CHANCES - Battle Of Heart : Online

CHANCES - Battle Of Heart : Online
Chapter 14. Is That You, Atla?! No? Well..


__ADS_3

...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️ 』...


Previously:


Aria berdiri di sudut atap Gereja tertinggi di Kota Heart, dia tertawa sambil mengepakkan sayapnya yang tertiup angin.


"Akhirnya, Ratuku. Sepertinya saya sudah mendapatkan informasi terbaru tentang orang yang Ratuku cari..."


Tinggal dimana aku dapat menemukannya ?


...****************...


SWISSSHHHH


Kali ini, kecepatan Nina cukup membuatku bergidik tak ada hentinya. Setelah mengangkat tangan, akhirnya latihan kami diakhiri. Aku memberikannya coklat lagi dan menunjuk ke atas kertas yang sudah ku gambari, "Aku tahu karena kecepatan mu itu sebenarnya berada di atas dari tingkat yang tertera di dalam statusmu, sebaiknya saat musuh akan dengan sengaja memintamu untuk mendekatinyaㅡ"


Ternyata status juga dapat dilihat orang lain. Meskipun untuk melihat hal seperti itu memerlukan sebuah benda khusus yang sudah diberi sihir mirip clairvoyance. Dalam Kerajaan Heart sendiri, benda itu di sumbangkan ke barak dan ke Unity Academy.


Kudengar pembagian kelas disana menggunakan benda itu untuk mengukur seberapa besar kuatnya seseorang, sehingga orang yang kuat terlihat dari kelas yang ditempatinya. Tentu saja kelas A adalah yang terkuat. Biasanya kelas itu ditempati oleh anak-anak keluarga Kerajaan, anak-anak bangsawan, dan orang biasa yang terpilih.


Kesampingkan hal yang masih lama, aku menyelesaikan penjelasan ku dari Nina yang sudah kelelahan. Setiap dia menggunakan kelincahan yang berada di atas rata-rata dari statusnya, dirinya akan mudah kelelahan. Bahkan aku tidak tahu itu, dan tidak ada yang baru tertulis di statusnya. Apakah hal yang mungkin dapat dilakukan namun tidak akan terdata oleh status ?


Sepertinya aku harus lebih berhati-hati dan jangan langsung menilai orang-orang ini dari status mereka...kalau ada kemampuan yang tidak tertera dalam status mereka...


Sepertinya aku harus bertemu lagi dengan Xarx...entah mengapa dia sepertinya sangat mencurigakan tetapi tidak juga disaat yang bersamaan...ahh, ini sangat memusingkan..


Setelah menyelesaikan sarapan, aku mengajak Nina untuk mengikuti ku dan Raven bertemu dengan Xarx. Awalnya dia ragu untuk mau ikut denganku ke sebuah tenda penjual budak namun pada akhirnya dia ingin ikut juga. Aku menjadi sedikit kasihan padanya namun mungkin dia dapat memberitahuku sesuatu mengenai Xarx yang tidak Raven ketahui. Setelah menemui Raven yang langsung terlibat dengan perang tatapan tajam dengan Nina, kami akhirnya bergegas menuju tenda biru milik Xarx.


Pria yang arogan kemarin juga membiarkan kami lewat begitu saja, di dalam tenda, wajah Nina mulai pucat pasi begitu melihat tenda biru itu namun dia menenangkan diriku dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Derap langkah kaki Xarx terdengar mengarah pada kami.


"Oh! Tuanku! Anda sudah kembali dengan sangat cepat! Ah, kali ini Tuanku membawa wanita lainnya? Tuanku ini orangnya sangat bersemangat ya?" celoteh Xarx tanpa henti yang cukup membuat Nina memandanginya dengan tajam sedangkan Raven hanya mengangkat kedua bahunya tidak peduli.


"Baiklah, kelihatannya kamu sudah menggunakan uang kuberikan dengan baik..." ucapku sambil melihat sekeliling tenda. Bebauan yang beberapa hari lalu kucium sudah tidak ada lagi dan jeruji itu terlihat tertata rapi dan tatapan menyedihkan setiap budak tidak seperti sebelumnya...masih ada tapi tidak terlalu banyak.


Xarx terkekeh dan menggosok-gosokan telapak tangannya sambil ikut melihat sekeliling sama sepertiku, "Tentu saja, saya ini orang yang sangatlah loyal untuk Tuanku! Saya tidak ingin menjadi musuh Tuanku tentu saja dan hal ini bukanlah seberapa dengan uang yang Tuanku berikan. Dilihat dari keterlibatan Tuanku dengan Red Eye Gang, apakah berkurangnya para bandit dan gelandangan di Kota Heart adalah ulah Tuanku?" tanyanya penuh selidik.


