CHANCES - Battle Of Heart : Online

CHANCES - Battle Of Heart : Online
Chapter 22. Did You See The Ghost? 《 I 》


__ADS_3

...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️ 』...


Previously :


BAAKK


Tiba-tiba saja, belakang kepalaku dipukul oleh sesuatu yang tumpul dan seketika aku terjatuh tak sadarkan diri sebelum mendengar teriakkan Yuu dan melihat seringai lebar dari wajah Valeria.


"Kyleeeㅡ"


...****************...


"Hah?!" tubuhku terhentak dan aku hampir terjatuh dari tempat dudukku. Jantungku berdetak dengan cepat hingga aku dapat mendengarnya dengan telingaku, keringat dingin bercucuran dari dahiku dan saat aku melihat ke arah depan.


"Waaaahㅡ!?!"


BRUKKK


Aku terkejut dan langsung terjatuh dari kursi dimana aku sedang duduk. Valeria sedang duduk di hadapanku dengan wajah yang cukup dekat sehingga aku terkaget-kaget dua kali. Melihatku yang sudah berada di atas lantai, dia tertawa.


"Apa yang sedang lakukan? Kenapa tidur disini??" pertanyaannya membuatku melihat sekeliling. Kini aku masih di dapur, sepertinya aku tertidur di dapur tepat di meja dimana aku habis memotong kue.


Tunggu, yang kulihat barusan hanya mimpi ?!


"Tentu saja itu hanya mimpi," jawab Valeria tanpa mempedulikan bahwa aku sudah membuka dan menutup mulut seperti ikan koi yang susah bernapas. Dia menyilangkan tangannya dan menatapku sambil mengerutkan dahinya, "Aku sengaja melakukan itu agar kamu mendapatkan balasan karena sudah menolak aku dengan cukup kasar. Setidaknya kamu membuatkan kue coklat ini jadi aku tidak terlalu marah..."


"Yang benar saja?! Kau baru saja memanipulasi mimpiku menjadi mimpi buruk?!" aku berdiri sambil menaruh kedua tanganku di setiap sisi pinggangku. Mataku memicing tajam ke arahnya yang mengangkat bahunya seakan tidak peduli.


"Itu hanyalah mimpi, mengapa kau marah seperti itu?! Lagipula selain itu, aku tidak melakukan hal buruk padamu semenjak kau disini bukan?? Aku membiarkanmu hidup, tidak meminta yang terlalu aneh, bahkan aku membiarkanmu tinggal disini. Apa masalahmu denganku?" tanyanya sambil memakan kue coklat.


Meskipun apa yang dikatakannya benarㅡ


"Kalau begitu, bunuh aku saja atauㅡ"


"Tentu saja aku tidak dapat melakukannya, walaupun kau akan memohon padaku sambil berlutut. Aku tidak akan melakukannya. Minta saja sana sama Ratu Iblis," jawabnya memotongku dengan tajam.


"Apakah segitunya kau ingin tidur denganku? Memangnya kamu kesulitan jika tidur sendiri? Jangan-jangan selama iniㅡkamu tidak tidur?!" aku menduga-duga dan perkataan terakhir yang aku ucapkan membuatnya bergidik dan dia mengalihkan matanya dariku.


"Kamu tidak tidur sama sekali?!"


"Maksudkuㅡumm, bukan seperti itu. Tentu saja aku tidur uhh, memejamkan mataku sebentar...mau bagaimana lagi..." Dia terdiam menatap ke arah kue coklat sebelum melihat ke arahku, "ㅡsemenjak aku melaksanakan ritual itu, jika aku memejamkan mataku. Aku membayangkan badanku di bawa ke tempat ritual dan setiap kali aku membuka mataku...tentu saja aku sudah berada di ruangan ritual karena aku dapat merasakannya dan aku benar-benar berada di sana. Aku tahu itu terdengar cukup aneh untukku karena aku buta...tetapi, sepertinya aku dihantui oleh semua orang yang kujadikan tumbal..."


Aku menyilangkan tanganku dan menatapnya, "Lalu, bagaimana itu bisa menjadi salahku? Bukannya itu salahmu sudah melakukan ritual setan semacam itu?"


