
...『⚠️ Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi bukan kejadian nyata ⚠️ 』...
Previously :
Ah, aku lupa...mungkin karena dia tidak terlihat menyeramkan sama sekali...
Dia adalah satu-satunya mata-mata yang berhasil menyusup ke dalam Kerajaan musuhnya dengan mudah tanpa menimbulkan rasa curiga sedikitpun.
Tentu saja dia kuat...
Pandangan matanya yang tajam seperti biasa terarah padaku yang melongo ke arahnya, dengan datar dia mengatakan, "...yah, padahal aku tidak ingin kamu melihatku dalam keadaan seperti ini.."
Jika dia sekuat ini...mengapa dia tidak membunuhku saja sedari awal ?
...****************...
"..."
"..."
Aku dan Nina sedang duduk di dalam sebuah restoran kecil, dekat dengan tempat kejadian sebelumnya. Aku memainkan sendok di dalam gelas dan mendapatkan tatapan tajam. Saat aku berhenti melakukannya, dia kembali menggunakan ekspresi dinginnya.
"..."
"..."
Menghela napas, aku meminum air lemon yang aku pesan dengan kue coklat. Aku mencobanya, Ohhhh, ini sangat enak.
NYAM NYAM NYAM NYAM
"..."
NYAM NYAM NYAM NYAM NYAM
"..Tuan, Tuan belum makan siang dan sudah makan makanan penutup adalah tindakan yang buruk Tuan," akhirnya Nina membuka mulutnya. Aku tersenyum dan dia seakan teringat bahwa dia sedang berusaha terlihat marah padaku.
Ketika aku sampai, dia dengan cepat menghabisi semua bandit dan berjalan menghampiriku secepat yang bahkan dapat menandingi Teleportation-ku. Wajahnya terlihat khawatir dan aku tidak melihat sedikit luka darinya setelah melawan lebih dari 20 bandit secara bersamaan. "Tuan? Apakah Tuan baik-baik saja?? Salah satu bandit itu bilang bahwaㅡ"
Setelah menceritakan semuanya yang sudah kulakukan, dia menjadi kesal dan aku membawanya ke restoran ini. Mungkin, aku juga sudah mulai lapar.
"Kenapa Tuan langsung pergi kesini? Tempat ini berbahaya untuk Tuan," lanjutnya dengan wajah serius. Aku meminum seluruh air lemon itu dan tersenyum.
"Maafkan aku, habisnya aku juga khawatir denganmu yang akan disergap oleh anak buah Night," jawabku yang membuatnya menoleh kesana kemari dengan wajah memerah. Notifikasi yang sudah lama tidak kulihat muncul darinya..
...〈 +19 Rasa Suka Nina 〉...
...〈 +18 Kepercayaan Nina 〉...
Bedanya, kali ini angkanya cukup tinggi dari biasanya. Apakah setelah saling berbicara dengannya, dia jadi lebih jujur pada dirinya sendiri? Akan sangat menarik mengetahui jika aku akan melihatnya berkembang untuk mulai menerimaku sebagai teman...atau...
Baik, pikiranku sebaiknya berhenti disana karena secara fisik aku masih berusia 6 tahun. Mari kita pikirkan coklat dan...ah, iya.
"Nina, tolong temani aku untuk pergi membeli kebutuhan memasak dan peralatan untuk membuat camilan," ucapku secara tiba-tiba. Nina yang semenjak tadi melirik ke sana kemari akhirnya menoleh padaku dan memiringkan kepalanya dengan manis, sambil memandangku dengan tanda tanya.
..aku harus menyiapkan coklat lalu...
Ayo kita obati Ratu Kerajaan Spade.
...****************...
Saat aku dan Nina sedang membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat coklat, aku teringat sesuatu dan menoleh ke arah Nina, "Oh iya, dagger milikmu itu memiliki bilah pedang yang bersinar. Apakah itu semacam senjata mahal atau semacamnya?" aku bertanya dengan santai seperti sedang bertanya cuaca.
"Itu adalah dagger yang kutempa sendiri menggunakan barang-barang spesial yang kukumpulkan dari dungeon," balas Nina dengan tidak tertarik sambil memelototi buah coklat dengan nanar. Mendengar Nina, aku kembali bertanya, "Kalau begitu, di Cyrus ini akan ada item dan semacamnya? Seperti aksesoris yang dapat dibubuhi sihir?"
