CHANCES - Battle Of Heart : Online

CHANCES - Battle Of Heart : Online
Interlude XII. Valeria's Heart


__ADS_3

...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️ 』...


Menurut kedua orangtuaku, aku tidak dapat melihat semenjak aku masih kecil.


Tidak ada cahaya yang terlihat masuk ke dalam mataku, bahkan para pendeta berkata aku lahir dalam keadaan buta.


Menurutku, semua itu hanyalah kebohongan belaka agar lelucon ayah terdengar lucu dan nyata untuk orang lain.


Mengapa aku berpikir demikian?


Sejujurnya, aku dapat melihat sangat jelas bahkan hingga sejauh bagaimana burung merpati beterbangan di ujung atap istana.


Aku berusaha meyakinkan semua orang, bahwa aku dapat melihat seperti mereka.


Mereka hanya tertawa.


Sebagai keluarga Kerajaan Joker, ucapan kami selalu harus menjadi sebuah lelucon. Entah darimana asalnya peraturan tidak tertulis itu. Aku merasa bahwa itu sangatlah tidak lucu sama sekali.


Seperti bahwa seluruh ucapan dari keluarga Kerajaan kami hanyalah sebuah lelucon belaka. Tidak serius. Tidak benar. Hanya sebuah candaan agar orang lain tertawa.


Apa yang akan kamu lakukan jika tidak ada yang menggubris ucapanmu?


Tentu saja dengan menunjukkannya, jika mereka melihat menggunakan mata juga, mungkin mereka akan percaya padaku.


Aku berpikir bagaimana jika aku menunjukkan caraku berjalan tanpa menggunakan tongkat yang diberikan ibuku? Apakah para pelayan dan kedua orangtuaku akan sadar bahwa aku ini sebenarnya dapat melihat dengan normal?


Aku akhirnya mengumpulkan segala keberanianku dan mencobanya di hadapan mereka semua. Berjalan dengan tenang tanpa menggunakan tongkat.


"Waahh, Valeria kini sudah dapat berjalan tanpa tongkatnya! Apakah indera pendengarannya menjadi membaik??"


"Seperti yang diharapkan oleh putri ibu. Kamu dapat berjalan tanpa bantuan tongkat!"


Secara mengejutkan, berjalan menggunakan tongkat tidak berhasil membuat mereka percaya jika aku dapat melihat.


Aku akhirnya berlatih berlari dengan cepat tanpa tersandung oleh kakiku sendiri. Aku berlatih karena terkadang aku begitu ceroboh sehingga sering tersandung oleh benda-benda di sekitarnya.


Setelah dengan gigih berlatih diam-diam. Akhirnya aku dapat berlari dengan cukup cepat tanpa terengah-engah. Aku berlari menuju ruang tengah istana dimana ayah dan ibuku biasanya selalu mengobrol.


Begitu aku berteriak kegirangan dan menunjukkan bahwa aku dapat berlari, kakiku tersandung oleh salah satu pelayan yang sedang membawa piring sehingga aku terjatuh. Ayahku berjalan ke arahku. Aku ingin menangis karena melihat lututku yang terluka oleh pecahan piring. Apakah ayah akan mengangkat ku diatas gendongannya dan segera membawaku ke pendeta untuk mengobati lukaku ini?


Harapan kecil itu hancur berkeping-keping seperti piring yang berserakan di atas lantai begitu aku melihat ayahku tertawa terbahak-bahak. Begitu juga dengan ibuku.


Pelayan yang sengaja membuat agar kakiku tersandung juga ikut tertawa dengan mereka berdua. Tawa mereka memenuhi seluruh isi kepalaku. Air mata ingin sekali jatuh dari mataku tetapi aku menahannya.


Mereka akan tertawa lebih keras jika melihatku menangis.


Aku mencoba untuk tidak mendengarkan apapun yang diucapkan oleh ayah dan ibu hingga mereka pergi begitu saja meninggalkanku terduduk di atas lantai dengan keadaan terluka.


Rasa perih di ujung lututku tidak sebanding dengan semua ini. Semua yang kurasakan saat ini, di waktu ini.


Begitu melihat pelayan itu juga berjalan pergi tanpa membersihkan pecahan kaca yang masih berserakan, aku memeluk kedua kakiku ke atas dadaku. Aku memeluknya semakin erat dan kuat hingga aku hampir merasa sulit untuk bernafas.


Berharap rasa sakit ini akan menghilang jika aku menyakitinya lebih jauh lagi.


...****************...