Dia mengarahkan pandangan yang terlihat kesal padaku dan mengambil sepotong kue sebelum melemparnya ke arahku yang tentu saja langsung kutangkap dan kumakan.


NYAM NYAM NYAM


"Kau tidak boleh melempar makanan yang sudah kubuat untukmu!"


"Kau ternyata sangat menyebalkanㅡ" sebelum Valeria menyelesaikan ucapannya. Lampu di dapur tiba-tiba berkedip-kedip seperti lampu disco. Kami berdua terdiam dan setelah beberapa saat lampu berkedip-kedip itu berhenti.


"Kamu belum membayar listrik?" tanyaku dengan serius. Dia memandangiku seakan bingung dengan ucapanku, "Lis..listrik? Apa yang sedang kamu bicarakan?? Apa itu listㅡlistrik?" ulangnya dengan memiringkan kepala dan tanda tanya yang muncul di atas kepalanya. Aku menghela napas dan menggelengkan kepalaku.


"Apa yang barusan terjadi? Kenapa lampunya berkedip-kedip?" aku akhirnya bertanya sambil membuka layar jendela transparan yang sudah lama tidak kugunakan.


Waktunya menunjukkan pukul 01.30 tepat.


"Aku tidak tahu...tapi aku merasakan kamu terkejut dan lampu di ruangan ini berkedip-kedip." Valeria mengedikkan bahunya sebelum tersenyum, "Ah! Ada seseorang di belakangmu!"


Aku mengernyitkan dahiku dan membuka mulutku sebelum menoleh kebelakangku, "Apa maksudmu? Kan kita hanya berㅡ"

__ADS_1


"Kita sekarang ada bertiga."


Sahut dari sesosok wujud yang beterbangan kini tengah berdiri dibelakangku sambil tersenyum menyeringai menatapku dengan seksama seperti penasaran padaku.


Valeria memperhatikan reaksiku dengan sangat fokus, bahkan aku harap dia ini sebenarnya tidak buta melainkan pura-pura tidak dapat melihatku atau semacamnya.



Tetapi dia benar-benar buta.


Aku melihat lagi ke sesosok wujud yang kini terbang mengitari ku sambil berbisik-bisik, "Orang baru? Oh, kau adalah calon korban tetapi tidak jadi karena kau sangat kuat? Menyebalkan! Akan ku tunjukkan amarah kami!" sosok itu berteriak menggelegar dan masuk tembus ke dalam lantai dapur.


"Apa dia temanmu?" aku akhirnya bersuara.


Valeria memanyunkan bibirnya seperti kecewa, "Ah, padahal aku menantikan untuk dapat melihatmu berteriak seperti seorang wanita, lalu ketakutan hingga setengah mati atau semacamnya..." Dia bergumam sambil menghabiskan potongan kue coklat yang tersisa. "Aku serius, apa dia temanmu?" aku bertanya dengan nada sedikit memaksa.


"Tentu saja bukan? Dia adalah salah satu arwah dari korban ritual yang baru saja kukatakan padamu. Semenjak Ratu Iblis muncul, mereka kini semakin lebih memaksa untuk dapat pergi dari tempat ini sebagai pasukan zombie. Namun karena kekuatan ku yang menghalang segala sesuatu keluar dari pulau ini, mereka menjadi sedikit marah."


Sedikit marah? Sehingga membuatmu tidak dapat tidur sama sekali ?


"Benar sekali, jika aku tertidur. Salah satu dari mereka akan merasuki tubuhku danㅡaku tidak tahu jika tubuhku yang kuat ini akan mereka gunakan sebagai apa? Mungkin menghancurkan Cyrus?" lanjutnya seakan membaca pikiranku yang bertanya.


Aku mengambil lagi kursi yang tadi terjatuh dan duduk di hadapannya, "Jadi... maksudmu memintaku tidur bersamamu agar ada aku yang melindungi tubuhmu? Aku juga akan tidur dan kita sama-sama akan berada dalam kondisi tidak dapat melawan bukan?"


Dia menggelengkan kepalanya dan menunjuk garpu yang dia genggam sejak tadi, "Tidak. Jika kita tidur bersama, otomatis sihir pelindung utama dari tubuh kita akan tergabung menjadi satu, sehingga arwah-arwah yang marah itu tidak dapat mengganggu waktu tidur kita."