Nina menganggukkan kepalanya, "Benar, salah satu contohnya adalah setiap sudut gerbang Kerajaan Heart diberikan pahatan lambang menggunakan besi yang sudah dibubuhi sihir pelindung," jawabnya sambil memilih antara dua buah coklat. Aku langsung mengambil keduanya dan dia akhirnya memperhatikanku.
"Tapi, sepertinya sudah ada yang mulai menargetkan Tuan ya?"
Pernyataannya itu membuatku sedikit bergidik dan ingatanku terbang ke arah cheat yang berhasil kudapat. 'Ah, tanpa sadar, untuk curang aku sudah mengibarkan lebar-lebar Dead Flag di balik punggungku '
...tunggu sebentar ?
Sistem, kenapa di dalam fitur cheat, aku tidak mendapatkan semua item ???
...「Ah」...
...Ah-tte janai yo !
Sepertinya, Sistemku juga lupa akan hal itu, sama sepertiku. Mau bagaimana lagi, sepertinya aku harus mencari item legendaris sendirian dan menggunakan kemampuanku untuk terbang ke sana kemari.
...「...」...
...《 Selamat anda telah mendapatkan 『Custom Made ALL ITEM』 》...
...《 Menggunakan Custom Made All Item, Host dapat memperoleh semua jenis item dan memodifikasinya sesuai dengan keinginan Host dengan mudah tanpa membutuhkan bahan-bahan untuk membuat item 》...
__ADS_1
Ahahaha, Sistemku ini sangat menurut sekali ya? Kalau begitu, sebagai hadiahnya akan kuberikan kencan pertamaku khusus untuk Sistem nanti kalau aku sudah remaja nanti!
...「Tidak peduli」...
"Kalau begitu, Nina. Biarkan aku membayar nya." Kedua tanganku kini sudah penuh oleh bahan-bahan dan perlengkapan memasak. Nina melihatku dengan kebingungan dan ragu jika aku memiliki uang.
Sistem ?
...「...」...
...《 Selamat anda telah mendapatkan x99999 kantung koin emas 》...
...《 Selamat anda telah mendapatkan x99999 kantung koin perak 》...
...《 Selamat anda telah mendapatkan x99999 kantung koin perunggu 》...
Nice !
Aku mengeluarkan satu kantung penuh koin perak dari Tas Ajaib dan Nina menatapku dengan nanar. Saat aku membayar dan memberi penjual itu uang lebih dan dia dengan senang hati menerimanya, kami berjalan menyusuri jalanan kota Heart yang lumayan ramai.
Terimakasih banyak Sistem, Penguasa Alam, dan semuanya. Aku akan melakukan yang terbaik! Sambil memikirkan rasa terimakasih ku, aku membelikan Nina camilan dingin dan kami memakannya sambil berjalan.
Saat mataku melihat beberapa pengemis, budak, dan orang terlihat seperti bandit. Sepertinya aku tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya...
"Nina, aku akan langsung teleport kembali ke dalam Kastil. Kamu kembali dengan membawa ini ya. Aku akan membawa salah satunya," aku memberikannya satu kantung yang kecil berisi bahan-bahan, sedangkan aku memilih yang dua kantung yang besar.
Sebelum dia mengatakan apa-apa lagi, aku langsung pamit dan teleport kembali ke dalam kamarku.
...〈 +3 Rasa Suka Nina 〉...
...〈 +4 Kepercayaan Nina 〉...
Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku sambil berjalan mendekati Night yang sudah ketakutan sambil terus merapalkan kata ampun dan semacamnya. Aku menepuk pundaknya, membuatnya langsung menggetarkan tubuhnya sambil memandangku ketakutan.
"Tuan! Tuan sudah kembali! Ampuni saya Tuan! Tuan! Saya akan melakukan apapun untuk Tuan! Apapun Tuan! Tolong saya!" ocehannya terdengar sangat menyedihkan.
Aku menyeringai ke arahnya yang langsung diam tak berkutik, "Apapun?" aku mengulangi ucapannya dan dia langsung mengangguk-anggukkan kepalanya dengan terburu-buru hingga rambutnya terbang.
"Kalau begituㅡ"
.........
"Terimakasih banyak, Tuan!!!" Dia terus mengucapkan terimakasih sambil membawa tiga kantung koin emas yang kuberikan padanya, "Iya, iya. Cepat lakukan yang ku perintahkan dan jika kamu berbohong dan menggunakan uang itu untuk dirimu sendiri."
