CHANCES - Battle Of Heart : Online

CHANCES - Battle Of Heart : Online
Interlude X. Raven's Heart 《 II 》


__ADS_3

...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️ 』...


Akhir-akhir ini, Akai sering datang untuk menemui ku agar mengetahui bahwa aku melakukan apa yang dia minta.


Sebenarnya pada awalnya aku tidak terlalu serius karena malas menemui para pedagang budak yang menyebalkan dan selalu memberikanku pandangan yang sangat menjijikkan. Mungkin jika dahulu aku akan kegirangan menerima perhatian seperti itu. Akan tetapi, ketika aku sudah mulai selalu merangkul Akai saat bertemu dengannya atau sekadar memeluknya atau mengecup pipinya untuk berpamitan.


Huh, sepertinya aku sudah terkoneksi secara hati dengan bocah itu.


Sama seperti sebelumnya, kini dia bertanya bagaimana kemajuan dari apa yang dia minta padaku, "Maafkan aku, Akai...Aku belum bisa melakukannya sebaik Night...tapiㅡ"


Aku menggumam lalu akhirnya melanjutkan, "Kami memiliki beberapa masalah, dan sepertinya sekarang adalah saat yang tepat untukmu ikut denganku menemui seorang penjual budak yang disegani oleh semua para penjual budak lainnya..."


Akai menyilangkan tangannya, "Apa maksudnya dari disegani? Apa semua penjual budak melapor padanya terlebih dahulu jika memiliki seorang budak yang akan memiliki nilai jual tinggi?" mendengar pertanyaannya itu, aku menganggukkan kepalaku sambil menggerutu, "Seperti itulah, beberapa penjual budak bahkan merasa takut padanya. Kalau tidak salah kudengar namanya adalah Xarx? Namanya sulit sekali disebutkan," aku tidak ingin mengingat bagaimana aku bertemu dengan Xarx.


"Apakah kamu sudah menemui Xarx ini?"


Aku menggeram sebelum mengangguk dengan sedikit ragu, "Sayangnya, sudah. Xarx ini sedikit aneh dan aku tidak tahu tapi auranya...aku tidak menyukainya..ugh."


Tidak ingin berpikir apapun tentang Xarx, akhirnya aku membawa Akai menuju tempat dimana tenda biru milik Xarx berada.


Sesampainya di depan tenda itu, aku melihat lagi penjaga yang sama namun kali ini ada dua. Penjaga itu melihat kami dengan curiga sebelum menatap dengan tatapan yang sangat menjijikkan padaku.


Sialan, aku tidak ingin masa laluku sebagai seorang penari malam diketahui olehnya...


Aku sedikit melirik ke arah Akai yang ternyata sudah mengernyitkan dahinya dan seakan marah untukku. Aku kira dia akan menoleh padaku dan juga memandangi ku seperti itu.


Tetapi, dia tidak melakukannya...


Aku langsung merangkul lengannya dengan mesra sehingga membuat kedua pria itu menjadi cemberut dan menatap Akai dengan tatapan tajam. Beraninya kalian menatap pasanganku seperti itu ...


"Aku baik-baik saja, jangan hiraukan mereka berdua yang hanya pecundang," bisikku.


Pada akhirnya, meskipun Xarx dengan sengaja mencoba untuk mengelabui Akai, Akai tahu itu dan Xarx menunjukkan dirinya yang sebelumnya adalah penjaga berbadan kekar kini menjadi pria gemuk yang sering menggosokkan kedua telapak tangannya dengan penuh semangat.


Aku tidak terlalu mendengarkan pembicaraan mereka, tahu-tahu Akai sudah menaruh kepingan emas yang banyak ke atas meja Xarx. Anehnya, pria gemuk ini yang awalnya sedikit meremehkan Akai kini seakan langsung tunduk padanya.


Benar-benar tidak tahu rasa malu.


Xarx pun dengan sengaja menawarkan dua budak spesial pada Akai yang langsung kutolak begitu saja dan menariknya keluar dari tempat itu.


Aku tidak pernah merasakan perasaan ini, tapi aku tidak ingin berbagi Akai dengan budak-budak seperti itu. Atau mungkin karena kurasa dia ini masih bocah.

