
...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️ 』...
Previously :
Sebelum aku melanjutkan ucapanku dalam hati, Valeria menoleh ke arahku sambil menyeringai, "Sekarang, ayo tunjukkan padaku coklat yang sering kamu buat itu, sayangku~" suaranya membuatku bergidik hingga ke tulang belakang ke ujung kaki.
Setelah menghela napas panjang, aku mengikuti dengan berjalan disampingnya menyusuri lorong istana yang kosong ini.
...****************...
"Untuk seseorang yang mengatakan dirinya tidak dapat memasak... bukannya ini keterlaluan?" sahutku begitu melihat Valeria dengan santai mengaduk adonan kue dengan lihai seakan aku sedang menonton acara memasak melalui TV.
Dia menjilati sendok itu seperti sedang mencicipi nya dan tersenyum padaku sebelum menaruh sendok itu kembali ke dalam adonan yang seketika membuatku mengernyit. Dia menaruh adonan kue coklat itu dan bersandar di dekat meja sambil memiringkan kepalanya, "Aku hanya melakukan apa yang kau lakukan bukan? Kenapa kamu terkejut seperti itu?"
Aku hanya menggelengkan kepalaku sambil mengambil adonan yang dia taruh sebelum melanjutkan untuk mengaduknya dalam diam. Dia memperhatikanku sambil tersenyumㅡaku selalu lupa padahal dia adalah gadis yang tidak dapat melihat. Namun dia dengan mudah menirukan apa yang kulakukan seakan dia benar-benar melihatnya dengan jelas.
Valeria mengetuk-ngetuk meja di hadapanku, "Kamu terdiam lagi...biasanya kamu selalu tersenyum dan lebih santai dari ini kan? Apakah sesakit itu kehilangan keluarga mu? Memang, aku juga paham perasaan mu, tapi sudah kubilang bahwa itu bukan salahmu, karena cepat atau lambat, Kerajaan mu sebenarnya akan hancur dengan sendirinya."
Aku tidak menjawabnya dan dia terus melanjutkan sambil mengambil beberapa tempat yang mirip seperti cetakan berbentuk persegi dari balik lemari kecil tak jauh dari meja dihadapan kami, "Awalnya aku juga cukup ragu dengan ritual yang akan menjauhkan Ratu Iblis dari tempat ini namun begitu ibu memintaku untuk mengorbankan ayah, itu berhasil...kami berdua pun perlahan menjadikan pelayan kami sebagai korban...dan ibuku adalah orang terakhir."
Aku menaruh adonan yang sudah siap di dalam oven dan mendengarkannya terus berceloteh seakan tidak ada hari esok, "Lalu, ketika satu persatu pelayan itu menghilang, muncullah sebuah rumor bahwa aku dan ibuku menjadikan mereka semua sebagai tumbal pada Ratu Iblis, rumor itu terlalu benar sehingga pada akhirnya aku mengetahui bahwa ada satu pelayan yang berhasil kabur sebelum sempat ku jadikan tumbal ritual."
Valeria menuangkan dua gelas air teh ke dalam cangkir dan menyesap salah satunya sebelum kembali melanjutkan, "Aku membiarkan pelayan itu hidup dan sekarang lihat, kini aku sudah tinggal sendirian di dalam istana ini selama dua tahun penuh tanpa pendamping ataupun penjaga. Jadi sebaiknya untuk saat ini sebelum kamu memutuskan untuk pergi, tinggallah disini bersamaku." Ucapannya terdengar terlalu santai namun ujung bibirnya terlihat terangkat sedikit dengan matanya yang terus memperhatikan diriku yang terdiam.
"..." aku menyilangkan tanganku dan melihatnya balik. Dia menyeringai dan mendekatkan wajahnya ke arahku sebelum berbisik, "Aku tahu kamu belum berniat untuk kembali ke pulau utama kan? Disini kau bisa mendinginkan kepalamu itu dan tidak ada buruknya jika tinggal satu atap sendiri dengan seorang gadis cantik sepertiku!" selorohnya diikuti dengan kedipan polos matanya.
Sekali lagi, apa dia dapat melihatku atau berpura-pura tidak bisa melihat atau bagaimana? pikirku dengan tatapan selidik.
