CHANCES - Battle Of Heart : Online

CHANCES - Battle Of Heart : Online
Interlude VII. Raven's Heart


__ADS_3

...『⚠️ Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi bukan kejadian nyata ⚠️ 』...


WUNGGGGG


JLEEBB


"ARGH!!!!" suara erangan menjijikkan dari seorang pria membangunkan ku dari lamunanku. Saat aku baru menyadarinya, pria itu sudah terkapar di hadapanku dengan tanganku yang sudah bersimbah darah dan di bilah pedangku terdapat jantung yang lepas dari tubuh pria malang itu.


Oh, aku melakukannya lagi.


Aku melempar jantung itu dengan mengayunkan pedang ke sembarang arah, dan membersihkan bilah pedangku, ah, darah ini menjijikan sekali, lalu aku merapalkan mantra sihir api dan seketika api itu membersihkan bilah pedangku dari darah yang sudah membeku dan akan membuat pedangku menjadi penuh karat.


Aku baru menyadari bahwa aku berada di dalam gubuk terbengkalai dan pakaian ku yang sudah hanya berupa kain dalaman...


Hah, sepertinya dia akan melanggar batas dan dia bukan orang yang tepat...lagi.


Setelah memakai kembali pelindung besi dan menyarungkan pedang, aku berjalan menyusuri jalanan kota dengan beberapa pasang mata sempat menoleh ke arahku. Sepertinya mereka tertarik untuk mati lebih awal? Oh, hampir banyak yang memperhatikan ku adalah kawanan pria.


Tidak masalah, otot tubuh mereka yang kuat cukup memberiku tantangan untuk menebas dan memotong anggota tubuh mereka menjadi beberapa bagian kecil.


Setelah berjalan ke sebuah jalanan yang kecil dan sepi, aku melompat masuk ke dalam gorong-gorong yang menuju tempatku tinggal. Menyusuri gorong-gorong itu, aku disambut oleh beberapa anak buahku yang awalnya tertawa-tawa langsung diam dan hormat padaku. Salah satu dari mereka berkata, "Siang Nona Red Eye! Ada pekerjaan baru soal anak tikus di dalam Kerajaan!!" Aku mengangkat alisku dan menyeringai, "Kali ini tangkapan yang cukup besar...apa yang terjadi?" ucapku sambil berjalan menuju ruangku yang biasa ku gunakan untuk beristirahat.


"Sepertinya anak tikus itu mengganggu adik Tuan Muda dan Tuak Muda ingin kepala anak tikus itu."


"Memangnya siapa anak tikus ini?"


"Si Pangeran Bajingan, Nona."


Ohhh, seorang anak kecil? Setidaknya ototnya masih lebih halus dan mayatnya mudah untuk di buang. Meskipun akan menimbulkan kekacauan tapi uang adalah uang.


"Kalau begitu, kita laksanakan saja seperti biasa," jawabku sambil duduk di atas mejaku.


Maaf ya nak, bukan salahmu. Tapi ini kesalahan orang dewasa yang membencimu..


...****************...


Beberapa anak buahku masuk ke dalam ruanganku saat aku baru selesai mandi dan hanya berbalut handuk. Dengan wajah merah dan menutup pintu ruanganku, mereka berteriak, "Maafkan kami, Nona! Tapi, Pangeran Bajingan sempat terlihat di kota dan akan menuju jalan pintu masuk Utara markas kita!" Aku tertawa dan langsung memakai semua pakaian dan baju pelindung besiku tak lupa dengan pedang api ku.


"Dia berjalan menuju ke api kematian? Cepat beritahukan yang lain untuk bersiap mencegatnya! Sepertinya ada yang merasa berani hanya karena dia anggota keluarga Kerajaan whahahaha, bagiku...itu sama saja."


Saat semua anak buahku sibuk berjalan kesan kemari, aku berjalan keluar dari markas dan menuju dimana anak kecil itu berada. Di tengah jalanan yang sepi, aku melihat seorang anak laki-laki yang di dampingi satu orang wanita pelayan.


Oh? Aku kira dia akan membawa seorang pria yang merupakan pengawalnya yang kuat untuk melawanku? Ternyata tidak...


Namun begitu anak kecil itu melihat wajahku, dia melongo dengan wajah yang sangat lucu. Hm, apa aku bisa pura-pura membunuhnya dan membawanya? Anak sombong sepertinya biasanya akan sangat menarik jika menjadi kacung ku...


Saat tiba-tiba Night, salah satu pembunuh bayaran yang kukenal turun dari atap menuju bocah itu, tidak terlalu membuatku terkejut dibandingkan dengan bocah itu yang tiba-tiba terkekeh melihatku setelah itu dia terkesiap.


Bahkan anak buahku sedikit ragu dan melihat satu sama lain. Apa anak itu menertawakan ku? Beraninya dia? Apa dia menertawakan ku karena aku adalah seorang wanita?


Pada akhirnya, semua laki-laki sama saja...


"Beraninya kamu tertawa setelah melihatku," sambar ku sambil menahan amarah. Namun ucapanku malah membuat bocah itu tersenyum semakin lebar...


