CHANCES - Battle Of Heart : Online

CHANCES - Battle Of Heart : Online
Chapter 13. Xarx


__ADS_3

...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️ 』...


Previously:


"Apa yang harus kami lakukan jika kami berhasil menemukan orang itu, Ratuku?" tanya Aria dengan ragu.


Ratu Iblis menyilangkan kakinya dan mengangkat tangannya dengan bosan.



"Bawa dia padaku. "


Biarkan aku yang memutuskan untuk langsung memusnahkannya atau menjadikannya pasanganku untuk membangkitkan Raja Iblis yang baru...


...****************...


Beberapa minggu pun akhirnya berlalu dengan tenang. Meskipun aku cukup merindukan celotehan ria Myles, aku menjalani hidupku dengan rutinitas yang sama sehari-harinya.


Setiap pagi hari, aku berlatih dengan Nina sehingga aku dapat melihat perubahan signifikan dari statusnya sambil terus terkesiap hingga ia menasihati ku,


...「Status」...


【 Nama: Nina 】


【 Usia: 16 tahun 】


【 Gelar: Mata-mata Kerajaan Spade 】


【 Nama Asli: Nia Rosemary 】


【 Level: 57 】


【 Okupasi: Pelayan Kerajaan Heart 】


【 Ras: Manusia 】


【 Kekuatan: 75(B) / Potensi B 】


【 Kesehatan: 78(B) / Potensi B 】


【 Kelincahan: 85(B) / Potensi A 】


【 Magis: 55(C)/ Potensi B 】


【 Perlawanan Magis: 56(C) / Potensi B 】


【 Pengetahuan: 56(C) / Potensi C 】


【 Keberuntungan: 55(C) / Potensi B 】– Spesial


【 Rasa Suka: 80 (Kekasih) 】


【 Kepercayaan: 80 (Percaya) 】


【 Bakat 2/5 】 ▶


【 Skill 4/5 】 ▶


Melihat tingkat Suprise Attack nya bagiku dia sudah sangat cepat dan jika aku tidak memiliki Sistem, aku pasti sudah habis dia tebas. Setiap melihat angka di rasa suka dan kepercayaannya padaku membuatku sedikit tidak percaya bagaimana dia yang dulu sangat dingin dan keren menjadi tetap keren namun semanisㅡ


Oke, setelah berlatih dengan Nina, aku menjalankan sarapan bersama dengan anggota keluargaku seperti biasa dan suasananya tidak setegang dahulu meskipun Myles tidak ada di meja makan.


Ratu Milan terlihat sedikit muram mungkin merindukan Myles, begitupun dengan Sebastian yang sedikit linglung. Apakah dia mengkhawatirkan Myles ?


Berharap Myles akan baik-baik saja di Sekolah Pelatihan Perang yang terdengar menyeramkan, aku akhirnya mengakhiri sarapan dan pergi melukis atau terkadang mengunjungi perpustakaan jika menyadari Nina terlihat kelelahan sehabis berlatih bertarung yang cukup berlebihan karena dia terlalu semangat untuk menjadi kuat.


Siang harinya, setelah makan siang bersama Nina dan Sebastian, aku izin pergi mengunjungi markas Red Eye Gang. Seperti biasa, ada kalanya aku membawa Nina yang akan adu tatapan dengan Raven atau terkadang aku tidak membawa Nina karena Nina ada pekerjaan lainnya.


Kali ini, aku tidak terlalu di tahan di dalam kastil seperti dahulu.


Mungkin karena rasa mencekam dengan takutnya akan ada serangan dadakan dari Kerajaan Spade menghilang, beberapa orang mulai berhenti memberikan rumor tentangku.


Masih ada juga rumor lainnya yang bertebaran tapi kurasa itu lebih sedikit dibandingkan dengan sebelumnya...


Sesampainya di ruangannya Raven, dia menyambut ku dengan riang dan langsung memelukku. Night mengangguk dan menyapaku dengan keren tapi terkadang di balik matanya dia terlihat sedikit masih merasa takut padaku. Aku menyapa mereka berdua dan langsung bertanya dengan kemajuan dari rencana ku.



Night menjawab ku dengan bangga bahwa Red Eye sudah merekrut lebih dari 500 orang dengan level lebih dari 25, bahkan beberapa pengemis maupun gelandangan sudah mulai berkurang di jalanan kota Heart karena mereka semua sudah memiliki tempat tinggal dari uang yang kuberikan. Namun mereka kuberikan pekerjaan tentunya.