__ADS_1


Untungnya, Akai menuruti ku. Ketika kami keluar dari wilayah sepi menuju jalanan utama di Red Harbor. Dia akhirnya bertanya dengan penasaran, "Kenapa kamu tiba-tiba terburu-buru seperti itu? Setidaknya aku masih ada setengah jam sebelum kembali ke kastil?" Hm, apa yang harus kukatakan ?


Lebih baik, aku jujur saja padanya.


"Um, aku hanya tidak ingin kamu menemui budak spesial yang ditawarkan oleh Tuan Xarx...melihat dirimu yang seperti itu pasti kita akan berada di sana dalam waktu yang lama jika kamu bertemu mereka."


Dia terdiam dan berpikir sesaat sebelum membalas, "Maksudmu...maksud dari dua budak spesial itu adalah budak khusus untuk...umm..'itu'?" Aku langsung menganggukkan kepalaku dalam diam.


"..tapi Akai. Aku bahkan tidak menyadari bahwa Tuan Xarx menyamar sebagai salah satu dari pria penjaga tendanya. Apa sihir ilusi yang dia miliki sangat kuat?" tanyaku.


"Cukup kuat untuk membuat orang yang kuat seperti mu tidak menyadarinya, Raven. Aku juga hampir melewatkannya jika aku tidak merasakan aura yang aneh dari orang itu."


"Kamu juga merasakannya, Akai? Tuan Xarx sepertinya memiliki sesuatu yang tersembunyi tapi aku tidak tahu itu apa."


"Iya, aku juga sedikit aneh padahal dia hanyalah manusia biasa...kenapa ya?" Dia bergumam sambil mengikuti langkahku kembali menuju markas Red Eye Gang.


...****************...


Selanjutnya, Akai mengajak Nina untuk ikut mengunjungi tenda Xarx. Mungkin Akai bermaksud untuk membiarkan Nina tahu apa yang sedang ia lakukan bersamaku di tenda penjual budak. Biasanya Nina bertingkah dingin dan sedikit aneh padaku namun kini wajahnya tiba-tiba memucat begitu memasuki tenda budak ini.


Aku tahu budak Kerajaan pasti dibeli dari tempat semacam ini, mungkinkah dia teringat dengan masa lalunya ?


Merasa khawatir, aku menepuk-nepuk nya di bagian bahu dan mencoba membuatnya tenang. Kejadian masa lalu akan menjadi bagian dalam hidupmu yang mau tidak mau harus kau bawa hingga akhir dari hidupmu. Xarx sepertinya menyadari bahwa Nina bukanlah pelayan biasa.


Hari ini, aku dibuat terkejut akan banyak hal. Pertama, aku baru melihat ada makhluk setengah manusia dan setengah hewan. Tidak terkecuali diriku yang juga setengah-setengah bukan manusia yang sesungguhnya. Selanjutnya, aku terkejut dengan bahasa yang keluar dari mulut gadis itu. Benar-benar cepat dan membuat kepalaku pusing seratus keliling pulau Cyrus.


Tentu saja Akai akan membebaskannya dan dalam sekejap mata, sudah ada banyak kantong kepingan emas di dalam ruangan bawah tanah ini.


Gadis berekor putih itu terus mengoceh dengan cepat ketika kami sudah berada di luar tenda. Akai terdiam, aku sempat berpikir bahwa gadis itu mengatakan sesuatu yang membuat Akai marah. Akan tetapi, Akai tiba-tiba menarik lengan gadis itu dan mereka berlari menuju tempat yang cukup sepi.


Tentu saja aku dan Nina langsung berlari mengikuti mereka berdua.


Aku sangat terkejut saat Akai mengatakan sesuatu pada gadis itu, gadis itu tiba-tiba menghilang dan berubah menjadi kepulan asap. Aku dan Nina menanyakan hal itu pada Akai yang sempat bercanda bahwa dia membunuh gadis itu. Sesaat aku dan Nina akan mengeluarkan senjata kami, dia langsung mengatakan bahwa dia mengirim gadis itu pulang ke dunianya.


Itulah hal ketiga yang membuatku terkejut, bahkan aku sempat tidak percaya namun jika itu Akai, aku akan percaya padanya.


Hal itulah yang kami lakukan sebelum dia pergi untuk mendapatkan pelatihan perang di sekolah khusus.


Aku sedikit rindu dengan kehadiran bocah itu namun aku juga terus mencoba untuk membebaskan budak-budak seperti yang dia minta dan mencari banyak penjual budak lainnya dari Xarx.