Ditengah senyumannya, bocah itu mengangkat kedua tangannya, "Red Eye? Kita bisa berbicara baik-baik, tidak perlu ada pertumpahan darah disini... bagaimana?" tanyanya dengan tenang. Mendengarnya aku berjalan mendekati mereka dengan tatapan mata yang semakin tajam, "Kau pikir aku akan mendengarkan perkataan yang keluar dari mulut anggota Kerajaanmu yang kotor itu? Tentu saja, tidak."


Pelayan itu menatapku dengan tajam seakan marah dengan ucapanku dan mengeluarkan dua dagger dari balik apronnya. Ohh, wanita pelayan ini terlihat cukup menarik juga...


Semua anak buahku mulai mengeluarkan senjata mereka satu persatu sambil terkekeh-kekeh. Night juga ikut mengeluarkan kedua pedangnya dari sarungnya yang berada di balik punggungnya. Apakah dia akan melawanku? Tidak masalah.


Aku tentunya jauh lebih kuat darinya.


Diluar dugaanku, wanita pelayan dan Night langsung melesat menghampiri para anak buahku dengan senjata mereka, meninggalkanku sendiri yang berhadapan dengan bocah itu.


Oh, Apakah mereka akan membiarkan ku menyentuh bocah ini? Pekerjaan kali ini ternyata cukup mudah.


Aneh, bocah itu malah masih terlihat tenang, aku jadi menertawakan kebodohannya, "Ohh, anak kecil dari Kerajaan sepertimu sepertinya bersikap terlalu tenang sekali... apakah kamu akan memanggil para pengawal menyedihkan itu untuk melindungi nyawamu?"


Aku menyeringai dan mengeluarkan pedang dari pinggangku yang langsung menyemburkan api dari bilah pedangku.


Kenapa dia malah terlihat kagum ?


Dengan perasaan kesal aku bertanya, "Kau yakin tidak merasa ketakutan melihat ini?"


Bocah itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya sebelum menjawab ku, "Tidak, aku rasa kamu itu terlihat keren."


Kerutan di dahiku menjadi semakin mendalam, "Jangan kira aku akan membiarkanmu hidup hanya karena kamu bermulut manis padaku."


Tiba-tiba dia mengatakan, "Aku bisa loh, menyembuhkan mu dari kutukan mu itu."


Apa ?


APA KATANYA ?!


TAHU APA BOCAH INI ?!!!


Aku menggertakan gigiku dan menggeram, "Beraninya kamu...memangnya, kamu tahu apa anak kecil?! Akan ku habisi kau!!!"


Saat aku mengambil ancang-ancang untuk menebas lehernya, dia berbisik pelan, "...maafkan aku."


Secara mengejutkan, dia mengeluarkan pedang hingga dalam sekejap muncul dua kilatan pedang yang saling bertabrakan satu sama lain dan suara dentingan keras menggema di sekitar kami.


Dari pedang bocah itu muncul kepulan asap hitam yang sontak membuatku melompat mundur. Pedang apa itu ? Kenapa bocah sepertinya mempunyai pedang semacam itu ?


Bahkan pelayan itu, Night dan para anak buahku terkejut sama sepertiku. Tanpa sadar aku jadi terkekeh, "Anak kecil sepertimu bisa saja mendapat pedang seperti itu...tidak heran banyak yang memanggilmu sebagai malapetaka di dunia ini."


"Sudah cukup!" Wanita pelayan itu langsung menyerang ku dari belakang namun dengan mudah tentunya aku menghindar dan mencoba menyerang wanita pelayan itu, namun bocah itu menebas angin sehingga kepulan asap itu mengarah padaku. Ku hentikan serangan ku pada pelayan itu.


Apa bocah ini melindungi pelayannya ?


Bocah itu melihat ke arah wanita pelayan, "Urus saja bandit-bandit itu, tapi jangan bunuh mereka...biar aku yang urus Nona Red Eye ini." Ketika wanita pelayan itu bergegas kembali ke arah Night, aku mendelik ke arah bocah itu, "Apa yang akan kamu lakukan pada anak buahku?!" seruku dengan geram.


"Tenang saja, aku berencana merekrut mereka dan juga kamu setelah kamu rasa bahwa aku ini pantas untuk menjadi rekanmu," jawabnya dengan santai.


"Siapa yang ingin menerima anak kecil sepertimu menjadi rekan!!!" Aku kembali menyerang bocah itu secepat yang kubisa, dia menghalang tebasan ku lagi sehingga menimbulkan suara dentingan yang begitu keras. Disaat bersamaan api dari pedangku langsung menyembur ke arah bocah itu.


MATI KAU !


Belum sempat aku tersenyum menang, api yang tersembur ke badannya menghilang tak bersisa...sihir ini...


"Apa?! Anti-Flame Magic...siapa kau?!" teriakku sambil melompat mundur selangkah darinya dan mulai memperhatikan bocah itu dengan baik.


Anti-Flame Magic, dari namanya adalah sebuah sihir yang dapat menahan segala jenis serangan dari sihir api.