__ADS_1


Salah satunya adalah menjual coklat-coklat yang ku ciptakan. Meskipun awalnya aku sedikit ragu namun Kerajaan Spade ternyata sangat dermawan dalam membeli coklat...


Bahkan Night menyarankan untuk membangun sebuah tempat khusus untuk menciptakan lebih banyak coklat dengan ladang buah coklat. Mendengarnya aku langsung setuju. Dengan segera Night berlari keluar untuk mencari tempat yang cocok. Begitu aku akan menanyakan pada Raven bagaimana kemajuannya, dia menggerutu, "Maafkan aku, Akai...Aku belum bisa melakukannya sebaik Night...tapiㅡ"


Raven menggumam lalu akhirnya mengangguk sebelum melanjutkan, "Kami memiliki beberapa masalah, dan sepertinya sekarang adalah saat yang tepat untukmu ikut denganku menemui seorang penjual budak yang disegani oleh semua para penjual budak lainnya..."


Aku menyilangkan tanganku, "Apa maksudnya dari disegani? Apa semua penjual budak melapor padanya terlebih dahulu jika memiliki seorang budak yang akan memiliki nilai jual tinggi?" pertanyaan ku mendapatkan anggukkan singkat dari Raven.


"Seperti itulah, beberapa penjual budak bahkan merasa takut padanya. Kalau tidak salah kudengar namanya adalah Xarx? Namanya sulit sekali disebutkan," gerutu Raven sambil mengacak-acak rambut merahnya. Mata kuningnya sedikit bergetar jadi aku bertanya, "Apakah kamu sudah menemui Xarx ini?"


Raven menggeram dan mengangguk ragu, "Sayangnya, sudah. Xarx ini sedikit aneh dan aku tidak tahu tapi auranya...aku tidak menyukainya..ugh," sambil menjulurkan lidahnya seakan jijik, Raven mengelus-elus kedua lengannya seperti ingin membersihkan dirinya dari apapun yang dia pikirkan.


Aku memandanginya dengan bingung sebelum akhirnya kami berjalan menuju tempat dimana Xarx berada. Setelah menyusuri kota hingga ujung dekat dengan Red Harbor. Raven memasuki sebuah jalan sempit yang mungkin hanya dapat dilalui oleh satu orang. Jalan sempit ini, menurut ku sedikit berbahaya, jika ada yang ingin menyerang kita dari belakang, pergerakan kita sedikit terhalang dan sulit untuk berlari cepat jika tidak ingin menabrak dinding bangunan di sekitar jalan sempit ini.


Sesampainya di ujung jalan sempit itu, berdiri sebuah tenda biru~ serius...warnanya biru langit dengan corak persegi di setiap ujungnya. Terlihat dua pria berbadan kekar berdiri di antara pintu dan melihat kami dengan curiga sebelum menatap dengan tatapan yang sangat menjijikkan dan luar biasa sangat tidak sopan pada Raven.


Bahkan aku berusaha menahan amarahku untuk tidak langsung menancapkan pisau ke tubuh mereka dan mengeluarkan bola mata mereka untuk dijadikan hadiah pada Raven.


Melihatku yang sedikit kesal atau mungkin dia memang bisa membacaku, Raven langsung merangkul lenganku dengan mesra sehingga membuat kedua pria itu menjadi cemberut dan menatapku dengan tajam.


"Aku baik-baik saja, jangan hiraukan mereka berdua yang hanya pecundang," bisik Raven.


Ketika kami sudah berada di dekat mereka, salah satunya bertanya, "Nona Red Eye? Sudah kembali lagi pada Tuan Xarx?"


Kembali lagi ?


Raven menepuk-nepuk lenganku dengan santai dan menjawab, "Jangan berbicara seperti itu, kali ini aku membawa kekasihku untuk membicarakan tentang bisnis yang ku tawarkan sebelumnya pada Tuan Xarx, apakah Tuan Xarx ada?"


"Aku tidak yakin jika aku ingin mempertemukan Tuan Xarx dengan pria ini.." dengan arogan, pria kekar itu menyilangkan tangannya sambil memandangiku dengan tajam. Raven sedikit bingung karena dia tidak ingin menerobos masuk.


Aku melihat ke arah pria kekar yang satu lagi yang semenjak tadi diam.


Oh, begitu ?


