CHANCES - Battle Of Heart : Online

CHANCES - Battle Of Heart : Online
Interlude XVIII. Sharence's Heart 《 II 》


__ADS_3

...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️ 』...


"Sharence!!! Kamu harus ikut ibu!! Cepat! Kita harus berlindung ke dalam kamar rahasia di bawah tanah Kerajaan!" pekik ibuku sambil mencoba untuk mendorongku pergi, aku melihatnya yang menatapku dengan wajahnya yang lebih pucat dari biasanya.


Entah bagaimana, ibuku bilang bahwa di dalam Kerajaan Diamond terlihat sosok Iblis yang menyamar sebagai salah satu pelayan, ia mulai membunuh beberapa pelayan lainnya untuk mencariku. Kabar ini juga beredar diikuti dengan berita invasi besar-besaran pasukan Ratu Iblis pada Kerajaan Heart dan juga Kerajaan Spade.


Mengikuti langkah kaki ibuku, aku setengah berlari menuju pintu kecil yang ada di dalam ruang tahta. Pintu rahasia ini disediakan untuk melindungi Raja jika ada warga yang memberontak dan akan menyerang Raja ataupun ada pembunuh bayaran yang menargetkan Raja maupun Ratu.


Namun, belum sempat aku akan masuk ke dalam pintu ituㅡ


WUUUSSSHHH


Sebuah belati melewati sudut pipi kiriku dan hampir tergores oleh bilah tajamnya. Mataku membelalak melihat belati itu menancap di dinding tepat di hadapanku. Seketika tubuhku terasa kaku.


Sadar ada seseorang yang menyerang kami, ibuku langsung merapalkan mantra sihir guncangan tanah yang sontak membuat bayangan orang terjatuh karena terkejut.


GRRRRRKKK


"Ohhh! Ternyata Ratu manusia menyedihkan ini memiliki kejutan di balik tangannya!" sahut seorang pelayan yang tadi melempari kami dengan belati. Sebelum tubuhnya berubah menjadi Iblis bersayap seperti kelelawar dan ada dua tanduk di setiap sisi kepalanya.


Aku tahu jenis iblis itu, dia adalah Dark Succubi!


Rambut berwarna pinknya terlihat menyala dan begitupun dengan matanya. Ibuku berdiri di hadapanku dan mendorongku ke arah pintu kecil itu, "Cepat lari dan berlindung! Ibu akan segera menyusulmu!"


"Ta-ta-tapi!! A-a-aku tidak akan pe-pergi meninggalkanmu Ibu!!!" pintaku dengan nada memohon disela rasa ketakutanku, dahiku basah oleh keringat dingin dan degupan jantungku yang berdetak kencang membuatku bergetar hebat saat menggenggam lengan ibuku.


"Sharence! Dengarkan ibu!! Cepat pergi masuk ke dalam pintu itu dan berlindung!!!"


"Tidak akan kubiarkan, karena anak itu memiliki sesuatu di lehernya!" potong Succubus itu yang dengan cepat melesat sampai ke depan kami. Ibuku berusaha mendorongku untuk menjauhㅡ


Entah apa yang kupikirkan kala itu, tetapi aku mencoba untuk melawan ketakutanku dan menyerang succubus itu dengan kemampuan milikkuㅡdan tentu saja aku tidak berhasil.


Akibatnya, ibuku terkena serangan succubus itu hingga beliau jatuh tak sadarkan diri.


Melihatku yang duduk terdiam dan ketakutan, succubus itu berjalan perlahan mendekatiku dan menarik kalung pemberian nenekku dari leherku.


"Seharusnya, jika ingin melawankuㅡkamu harus lebih kuat lagi. Ibumu jadi terluka olehku, dasar manusia ringkih. Hihihi!"


Setelah melihat succubus itu menghilang, aku merangkak mendekati tubuh ibuku yang terbaring lemah. Aku merapalkan semua mantra penyembuhan yang kubisa.


𝙸𝚗𝚒𝚜𝚎𝚖𝚞𝚊𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑𝚔𝚞𝚒𝚗𝚒𝚜𝚎𝚖𝚞𝚊𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑𝚔𝚞𝚒𝚗𝚒𝚜𝚎𝚖𝚞𝚊𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑𝚔𝚞𝚒𝚗𝚒𝚜𝚎𝚖𝚞𝚊𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑𝚔𝚞𝚒𝚗𝚒𝚜𝚎𝚖𝚞𝚊𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑𝚔𝚞𝚒𝚗𝚒𝚜𝚎𝚖𝚞𝚊𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑𝚔𝚞𝚒𝚗𝚒𝚜𝚎𝚖𝚞𝚊ㅡ


Jika sajaㅡaku lebih kuat.