...****************...

__ADS_1


Aku benci ini.


Aku sangat senang membunuh, akan tetapi melihat bagaimana semua kawanan goblin dan golem menghancurkan kota dan membunuh semua orang.


Aku benar-benar membencinya.


Night sedikit kerepotan ketika akan membantu semua anggota ku untuk segera mengungsi dan pindah ke markas utamaku yang ada di Kerajaan Spade. Kuharap markasku disana tidak sehancur yang ada disini karena saat markasku sudah tidak ada lagi. Aku dan Night membantu anggota lainnya yang masih hidup, untuk berlari menuju terowongan yang ada di bawah puing-puing bangunan yang tak jauh dari markasku sebelumnya.


Aku sudah memakai uang yang diberikan Akai alias si bocah untuk membeli banyak portal...sebagai bentuk jaga-jaga saja jika ada pengawal atau prajurit Kerajaan yang ingin menangkap Gang milikku.


Begitu kami dekat dengan terowongan itu, pasukan goblin mulai menyerang kami satu persatu dengan suara tawanya yang sangat menjijikkan dan menyebalkan.


KEKEKEKEKEKEKEKㅡ


Suara tawa mereka membuat ku ingin membunuh mereka seburuk yang pernah mereka rasakan sebagai pasukan Ratu Iblis.



Ku tebas leher mereka satu persatu dengan lancang dan membakar para goblin yang berkumpul. Aku melihat Night yang menganggukkan kepalanya dan membawa semua anggota lainnya masuk ke dalam portal. Aku memang memintanya untuk pergi terlebih dahulu karena aku ingin mencari Nina. Dimana pelayan itu? Kuharap dia baik-baik saja. Aku tidak ingin menemui Akai sendiri namun berdua dengannya yang harus masih hidup melewati invasi iblis yang mendadak seperti ini.


Aku berlari melewati puing-puing bangunan dan mayat yang bergelimpangan dimana-mana. Dimana Nina? Apakah dia ada di Kastil? Tapi kulihat kastil itu sudah rubuh oleh salah satu Golem raksasa.


Hahahahahahahahaㅡ


Terdengar suara tawa seorang wanita yang membuat langkahku terhenti. Ditengah puing-puing kota, seorang wanita dengan tanduk merah menyala berjalan dengan santai sambil tertawa-tawa.


"Ahahahaㅡlihatlah manusia-manusia ini! Sungguh tidak berdaya!" langkahnya yang tenang diikuti dengan tawa menggema saat dia berjalan. Aku langsung bersembunyi di balik puing-puing bangunan terdekat sambil memperhatikan wanita itu yang sepertinya adalah Ratu Iblis. Apakah dia menyadari keberadaanku? Bagaimana ini ?


Seorang Dark Succubi terbang menghampiri Ratu Iblis itu dan mereka berbicara dengan suara yang kecil sehingga aku tidak dapat mendengar mereka ditengah erangan kesakitan orang-orang dan tawa serta suara reruntuhan dari para monster.


Setelah beberapa saat, Dark Succubi itu terbang mengarah ke Kerajaan Spade. Aku khawatir apakah dia akan membawa pasukannya ke sana? Kuharap para prajurit Kerajaan Spade lebih kuat untuk melawan pasukan iblis ini.


Merasa sudah waktunya untuk pergi mencari Nina, aku berbalik dan sesaat aku akan pergi, Ratu Iblis itu mengoceh seperti ini, "Ahhh, ini masih belum cukup. Masih belum cukup untuk Rajaku...kekasihku, tunggulah sebentar lagi...kau akan segera bangkit di dalam tubuh anak itu...iya..aku akan mengambil tubuhnya untukmu Rajaku...Hahahahahahahaha!!!!!"


Mendengarnya berkata seperti itu, otomatis aku berbalik lagi dan berpikir bahwa anak yang Ratu Iblis itu bicarakan pasti si bocah itu...berarti... apakah Ratu Iblis akan menggunakan tubuh anak itu sebagaiㅡ


Lamunanku terputus ketika mendengar suara langkah kaki berjalan mendekatiku, "Oh...kutemukan tikus disini~"


Ah, sialㅡ


......................

__ADS_1


...「 Interlude X. Raven's Heart (II) 〈 selesai 〉」...


__ADS_2