CHANCES - Battle Of Heart : Online

CHANCES - Battle Of Heart : Online
Chapter 67. First Week 『Part - II』


__ADS_3

...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️』...


Previously :


BLAAAMMMMM


Bahkan pintu kayu yang sudah berusia cukup lama itu, dia banting keras-keras hingga kayu yang sudah lapuk beterbangan kesana kemari. Suara akibat dari caranya yang menutup pintu dengan keras itu sempat membuat kaget Eve yang langsung berlari ke sampingku. Adam hanya mendengus dan membiarkanku tetap menyikat punggungnya.


Untung saja, orang itu sudah pergi atau aku akan benar-benar muntah di depannya.


...****************...


Selesai memberi makan seluruh hewan ini, aku segera membuka pintu kayu untuk beranjak keluar dari bangunan. Begitu melangkahkan kaki di pijakan batu berlumut, bola mataku langsung melihat punggung milik seniorku, Charlotte.


Dia berdiri tepat di samping pagar masuk dan ketika mendengar suara pintu yang kudorong, dia melemparkan pandangannya ke arahku sebelum mengalihkannya lagi ke arah deretan pohon jeruk. Tangannya ia silangkan di depan daadaanya dan dagunya terangkat sedikit agar terlihat angkuh dengan ekspresi yang masih menunjukkan bahwa dia kesal.


Aku menggelengkan kepalaku pada diri sendiri dan berjalan melewatinya, namun begitu aku sudah beberapa meter di depannya, jaket olahragaku dia cengkram dari belakang. Begitu kuat.


"Kita mungkin harus bicara," ucapnya.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan," aku membalas tanpa menoleh ke arahnya sambil mencoba menarik kembali jaket olahraga ku dari cengkraman tangannya. Tentu saja usahaku itu berakhir nihil, kecuali jika aku ingin menyakitinya.


"Apa?! Kenapa kamu tidak akan menjelaskan sikap aneh mu itu padaku?! Aku tahu bahwa itu bukanlah sikap tidak sopan yang biasa. Kamu seperti benar-benar membenci ku!"


"Itu hanya perasaanmu saja, aku tidak membencimu atau apapun itu...senior."


"Setidaknya katakan itu sambil melihat ke arahku! Apakah kamu tidak diajarkan tatakrama dan etika saat berbicara dengan seorang bangsawan?!"


Aku meneguk ludahku dan memberanikan diri untuk menoleh ke arahnya. Saat mataku bertemu dengan tatapannya, seketika dunia di sekitarku berputar dan isi perutku sehabis sarapan, naik ke atas hingga kerongkongan seakan penyakit asam lambungku kambuh.


"Hh...hh...ugh...puas? Aku...sudah melihatmu, sekarang...tolong lepaskan jaketku," ucapku dengan pelan karena sudah tidak tahan lagi.


Napasku terdengar memburu dan buliran keringat dingin, terus mengalir dari dahi ke pipiku sebagai dampak dari aku yang berusaha untuk menahan diri agar tidak mengeluarkan isi perutku di depannya.


Aku terus mengutuk diriku yang begitu lemah dan tidak dapat memutuskan bahwa gadis di hadapanku ini bukanlah si wanita ular itu.


Charlotte menautkan alis matanya sambil mengerutkan biibiirnya ketika melemparkan pandangan khawatir padaku, "Kamu terlihat sangat pucat...apa kamu baik-baik saja? Aku harus membawamu ke ruang medisㅡ"

__ADS_1


"Tidak perlu, tolong lepaskan saja tanganmu ini dariku dan tinggalkan aku sendiri," aku memohon padanya dengan pandangan memelas. Kukira dia akan melepaskan cengkramannya dari jaketku tetapi dia malah menggelengkan kepalanya hingga rambut pirangnya bergerak kesana-kemari.


"Tidak! Aku harus membawamu ke ruang medis! Ayo ikut denganku!!" Charlotte langsung mengubah cengkraman tangannya dari ujung jaket ke bagian lenganku dan menarikku dengan paksa. Aku menahan tangannya dan menghentikannya.


"Tidak! Biarkan saja aku sendiri! Pergi ke ruang medis bersamamu tidak akan membuatku baik-baik saja!" bentak ku sambil menarik paksa lenganku darinya. Dia balas melototi ku, "Kenapa seperti itu?! Apakah bila kamu pergi denganmu, kamu tetap tidak akan baik-baik saja?!! Apa sebenarnya masalah mu itu padaku?!!! Katakan padaku!"


"Sudah kubilang tidak ada apa-apa! Kenapa kamu begitu ngotot?!"


"Itu karena kamu adalah juniorku!"


"Alasan senior sungguh tidak masuk akal! Banyak sekali juniormu selain aku disini. Benar-benar alasan yang palsu!"


Charlotte mendengus dan tidak menjawabku, napasnya tersengal-sengal karena dia terus membalasku dengan saling membentak.