Merasa seperti ada secercah harapan ketika melihat ibuku bergerak. Aku menangis sejadi-jadinya dan memutuskan bahwa aku harus berubahㅡ


Aku harus berubah untuk diriku sendiri.


Mulai saat itu, aku merasa tubuhku berhenti bergetar ketakutan jika ada seseorang yang mencoba menggangguku.


Aku terus berlatih bakat sihir Light Magic dan semua sihir lainnya. Aku ingin terus menjadi lebih kuat agar dapat melawan succubus itu.


Aku akan mengambil kembali kalung pelindung pemberian nenekku !


...****************...


Walaupun aku terbilang masih setahun kurang untuk memasuki Akademi ini, kepala akademi datang mengundangku untuk bersekolah lebih awal. Aku tidak tahu apa alasannya tapi aku menerimanya.

__ADS_1


Aku akan menjadi lebih kuat di dalam Akademi ini. Aku yakin itu.


Jadi, karena aku yang seharusnya baru masuk Akademi tahun depan, kini sudah berada di antara murid-murid lainnya yang setahun lebih tua dariku. Awalnya, aku merasa sedikit terintimidasi namun ketika melihat bahwa aku mendapatkan kelas Elit A yang terbilang lebih sedikit muridnya.


Aku sedikit merasa tenang.


Terlebih, aku satu kelas dengan Kak Ellen dan Kak Haylee, Hero dari Spade yang begitu baik padaku sebelumnya saat aku baru pertama kali menginjakkan kaki di Akademi ini.


Meskipun, aku harus satu kelas dengan Ryder dan Amy. Mereka berduaㅡugh.


Aku merasa bersyukur dan mengutuk kondisiku disaat yang bersamaan.


...****************...


Akuㅡmelihat dirinya lagi.


Awalnya, aku sedikit skeptis jika dia masih hidup saat mengetahui Kerajaannya hancur oleh pasukan Iblis tidak berguna itu.


Dia menolong Amyㅡgadis yang dahulu terus meneriakiku setiap kamu bertemu secara tidak sengaja dalam pesta antar Kerajaan.


Benar-benar orang yang naif. Begitu pikirku, saat melihatnya dimarahi oleh Amy padahal sebenarnya dia telah menolong Amy dari rasa malu karena terjatuh didorong oleh orang lain.


Mungkin, jika aku yang dulu akan segera berlari memeluknya dan mengatakan bahwa aku turut berdukacita atas kematian Kak Myles beserta keluarganya. Sekarang, aku rasa itu tidak perlu kulakukan karenaㅡ


Aku tidak ingin terlibat lagi dengannya.


...****************...



Aku tahu Ryder sebenarnya menyukaiku dan sempat beberapa kali mencoba membujuk ayahku untuk meminta agar aku dapat bertunangan dengan keluarganya.


Akan tetapi, ayahku terus mengulur-ngulur waktu. Mungkin, ayahku tahu Ryder bukan pria dan seorang bangsawan yang baik.


Dia sangat tidak pantas untuk menjadi Raja di Kerajaan Diamond, begitu bisik ibuku ketika aku bertanya dengan ragu apakah aku akan berakhir bertunangan dengannya.


Akan tetapi, aku akan membantunya untuk menyembuhkan lukanya. Dia benar-benar kuat hingga dalam satu baris tulang kaki milik Ryder remuk. Apakah aku dapat menjadi kuat sama sepertinya?


Melihatku yang menyembuhkan Ryder, dia seperti sedang menunjukkan ekspresi kagum di balik wajah tenangnya itu.


Setelah itu, dia seakan terkejut ketika aku dengan dingin memintanya untuk kembali duduk. Tentu saja, aku merasa sedikit kesal akan tindakanku sendiri ketika melihatnya berjalan kembali menuju kursinya dengan wajah kecewa.


Tapi, aku tidak ingin merepotkannya lagi.


Aku takut jika nanti aku akan kembali menjadi lemah seperti dahulu jika terus berada di sampingnya. Aku takut jika diriku akan terus bergantung padanya.


...****************...


Saat berlari di lapangan, tak sengaja aku mendengar bisikan Ryder yang ternyata sengaja membuat dia terkena hukuman, hatiku terasa panas karena naik pitam.


Bagaimana bisa Ryder dan kroninya itu terus menganggu dia yang sama sekali tidak melakukan apapun?!


Aku dengan kesal membanting pintu lokerku saat sedang berganti baju, tindakanku yang tiba-tiba itu mengagetkan Ellen dan yang lainnya. Namun, mereka lebih kaget lagi setelah mendengar keributan dari ruangan sebelah kami, ruangan ganti untuk laki-laki.