Akhir-akhir ini, aku selalu melihat sesuatu yang belum terjadi, kemudian hal itu terjadi beberapa saat setelahnya.


Semua hal itu hanyalah apa yang akan terjadi padaku namun secara acak. Terkadang hanyalah hal-hal kecil seperti apa yang akan kumakan untuk sarapan dan makan siang.


Terkadang hal-hal besar, tentang saat aku akan diganggu oleh anak-anak kota saat acara yang akan diselenggarakan oleh Kerajaan ku sehingga semua warga kota dapat masuk ke dalam istana.


Sebagai seseorang yang terkenal buta, pasti aku akan menjadi sasaran empuk bagi mereka meskipun aku tahu jika aku dapat menghindari mereka karena sebenarnya aku dapat melihat dengan normal.


Dalam penglihatanku, anak-anak itu menyerang ku dengan sangat kasar dalam jumlah yang cukup banyak. Mulai dari menjambak rambutku, merobek bajuku, melempar sepatuku, bahkan menamparku.


Malam sebelum hari acara itu, aku memutuskan untuk pergi bermain sendiri saja di halaman belakang istana. Tidak akan ada anak-anak yang pergi kesana karena tempat itu akan membosankan bagi mereka.


Lalu, saat tidur aku bermimpi. Aku bertemu seseorang yang sangat tampan. Mimpi itu kemudian berpindah saat aku melihat pria tampan itu keluar dari suatu tempat...sedikit kecil dari istana namun lebih megah dari rumah biasa. Bangunan itu berwarna putih dengan banyak pilar disana-sini. Meskipun bangunan itu terlihat indah, pria tampan itu terlihat memasang wajah tidak bahagia sama sekali. Aku juga tidak melihatnya menangisㅡ


Wajahnya seakan dia merasa kosong.


Hampa?


Perasaan bingung namun simpati, muncul dari dalam diriku begitu aku terbangun dari tidurku di keesokan harinya.


Seakan aku memahami perasaan orang yang sama sekali tidak kukenal itu.


Dia terlihat nyata tapi ini hanya mimpi.

__ADS_1


Berusaha tidak memikirkan itu, aku turun dari kasur dan bersiap-siap untuk bersembunyi di halaman belakang istana tanpa diketahui ibuku atau ayah bahkan para pelayan lainnya.


Aku tidak sadar bahwa keputusanku itu akan merubah hidupku selamanya.


...****************...


...〈 Ini pandangan Valeria sebelum dirinya tidak ditolong oleh Kyle 〉...


Aku sangat menikmati bagaimana cuaca terik matahari dan angin laut berhembus menerpa tubuhku. Saat ini, aku tengah bermain di halaman belakang istana dengan tenang.


Aku sedang mencoba membuat bangunan putih yang ada di dalam mimpiku agar aku dapat terus mengingat bangunan aneh itu.


Tanpa sadar, aku terlalu sibuk dengan pembuatan bangunan yang menggunakan tanah sehingga tidak menyadari seorang pria berdiri di sampingku. Pria itu mengenakan pakaian berkebun. Dia adalah Paman Ryner, setiap aku bermain di halaman belakang ini, paman itu selalu memperhatikanku dengan nafas tersengal-sengal.


Aku merasa sedikit aneh dengannya tapi karena dia tidak menggangguku jadi aku berpikir mungkin dia adalah orang baik karena dia hanyalah warga biasa yang bekerja di dalam istana ini.


Paman itu mengajakku untuk kembali masuk kedalam istana. Dia juga menawarkan aku es apel yang kusukai. Berpikir aku akan mendapat camilan tanpa sepengetahuan ibuku. Aku membiarkannya menarik lenganku dan berjalan mengikutinya.


Paman Ryner membawaku ke bawah tangga yang menuju ke arah kamarku. Merasa bingung karena dapur istana masih cukup jauh, aku bertanya padanya.


"Paman Ryner? Kita masih belum sampai di dapur, kenapa paman berhenti?"


Ryner tersenyum dengan sangat menakutkan sebelum membekap mulutku dengan kuat, "Siapa bilang kita akan pergi ke dapur? Ayo, sini ikut sama Pamanㅡkita akan bersenang-senang!"


Aku memberontak sekuat yang kubisa karena terkejut dan instingku mengatakan bahwa ini sangatlah tidak beres. Namun, karena tubuhku masih terlalu kecil, pria itu berhasil menarikku masuk ke dalam sebuah pintu kecil yang terselip di bawah tangga.