Tetapi, untuk dapat mempelajarinya harus dibutuhkan level yang cukup besar lebih dari Rank A...


Melihatku yang terkejut membuatnya tersenyum, "Sudah kubilang, aku ini orang yang dapat menyembuhkan mu dari kutukan mu itu... percayalah padaku dan jadilah rekanku!"


Apa tadi katanya? Rekan bocah itu ?!


"Tidak mau," jawabku dengan cepat. Dia berjalan menghampiri ku, dan entah bagaimana...tubuhku terpaku seakan tidak dapat digerakkan.


Lalu...


Aku rasa keinginan ku untuk membunuhnya, membunuh semua orang...


Keinginan ku akan kekuatan...rasa sakit ketika aku berusaha menahan diri untuk tidak membunuh orang lain...


Menghilang...

__ADS_1


Aku dapat merasakan kutukan itu, menghilang dari tubuhku.



Pandanganku menjadi buram, kakiku seakan lemas dan aku jatuh terduduk...aku memeluk kedua lenganku dan akhirnya melepaskan air mata yang sudah terjatuh begitu saja.


"Akhirnya...akhirnya....aku bebas."


Aku melihat bocah itu sudah tersenyum dengan hangat dan aku langsung meloncat ke dalam pelukannya, disela tangisanku terus berulang-ulang ku ucapkan rasa terimakasih ku pada anak ini, "Terimakasih! Terimakasih banyak! Maafkan aku..Huuuuu!!!"


Akhirnya...aku bebas.


...****************...


Aku dengan senang hati membawa bocah ajaib itu bersama dengan teman-temannya ke dalam markas serta memperkenalkan diriku. Meskipun beberapa anak buahku mencoba membuatnya ketakutan, bocah itu hanya terus tersenyum dan tetap mengikuti ku hingga ke ruanganku.


Sesampainya di ruangan ku, aku menyandarkan punggungku di samping meja dan menatap mereka. Aku menyilangkan tanganku dan melihatnya, "Jadi...apa rencanamu, bocah? Josh Blackspade ingin kepalamu dan aku berhutang cukup besar padamu. Apa aku harus menyingkirkan Josh? Dia sebenarnya dompet dari organisasi kami...jadi aku sedikit ragu untuk menyingkirkannya." Mendengar kata-kata ku pelayan itu mengerutkan dahinya dan membuka mulutnya, "Perhatikan ucapanmu, dia adalah Pangeran Kyle. Jangan bicara seperti itu lagi atau aku akanㅡ"


"Kau akan apa? Aku dapat mencincang mu dengan mudah seperti ikan," potong ku sambil menyeringai.


Pelayan itu langsung mengeluarkan dagger nya lagi dan menatap tajam padaku, "Aku akan dengan senang hati untuk memberi mu permainan baru." Aku melihat dagger itu dengan seksama dan mengangkat daguku sambil tersenyum lebar saat baru menyadari bentuk dagger itu.


Pantas saja aku pernah melihatnya...


"Ahhh, kamu adalah salah satu budak Kerajaan kita? Pantas saja kamu terlihat sangat kuat...dilatih keras oleh Kerajaan toh? Tunggu... kamu menjadi pelayan Pangeran di Kerajaan Heart? Ohooo, sungguh menarik.."


Melihat reaksi wanita pelayan itu membuatku senang, dia terpaku dan akan memakan ku hidup-hidup namun bocah itu menyela kami, "Sudah cukup kalian berdua, jika ingin dekat denganku, saling akur saja."


Hah ?


Apa maksudnya dengan aku ingin dekat dengan bocah ini ?


Dia segera mengibaskan tangannya dan langsung melanjutkan, "Aku ingin menjadi donatur untuk organisasi ini, Raven...tapi biarkan aku meminta tolong dan memberi mu beberapa tugas, bagaimana?"


Aku sontak tertawa, "Kau yakin? Kukira kau akan mengambil gang ini dan ingin menjadi pemimpin? Aku penasaran bagaimana yang lain akan lakukan jika tahu bahwa pemimpin mereka adalah seorang bocah." Ucapanku hampir membuat dagger di tangan pelayan itu melayang lagi namun dicegah oleh bocah itu dengan cepat.


Bocah itu menaruh 10 bungkus penuh dengan kepingan emas entah darimana ke atas meja yang membuat ku dan anak buahku sempat berhenti bernapas. Aku akhirnya meneguk ludahku dan memperhatikan bocah itu baik-baik, "...kamu tidak bercanda?? Kamu benar-benar akan membiarkanku untuk tetap menjadi pemimpin setelah kamu mengeluarkan uang sebesar itu hanya untukku gunakan pada gang?!!" kurasa suaraku sudah bergetar hebat.


Dia menganggukkan kepalanya dan menoleh pada Night, "Benar sekali...Night, lanjutkan rencananya dan beritahukan pada Raven. Kita dapat menggabungkan keduanya...oh iya!" Dia merapalkan suatu mantra sihir ilusi yang merubahnya menjadi pria tinggi berumur 20-an. Rambutku nya yang hitam berubah menjadi warna merah gelap dan juga matanya menjadi berwarna hijau gelap.