Aku menggelengkan kepalaku dan hanya tersenyum pada Xarx yang balik tersenyum padaku, sebelum dia terkesiap seakan ingat akan sesuatu, "Benar juga! Apakah Tuanku datang kemari untuk melihat budak berkualitas terbaik yang saya miliki?!" tanyanya dengan bersemangat hingga asap mulai terbentuk dari gosokkan telapak tangannya sebelum dia mengelap keringat yang mengalir dari dahinya.


Dia ini terlalu sering berkeringat dibalik tubuh gemuknya. Apa dia ini baik-baik saja ?


Nina memperhatikanku seperti bertanya apakah aku akan membeli budak, aku membalas dengan mengangkat bahu dan menoleh lagi ke arah Xarx yang sepertinya melihat pembicaraan gestur kami. Giginya mencuat keluar di balik seringainya.


"Bagaimana Tuanku? Lihat saja dahulu! Baru putuskan kemudian...pasti Tuanku akan terkejut karena budak ini begitu spesial!"


Aku bertukar pandang dengan Raven dan Nina sebelum menganggukkan kepalaku pada Xarx, "Baiklah, mari kita lihat bagaimana...budak...yang kamu sangat banggakan itu."


"Mari ikuti saya, Tuanku!" Xarx langsung berjalan melewati kami menuju sebuah lorong jeruji besi yang mengarah ke sudut tenda. Nina berbisik, "Aku tahu namanya karena penjual budak yang waktu itu menjual ku di Spade sangat mengidolakannya. Tuan yakin akan percaya orang seperti ini?"


Aku menganggukkan kepalaku begitupun dengan Raven, "Dia sangat senang dengan uang, dia tidak akan berbelot jika uang kita berikan padanya tidak sedikit...lagipula sepertinya dia sangat menyukai Akai," jawab Raven sambil bergidik.


Aku tertawa dalam hati dan mulai mengikuti Xarx yang sudah berjalan cukup jauh. Benar juga, terkadang dia melihatku seperti...ugh.


Aku ikut bergidik tiba-tiba dan Xarx yang sudah di sudut tenda tersenyum pada kami, "Perhatikan!" sahutnya sambil menarik sebuah tuas dan tangga menuju ke bawah tanah muncul begitu saja dari balik tanah di dalam tenda ini. Xarx tersenyum padaku dan berjalan turun dari tangga itu, aku mengikutinya. Begitu sampai dibawah aku mencium bau apek namun juga bau dedaunan basah dan tanah.


Sekeliling tempat itu hanyalah sebuah jeruji besi yang lebih besar daripada jeruji yang ada di atas tempat ini. Sebuah kain besar berwarna merah menutupi depan jeruji itu namun siluet seseorang terlihat dari balik jeruji besi itu. Meskipun suara langkah kami yang mendekatinya menggema seisi ruangan, seseorang itu masih diam dan begitu ku perhatikan, dari siluetnya kedua tangan orang di rantai dengan posisi menggantung.


Xarx tersenyum pada kami yang sedikit agak ragu, bahkan Nina berusaha menahan ekspresinya lebih dari pada saat biasanya. Raven terlihat lebih tenang namun sepertinya dia cukup penasaran dengan seseorang dibalik jeruji itu. Xarx berbisik padaku, "Saya harap Tuanku akan terkejut dengan ini. Karena dia cukup spesial dibandingkan dengan semua budak lainnya. Bahkan hampir semua para bangsawan ingin memilikinya namun saya menolaknya meskipun mereka menawarkan hingga 20 kantung kepingan emas dan perak," mendengar harga yang sangat fantastis itu membuat Raven melongo.


Aku menganggukkan kepalaku, "Baiklah, sepertinya budak ini sangatlah spesial."


Xarx hanya tersenyum menyeringai mendengar jawaban singkat ku, lalu dia menarik tuas yang entah muncul dari mana sehingga menimbulkan bunyi yang kuat dan dengan perlahan kain merah itu terangkatㅡ


Kau tahu saat bagian slow motion saat tokoh utama pria dan tokoh utama wanita bertemu dalam sebuah pertemuan dramatis...


Ini terjadi pada kami semua, begitu kain merah itu tersingkap...selain senyuman lebar dari Xarx, aku, Nina dan Raven terkesiap.


Dalam jeruji besi itu, terikat seorang setengah manusia setengah...macan putih? Menatap kami dengan pandangan...kesal (?). Meskipun dia memiliki telinga manusianya namun terlihat juga telinga khas macan yang mencuat di atas kepalanya. Ekornya yang berwarna putih dengan corak lingkaran hitam terlihat terjatuh di atas tanah.