"Apa yang kau lihat?!" akhirnya pria kekar itu membuka mulutnya setelah melihatku tetap memandangi dirinya. Aku menyeringai ke arahnya sambil menjawab, "Tidak ada, aku hanya ragu jika kamu terus bermain denganku seperti ini...Tuan Xarx, kamu akan kehilangan tangkapan terbesar yang pernah kau dapat dalam seluruh hidupmu."


Pria kekar yang tadi bersikap arogan padaku langsung menyerang ku dengan cepat mengayunkan kapak yang dia bawa, aku dengan lihai menangkap kapak itu dengan tangan kosong. Bahkan Raven memandangi ku tidak percaya ketika tangannya yang akan menggapai pedangnya.


...Hampir saja.


...「Sudah kubilang sebelumnya, sikap ceroboh dan pelupa itulah yang akan membunuhmu lebih cepat meskipun memiliki Sistem, Host」...


Matanya terlihat liar seakan mencoba membaca ku, namun karena tidak berhasil akhirnya dia menghela napas dan tersenyum sambil mematikan mantra ilusinya. Tubuh kekarnya berubah menjadi penuh dengan lemak dan kini tingginya mungkin setinggi denganku di tubuh Kyle.


Dia memakai topi bundar yang tinggi berwarna biru dengan setelan jas biru yang kancingnya hampir terlepas menahan lebar tubuhnya. Giginya yang kuning menyeringai ke arahku serta tangannya yang memilinkan kumisnya yang berwarna kuning sama seperti dengan warna rambutnya.


"Tuan Xarx?!" Raven terkesiap sedangkan Pria arogan itu hanya melempar jauh kapak yang bilahnya sudah tidak berbentuk lagi.


"Maafkan saya, Tuanku. Akhir-akhir ini beberapa pengawal Kerajaan selalu datang untuk meminta uang pajak tempat lebih besar dari biasanya jadi untuk menghindari itu, saya menyamar sehingga jika keberadaan saya tidak ada, para pengawal itu akan pergi," serunya sambil mengelap keringat di dahinya.


Mata Tuan Xarx yang berwarna biru memperhatikanku lagi, "Saya kira Tuanku juga memakai sihir ilusi tapi sepertinya hanya kekalutan saya saja? Baiklah, ayo kita segera masuk dan segera berdiskusi!"


Raven sempat melirik padaku yang kubalas dengan kedipan sebelah mata dan tersenyum santai sambil mengikuti langkah Xarx.


Dilihat dari luar, aku rasa ini adalah tenda biasa...begitu aku masuk kedalamnya...


Demi penguasa alam yang suciㅡ


Hidungku langsung mencium bau darah yang sudah mengering, bau busuk, bau-bau yang akan menghilangkan nafsu makan selama berbulan-bulan. Akan tetapi, bau-bau itu kalah dengan satu bau yang sangat kukenal...


Bau kematian...


Di setiap sisi dari tenda dan bahkan barisan di tengahnya, terkumpul banyak jeruji besi, baik besar maupun kecil. Erangan, rintihan kesakitan terdengar samar-samar ketika Xarx terus melanjutkan langkahnya menyusuri beberapa jeruji besi yang tiba-tiba senyap saat melihatnya lewat.


Sekilas, aku membayangkan bagaimana Nina waktu itu berakhir di tempat seperti ini...


Semua pasang mata dari para budak di balik jeruji terarah padaku dan Raven. Bisa kudengar Raven menggumamkan, "Meskipun aku sering mengunjungi tempat seperti ini, aku tidak akan pernah menyukainya."


Xarx tertawa dan akhirnya kami sampai di satu ruangan terbuka di ujung dari semua barisan jeruji jeruji itu. Xarx mengusap-usap telapak tangannya sambil tersenyum padaku, "Baiklah, apakah Tuan benar-benar kekasih Nona Red Eye disebelah sini? Dilihat dari pertarungan barusan dan bagaimana Tuan dapat menebak saya, sepertinya Tuan bukanlah orang biasa. Apa yang Tuan perlukan dari saya?"


Aku tersenyum dan menyandarkan tubuhku ke dekat meja yang terletak di tengah kami bertiga, "Aku membutuhkan kerja sama darimu, bisa dibilang...aku ingin memperkerjakanmu," mata Xarx terlihat sedikit berbinar namun dia menahan reaksinya, "Maksud Tuan seperti apa? Meskipun seperti ini, saya berhasil menjalankan bisnis saya dengan baik dan hampir semua penjual budak di seluruh Kerajaan mempercayakan saya untuk mengurus budak dengan kualitas tinggi."