Dia langsung mengangguk-anggukkan kepalanya dan menangis, "Tidak Tuan, saya akan melakukan yang Tuan minta, terimakasih atas kebaikan hati Tuan!"
Aku membalas dengan mengangguk sambil mengibaskan tanganku, "Yasudah, cepat sana pergi. Minggu depan akan kulihat hasilnya!"
Aku tersenyum, "Lubangnya sudah ku tutup dan lihat! sekarang tamannya sudah indah dan rapi!" aku membentangkan tanganku dan melihat sekeliling taman yang sudah rapi dibandingkan sebelumnya. Nina menganggukkan kepalanya dengan pelan sambil memperhatikan sekeliling taman.
Ah, kalau tamannya sudah rapi seperti ini...
"Nina, ayo makan siang bersamaku disini?"
Dia menatapku dalam diam, aku balik menatapnya selama beberapa saat sebelum mendorongnya ke arah koridor, "Ayo cepat sebelum pelayan lain datang untuk menyuruhmu mengambilnya dan memintaku makan sendiri. Lebih baik kita makan bersama mulai saat ini." Secara sepihak aku memutuskan itu dan Nina hanya dapat berjalan pergi sambil sesekali menoleh ke arahku dengan kerut di dahinya.
Melihatnya sudah pergi, aku kembali ke tengah taman dan menggunakan Custom Made All Item untuk membuat meja kayu berserta payung dan ku letakkan di tengah taman. Meja persegi panjang lengkap dengan kursi kayu yang memiliki panjang yang sama dengan meja serta payung yang kububuhi sihir dengan Wind Magic agar setiap orang yang duduk di meja ini akan terkena angin dan tidak akan merasakan panas.
Aku duduk di kursi kayu yang panjang itu dan melihat Nina sudah datang membawa makanan. Matanya melotot ke arah meja dan kursi yang sudah kusiapkan. Aku tersenyum kecil dan membantunya menaruh makanan ke atas meja. Sebelum dia bertanya, aku langsung menjelaskan, "Mulai saat ini, kalau kamu tidak keberatan, Nina. Ayo kita makan siang disini bersama...oh, aku juga akan mengajak kakak!" seruku sambil menariknya duduk di sampingku.
Nina menghela napas panjang seakan kelelahan sebelum menganggukkan kepalanya dengan pelan sebelum menegak air minum dengan cepat. Menyadari Nina sepertinya lebih lelah dari biasanya (dia baru saja melihat keanehan yang aku perbuat dan menghabisi +20 bandit di tengah kota), aku memberikannya lebih banyak roti isi daging saat kami sedang makan.
Setelah kami selesai makan, aku menghabiskan air minum ku sebelum bertanya, "Mulai besok, bagaimana kalau kita berlatih bertarung? Aku dapat belajar banyak hal darimu, Nina." Mendengar itu dariku, Nina langsung mengerutkan lagi alisnya yang tipis.
Ahahaha, hari ini aku sering melihatnya kesal.
"Disini tidak ada yang tahu aku ini dapat bertarung," sergahnya. Aku tersenyum tipis dan mengangguk singkat, "Benar juga..."
"Iya, oleh karena itu...aku tidak dapat melatih Tuan untuk bertarung."
"Bisa kok."
Nina mengerutkan dahinya lagi seakan dia tidak setuju, aku berdeham singkat dan langsung menunjukkannya Space Magic dan menjelaskan Illusion Magic padanya.
Menggunakan Space Magic membuatku dengan mudah berlatih bertarung dengan Nina untuk menaikkan status dan levelnya. Illusion Magic berperan untuk menunjukkan di mata pelayan lain yang mengunjungi tempat ini melihatku sedang berpiknik dengan Nina, atau aku sedang melukis dengan Nina yang berdiri mematung seperti biasa di sampingku.
Akhirnya setelah mendengar penjelasanku yang panjang, Nina melihatku dengan lelah, "Kalau begitu, kita mulai berlatih hari ini?"
"Tidak, besok saja. Kamu baru saja melawan bandit-bandit itu, jadi lebih baik kamu temani aku saja ke dapur di barak Tentara."
Kali ini, Nina terdiam seperti berusaha menahan dahinya untuk berkerut lagi sebelum bertanya dengan nada ragu, "Kenapa kita harus ke dapur di barak Tentara? Kenapa tidak di dapur Kastil?"
Aku menggelengkan kepalaku dan menyilangkan tangan, "Jika aku memakai dapur Kastil maka pelayan lainnya akan semakin tidak suka padaku dan lagipula aku bisa meminta Gregory untuk mengosongkan dapurnya untuk beberapa jam."