Aku mengambil cangkir teh yang sudah dia sodorkan sekali lagi padaku dan menyesap nya secara perlahan, dia memainkan ujung rambutnya dan memperhatikanku seperti mencoba membaca ku.
"Tenang saja, kita akan memiliki kamar tidur yang sama," ucapnya tiba-tiba.
GLEK
Aku menahan diriku yang hampir memuntahkan seluruh teh dengan mulutku dan meneguknya langsung sebelum merasakannya. Aku menatapnya dengan tajam namun kurasa itu percuma karena dia sudah tersenyum lebar dan menyandarkan wajahnya ke atas telapak tangannya sambil memainkan jari telunjuknya di atas meja.
Aku harus menunggu kue coklatnya selesai dengannya disini...haaah.
"Hmm, aku tahu kue coklatku akan selesai agak lama... bagaimana kalau kuajak kau berkeliling istana? Agar nanti kau tidak tersesat di tempat terlarang atau semacamnya," sahutnya sambil menepuk tangannya seakan baru ingat sesuatu. Aku mengerutkan dahiku, "Tempat terlarang? Maksudmu?" tanyaku dan dia tersenyum.
"Ya, Tempat terlarang...jika kamu masuk ke ruangan itu, kamu akan mati ditempat atau bahkan terkena kutukan yang sangat besar."
"...bawa aku ke tempat itu."
"Ahahaha, sayangnya tidak ada tempat seperti itu disini. Aku hanya bercanda," tawanya mengisi seluruh ruangan dapur istana yang besar ini. Aku mengedikkan bahuku dan melihatnya sampai dia berhenti tertawa.
Dia membuka matanya yang tertutup, menunjukkan tidak ada cahaya yang terlihat disana, "Kalau begitu, mari ikuti aku. Kita mulai dari tempat ini... Tempat ini adalah dapur istana, ibuku pernah membakar air panas disini.." serunya sambil berjalan mengitari dapur.
Aku hanya memperhatikan nya berjalan dengan santai tanpa menabrak satupun kursi yang ada di dekat meja maupun gerobak besi yang diletakkan di tengah ruangan.
"Dahulu, tempat ini sangat ramai sekali. Banyak para pelayan dan juru masak berjalan kesana kemari untuk memenuhi kebutuhan makanan aku dan ibuku. Bahkan mereka pernah membuat sebuah kue yang sebesar ini!" Dia merentangkan tangannya cukup lebar sambil berjinjit sebelum terlihat malu dan membalikkan tubuhnya.
"Yaah, itu adalah kue untukku pada saat aku berulang tahun yang ke 9. Kuenya terlalu besar sehingga aku tidak bisa menghabisinya dan membagikannya ke anak-anak di kota."
"...kamu juga mengadakan acara ulangtahun mu yang ke 9?" aku bertanya.
"Benar sekali. Aku tahu kamu tidak merayakannya...jika kamu merayakannya mungkin aku akan datang sesaat..."
"Mengapa kamu hanya datang sesaat?"
Valeria menoleh ke arahku sebelum tersenyum lebar, "Jika aku diam disana terlalu lama. Semua Raja disana bahkan ayahmu akan segera menyerang ku, kau tahu?"
"Maksudmu?"
Valeria berjalan secara lamban dan menaiki salah satu meja sebelum menghadap ke arahku, "Kerajaan Joker...berbeda dengan semua Kerajaan lainnya, kami ada lebih awal dari semuanya. Terlebih lagi bahwa..."
Dia tersenyum seakan bingung untuk melanjutkan perkataannya atau tidak. Pada akhirnya dia melanjutkan perkataannya, "...bahwa kami..semua anggota keluarga Joker merupakan reinkarnasi dari anggota keluarga kami yang sebelumnya. Seperti kami ini hidup secara berulang-ulang dengan tubuh yang berbeda. Kau tahu? Terkadang kami pergi menyerang semua Kerajaan lain dan tentu saja serangan itu berhasil karena kami memiliki ingatan kami di masa lampau. Tak terkecuali diriku ini..."
"..."