OHHH, dia terlihat tampan sekali...


Aku memecah keheningan dengan tertawa pelan sambil melihat nya dari atas ke bawah, "Oho! Sekarang bocah ini sudah berubah menjadi seorang pria yang tampan!"


Sebelum wanita pelayan itu memarahiku, bocah yang kini menjadi pria tampan langsung berkata, "Mulai saat ini, kalian akan mengenaliku sebagai...hmm..'Akai' saja. Sehingga identitas ku sebagai Pangeran tidak ketahui banyak orang."


"Akai?" Aku tersenyum dan langsung meraih lengannya dan memeluknya dengan erat, "Tadi aku sedikit ragu karena kamu adalah bocah, sekarang sepertinya kita dapat mendiskusikan caraku membayar hutang padamu 'berdua', bagaimana?" Aku mengatakan itu sambil berbisik dengan nada menggoda yang langsung diberi tatapan dingin oleh si wanita pelayan yang sepertinya benar-benar akan membunuhku hanya dari pandangannya saja.


Ahahaha, ini semakin menarik..


Kyle menaruh jari telunjuknya di atas bibirku dengan lembut dan mengedipkan sebelah matanya pada wanita pelayan itu. "Kalian berdua akan mendapat waktu kalian denganku nanti di masa depan...sekarang biarkan aku kembali ke kastil untuk menyusun rencana mengurus Josh dan Blackspade... Raven, aku dapat bergantung padamu kan?"


Oh, apakah dia tipe yang tidak cukup hanya dengan satu saja? Aku beruntung~


Aku langsung tersenyum lebar dan memeluk lengannya lebih erat, melihat itu wajah pelayan itu semakin terlihat gusar. "Kamu dapat menyerahkan semuanya padaku, katakan apa yang kamu inginkan?" suaraku sekarang mungkin akan terdengar sangat menggoda dan lembut.


"Ini cukup mudah, aku ingin kamu dan para anggota lainnya membebaskan semua budak yang ada di Cyrus."


Apa karena dia masih bocah dia ini naif ?


"Itu sangat tidak mungkin."


Aku melepas pelukan ku dari lengannya, berjalan kembali ke depan meja dan mengangkat satu bungkus kepingan emas sebelum melempar dan menjatuhkan kepingan-kepingan emas itu ke tanah. Melihatku, Kyle tersenyum dan berjalan menghampiriku dan duduk di kursiku.


"Aku tahu itu," jawabnya dengan singkat dan aku mengangguk sebelum melanjutkan, "Tentu saja, tak peduli sebanyak kepingan emas yang akan kamu berikan pada para penjual budak ataupun satu persatu Raja kamu berikan uang-uang ini. Tidak ada gunanya, tawanan dan para budak yang berasal dari keluarga miskin ataupun orang telah dijual akan tetap ada."


Tentu saja aku tahu mengapa dia seperti itu, dia pasti memiliki bekas luka selama menjadi budak Kerajaan.


Setelah menghela napas, Kyle berkata, "Aku tahu ini sedikit lebih tidak masuk akal dan akan merepotkan... bagaimana kalau kita memperkerjakan semua penjual budak?"


"Maksudnya?" aku mengangkat sebelah alisku. Dia terdiam sesaat sebelum melanjutkan, "Sama seperti yang kulakukan padamu, kita berikan donasi pada setiap penjual budak sehingga saat mereka menangkap dan mengurung budak, setidaknya mereka dapat mengurusi budak itu dengan baik...tentu saja dengan pengawasan dari pihak kita... begitupun ketika budak itu dibeli...aku ingin memberikan semacam jimat sehingga pembeli budak tidak dapat bersikap semena-mena pada budak itu... merepotkan bukan? Banyak lubang di dalam rencana ini.."


"Seperti, bagaimana jika para penjual budak itu berbohong ataupun akan ada pemberontakan dan semacamnya...", Dia kemudian melanjutkan lagi dengan muram.


Aku akhirnya bertanya, "Memangnya kenapa kamu ingin menyelamatkan para budak-budak yang tidak ada hubungannya langsung denganmu?"


Kyle terdiam namun tatapannya terarah pada pelayan itu yang akan membuka mulutnya namun dia mengatupkan nya lagi.


Ohhh...


Aku langsung menyeringai, "Ohoo, begitukah? Aku merasa sedikit iri dengan pelayan ini..."


Kyle langsung menggelengkan kepalanya, "Bukan hanya untuknya...mungkin..aku berharap untuk mengumpulkan banyak individu individu yang berpotensi untuk berkembang menjadi lebih kuat..." ucapannya itu membuatku sontak terperangah.


"Jangan bilang kamu akan membuat pasukanmu sendiri dimulai dari anggota-anggota ku?" tanyaku.


Dia mengangguk secara perlahan, "Mungkin ini terdengar tidak masuk akal...tetapi dibalik ini semua sepertinya ada satu pihak yang ingin menghancurkan semua Kerajaan di Cyrus ini...pihak itu jugalah yang ada kaitannya dengan kutukan kamu, Raven."