Rambutnya yang berwarna putih silver terlihat berkilauan dengan matanya yang berwarna biru langit...melihatnya mau tidak mau aku langsung menggumam, "OHHHHH!!! Apa kamu Atla?! Bukan ya? Kalau begitu..."


...「Status」...


【 Nama: Bukan Atla (Belum Diketahui) 】

__ADS_1


【 Usia: 14 tahun 】


【 Gelar: Putri Kerajaan (ERROR) 】


【 Nama Asli: ??? (Level belum mencukupi) 】


【 Level: ?? 】 (ERROR )


【 Okupasi: Budak Berkualitas 】


【 Ras: Manusia Setengah Macan Putih 】


【 Kekuatan: 82(A) / Potensi A 】 (ERROR )


【 Kesehatan: 82(A) / Potensi A 】 (ERROR )


【 Kelincahan: 84(A) / Potensi A 】 (ERROR )


【 Magis: 70(B)/ Potensi B 】 (ERROR )


【 Perlawanan Magis: 71(B) / Potensi B 】 (ERROR )


【 Rasa Suka: 0 (Normal) 】


【 Kepercayaan: 0 (Normal) 】


【 Bakat ?/? 】 (ERROR )


【 Skill ?/? 】 (ERROR )


ㅡapaa?


Sistem, baru kali ini aku melihat banyak sekali Error dalam status seseorang...apa ini?!


Kenapa juga namanya Bukan Atla?! Uhuhu...


Aku tahu dengan jelas dia bukan Atla yang sakit-sakitan, memiliki kakak bernama Fohl dan juga tidak butaㅡ Setidaknya dia juga masih hidup, Atla kan sudahㅡ


Sistem? Cepat jawab aku sebelum aku akan membocorkan cerita dari Kebangkitan si Pahlawan Tameng yang membahana!


...「Sepertinya macan putih ini sama seperti Host, sebuah entitas yang tidak seharusnya ada di Cyrus. Dia juga berasal dari dunia lain」...


...「Ada, buktinya saat ini Host sedang melihat hasil dari fenomena seperti itu」...


Aku langsung menepuk dahiku dan berusaha untuk tidak membalas dengan kasar,Ya, aku juga tahu itu, maksudnya tuh memang nya hal seperti ini sering terjadi ?


...「Tidak juga, mungkin karena Host sudah mengubah takdir di sekitar jalan cerita utama sekarang Host akan bertemu dengan hal hal mengejutkan lainnya..」...


Sebelum aku membalas Sistem, suara Xarx membuyarkan lamunanku, "Sepertinya Tuanku benar-benar sangat terkejut sampai tidak berkata apa-apa!" serunya dengan riang.


Raven berbisik pada Nina, "Aku benar-benar baru melihat ras setengah manusia dan setengah hewan. Bukannya di Cyrus tidak ada yang seperti itu?"


Nina membalas dengan anggukan, "Benar, saya juga baru pertama kali melihat ras seperti ini... benar-benar spesial."


Bahkan mereka menjadi akur karena gadis yang Bukan Atla ini adalah jenis lain dari ras yang pernah ada di Cyrus. Aku menatap kembali ke arah gadis yang Bukan Atla itu.


Dia menatapku balik dengan mata birunya.


"Siapa...kamu?" akhirnya aku bertanya.


Dia membuka mulutnya yang memunculkan gigi taringnya yang anehnya terlihat imut sebelum berkata dengan nada kesal.


"Memangnya peduli apa Lu sama nama Gue ?!" mulutnya berbicara dengan cepat dan aku langsung menengok ke arah Xarx yang tersenyum ragu. Xarx mengusap keringatnya sebelum mengatakan, "Saya sudah sebisa mungkin menerjemahkan kata-katanya namun sepertinya dia bukanlah individu yang berasal dari Cyrus ini. Saya tidak paham apa maksudnya. Itulah kekurangannya dari budak ini, dia tidak paham bahasa kita dan kita juga sama-sama tidak paham bahasanya."


Aku mengernyit, "Maksudmu..kamu tidak paham apa yang dia ucapkan tadi?" Xarx menggelengkan kepalanya, aku menoleh ke arah Raven dan Nina untuk bertanya hal yang serupa. Mereka sama-sama menggelengkan kepala mereka dengan ekspresi bingung.


Mereka tidak mengerti... jangan-jangan aku mengerti karena ada Sistem ?


...「Benar sekali」...