TAP
__ADS_1
Valeria meloncat turun dari meja itu dan berjalan kembali ke arahku, "Oleh karena itulah, jika ada anggota keluarga Joker yang menginjakkan kakinya di Pulau Utama, maka semua Raja akan mengetahuinya dan mencoba mencariku. Jika kamu ingin bertanya, jadi bagaimana aku dapat membeli kebutuhan dari pulau utama, sangat mudah melalui portal. Aku melempar uangku, mengatakan apa yang ku butuhkan dan mereka melempar barang-barang yang kuinginkan. Akan tetapi jika mereka mencoba menjebak aku atau mencoba berbohongㅡkubunuh mereka semua dan kucari toko lainnya," pada bagian terakhir. Suaranya terdengar sangat dingin dan dia memicingkan matanya padaku.
Aku menganggukkan kepalaku secara perlahan dengan kaku, setelah melihatku selesai menganggukkan kepala, dia kembali tersenyum manis dan mengayunkan tangannya ke arahku seperti memintaku untuk mengikutinya, "Kalau begitu ayo kita lanjutkan berkeliling istana ini!"
...〈 +45 Rasa Suka Valeria 〉...
...〈 +47 Kepercayaan Valeria 〉...
Meskipun aku tidak mengatakan atau melakukan apapun yang spesial...kenapa angkanya sebesar itu ?
...****************...
"Katakan padaku, siapa Akai? Dimana aku dapat bertemu dengannya?"
"Argh! Akuㅡaku tidak tahu siapa dia! Ampuni aku! Aku tidak tahu!!! Aku benar-benar tidak tahu!!! Ampuni aku!!!" sahut sesosok orang ditengah erangan kesakitannya karena kedua kakinya sudah dipotong dari lututnya hingga kebawah. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya dengan menarik sekuat tenaga menjauhi seseorang yang berdiri tak jauh di belakangnya. Menatapnya dalam keadaan menyedihkan tanpa ekspresi dibalik jubahnya. Di tangannya terlihat ada belati kecil yang mencuat dibalik jubahnya.
"...ku ulang sekali lagi sebelum aku mengambil lenganmu...siapa sebenarnya Akai dan dimana aku dapat menemuinya?" sahutnya sambil berjalan secara perlahan mendekati orang yang mencoba menarik tubuhnya lebih cepat lagi namun semua itu hanya sia-sia saja.
"NghhhㅡAarrrghhhh!!!ㅡ"
CRUUKKKkkkkkkkkkk
CRUNCCCHHHHhhhhhhh
BREEEEEEEEEEETTT
Secepat dan selicin yang orang itu bisa lakukan, kini lengan pria yang berada di tanah hanya tinggal satu bagian. Pria itu menggelepar dan berusaha menenangkan dirinya namun usahanya nihil, akhirnya dengan mata merah, pria itu mencoba mengatakannya dengan perlahan.
"ㅡRed...Eye..." setelah mengatakan itu, pria itu langsung jatuh terkapar.
Orang itu menghela nafasnya dan menendang mayat itu dengan pelan. Dia membuka tudung jubahnya sebelum menggerutu dengan kesal, "Kenapa tidak bilang dari tadi, tolol? Jadinya kau mati sia-sia sekarang...itu berarti Glue Rat tidak ada hubungannya dengan Akai ya?"
"Akan kucari Akai, secepat mungkin yang kubisa...dan membunuhnya."
...****************...
"Lalu, selamat datang di halaman belakang istana kitaa!" seru Valeria sambil berputar di tengah Padang rumput liar di belakang Istana. Aku memperhatikannya sambil melihat ke sekeliling kami. Tidak terlihat satupun bunga ataupun tanaman selain Padang rumput liar yang sudah setinggi pinggul kami.
"Tentu saja tidak! Aku membiarkannya begitu saja agar calon suamiku yang ada di masa depan merubahnya menjadi penuh dengan bunga mawar putih! Atau mungkin mawar merah jika kamu ingin melempar api panas di hubungan kita!" Dia menjawab dengan semangat sambil memiringkan kepalanya seakan apa yang dia katakan sangatlah polos.
Aku mendengus pelan dan menyilangkan tanganku, "Memangnya untuk apa aku yang memilihnya? Bukankah calon suami mu itu yang akan memilihnya untukmu?"