Begitu aku dan Ellen selesai berganti baju, kami berdua bertemu dengan Haylee yang baru saja ingin memulai kelas fisik karena dia mengambil waktu setelah bagian kami selesai. Haylee juga mengatakan bahwa dia ingin mengajakku untuk pergi melihat ruang ganti laki-laki atas perintah Pak Dante yang sempat mendengar kerusuhan disana.


Pak Dante pasti tahu bahwa Haylee dapat melerai pertengkaran dengan mudah menggunakan kekuatannya dan aku yang memiliki kemampuan menyembuhkan untuk mengobati jika keributan itu berasal dari pertengkaran laki-laki.

__ADS_1


Firasatku mengatakanㅡjangan-jangan dia tahu bahwa dia dijebak oleh Ryder.


Terburu-buru menarik lengan Haylee, aku langsung menuju ruang ganti laki-laki tanpa berpikir dua kali. Haylee masuk terlebih dahulu dan kami berdua melihat dia. Dia sedang memakai seragamnya dengan tenang meskipun Ryder beserta kedua kroninya tergeletak di atas lantaiㅡastaga.


Apakah dia benar-benar menghabisi mereka?!


Aku segera memeriksa keadaan Ryder beserta kedua temannya ituㅡtapi tidak menemukan ada luka sama sekali di tubuh mereka selain rasa takut mereka padanya.


Kenapa dia tegaㅡaku merasa kesal atas tindakannya yang begitu kejam dan tanpa sadar tanganku sudah terayun untuk menampar wajahnya.


Aku baru sadar atas tindakanku ketika tatapanku bertemu dengan mata hitam miliknya itu. Dia terlihat sedih dan kecewa.


Kenapa dia menunjukkan wajah seperti itu lagi?


Berhentilah untuk menunjukkan wajah seperti itu atau aku akanㅡ


...****************...


"Nona Sharence? Bisa tolong bantu saya untuk sampaikan pada Tuan Kyle bahwa besok pagi dia harus menemui saya di depan gedung utama Unity Academy untuk pergi menjalani hukumannya?" permintaan Pak Heinz membuatku diam terpaku. Awalnya aku berencana untuk melongoknya yang ada di ruang guru, tetapi dia sudah tidak ada.


Setelah menyanggupi permintaan Pak Heinz, aku jadi bingung sekaligus senang. Apakah ini kesempatanku untuk berbicara dengannya secara empat mata?


Beberapa lama kemudian rasa senang di dalam hatiku berganti menjadi perasaan takut. Aku masih belum memiliki keberanian untuk meminta maaf padanya. Padahal aku sudah bersikap tidak adil.


Aku menamparnyaㅡseharusnya aku berbicara dengan baik...tapi...aku tidak ingin dia menjadi seseorang yang kejam atau seseorang yang menyebalkan seperti Ryder.


Menggigiti bibirku sambil berpikir dengan keras, akhirnya aku memutuskan untuk meminta bantuan kepada Kak Haylee. Jika aku meminta pada Kak Ellen, aku takut dia akan menolaknya.


Untung saja, Kak Haylee menerimanya dengan senang hati.


Kak Haylee bilang bahwa dia sedang sibuk berbincang dengan Kak Violeta jadi mereka akan bertemu sore ini. Aku ikut menunggu dari kejauhan.


Hanya untuk jaga-jaga saja, jika Kak Haylee salah memberikan informasi.


Iya, aku bersembunyi hanya untuk jaga-jaga saja.


Akan tetapi, di sore harinya. Dia tidak muncul.


Kak Haylee mulai tidak sabar menunggu dan memintaku untuk menemuinya langsung sebelum janji temu dengan Pak Heinz besok pagi. Namun, aku sedikit keras kepala dan memintanya untuk menunggu sedikit lebih lama lagiㅡhingga tiga jam lebih berlaluㅡ


Barulah dia muncul dengan napas tersengal-sengal. Ah, ternyata dia hanya lupa saja dengan pertemuan ini. Kukira terjadi sesuatu yang buruk padanya.


Bersembunyi di balik kursi dan semak belukar, membuat jantungku berdegup kencang hingga terdengar oleh telingaku sendiri. Aku memperhatikan Haylee memberitahukan informasinya dengan tepat.


Tapi, kenapa Kak Haylee terus melirik ke arah sini dimana tempatku bersembunyi??


Akibatnya, dia juga jadi ikut melirik ke arah siniㅡdengan terburu-buru, aku segera menarik dan menyembunyikan rambutku ke balik semak-semak.


ㅡKuharap dia tidak melihatku...


Sungguh bodohnya aku berharap seperti itu, karena dia sudah menyadari keberadaanku kata Kak Haylee.


Ah, saking malunya...aku ingin menghilang saja ditelan oleh tanah dan tidak perlu menemuinya lagi besok.


......................


...「 Interlude XVIII. Sharence's Heart 《 II 》〈 selesai 〉」...

__ADS_1


__ADS_2