Terimakasih banyak Sistem, kasihan juga gadis yang Bukan Atla ini...


...「Host, sebaiknya anda segera menanyakan namanya sebelum saya bertanya siapa itu Atla?」...


Aku menoleh pada gadis yang sebenarnya bukan Atla ini dan kembali berkata, "Aku adalah Akai, cepat beritahukan namamu padaku juga agar aku bisa membebaskan kamu dari tempat ini."

__ADS_1


Dia terkejut dan akhirnya mengangguk, "Kalo Lo maksa gitu ya udah, Nama gue Bianca dé Blanc, gue udah kelamaan stuck disini dan jadi bahan tontonan orang-orang macam elu...gua gak tahu gimana caranya balik ke Kerajaan gue, uhuhu."


Aku memegangi kepalaku yang rasanya akan pecah karena pusing mendengarnya. Aku mengibaskan tanganku pada Xarx yang melongo melihatku sepertinya mengerti bahasa Budak Spesial dari Dunia Lain ini.


"Akan ku beli dia sebanyak 50 keping emas dan perak. Cepat bebaskan dia," sahutku yang membuatnya terperangah lagi sebelum membalas, "Tapi Tuanku, sebenarnya saya akan memberikannya secara gratis khusus untuk Tuanku?" Aku langsung menaruh 51 kantung kepingan emas dan perak yang hampir memenuhi ruangan bawah tanah ini.


Matanya yang kuning kini berkilauan dan air liurnya sempat menetes yang membuat para gadis bergidik. "Tidak masalah, ini hanya sebagai investasi saja dariku untukmu, Xarx."


"Ohhh, Tuanku sangatlah dermawan!" sahutnya sambil menggosok-gosokan telapak tangannya sebelum aku mengingatkannya untuk membuka jeruji besi dan ikatan besi yang ada pada Bianca yang mirip dengan Atla tapi dia bukan Atla...


...「Siapa sebenarnya Atla ini?!」...


Membiarkan suara Sistem di belakang kepalaku, setelah dilepas semua jeratan dan ikata besi yang ada dari tubuhnya. Bianca berjalan menghampiriku sambil mengelus-elus lengannya, ekornya bergerak ke kiri dan kanan, "Makasih banget dah. Akhirnya gue keluar juga, tapi lu kayaknya kaya banget ya? Lu bukan Sugar Daddy kan? Cewek-cewek ini tu cewek lu?" tanyanya sambil melirik ke arah Raven dan Nina yang memiliki ekspresi campur aduk.


Hmm, apa yang harus kulakukan ?


...****************...


Setiap harinya, beberapa prajurit Kerajaan berjalan mengitari sekeliling daerah Dark Forest menuju Red Harbor. Kali ini, sedikit berbeda karena sebuah Monster raksasa yang berbentuk seperti Orc keluar dari Dark Forest dan menyerang prajurit-prajurit yang sedang berpatroli itu.


Salah satunya berhasil kabur meninggalkan temannya yang sudah mati tergeletak tak berdaya menggunakan kudanya menuju barak Kerajaan. Beberapa saat kemudian, dia sampai dengan terengah-engah dan tubuh yang penuh dengan darah. Sebelum sempat teman-temannya bertanya ada apa dengannya, dia langsung berlari ke dalam ruangan dimana Gregory berada.


BRAAKK


Dia menerobos masuk ruangannya dengan terburu-buru, Gregory melihatnya dengan sedikit kesal, "Ada apa Prajurit? Bukannya sebaiknya kamu mengetuk dahulu sebelum masuk begitu saja?"


Prajurit Taen terengah-engah sebelum menelan ludahnya dan berkata dengan wajah pucat pasi, "Maafkan saya Komandan... Tapi..baru saja di sisi Selatan Dark Forest...King Orc baru saja muncul!"


"Apa katamu?!!" Gregory langsung meloncat dari kursinya dan mereka bergegas keluar ruangan. Gregory langsung memerintahkan beberapa pasukannya untuk ikut dengannya dan sisanya memberitahukan pada Raja agar dapat memberitahukan seisi kerajaan agar menghindari daerah sekitar Dark Forest.


Gregory menaiki kudanya dengan keringat dingin mengalir dari dahinya, "Sudah lama semenjak kemunculan monster di luar area Dungeon...apakah ini pertanda Ratu Iblis benar-benar sudah bangkit?"


Secepat mungkin, Gregory bersama Prajurit Taen dan 100 prajurit pasukannya langsung menuju tempat dimana King Orc itu berada. Sesampainya disana, mereka langsung menemukan King Orc itu yang sedang mengitari daerah Dark Forest dan langsung berlari menuju mereka. "Formasi Pertama!" teriak Gregory dan prajuritnya yang berada di belakang melaju kedepannya hingga berbentuk segitiga sambil mengangkat tombak mereka. Gregory menarik napasnya saat King Orc itu berlari semakin mendekat.