Valeria tertawa dan menyipitkan matanya padaku, "Ayolah...aku tahu kamu sedikit gatal ingin mengubah Padang rumput ini menjadi sesuatu...anggap saja ini menjadi rumah barumu... menggantikan kastil kelam milikmu itu. Disini, kamu dapat menjelajahi semua bagian dari istana tanpa ada larangan sama sekali...mungkin hanya ada satu aturan..."
Aku tahu aku akan menyesal jika bertanya mengenai itu, namun pada akhirnya aku bertanya apa satu aturan ituㅡ
"Kamu harus berjanji untuk tidak menyerang ku paling tidak sampai kita berumur 18 tahun."
Siapa yang akan menyerang mu? Apa kau musuhku sekarang?
Melihatku yang terdiam, dia tersenyum dan membalikkan tubuhnya sambil berusaha bersenandung dan mulai mengitari halaman ini. Ah, daun telinganya memerah, apa dia malu dengan perkataannya sendiri ?
...〈 +13 Rasa Suka Valeria 〉...
...〈 +12 Kepercayaan Valeria 〉...
Aku tidak pernah paham bagaimana angka itu tetap bertambah sebanyak itu.
Mungkin, aku tidak akan pernah paham.
Sebaiknya aku bersyukur saja karena angkanya tidak negatif seperti Amy dkk, aku tidak ingin menambah musuh baru lagi.
Dia tiba-tiba berlari ke arahku dan menarik lenganku, "Ayo! Sekarang aku akan menunjukkan dimana kamar kita berada!"
ㅡatau yang ini lebih merepotkan daripada seorang musuh ?
Aku berjalan mengikutinya yang menarik tanganku. Dia menuntunku yang bahkan dapat melihat, dengan mudah ke arah lorong yang sama menuju ruang tahta sebelumnya namun kali ini kami berbelok dan ada lorong lainnya menuju lantai atas.
Suara langkah kaki kami menggema ketika kami berjalan menaiki tangga secara perlahan. Valeria bersenandung sambil melihat ke kiri dan kanan namun kakinya tetap melangkah dengan santai tanpa tersandung sedikitpun.
Sepertinya Violeta harus belajar berjalan dari Valeria jika mereka dapat berteman baik...
__ADS_1
"Walaupun Violeta dapat berjalan dengan baik sepertiku setelah kuajarkan, dia akan berpura-pura terjatuh dan tersandung untuk mendapatkan perhatianmu atau mungkin menjatuhkan dirinya ke atas pelukanmu?" sahut Valeria tiba-tiba membuyarkan lamunanku dengan seketika.
Aku melongo ke arahnya yang sudah nyengir ke arahku dengan kedipan sebelah matanya sebelum kami sampai di ujung tangga. Dia membawaku ke sebuah ruangan yang tak jauh dari tangga. Dalam ruangan yang megah itu, terlihat kasur berukuran King size yang lengkap dengan selimut, dua bantal dan kain gorden transparan yang menjuntai dari setiap pilar yang ada di sudut kasur.
Selain itu, terlihat lemari kaca yang cukup besar dan jendela yang mengarah ke halaman belakang. Di sudut sebelah kanan ruangan, terlihat pintu kecil. Sepertinya itu mengarah ke kamar mandi dan toilet.
Melihatku yang sedang memperhatikan sekeliling ruangan dengan seksama, Valeria tersenyum dan segera duduk di ujung kasur sambil mengayunkan kakinya.
"Malam ini...kita akan tidur disini dan malam-malam berikutnya... bagaimana?"
"...Istana ini cukup luas dan megah. Kamu yakin tidak memiliki ruangan lain untukku? Kamar pelayan juga tidak masalah untukku."
"Aku sudah mengunci semua ruangan itu. Kamu sebaiknya tidur bersamaku malam ini dan seterusnya."
"Apa kamu tidak merasa malu mengatakannya seperti itu?"
"Tentu saja tidak, kita kan hanya akan tidur saja. Aku tidak akan membunuhmu saat kau tertidur, percayalah padaku."
"Aku tidak ingin tidur disana."
"Cepat turuti perintahku atau aku akanㅡ"
"Kau akan apa? Membunuhku? Silahkan saja."