Aku terdiam sebelum memerhatikan setiap orang di dalam ruangan ini.


"Kita perlu berbicara.." aku akhirnya membuka mulutku. Kyle menganggukkan kepalanya dan menoleh pada pelayan dan Night. Night menganggukkan kepalanya dan pamit untuk pergi melanjutkan tugas sedangkan pelayan itu menghampiri Kyle namun matanya terus terarah padaku yang ku tatap balik.


"Tuan...apakah Tuan benar-benar harus berbicara berdua dengan 'gadis' ini?" tanya pelayan itu sambil menunjukkan wajah mengancamnya padaku, Kyle langsung berdiri dari kursinya dan menghampiri pelayan itu.


Pelayan itu melongo dan Kyle memegang tangannya dengan erat, "Kami hanya berbicara saja, tidak akan lama. Tenanglah dan tunggu aku diluar ya?"


Ohoooo...


Wajah pelayan itu sempat memerah sebelum menggenggam erat tangan Kyle kembali. Lalu pelayan itu menghela napas panjang sebelum menganggukkan kepalanya perlahan. Sambil tersenyum pada Kyle dan menatap tajam padaku, akhirnya dia berjalan keluar dari ruangan dan menutup pintunya.


Aku langsung tersenyum menyeringai pada Kyle, "Jadi, kau sudahㅡ" sebelum aku melanjutkan ucapanku dengan mengangkat telapak tanganku untuk menunjukkan suatu kode yang tidak sopan, dia menepuk belakang kepalaku dengan cepat.


"Ouch!" rintih ku terkejut.


"Berhenti berbicara yang tidak-tidak. Cepat ceritakan bagaimana kamu mendapatkan kutukan aneh itu..." balasnya sambil menduduki meja di sampingku.


Aku menarik napasku panjang-panjang, kemudian mengeluarkannya dengan sangat perlahan. Sambil menahan tangisanku, aku menatap ke arah kepingan emas yang ada di tanah dan memainkannya dengan ujung sepatuku, "Sepertinya kau sudah tahu aku ini bukan manusia", aku menoleh ke arah Kyle sambil mendengus dan mengangguk.


"Iya," jawabnya dengan singkat.


Ternyata dia memang sudah tahu ?


Aku menyeringai seraya menggumam sudah kuduga sebelum melanjutkan ucapanku, "Kau harus tahu bahwa ras sepertiku yang campuran sebenarnya adalah sebuah hal yang sangat tabu. Baik untuk manusia dan ras lainnya...dahulu sekali...terjadi perang besar dimana iblis akan menghancurkan Cyrus. Saat perang itulah kedua orangtuaku bertemu karena mereka berdua sama-sama petualang. Saat Hero dari Kerajaan Spade berhasil membunuh Ratu Iblis, semua pasukan Iblis langsung menghilang begitu saja selain para monster yang hidup di dungeon yang entah kenapa tidak ikut menghilang." Aku berhenti sesaat.


"Kala itu, ibuku yang merupakan seorang Elf mengandungku saat dia sedang sakit...sakit yang tidak diketahui...banyak yang bilang itu ulah dari Dark Magic tetapi ayahku menyangkalnya karena dia mengenal Dark Magician ataupun Dark Witch bukanlah orang yang akan menggunakan kekuatan mereka untuk membunuh orang yang tak bersalah..."


Aku menghela napas lagi, kini suaraku mulai terdengar semakin parau, "Ketika ibu melahirkan ku, dia meninggal. Aku terlahir dengan kutukan itu semenjak lahir. Ayah harus selalu berpindah-pindah tempat tinggal agar aku tidak membunuh orang di waktu aku tidur. Waktu itu, yang kuingat hanyalah aku menyerang seseorang dalam mimpi dan saat aku terbangun...darah ada dimana-mana, di bajuku..tanganku...dan yang terakhirㅡ"


Aku menatapnya, "ㅡyang terakhir aku akhirnya membunuh Ayahku sendiri dengan tanganku." Kyle terdiam dan setelah beberapa saat di tidak terlihat akan membuka mulutnya, aku melanjutkan, "Setelah itu, aku melanjutkan jejak ayahku, pergi ke sana kemari dan pada saat aku menemukan beberapa bandit yang akan menyerang ku, mereka berakhir menjadi bawahanku dan aku menciptakan Gang ini agar saat aku merasa aku harus membunuhㅡ" ucapanku terhenti.


"Saat kamu harus membunuh anggota Gang sudah menyiapkan korban yang dibunuh dari pekerjaanmu sebagai pembunuh bayaran?"


Aku mengangguk dan mulai membereskan kepingan emas yang tadi ku buang ke tanah, Kyle mengikuti ku dan membantuku. Sikapnya membuatku tersenyum dan aku terus mengambil satu-persatu kepingan emas sebelum memasukkannya ke dalam kantong. "Aku tidak tahu bagaimana malapetaka sepertimu malah berakhir menolongku tetapi aku sangat berhutang padamu... terimakasih banyak," aku mendongak pada Kyle dan tersenyum padanya sebelum kembali mengambil kepingan emas dari bawah meja.


