenyum kikuk dan menjawab pertanyaan milikku dengan terbata-bata, "Hah?...uhhh?! A-a-a-aku?! AkuㅡAku ti-tidak tahu a-a-apapun soal itu! Benar! Iya, aku tidak tahu ke-ke-kenapa Sharence tidak menyampaikan langsung padamu!"


Mendengar jawaban dan melihat sikapnya yang terbilang aneh, membuatku sedikit berpikir bahwa Haylee sebenarnya sedang berbohong. Aku melirik ke arah kursi yang sempat dia perhatikan disela kegugupannya.


Melihat arah mataku, Haylee langsung melompat tepat ke hadapanku, mencoba untuk menghalangi pandangan mataku.


Tanpa ia ketahui, sebelum ia sempat menutupi seluruh pandanganku ke bangku itu, mataku menangkap sekelibat sesuatu yang berwarna putih bergerak bersembunyi ke balik semak belukar itu.


Ahahaha, yang benar saja !


Menahan tawaku yang ingin meledak, aku menatap Haylee. Dia sudah berkeringat dingin sambil menggigiti biibiirnya dengan gugup, "A-a-apa yang sedang kamu lihat Kyle? Tidak ada apapun disana, bukan?? Sudahlah! Hari ini sudah malam, jadi kaㅡmaksudku aku! Harus segera kembali ke dalam asrama! Sampai jumpa besok hari di dalam kelas Kyle!!!" setelah mengatakan itu, Haylee langsung mencoba untuk berlariㅡ


"Tunggu, Haylee! Tolong sampaikan juga pada Sharence yang ada di balik bangku itu rasa terimakasih ku. Kalau begitu...saya ucapkan selamat malam, gadis-gadis."


Haylee sontak terkesiap mendengar ucapan ku itu dan diam terpaku sambil menatapku dengan wajah terkejut saat aku melangkahkan kakiku untuk pergi meninggalkan tempat itu.


Dari kejauhan, aku mendengar suara sayup-sayup milik Haylee, "Sharence! Dia tahu kamu disana! Maafkan aku!!"


Ahahaha...kukira dia benar-benar sudah berubah...ternyata oh ternyata.


Sharence, kamu meminta tolong pada orang yang salah. HeroㅡHaylee masih terlalu polos dan lugu jika diminta berbohong seperti ituㅡjika saja kamu meminta tolong pada Ellen.


ㅡMungkin, aku tidak akan menyadari dirimu yang sedang bersembunyi di balik kursi itu.


Soalnya, aku rasa akan cukup sulit untukku membaca ekspresi Ellen secara langsung selain menggunakan cara curang, yakni memakai sihir telepati secara sepihak.


......................


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2