Sekali aku berkedip, kini wajah Valeria sudah tepat di hadapankuㅡ
Aku hanya mengedipkan kembali mataku, berusaha menahan diri untuk tidak berteriak dan meloncat kebelakang karena dia cukup cepat untuk melakukan jumpscare seperti ini.
"Kenapa kamu tidak ingin tidur bersamaku? Aku tidak akan melakukan apapun."
"Aku hanya ingin tidur sendirian. Lagipula kamu dengan seenaknya memutuskan hal itu sendirian. Biarkan aku sendiri jika kau tidak ingin membuatku membencimu."
"Tapiㅡ", Valeria tersentak dan mengalihkan matanya karena mungkin dia akan segera menangis. Heh, dasar anak kecil.
Dia lalu berjalan menuju depan jendela tanpa sedikitpun menoleh ke arahku, "Terserah! Lakukan apa yang kau mau! Tinggalkan saja aku sendirian sepertimu yang ingin sendirian disini!" Dia menyilangkan tangannya.
Aku mengangkat bahuku tidak peduli dan berjalan keluar dari ruangan itu kembali menuju dapur istana. Melihat sepertinya kue coklatnya sudah mengembang dengan sempurna, aku mengangkatnya ke atas meja dan memotongnya sebelum menaruh krim coklat dan pasta coklat diikuti dengan permen-permen kecil yang menyebar di atas kuenya. Aku mencobanya satu sendok dan bergumam, "Hm, terlalu manis."
Setelah memakan satu potong kue, aku menutupinya dengan sesuatu agar tidak dikerubungi semut dan berjalan keluar dari dapur istana. Seluruh ruangan nampak gelap karena hari sudah malam. Aku menyusuri lorong ke arah sisi kanan istana dan akhirnya menemukan ruangan bawah tanah dari pintu kecil yang terletak di antara tangga.
Aku memasukinya dengan perasaan waspada dan berhati-hati. Menapaki bebatuan yang terlihat basah oleh sesuatu, aku melanjutkan langkahku mengikuti cahaya dari obor yang ada di sudut lorong ruang bawah tanah ini.
TAP TAP TAP
Hanya terdengar suara langkah kakiku yang menggema di sekitar lorong gelap ini. Pada ujung lorong dimana obor itu ada, terlihat sebuah pintu kecil yang memiliki kunci besi namun terbuka sedikit.
Aku mendorongnya secara perlahan, namun pergerakan ku itu membuat sebuah suara deretan pintu yang sangat besar. Aku mengedikkan bahuku tidak peduli dan memasuki ruangan itu. Sepertinya orang berada di dalam ruangan itu menghentikan gerakannya dan menoleh ke arahku.
.........
Ditengah ruangan kecil dan remang-remang karena hanya ada cahaya dari satu obor besar di sudut ruangan. Seorang pria berambut biru yang kukenal sedang terkekang dengan keadaan tangan terentang lebar begitupun dengan kakinya di atas meja yang dibawahnya ada semacam lingkaran sihirㅡ
Seseorang yang menoleh padaku adalah tidak lain merupakan Valeria. Dia memakai jubah hitam panjang yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajahnya sambil memegang sebuah belati di tangannya.
Yuu yang ikut menoleh dan melihatku dengan wajah pucat pasi langsung berteriak meminta tolong, "Kyle! Tolong aku Kyle! Kyle! Aku mohon!! Selamatkan aku dari Tuan Putri!!!"
Aku memicingkan mataku ke arah Valeria yang sudah menyeringai kearahku.
"Apa yang sedang kau lakukan... Valeria?"
"Tentu saja sedang menghukum seseorang yang sudah membawamu kesini. Karena menyerang mu akan sia-sia saja... sepertinya menyerang dia akan lebih menyenangkan."
Sebelum aku akan berlari ke arahnya, dia berdecak dan mengarahkan tangannya ke arahku sambil menggerutu dengan suara lembut, "Ah, kau akan menggangguku disini, pergi tidur sana!"
BAAKK
Tiba-tiba saja, belakang kepalaku dipukul oleh sesuatu yang tumpul dan seketika aku terjatuh tak sadarkan diri sebelum mendengar teriakkan Yuu dan melihat seringai lebar dari wajah Valeria.
"Kyleeeㅡ"
......................
__ADS_1
BERSAMBUNG..