"Aku bermaksud untuk membayar mu jika kamu akan melakukan apa yang kuminta...hanya itu saja."


"..dan apakah itu, Tuanku?"


"10 kantung kepingan emas, jika kamu, Xarx, akan memberikan ku dan orang-orang ku untuk mengurus dan melatih budak budak ini menjadi lebih baik dan menuruti kita.."


Xarx langsung menyeringai, "15 kantung emas setiap bulannya, saya akan langsung menandatangani kerja sama kita, Tuan."

__ADS_1


Dari balik senyumannya, sepertinya dia ragu aku akan menerimanya, bahkan Raven terlihat memucat mendengar berapa banyak uang yang akan dikeluarkan. Namun, bagiku...itu hanya uang yang bisa dicari lagi.


"Tentu," ucapku dengan santai dan menaruh 16 kantung kepingan emas ke atas meja yang memenuhi meja itu dengan seketika. Ohoo, lihat bagaimana mata kuningnya semakin menguning saat melihat uang-uang ini ada di atas meja. Xarx berusaha menahan dirinya kemudian menatapku dengan bingung, "Tapi, Tuanku ini kelebihan satu kantung?"


"Anggap saja itu sebagai tip karena diskusi kita berjalan dengan sangat baik," jawabku tenang sambil mengedipkan sebelah mataku padanya. Xarx terlihat sangat bahagia dan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, Tuanku sudah membeli saya dengan cepat! Sekarang, apa saja yang Tuanku inginkan? Perlukah saya menunjukkan salah satu budak terbaik saya? Saya sudah menyimpan satu-satunya budak yang meskipun sudah banyak yang meminta saya menjualnya, saya menunggu orang yang tepat untuk menjual budak itu. Sepertinya Tuanku adalah orang yang tepat!"


Pernyataannya membuatku tertawa, "Kenapa kamu perlu repot-repot menjual budak dengan cara seperti itu? Kukira semua pedagang budak hanya membutuhkan uangnya saja?"


Xarx menyeringai, "Tentu saja kami tidak sebodoh itu Tuanku! Kami menginginkan budak kualitas terbaik kami jatuh pada orang yang salah karena itu akan berdampak buruk bagi kami. Misalnya saya menjual budak pada anda Tuanku dan itu adalah kualitas terbaik. Tak lama kemudian jika Tuanku membunuhnya dengan mudah atau budak itu mati begitu Tuanku yang sangat kuat menyiksanya maka pelanggan lain akan ragu untuk membeli budak seperti itu padaku karena yang berkualitas baik saja mudah matinya...saya yakin Tuanku mengerti dari maksud saya ini."


Aku menggelengkan kepalaku tidak percaya sambil ikut menyeringai, "Benar-benar licin...kamu juga menggunakan pelanggan mu sebagai tempat untuk mempromosikan budak-budak mu itu?"


"Tuanku benar sekali! Aku sekarang benar-benar menyukai Tuanku! Bagaimana jika saya siapkan dua budak spesial khusus untuk Tuanku selain dengan budak kualitas terbaik itu?" Xarx menggosok-gosok telapak tangannya dengan penuh semangat.


Raven langsung merangkul lenganku lagi dan tersenyum pada Xarx, "Sepertinya rencanamu perlu ditunda dahulu, Tuan Xarx. Kekasihku, Akai sepertinya sudah berkunjung terlalu lama disini dan kita akan kembali lagi nanti!"


Aku tertawa dan menganggukkan kepalaku, "Red Eye benar, sebaiknya saya harus bergegas karena saya masih ada urusan lain. Saya akan kembali nanti, Xarx."


"Ohh, tentu saja Tuanku! Tendaku akan selalu terbuka untukmu, Tuanku!"


Setelah berpamitan, kami berdua pergi keluar dari tenda dengan Raven yang terlihat terburu-buru menarikku keluar dari wilayah sepi itu menuju jalanan utama di Red Harbor. Aku akhirnya bertanya dengan penasaran, "Kenapa kamu tiba-tiba terburu-buru seperti itu? Setidaknya aku masih ada setengah jam sebelum kembali ke kastil?"


"Um, aku hanya tidak ingin kamu menemui budak spesial yang ditawarkan oleh Tuan Xarx...melihat dirimu yang seperti itu pasti kita akan berada di sana dalam waktu yang lama jika kamu bertemu mereka."


Aku terdiam dan berpikir sesaat sebelum membalas, "Maksudmu...maksud dari dua budak spesial itu adalah budak khusus untuk...umm..'itu'?" Raven langsung menganggukkan kepalanya dalam diam.