Aku tidak pernah tahu ada tempat seperti ini di dalam istana tepatnya dibawah tangga dimana kamarku berada.


Nafasku mulai menipis, genggamannya di sekitar tubuhku semakin menguat saat dia menarikku hingga masuk ke dalam sebuah ruangan. Aku mencoba menggigitnya dan menahan tubuhku agar dapat lepas dari genggamannya namun usahaku sia-sia.


BAAKK


Tiba-tiba, kepalaku dibenturkan ke atas meja itu dengan sangat keras hingga aku dapat melihat bintang-bintangㅡ


Gelap.


Begitu terbangun, aku merasakan sakit yang luar biasa teramat sangat. Aku merasakan jijik pada tubuhku sendiri. Aku bahkan mengutuk diriku sendiri.


Mengapa...ini terjadi padaku?


...𝙳𝚎𝚗𝚍𝚊𝚖....


Aku akan membunuh mereka semua.


Lihat saja, akan kubunuh kalian semua.


...****************...


...〈 Ini pandangan Valeria sebelum dirinya akan ditolong oleh Kyle 〉...


Melihat teriknya matahari saat ini, cukup membuat suasana hatiku menjadi baik. Aku sedikit kebosanan dan kesepian bermain sendirian di halaman belakang istana hanya untuk menghindari anak-anak kota itu.


Tapi, mau bagaimana lagi...aku ingin tetap hidup dalam ketenangan.


Aku memutuskan untuk membuat bangunan yang muncul dari dalam mimpiku. Bangunan putih dengan banyak pilar tinggi yang terlihat indah dan elegan. Pikiranku teringat tentang pria yang keluar dari bangunan itu dengan wajah kosong tanpa ekspresi.


Jika saja, aku tahu apa yang terjadi padanya, mungkin aku dapat menghiburnya?


Saat pikiranku terlalu sibuk dengan pembuatan bangunan dan pria itu, aku tidak menyadari bahwa sudah ada seorang pria berdiri di sampingku. Pria itu mengenakan pakaian berkebun berwarna biru.


Dia adalah Paman Ryner, setiap aku bermain di halaman belakang istana ini, paman itu selalu memperhatikanku dengan nafas tersengal-sengal dan berkeringat.


Aku merasa sedikit aneh dengannya, mungkin karena dia kelelahan oleh pekerjaannya? Tapi karena dia tidak menggangguku jadi aku berpikir mungkin dia adalah orang yang baik karena dia hanyalah warga biasa dari kota yang bekerja di dalam istana ini.


Paman Ryner mengajakku untuk kembali masuk kedalam istana. Dia juga menawarkan aku es apel yang kusukai. Berpikir aku akan mendapat camilan enak tanpa diketahui oleh ibuku. Aku membiarkannya menarik lenganku dan berjalan mengikutinya.


Kami terus berjalan hingga Paman Ryner membawaku ke bawah tangga yang menuju ke arah kamarku. Merasa bingung karena dapur istana sebenarnya masih cukup jauh, aku bertanya padanya,


"Paman Ryner? Kita masih belum sampai di dapur, kenapa paman berhenti?"


Ryner tersenyum dengan sangat menakutkan sebelum membekap mulutku dengan kuat, "Siapa bilang kita akan pergi ke dapur? Ayo, sini ikut sama Pamanㅡkita akan bersenang-senang!"


Aku sontak memberontak sekuat yang kubisa karena terkejut dan instingku mengatakan bahwa ini sangatlah tidak beres. Namun, karena tubuhku masih terlalu kecil, pria itu berhasil menarikku masuk ke dalam sebuah pintu kecil yang terselip di bawah tangga.


Aku tidak pernah tahu ada tempat seperti ini di dalam istana tepatnya dibawah tangga dimana kamarku berada.


Napasku mulai terasa menipis, dekapannya di sekitar tubuhku semakin menguat saat dia menarikku hingga masuk ke dalam sebuah ruangan. Aku mencoba menggigit tangannya dan menahan tubuhku agar dapat lepas dari genggamannya namun usahaku sia-sia.

__ADS_1


BAAKK


Tiba-tiba, kepalaku dibenturkan ke atas meja itu dengan sangat keras hingga aku dapat melihat bintang-bintangㅡ


Gelap.


Begitu terbangun, aku merasakan sakit yang luar biasa teramat sangat. Suara erangan seseorang terdengar dan mencoba menolehkan kepalaku ke sumbernya.


Terlihat seorang anak kecil yang sepertinya sedikit lebih tua dariku, berdiri di depan Paman Ryner yang mengerang dan menggeliat kesakitan di atas tanah.