"...apakah Tuan benar-benar akan membuat coklat sendiri?" akhirnya Nina menanyakan hal yang sedari tadi sepertinya dia ingin tanyakan padaku.
Aku berdiri dari kursi dan mengedipkan sebelah mataku padanya dan dibalas dengan kerutan dahi yang lebih mendalam dari sebelumnya, aku berkata sambil tersenyum bangga, "Lihat saja sendiri, nanti."
__ADS_1
...****************...
PRAANGGG
Di kediaman Blackspade, Tuan Muda Blackspade, Josh. Melempar botol wine nya ke dinding dengan geram. Salah satu anak buah Night yang bebas dari tebasan maut Nina, hanya diam menunduk di hadapannya.
"Beraninya Night membelot dariku setelah dirinya gagal menjalankan tugasnya?!! Bedebah sialan itu!!!" teriaknya dengan penuh emosi. Josh memukul mejanya hingga hancur dan menarik kerah anak buah yang berdiri di hadapannya.
"Katakan padaku, jika aku memanggil Red Eye apakah dia akan berhasil menghabisi nyawa Pangeran bajingan itu?!" tanyanya dengan mata penuh dendam dan emosi. Anak buah itu mengangguk-angguk setuju dengan keringat yang mengalir dari dahinya.
"Red Eye akan berhasil Tuan muda, saya yakin itu. Saya akan meminta yang lainnya untuk mencari dimana Red Eye dan langsung menjalankan eksekusi secepat mungkin," ucap anak buah itu dengan suara bergetar.
Josh mendengus dengan keras sambil mendorong anak buah itu hingga terjatuh, telunjuknya di arahkan ke anak buah itu, "Cepat lakukan itu, jika ada yang membelot lagi dariku...Kuhabisi kalian semua!" ancamnya dengan tatapan penuh amarah.
Setelah berlari dari ruangan itu dengan terburu-buru, anak buah itu langsung memanggil temannya untuk mencari Red Eye, pembunuh bayaran yang paling termahal dan terkenal seantero Kerajaan Spade.
"...awas saja kau Pangeran Bajingan...kali ini kamu berhasil lolos...nikmati saja sisa hidupmu yang menyedihkan itu..."
...****************...
"Tentu saja! Gunakan saja dapurnya sesuka hatimu, Tuan!" seru Gregory dengan penuh semangat. Dia terlihat sangat senang saat melihatku datang menghampirinya ke dalam barak. Berbeda dengan reaksi pasukannya yang melihatku seperti anomali atau mungkin bencana alam di dunia mereka.
"Ohh, terimakasih Gregory. Sebagai ungkapan terima kasihku, akan kuberikan coklat yang akan ku buat nanti."
Gregory melongo, wajahnya yang sudah tua membuatku ingin tertawa geli melihatnya berekspresi seperti anak kecil, "Tuan yang akan membuat sesuatu?" pandangannya beralih ke Nina yang berdiri dengan setia di samping kananku, "Bukan Nona Nina?" lanjutnya dengan bingung.
Nina hanya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi tidak habis pikir dan mulut Gregory semakin menganga lebar.
Ahahaha, setidaknya akan sangat mengejutkan ya untuk seorang Pangeran yang belum pernah mengunjungi dapur sebelumnya tiba-tiba ingin membuat coklat.
"Wah, Tuan benar-benar seorang genius! Hanya dengan membaca buku di perpustakaan, Tuan dengan mudah mulai membuat coklat!" dengan kagum dan mata berbinar-binar, Gregory memperhatikanku yang sedang berada di depan meja.
Nina hanya diam melihatku, tapi aku tahu dari pandangannya yang terus memperhatikan setiap gerak gerik ku, dia sebenarnya terkesan diam-diam. Bagaimana denganmu Sistem? Apakah kamu juga terkesan?
...「Tidak juga」...
Aku terkekeh sendiri dan kembali melanjutkan dengan menaruh coklat panas yang sudah mencair ke atas cetakan yang ku buat secara mendadak menggunakan Custom Made All Item yang namanya terlalu panjang jadi sebaiknya ku singkat saja menjadi CM Item tapi karena Author ingin mengejar kata-kata lebih dari 2K jadi aku menggunakan yang panjang saja...Ups.