"Oh, menurutku rencana mu yang merepotkan itu, yang menggunakan uang untuk meyakinkan para penjual budak agar memperlakukan budaknya dengan baik dapat kucoba, tetapi itu akan berjalan sangat lama...kamu akan baik-baik saja soal itu?"


Aku bertanya saat kami selesai membereskan semua kepingan emas itu. Dia menganggukkan kepalanya dengan perlahan, "Itu tidak masalah."

__ADS_1


Setelah beberapa saat kami terdiam, Kyle tiba-tiba saja tertawa keras dan aku menatapnya dengan nanar, "Kamu tiba-tiba tertawa sendirian lagi, apa sebenarnya kamu ini gila?"


Dia menggelengkan kepalanya dan seakan melamun sesaat sebelum aku menyadarkannya, "Hei, Akai?! Bocah? Kenapa kau melamun sekarang?" Aku menepuk pundaknya dengan keras sehingga lamunan dia akhirnya buyar.


Kyle menganggukkan kepalanya, "Maafkan aku. Kalau begitu soal budak aku serahkan padamu...dan ikuti perintah Night nanti setelah dia menyelesaikan tugasnya karena anggotanya akan digabungkan dengan anggota Gang mu."


Aku terdiam beberapa saat setelah mengangguk dan bertanya, "Malam ini aku harus bertemu dengan Josh Blackspade di suatu bar di kota. Bagaimana ini? Aku tidak bisa membawa kepalamu sehingga dia akan marah besar..."


Dia menyeringai, "Kalau begitu, biar aku pergi denganmu sebagai Akai...aku ada rencana."


Aku memiringkan kepalaku dengan tanda tanya yang muncul di atas kepalaku.


Dia memiliki rencana? Aku rasa aku akan menyukainya... rencananya maksudku.


...****************...


Malamnya, menunggu Kyle di depan suatu bar yang terpencil dimana aku akan bertemu Josh Blackspade. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Akai muncul juga, "Bahkan untuk mengetahui jika kamu sudah mati atau tidak, Josh Blackspade sengaja pergi ke Kota Heart untuk menemui ku. Kuharap apapun rencanamu tidak akan menyebabkan masalah besar, sebenarnya aku tidak ingin mengotori tanganku dengan darahnya," bisik ku dengan kerutan di dahiku. Setelah itu aku melihatnya dari atas kebawah sebelum tersenyum menyeringai, "Sebaiknya kita selesaikan urusan kita dengan Josh lebih cepat agar aku dapat berkencan denganmu," lanjutku sambil mengelus lengannya.


Akai tersenyum menyeringai dan langsung menggenggam tanganku yang baru mengelusnya sehingga membuatku terkejut, "Bersabarlah, aku akan pastikan waktu untukmu akan datang, oke?" melihatnya yang berani balik menggodaku, aku akhirnya hanya menggelengkan kepalaku sambil tersenyum dengan wajah memerah.


Kami pun memasuki bar yang ternyata sepi dan hanya ada Josh yang sedang duduk sambil menegak botol minuman. Dia menoleh ke arah kami dan dahinya mengernyit seketika. Aku berusaha tersenyum dan berjalan menghampirinya, Akai berjalan mengikutiku dari belakang.


Saat kami sudah berada di dekatnya, tercium bau alkohol dari tubuhnya. Dia dengan kesal mengatakan, "Red Eye? Aku tidak melihat kepala Pangeran di tanganmu... apakah kamu akan bilang jika kamu gagal lagi seperti pembunuh bodoh lainnya?!"


Lihatlah siapa yang bodoh disini....


Aku menahan amarahku dengan kepalan tanganku yang semakin menguat, "Josh, sebelum itu...aku ingin memperkenalkan mu dengan salah satu rekanku bernama Akai."


Akai tersenyum pada Josh yang sepertinya baru saja menyadari keberadaannya, "Akai? Hm, kamu memakai baju yang terlihat mahal, apakah kamu adalah bangsawan? Apa nama keluargamu?" tanya Josh dengan mata yang mencoba menilai penampilan Akai. Akai langsung menyodorkan tangannya sebelum berkata, "Bagaimana jika..kamu menyebutkan dahulu namamu baru kamu menanyakan hal seperti itu?"


Josh mendengus keras dan mengambil tangan Akai sebelum memerasnya dengan sangat kuat, "Kamu tidak tahu?! Aku ini Josh Blackspadeㅡ"


Aku melihat bagaimana Akai dengan mudah meremas kembali tangan Josh dengan kekuatan yang lebih kuat sambil dirinya terkesiap karena terkejut oleh sesuatu...aku tahu dia memiliki kekuatan yang tersembunyi...


Bagaimana anak seperti dia memiliki kekuatan seperti itu.