Dia merapalkan sesuatu dari mulutnya dan teriakan diikuti dengan rintihan mulai terdengar semakin keras dari Paman Ryner. Aku merasa cukup ketakutan dengan itu.


Akan tetapi, disaat bersamaan aku merasa sangat lega.


Anak itu mencekik leher Paman Ryner dan mengangkatnya setinggi-tinggi yang dapat anak itu lakukan. Ditengah erangan dan rintihan kesakitannya, Paman Ryner mulai mengoceh tidak jelasㅡ


"Ohokㅡokhㅡgrhhㅡhggghㅡtoㅡlongㅡohokㅡampuㅡampuniㅡsaya!" sahutnya.


Lalu, anak itu melempar tubuh Paman Ryner hingga ia kembali jatuh ke atas tanah namun tidak bergeming lagi. Anak itu melirik ke arahku, ah? Apakah dia akan menyerangku juga? Tanpa sadar kini aku menangis.


Dia berjalan mendekatiku sehingga aku mencoba bergerak mundur di atas meja ini namun sia-sia saja, tubuhku sangat lemah sekarang dan bergetar cukup hebat.


Ah, aku benar-benar menyedihkan sekali. Semua ini terasa sangat menyedihkan sekali.


"Siㅡsiapaㅡkau?! Apㅡapa yang akanㅡkamu lakukan padaku? HiksㅡAku dapat melihatㅡjangan kau coba-cobaㅡmenyerangku juga," ditengah nafasnya yang terhentak, aku mencoba mengangkat kepalaku untuk menghadap anak dihadapanku ini namun aku berakhir menunduk karena ketakutan.


"Maafkan aku, Valeria."


Air mata mengalir semakin deras dari ujung mataku ketika ia memanggil namaku dengan sangat lembut. Aku memberanikan diri untuk mengangkat wajahku ke arahnya.


Rambut hitam...dan mata yang hitam. Siapa dia? Kenapa aku merasa pernah menemuinya? Atau... melihatnya?


"Tenanglah. Kau aman sekarang," ucapnya lagi dengan tenang dan lembut.


"Siㅡsiapa kau?! Cepat katakan padakuㅡsiapa kau?!" tanpa sadar aku mulai bertanya dengan mengangkat suaraku sambil mengerutkan alis mataku.


Dia terlihat bingung sesaat namun kemudian dia tersenyum lebar.


"Aku? Aku calon suamimu nanti."


"Hah?"


Aku tersentak.


"Tidurlahㅡ" dia mengusap kepalaku danㅡ


Gelap.


Begitu terbangun lagi, hari sudah gelap dan aku berada di atas kasur di dalam kamarku. Melihat kesana-kemari dengan kebingungan terutama semenjak kemunculan anak itu yang mengaku akan menjadi calon suamiku.


Siapa dia ?!


Keesokan harinya, aku dengar Paman Ryner keluar dari istana dan membunuh dirinya dengan menerjunkan dirinya sendiri ke laut.


Aku tidak tahu mengapa itu terjadi padanya. Apa itu ulah anak itu?


Anak yang sepertinya bukan darimanapun tetapi dari tempat lain yang sangat jauh.


...****************...


Aku terus menangis ketika mengingat hal itu, Kyle telah kembali ke masa laluku dan mengubahnya. Aku ingat apa yang terjadi sebelumnya, aku juga ingat apa yang sudah ia lakukan agar itu tidak terjadi padaku.


Aku juga paham mengapa dia mengatakan itu padaku dengan lantang karena apa yang kulihat di masa depan semakin jelas dan kuat seiring berjalannya waktu dimana aku semakin besar dan levelku bertambah.


Melihatnya yang kini sedang menolongku lagi untuk melawan arwah-arwah yang kerasukan Iblis sehingga mereka jahat.


Aku paham sekarang, mengapa aku memilihnya meskipun dia memiliki banyak gadis lainnya yang ada di sisinya.


Dia terlalu kuat sehingga tanpa sadar mulai melindungi kami semua dengan begitu mudah seakan kekuatan kami hanyalah lelucon belaka baginya.


Ini terasa lucu seperti lelucon yang sebenarnya, dengan mudahnya...aku jatuh cinta padanya seperti aku menyukai es apel dan juga kue coklat buatannya.


Untuk bisa bersamanya...


Aku akan melakukan apapun.


......................


...「 Interlude XII. Valeria's Heart 〈 selesai 〉」...

__ADS_1


__ADS_2