Ngomong-ngomong, proses pembuatan coklat dari buahnya seharusnya agak lama dan membosankan tapi karena aku menggunakan hampir semua jenis elemen sihir yang membuat Gregory terkesima lagi, semuanya berjalan dengan cepat.
Saat aku membekukan coklat dengan sihir Es, aku berkata pada Gregory, "Gregory, menurutmu apakah normal aku dapat melakukan semua ini?" Wajah Gregory yang awalnya penuh senyuman langsung berubah menjadi serius, "Tentu saja tidak, Tuan. Ini benar-benar sudah menentang hukum alam. Tidak ada anak berusia 6 tahun yang dapat menggunakan semua elemen sihir semudah menjentikkan jari kecil mereka."
Aku menyeringai, "Jadi, apa yang akan kamu lakukan dengan informasi ini setelah melihatku dapat melakukannya dengan mudah?" Nina melihat ke arah kami dengan sedikit tegang. Apakah dia takut harus melawan Gregory jika dia mengatakan ingin mengancamku atau semacamnya?
Gregory terdiam sesaat sebelum melanjutkan, "Atas perintah Baginda Raja dan Nyonya Karina. Saya akan menjaga rahasia yang dimiliki Tuan, semua kemampuan Tuan, hingga akhir hayat saya. Saya tahu dalam kasus seperti Tuan, tidak ada yang tidak mungkin karena keberadaan Tuan juga adalah sebuah keajaiban."
Oh, seperti itukah? Ayah dan ibuku ternyata cukup memanjakanku ya?
Aku tersenyum lebar, "Baiklah kalau begitu...aku berharap banyak padamu, Gregory. Mohon bantuannya untuk di masa depan." Gregory langsung berdiri tegak dan bersalut padaku, "Saya, Gregory. Bersumpah untuk terus menjaga dan berada di samping Tuan Kyle Heart. Jika saya ingkar, saya akan menghunus pedang saya tepat ke leher saya!" ucapnya dengan semangat.
Nina menghela napas lega, aku menganggukkan kepalaku sambil terkekeh, "Kalau kamu harus melawanku, jangan sampai harakiri, aku akan mengerti alasanmu, Gregory." Mendengarku, Gregory hanya memiringkan kepalanya dengan tanda tanya.
Berhentilah melakukan ekspresi seperti Nina dengan wajahmu itu, Gregory !
...****************...
Setelah coklat itu selesai dan berbentuk kotak (padahal aku ingin membuat yang batangan, mungkin lain kali), aku membubuhkan mantra pembangkit mana, penambah level dan penambah kesehatan.
Gregory berjingkrak kegirangan saat menerima bahwa dirinya dapat menaikkan level dengan cepat dan ternyata ada buff EXP juga dari coklat yang kubuat. Baiklah, dengan ini aku dapat membantu Nina untuk menaikkan levelnya dengan cepat.
Mendengar ku yang mengatakan bahwa aku membuatnya coklat ini agar ia dapat menjadi kuat dan menaikkan level lebih cepat, dia terdiam sepanjang makan malam.
Kami berjalan dalam diam menuju kamarku, hari sudah gelap dan angin laut menerpa wajahku saat aku menutup jendela kamarku. Waktunya untuk berpamitan dengan Nina dan tidur, biasanya Nina akan langsung meminta izin pergi dan aku pun pergi tidur.
Kali ini, dia hanya terdiam di depan pintu.
Aku merasa penasaran karena tidak dapat membaca ekspresinya akhirnya bertanya, "Hm? Ada masalah apa, Nina?"
"..." Nina menunduk seakan memikirkan sesuatu selama beberapa saat dan dia akhirnya mengangkat kepalanya untuk menatapku dengan matanya yang berwarna hazel itu, kali ini, aku melihat ada kilauan di matanya berbeda saat aku pertama kali menemuinya di sini.
"...aku bersedia "
"Hah?" aku bingung dengan ucapannya.
Dia menggigit bibirnya dan untuk pertama kalinya bagiku, melihat ekspresi malu darinya secara terang-terangan.
"Kuulangi...kubilang, Iya. Aku bersedia," dia mengulangi perkataannya sambil mengalihkan matanya dariku.
Aku mengerutkan dahiku, "... bersedia apa?"
Dia menatapku selama beberapa saat, wajahnya yang malu berubah menjadi dingin dan akhirnya dia marah...
"Iya! Aku bersedia untuk menjadi pacarmu!"
Apaaaaa?!!ㅡ
__ADS_1
......................
BERSAMBUNG..