"ㅡOUCH," rintihan Josh terdengar dan aku tidak melihat wajah Akai bagaimana. Dengan geram Josh melotot sambil berteriak, "Beraninya kamu?! Lepaskan tanganku!! Akan kuㅡARGH!" saat itu aku mendengar seperti ada suara yang remuk dan Akai langsung melepaskan genggaman tangannya sehingga membuat Josh terjatuh dan melihat ke arah tangannya yang memerah.


Josh menggeram dan sebelum sempat merapalkan sihir apinya, Akai langsung mencekik lehernya dan mengangkatnya hingga wajahnya berada di hadapannya.


"Ohok...si...siapa..ohok..ka..kau?!" seru Josh dengan mata memerah dan tangannya mencoba melepaskan cekikan Akai yang terlihat sangat erat. Meskipun aku sudah sering membunuh banyak orang, entah mengapa tubuhku mulai bergidik.


Aku mendengar Akai berbisik, "Sudah kubilang aku ini Akai. Sepertinya kamu cukup mabuk? Bagaimana jika aku membuatmu kembali segar?" Josh membelalakkan matanya dan berusaha menggelengkan kepalanya dengan cepat dan wajahnya yang sebelumnya sangat merah menjadi pucat pasi, "Tidak...tidak...tidak...ohok... ampuni...ampuni saya, Tuan Akai...ohok....tuan...ampuni...ohok!" Josh mulai meminta maaf saat cekikan dari Akai menguat karena suara Josh terdengar sangatlah menyedihkan.


Tiba-tiba Akai langsung melemparnya duduk kembali ke atas kursi yang membuat ku bergidik lagi. Apakah dia semarah itu ?


"Ohok ohok ohok!!!" Josh mencoba menarik napas kuat disela batuk nya. Akai langsung duduk di hadapannya yang membuatnya sedikit meringkuk, "Tidak perlu takut, aku hanya datang kesini untuk menawarkan sesuatu padamu..." sesaat Josh terlihat ragu namun dia langsung mengangguk-anggukkan kepalanya, "Baiklah! A..apapun akan ku terima! Ampuni aku...aku tidak ingin mati!" teriaknya memohon dengan pasrah.


"Katakan padaku, apa urusanmu dengan membunuh Pangeran bajingan itu?" Akai bertanya dengan tenang namun tangannya bersandar di bahu Josh. Dengan tubuh yang bergetar dan Josh mencoba menjawab, "Itu..itu...itu..karena...karena Pangeran bajingan itu sudah mempermalukan adikku...iya...karena dia sudah mempermalukan adikku di depan banyak orang...aku ingin membalasnya..."


Akai menganggukkan kepalanya dan berbisik, "Bagaimana jika Pangeran itu memintaku untuk membunuhmu disini sekarang?" Josh langsung berlutut di kaki Akai, "Tolong aku hanya melakukan apa yang dikatakan adikku! Bukan aku, bukan aku pelakunya! Adikku! Adikku yang ingin Pangeran bajingan itu mati! Iya, datangi saja adikku!"


Beraninya dia menyalahkan adiknya oleh kesalahannya sendiri... bukannya dia yang memulai semuanya ?


Menggerutu dalam hati, akhirnya aku melihat Akai menepuk-nepuk pundaknya, "Tentu saja aku bercanda, kubilang aku ingin menawarkan sesuatu padamu. Kudengar kota Blackspade sedang membutuhkan donasi karena banyak hasil panen yang gagal?"


Josh langsung menganggukkan kepalanya dan menatap Akai dengan mata berbinar-binar, "Apakah tuan akan berdonasi pada kotaku?!"


Akai tersenyum lebar, "Tentu saja! Tapi dengan satu syarat." Josh dengan senang berdiri dan menganggukkan kepalanya.


"Apa itu syaratnya, Tuan?"


"Katakan pada adikmu untuk berhenti mengganggu Pangeran Bajingan itu hingga dia dapat bertemu dengannya di Unity Academy... hanya itu."


Bukannya bocah itu akan tetap diganggu cuman dia mencoba mengulur waktu...


Josh terdiam sesaat tapi langsung mengangguk-anggukkan kepalanya, "Tentu! Akan ku sampaikan pada adikku! Akan ku pastikan tidak akan ada yang mengganggu Pangeran bajingan itu sampai mereka bertemu di Unity Academy!"


Akai menganggukkan kepalanya dengan puas sebelum melempar tiga kantong kepingan emas dan perak. Mata Josh langsung membelalakkan matanya dengan senang, "Itu bayaran pertamamu, aku akan terus berdonasi setiap bulannya...jika aku mendengar bahwa kotamu masih kesulitan...akan ku datangi lagi kamu," seru Akai dengan santai.


Tampang Josh tiba-tiba pucat pasi lagi sebelum menganggukkan kepalanya dengan kaku, "Ba..baik, Tuan! Terimakasih atas kemurahan hatimu, Tuan!" Dia menundukkan tubuhnya 90°.



Setelah keluar dari tempat itu, aku ingin mengatakan sesuatu pada Akai namun akhirnya aku mengurungkan niatku setelah melihat wajahnya yang seperti itu. Aku kemudian langsung berjalan pergi dengan mendapatkan tatapan kebingungan darinya.