"ㅡItu...aku sendiri tidak tahu, oke? Entah kenapa...aku tidak ingin kamu membenciku dan mungkin kita dapat berteman?" jawabnya sambil menghela napas berat dan menatapku dengan lelah.


Terdengar suara bel berdering tanda kelas pagi sudah dimulai, aku langsung mengangkat kakiku untuk berlari dengan cepat dan melewatinya ketika dia lengah.


"ㅡHei, tunggu?!!!!"


...



...


Tidak mengindahkan panggilannya, aku terus berlari dan berlari hingga sampai di kamar asramaku. Menyeka keringat yang tanpa hentinya bercucuran di dahi dan memakai sihir angin dan juga sihir lainnya agar aku dapat membersihkan tubuhku secara otomatis, aku langsung berganti mengenakan seragam sebelum berlari kecil menuju ruang kelas yang sudah ditentukan. Untung saja, aku sampai di kursi kosong tepat ketika pengajar masuk ke dalam ruang kelas.


"Baiklah, kelas ini merupakan kelas yang tidak wajib kalian ikuti tapi kalian tetap memilihnya. Benar-benar murid yang teladan! Tanpa berlama-lama lagi, kita mulai kelas Ilmu Pasti iniㅡ" Mengenalkan dirinya sebagai Professor Wright, dia mulai mengajarkan cara berhitung dan mengenalkan angka-angka yang akan dipelajari di pelajaran berikutnya.


Kelas berjalan dengan tenang dan aku hanya melihat Ellen dan Sharence saja di dalam ruang kelas itu, selebihnya murid-murid dari kelas lain dengan bentuk wajah yang serupa.


...「Kondisi tubuhmu sudah kembali normal, Host. Sepertinya kondisi sebelumnya adalah penyebab dari gadis itu」...


Iya, apakah kamu dapat membuatku kebal dari gadis itu, Chae Rin ?


...「Entahlah, meskipun aku dapat melakukannya...itu tidak akan membantu keadaan Host. Aku harap Host dapat menerima semuanya dan melupakannya」...

__ADS_1


Mendengarkan komentar Chae Rin dalam diam, kelas Ilmu Pasti berakhir tanpa ada pemberian tugas yang dibawa pulang.


Memasukkan tangan ke dalam saku celanaku, aku berjalan menuju kantin gedung Elites. Aku ingat bahwa aku melewatkan sarapan, mungkin sebaiknya aku makan di atas meja kantin daripada di dalam toilet.


Begitu sampai di dalam kantin setelah melewati anak tangga yang begitu banyak, aku melihat bahwa, kali ini kantin sepi dan kosong. Hanya ada beberapa orang yang dapat terhitung oleh satu tangan.


Merasa beruntung melihat kondisi kantin yang sepi, aku memesan bermacam-macam makanan yang menghabiskan uang sebesar lima keping perak. Kemudian membawa nampan yang penuh oleh makanan dan coklat ke atas meja di samping meja seseorang yang sedang duduk dan memakan pastanya.


"Kenapa kamu duduk disana?! Banyak sekali kursi kosong di sekitar sini!"


Amy memekik saat ia menoleh ke arahku, karena mendengar suara kursi yang berbunyi saat kududuki. Mengedikkan bahuku tidak peduli, aku mulai melahap sepiring daging panggang Mad Moo beserta kentang yang sudah dihancurkan.


"Beraninya kamu tidak menjawabku?! Akuㅡ"


"Diamlah, aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu," potongku dengan mulut penuh karena mengunyah daging. Dia memandangi ku dengan tatapan jijik sebelum membuka mulutnya kembali, "...ada apa denganmu?"


Suaranya, terdengar seperti bisikan pelan yang tertutupi oleh dentingan pisau dan garpu ku, aku mendongak dan menatapnya balik, "Apa katamu?? Aku tidak dapat mendengar suaramu itu. Coba ulangi lagi?"


Ujung rambutnya yang bergaya kuncir dua, bergerak kesana-kemari mengikuti kepalanya yang menoleh kesana-kemari untuk melihat sekitar kantin. Kedua pipinya mulai merona merah, "...aku bilang...ada apa denganmu? Kenapa wajahmu begitu pucat sekali?"


Sebelum aku sempat menjawabnyaㅡ


BRAAAAAAKKKKK


"DIMANA MURID YANG BERNAMA LYLE?!"


Seorang pria, berbadan tinggi dan kekar menendang daun pintu kantin dengan begitu keras diikuti teriakan miliknya yang begitu besar seperti petir yang menggelegar.


Terlihat di belakangnya, ada tiga orang pria lainnya yang memiliki penampilan seragam secara urakan sama sepertinya.


Melihat wajah pucat Amy dan makananku yang sudah tak tersentuh lagi, aku menghela napas berat.


Sekali saja, cukup sekaliiii sajaaa...biarkan aku untuk tidak ikut campur dan terlibat dalam masalah ini.


......................


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2