"SERANG!" teriakan Gregory menggema diikuti dengan teriakan semangat para prajuritnya yang langsung menghampiri King Orc itu dengan tombak yang terangkat dan kuda yang berderap dengan cepat.


"GRAAHAHHH," King Orc itu mengerang dengan sangat keras ketika puluhan tombak menancap ke atas tubuhnya. Akhirnya dengan cepat King Orc itu berhasil ditumbangkan tanpa mengambil korban jiwa dari prajurit yang begitu banyak.


Saat Gregory dan pasukannya akan bernapas lega, suara tawa memenuhi seisi Dark Forest di hadapan mereka semua. Wajah mereka semua langsung memucat dan Gregory memerintahkan para prajuritnya untuk bersiap-siap. Mereka mengamati seisi Dark Forest yang masih sepi dengan angin laut yang menerpa dedaunan sehingga pohonnya bergoyang-goyang. Beberapa lama kemudian, suara dentuman menggema di sekitar mereka diikuti dengan guncangan.


DUMM DUMM DUMMM


Kekekekekekekekㅡ


Dibalik pepohonan Dark Forest, perlahan-lahan muncul para goblin yang sangat banyak melebihi pasukan Gregory dan akhirnya dibelakang mereka terlihat sebuah batu raksasa yang berjalanㅡGolem, yang jumlahnya sangat banyak lebih dari 10 menurut perkiraan Gregory.


Setelah menelan ludahnya, Gregory meminta beberapa orang dari pasukannya untuk kembali ke kastil untuk memberitahukan pada Raja dan Dark Witch untuk menyalakan sihir pelindung terbesar untuk melindungi Kerajaan. Bagi Gregory, sepertinya hanya Kerajaan Heart saja yang akan terkena dampak dari para Monster ini...


Setelah melihat beberapa prajuritnya pergi untuk menyampaikan pesannya pada Raja, Gregory kembali memandang goblin yang berhenti berjalan mendekati mereka seakan menertawakan pasukan Gregory.


"Kita sudah berlatih sangat banyak untuk ini...UNTUK KERAJAAN HEART! AYO KITA HABISI MEREKA SEMUA DAN JANGAN TAKUT MATI! SERAAAAANGGG!!!" Gregory langsung menarik tali kekang kudanya diikuti dengan teriakan para prajuritnya yang tersisa.


Mereka langsung menuju ke arah kematian mereka yang disambut dengan tawa para goblin Dark Forest.


TRAANGGGG


ARRrrrrrghhhh


Kekekekekekekekㅡ


Suara erangan kesakitan dari prajuritnya, suara tawa dari goblin dan suara dentingan pedang mengisi kepala Gregory. Karena kudanya habis di serang oleh goblin, Gregory langsung menyerang goblin itu satu persatu.


Saat ada goblin yang meloncat ke arahnya dan dia hampir tertimpa oleh kawanan goblin itu, dia berhasil mendorong mereka dengan kekuatannya sebelum menancapkan pedangnya ke arah kepala goblin-goblin itu. Waktu seakan berjalan begitu lambat bagi Gregory, ketika dia berhasil membunuh banyak goblin, kawanan lainnya muncul dengan jumlah yang lebih besar dari sebelumnya, dan entah mengapa para Golem itu hanya diam berdiri seakan menunggu para goblin itu selesai menghabisi pasukannya baru mereka akan berjalan menuju Kerajaan.



Setelah beberapa saat, Gregory baru menyadari bahwa hanya dirinyalah yang tersisa dari pasukannya. Tidak terlihat datangnya bala bantuan dan dia sudah kecapaian jika harus berlari pergi dari tempat itu...kini dia hanya memandang ke arah para goblin yang juga kini diam memandanginya.


Seakan-akan mereka juga tahu bahwa ini adalah waktu terakhir untuk Gregory.


"Maafkan saya Tuan... sepertinya ini adalah waktu yang sangat tepat untuk saya mengundurkan diri dari pekerjaan ini.." ucapnya dengan tenang sambil mengangkat pedangnya ke arah goblin itu yang sudah mulai tertawa lagi padanya.


Berbeda dengan luarnya yang tenang, hatinya terus berteriak dengan liar dan penuh dengan rasa panik...


Aduh, ini benar-benar gawat...pikirnya.

__ADS_1


......................


BERSAMBUNG..


__ADS_2