Sebaiknya aku pulang cepat sebelum dia marah juga padaku...


...****************...


Saat aku sedang bermain papan catur dengan Night, tiba-tiba Akai muncul dari sudut ruangan dan memperhatikan kami.


Aku langsung mendorong jatuh papan catur itu seakan mencoba menyembunyikannya dan dia memandang kami dengan wajah masam, "Kuharap pekerjaan kalian sudah selesai?" Night membalas dengan anggukan sedangkan aku hanya terkekeh dan langsung melompat ke lengannya untuk memeluknya.


Oh, dia tidak menepisku...


Aku langsung berbisik pelan dekat dengan daun telinga nya, "Biarkan aku libur? Aku baru saja terbebas dari kutukanku dan kemarin aku baru saja melihat sesuatu yang sadis."


"Tidak masalah," dia membalas dengan mengangguk singkat dan berjalan ke arah Night sambil membiarkan ku terus merangkul lengannya. Night melihatku dan berpikir sesaat sebelum membuka mulutnya, "Kuharap Tuan tidak membiarkannya terus berleha-leha. Meskipun anggota kita sudah cukup kuat, untuk dapat melawan pasukan Iblis ini masih belum cukup, Tuan."


Beraninya kamu mengatakan ku seperti itu, Night! Akai memberikan sesuatu pada Night. Dia memandanginya dengan penuh tanda tanya, "Apa ini Tuan?"


"Itu untuk latihan, tekan tombol merah untuk menciptakan Illusion yang berada di dalam Dungeon. Tenang saja, jika mereka mati di dalam sana mereka tidak benar-benar mati."


Mata Night berbinar dan langsung pamit untuk memberitahukan itu pada yang lainnya, melihat Night yang pergi keluar sambil membawa papan catur. Aku membuka mulutku setelah Night menutup pintu, "Jadi...akhirnya kita berdua disini."


Akai menggelengkan kepalanya sambil tertawa dan pergi duduk di kursiku yang sudah kuganti menjadi kursi tahta. Aku dengan santai duduk di atas pangkuannya.


"Itu ada tempat duduk yang lain?" sahut Akai sambil menunjuk kursi dimana Night duduk sebelumnya, aku menggelengkan kepalaku dan bersandar padanya.


Ahahaha, dia terlihat tenang dan tidak melakukan apapun...


Tiba-tiba Akai mengusap kepalaku, daun telinga ku sedikit bergerak. Aku melirik ke arahnya dan semakin mendorong tubuhku ke arahnya agar mendapat elusan, "Ugh..kau cukup berat ya?" sahutnya yang aku balas dengan injakan kaki.


"Beraninya kamu menghancurkan suasana yang romantis ini," gerutuku.


"Bagaimana dengan perkembangannya? Sudah menemukan beberapa penjual budak? Apakah Josh mengganggumu?" tanyanya sambil terus mengelus kepalaku.


Aku menggelengkan kepalaku, "Belum terlalu banyak...para penjual budak itu cukup licin...sebaiknya mereka bertemu denganmu dahulu baru kita mendapatkan mereka. Josh tidak menggangguku dan Gang ini lagi... sepertinya kamu benar-benar menakutinya kemarin malam."


Dia menyeringai dan berbisik, "Apa aku menakuti mu semalam?"


Aku bergidik dan menoleh ke arahnya dengan wajahku memerah, "Sedikit...tapi setidaknya itu menyadarkan ku untuk tidak boleh berada di sisi berlawanan denganmu..."


Kalau dia...mungkin...


Dia langsung tertawa dan mengelus lagi kepalaku sebelum aku berbisik di telinganya dengan lembut, "Awalnya aku hanya ingin bermain-main denganmu... tapi sepertinya aku akan merubahnya.." mendengar itu Akai tertawa kecil dan menghela napas sambil mendengarkan aku yang kembali berceloteh tentang beberapa anggota terdekat nya yang terkejut bahwa aku memiliki kutukan.


Setelah beberapa jam berlalu, Akai akhirnya pamit padaku dan berpesan jika aku tidak perlu memaksakan diriku dalam melakukan apa yang dia minta.


Ahahaha, baru kali ini kudengar ada yang khawatir denganku sama seperti Ayah...


Mendengarnya membuat ku langsung tertawa cekikikan dan memeluknya sebelum mengecup pipinya agak lama dengan sengaja. Aku pun menitipkan pesan untuk wanita pelayan itu, "Katakan padanya aku juga tidak akan kalah," mendengarku Akai menggelengkan kepalanya dan bilang tidak akan menyampaikan nya agar tidak membuat wanita pelayan itu marah padaku.


Aku hanya mengedikkan bahuku dan memintanya untuk sering pergi mengunjungi ku yang langsung dia setujui.


Dia melambaikan tangannya sebelum menghilang begitu saja...


Hehehehe, aku sudah tidak sabar untuk bertemu lagi dengannya nanti...

__ADS_1


......................


...「 Interlude VII. Raven's Heart 〈 selesai 〉」...


__ADS_2