"Jadi kamu benar-benar hanya ingin tidur saja bersamaku?" aku bertanya dengan ragu.


Dia menggerutu, "Tentu saja. Untuk apa aku berbohong? Aku tidak akan melakukan apapunㅡkecuali jika kamu melakukan sesuatu padaku..." aku langsung mengibaskan tanganku ke hadapannya.


"Jika kamu melanjutkan kata-katamu, akan ku lempar kau ke arwah-arwah jahat itu."


Bukan salahku jika kamu bertindak sangat mencurigakan. Tapi, aku benar-benar kaget jika ada hal semacam hantu disini, di dunia ini. Seharusnya aku tidak terlalu kaget akan hal itu karena sahabat karibku juga sebenarnya adalah sesosok hantuㅡ


...「Jika kau melanjutkan ucapanmu, ku lempar kau ke Neraka sekarang」...


Kenapa kamu juga marah sepertiku?! Bukankah seharusnya aku juga marah akan hal ini?! Kenapa juga kau tiba-tiba muncul seperti ini setelah kamu menghilang tiba-tiba di dalam Dark Forest ?!


...「...aku hanya mendapatkan gangguan saja seperti yang kamu pikirkan, Host」...


Sejak kapan kamu memanggilku sebagai "Kamu" bukan "Anda"??


...「Sejak tadi, bodoh」...


Sebelum aku melanjutkan pembicaraanku pada Chae Rin, tatapan mataku bertemu dengan mata Valeria yang sejak tadi terdiam memperhatikanku.


Ah, apakah dia sadar bahwa aku sedang berbicara dengan sesuatu yang lain? Jadi dia ikut terdiam agar tidak mengganggu ?


"Kenapa kamu juga ikut terdiam, Val?" aku bertanya dengan selidik.


Valeria tersenyum, "Oh, aku suka panggilan itu. Mulai sekarang panggil aku seperti itu jika kamu ingin menunjukkan kasih sayang mu!"


"Ayolah, aku tahu saat ini kamu sedang mengalihkan pembicaraan kita sekarang. Kau tahu aku sedang berbicara dengan seseorang?" aku bertanya sambil memperhatikannya dengan seksama.


Matanya yang tidak nampak satupun cahaya sama sekali kini hanya tersenyum mengikuti ujung bibirnya yang terangkat, "Tidak perlu khawatir soal rahasia yang kamu miliki. Aku hanya sedikit terkejut bahwa ada sesuatu yang lain dan itu bukanlah sebuah arwah ataupun hantu penasaran yang selalu mengikuti mu semenjak kita bertemu."


"Selalu mengikuti ku?"


Valeria mengangguk dan menunjukkan bahu kananku dan bahu kiriku, "Saat ini ada dua jenis sesuatu itu yang mengikuti mu semenjak kamu berada di istana ini. Meskipun kamu sedang berbicara dengan yang salah satunya. Keberadaan yang satu lagi sedikit lebih lemah bahkan sepertinya yang baru saja kamu ajak berbicara terkejut karena baru menyadari keberadaannya."


Benarkah itu, Chae Rin?

__ADS_1


...「Gadis itu tidak benar dan juga tidak salah. Aku sudah menyadari sosok yang satu lagi semenjak kamu siuman dari rumah Yuu」...


Tanpa sadar bahuku bergidik dan Valeria tersenyum. "Ah, kamu merasa sedikit ketakutan, sayang? Sini akan ku lindungi kamu dengan senang hati~" ucapnya sambil merentangkan lengannya seperti mengajakku untuk jatuh ke dalam pelukannya.


Aku menatapnya dengan tajam sambil mengernyitkan dahiku, Valeria semakin senang dan begitu dia akan bangkit dari kursinya untuk memelukku. Lampu yang ada di dapur seketika padam.


Kini semuanya menjadi gelap namun otomatis mataku dapat melihat sekeliling dengan jelas karena mungkin ini salah satu skill yang kumiliki.


Valeria yang ada di depanku cemberut dan menyilangkan tangannya dan mengetuk-ngetuk ujung sepatunya seperti tidak senang, "Benar-benar hantu yang menyebalkan. Menggangguku yang sedang mencoba menaikkan angka intimasi dengan calon suamiku..."