"..tapi Akai. Aku bahkan tidak menyadari bahwa Tuan Xarx menyamar sebagai salah satu dari pria penjaga tendanya. Apa sihir ilusi yang dia miliki sangat kuat?"


"Cukup kuat untuk membuat orang yang kuat seperti mu tidak menyadarinya, Raven. Aku juga hampir melewatkannya jika aku tidak merasakan aura yang aneh dari orang itu."


"Kamu juga merasakannya, Akai? Tuan Xarx sepertinya memiliki sesuatu yang tersembunyi tapi aku tidak tahu itu apa."


"Iya, aku juga sedikit aneh padahal dia hanyalah manusia biasa...kenapa ya?" gumamku sambil mengikuti langkah Raven kembali menuju markas Red Eye Gang.


Sistem, apakah ada sesuatu yang aku lewatkan disini? Firasat ku cukup tidak tenang setelah bertemu Xarx..


...「Tidak tahu」...


Sedikit jengkel dengan tanggapan Sistem yang terdengar acuh, aku akhirnya memutuskan untuk menghiraukan firasatku karena aku tidak menemukan yang aneh dari statusnya Xarx.


...****************...


Aria terbang memasuki tenda biru yang terletak tak jauh dari Red Harbor. Xarx, pria gemuk yang kini memakai setelan birunya saja tanpa topi bundarnya menyambutnya dengan senyuman lebar.



"Ohh, Nona Aria! Sudah lama Nona tidak bermain ke tempat ini. Apakah Nona sudah menemukan mainan baru atau Nona membutuhkan bantuan saya seperti biasa?"


Aria mendengus mendengarkan Xarx dan berjalan mengitari seisi tenda dengan memperhatikan beberapa budak laki-laki yang ketakutan melihatnya.


Xarx mengelap keringatnya dari dahinya menggunakan saputangan nya dan bertanya lagi, "Sepertinya Nona sedang berada di suasana hati yang buruk? Bagaimana jika Nina menyewa mainan yang biasa dengan harga yang cukup murah? Kebetulan hari saya mendapat tangkapan ikan yang sangat besar."


Mendengar Xarx, Aria mengangkat alisnya seakan tertarik, "Apa maksudmu dengan tangkapan ikan yang sangat besar?"


Xarx tersenyum menyeringai dan menggosok-gosokan telapak tangannya, "Seperti ucapannya yaitu tangkapan ikan yang sangat besar, kali ini saya menemukan seorang Tuan bangsawan yang sangat kuat memberi saya banyak uang hanya untuk mengurusi para budak-budak ini lebih baik dan akan membantu saya menghasilkan budak-budak dengan kualitas terbaik!"


"Tuan Bangsawan yang sangat kuat? Siapa?"


"Saya tidak tahu identitasnya secara detail tapi saya yakin bahwa dia bernama Akai."


"Akai?" Aria menaruh telapak tangannya ke atas dagunya sebelum bertanya lagi, "Bagaimana kamu tahu dia itu sangat kuat?"


Xarx mengelap lagi keringatnya, "Seperti yang anda tahu Nona, saya sedang dikejar oleh para pengawal Kerajaan. Saya menggunakan satu-satunya kemampuan sihir terbaik saya dengan menyamar menggunakan sihir ilusi terbaik saya yang bahkan sudah melalui Raja Grim Heart. Tetapi Tuanku, Akai dengan mudah menebak bahwa itu saya. Saya yakin bahwa Tuanku, Akai sangatlah kuat."


Aria terdiam beberapa saat sebelum menyeringai yang cukup membuat Xarx terkesiap dan tubuh gemuknya bergetar.


Aria menaruh sekantung kepingan emas di atas meja depan Xarx, "Sepertinya suasana hatiku membaik berkatmu, Xarx. Aku akan kembali lagi nanti dan ini bayaran untuk informasinya." Secepat saat dia datang, Aria terbang keluar dari tenda biru itu lebih cepat dari sebelumnya yang meninggalkan Xarx yang akhirnya terduduk lemas dan ketakutan.


Aria berdiri di sudut atap Gereja tertinggi di Kota Heart, dia tertawa sambil mengepakkan sayapnya yang tertiup angin.


"Akhirnya, Ratuku. Sepertinya saya sudah mendapatkan informasi terbaru tentang orang yang Ratuku cari..."


Tinggal dimana aku dapat menemukannya ?


......................


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2