Hah? Apa yang baru saja dia katakan?


...「Gadis itu baru saja mengatakan bahwaㅡ」...


HIHIHIHIHIHIHIhihihihihihihihihiㅡ


DRRRRRRRRRRRR


Seketika seluruh lantai bergetar dengan hebat diikuti oleh suara tawa cekikikan yang menggema hingga ke setiap sudut istana. Valeria mengerutkan alisnya dan menatap ke arahku, "Maafkan aku, Kyle. Sepertinya kamu datang terlalu cepat sebelum aku dapat memusnahkan mereka jadi kamu melihat yang seperti ini disaat sedang bertamu ke rumahku. Kuharap karena permasalahan ini kamu tidak mengurungkan niatmu untuk menjadikan aku sebagai salah satu istrimu..."


HIHIHIHIHIHIHIhihihihihihihihihiㅡ


DRRRRRRRRRRRR


GRETAK GRETAK GRETAK


"Bisakah kita lakukan sesuatu pada arwah-arwah itu sebelum kita membicarakan hal yang tidak penting seperti itu?!"


Aku memusatkan mana sihirku untuk mencari dari mana sumber arwah-arwah itu mengguncang-guncang istana ini. Aku dapat mendengarkan gerutu Valeria, "ㅡpadahal itu juga penting untuk masa depan kita..."


Pusat dari sumber kekuatan mereka yang cukup besar berasal dari ruang bawah tanah tepat dekat dengan tangga. Aku terdiam dan menoleh ke arah Valeria yang sepertinya ikut menyadarinya. "Ah, meskipun itu hanya dalam mimpimu, tempat itu adalah tempat dimana aku melaksanakan ritualnya. Disanalah mereka semua mati."


"Jadi, jika aku belum datang kesini...apa yang akan kamu lakukan terhadap arwah-arwah itu?" aku bertanya sambil menggunakan sihir api sebagai sumber cahaya yang terus mengitari kami. Setidaknya itu membuat Valeria yang tegang menjadi tenang, mungkin dia sedikit ragu jika aku benar-benar berada di sampingnya. Aku langsung berjalan untuk menghampirinya dan berdiri di sampingnya.


Dia tersenyum, "Sebenarnya aku ingin memusnahkan mereka semua begitu saja, tapi sepertinya kamu memiliki Light Magic? Mungkin, kamu memiliki cara yang lebih baik agar arwah-arwah itu tenang. Meskipun ini salahku yang menggunakan nyawa mereka, berkat mereka, semua orang di pulau ini dilindungi dari Ratu Iblis. Bagaimana menurutmu?" Dia bertanya sebelum melanjutkan ucapannya dengan berbisik.


"Kamu juga dapat memihak arwah-arwah itu karena sudah jelas apa yang aku lakukan pada mereka adalah salah meskipun tujuanku melakukannya untuk keselamatan diriku."


Aku menghela napas dan menyilangkan tanganku sebelum berjalan melewatinya, "Sebaiknya kita hampiri arwah-arwah itu sebelum memutuskannya. Bisa saja ada kekuatan gelap yang merasuki arwah-arwah itu menjadi marah seperti ini bukan?"


Valeria menoleh padaku dan mengangguk sebelum mengikutiku berjalan keluar dari area dapur istana. Kini seluruh lorong istana sangat gelap. Hanya ada semburat cahaya dari bulan yang bersinar melalui celah-celah jendela dan juga sihir apiku yang terus mengitari tubuhku dan Valeria.



GRRRRRRRRRRRR


"Ah!" terdengar suara geram yang sangat tidak asing untuk telingaku dan suara Valeria yang terkesiap. Aku menoleh ke arahnya yang tersenyum ragu padaku,


"Aku lupa...jika meskipun mereka tidak dapat menjadi zombie untuk membantu pasukan Ratu Iblis...mereka dapat berubah menjadi zombie di pulau ini."


GRRRRRRRRRRRR


SREEEETTT


Aku mengerutkan dahiku sebelum melihat dari ujung lorong beberapa orangㅡmaksudku zombie ? Sudah berjalan perlahan kearah kami dengan suara geraman diikuti dengan suara langkah kaki yang terseret dengan berat.


...kenapa ini tiba-tiba menjadi game zombie ?!


......................


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2