
...『⚠️ Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi bukan kejadian nyata ⚠️ 』...
Di bawah langit biru yang cerah, aku sedang memperhatikan Tuanku yang memotong rumput liar. Sesekali, dia tiba-tiba berhenti memotong rerumputan dan terdiam sambil memperhatikan kedua tangannya.
"Tuan Kyle, Tuan melamun lagi," ucapanku sepertinya membuyarkan lamunannya. Dia tersenyum aneh padaku dan kembali memotong rerumputan liar.
Aku sudah memintanya untuk tidak melakukan ini dan akan menyerahkan pada pelayan lainnya namun dia menolak.
Mengapa dia ingin memotong rumput di tengah panas terik seperti ini ?
Mungkin karena dia terlalu mengayunkan tangannya terlalu cepat, tiba-tiba pisau yang dia genggam terlempar ke arahku yang dengan refleks ku tangkap tepat di gagangnya. "Hati-hati dengan benda tajam, Tuan," seruku yang terkejut (Hampir saja..) namun dengan cepat aku mengendalikan ekspresi ku.
Beberapa saat kemudian, saat dia mengayunkan pisau itu, secara horizontal semua rerumputan itu terpotong dengan rapi.
...Apa itu tadi ?!
"Um, aku bisa jelaskan," dengan cepat Tuanku berdiri dan mengangkat kedua tangannya ke atas dan melempar pisau ke tanahㅡ
BAMMMM
Di tengah taman ini, terdapat sebuah lubang yang terlihat cukup dalam yang terbentuk hanya karena Tuanku melemparkan pisau pemotong rumput ke atas tanah.
.........
Aku berdiri diam terpaku dan aku merasa wajahku memucat melihatnya, dia langsung menaruh kedua tangannya ke belakang punggung untuk menyembunyikan kedua tangannya, entah kenapa dia terlihat lebih terkejut dariku.
Lalu seperti kebingungan dia akhirnya meloncat masuk kedalam lubang itu, aku dengan perlahan melongok ke bawah dan dia mendongak ke atas sambil tersenyum ragu dan melambaikan tangannya.
Anak pendiam ini ternyata benar-benar sudah berubah...
...****************...
Tuanku menaruh segelas minuman dingin berwarna kuning cerah ke atas meja di hadapan ku. Aku hanya memilih untuk diam saat mengikutinya pergi ke kamarnya dan dia menyuruhku duduk di atas kursi.
Dia membawa gelas itu setelah berlarian keluar kamar dengan terburu-buru.
...apa ini ?
"Nina, aku akan mengatakan semuanya. Tolong minum ini dulu, percayalah padaku!"
Aku memperhatikan gelas yang tercium bau buah jeruk yang ada di hadapanku sebelum memperhatikannya curiga 500%. Dia menghela napas panjang dan menegak sedikit minum itu sebelum menyodorkannya kembali padaku.
"Lihat?? Aku tidak menaruh apapun di dalamnya," ucapnya dan aku melirik ke arah gelas itu dan dirinya. Berpikir dia mungkin aku tenang, akhirnya aku minum air itu...
Oh, ini terasa sangat segar...
"Sekarang, cerita." seruku sesudah menghadapkan tubuhku ke arahnya.
Dia terdiam sesaat dan akhirnya membuka mulutnya setelah berdiri dengan tegak.
"Aku sudah tahu kamu adalah mata-mata dari Kerajaan Spade, Nina."
Aku terdiam dan memperhatikan anak kecil ini yang baru saja dengan mudahnya menyebutkan pekerjaanku yang berhasil ku sembunyikan dari banyak orang.
Atau dia berusaha mengalihkan perhatianku dari apa yang baru saja terjadi ?
"...Kamu mengalihkan pembicaraan.." jawabku dengan menajamkan pandanganku sambil mengerutkan alis.
Dia menghela napas lagi, "Bukan itu, aku memang tahu kau adalah mata-mata dari Kerajaan Spade."
"Lalu?" aku bertanya.
Memang kenapa? Seperti akan ada yang percaya ucapan anak kecil sepertimu.
"...lalu aku berharap jika aku akan memberitahukan rahasiaku padamu, kamu juga harus memberitahu seluruh rahasia mu padaku," jawabnya dengan mengambil kursi lainnya dan duduk berhadapan denganku.
Akhirnya aku mengutarakan pertanyaan yang sedari kemarin ingin kutanyakan padanya, "Siapa...kau?"
"Aku Kaoru, tiba-tiba saja aku tersadar sebagai Kyle Heart dan dunia ini adalah game," jawabnya dengan cepat.
"?" Aku otomatis mengerutkan dahiku sambil menatapnya tidak percaya. "Apa maksudnya?Kau pikir aku akan percaya itu jika aku paham maksudmu?" ucapku ragu.
"Tidak, sekarang saja kamu sedang berbicara dengan anak umur 6 tahun. Kau kira anak umur 6 tahun dapat berbicara seperti ini?"
"..." Aku terdiam.
...iya, aku belum pernah bertemu anak kecil sepertimu, Tuan.
"...Nina, jadilah pacarku."
BRUKKK
"?!!!" Ucapannya membuatku melempar badanku jatuh dari kursi.
APA ITU BARUSAN ?!
Dia tertawa pelan dan membantuku berdiri namun aku langsung menepis tangannya, dia bersikeras menyentuh lenganku lagi dan mendorongku dengan pelan untuk kembali duduk di atas kursi.
Apa yang dia...anak kecil ini inginkan ?!
Entah karena perasaanku yang meluap-luap, air mata mulai berkumpul di pelupuk mataku.
"Nina, dengarkan aku.." dia berkata dengan pelan, "Aku akan melindungi kamu dan menjaga rahasiamu disini meskipun kamu menolak ku. Kamu juga masih boleh memberitahukan perkembangan mengenai diriku. Asalkan kamu tidak memberitahu soal ini, soal aku mengetahui kamu adalah seorang mata-mata. Jujur saja, aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu."
Dia...bukan anak kecil bernama Kyle Heart.
Aku langsung menatapnya dengan tajam, "...dengar ya, siapapun dirimu...jangan gunakan wajah itu untuk berbohong. Aku sudah menjaganya semenjak dia kecil. Beraninya kamuㅡ"
Dia tiba-tiba mendekap ku dengan erat, "Tenanglah...Nina," bisiknya. Aku dengan cepat berusaha mendorongnya namun dia entah bagaimana terlalu kuat, "Tidak, aku..aku...akan."
"Raja Spade yang menyuruhmu untuk melakukan ini kan?"
Pertanyaannya membuatku terdiam, "Bagaimana kau?" aku berusaha bertanya namun aku mengatupkan mulutku lagi.
Dia melepas dekapannya dan menatapku, "Percayalah padaku, aku akan mengurus semua ini, yang perlu kamu lakukan hanyalah percaya padaku, pada Kyle."
"Percaya padamu?", Aku mengulangi ucapannya yang tidak masuk akal. Dia menganggukkan kepalanya, "Cukup percaya padaku dan meskipun kamu memiliki pertanyaan, aku akan menjawabnya nanti, di masa yang akan datang, sekarang, cukup percaya padaku... bagaimana? Kamu akan percaya padaku?"
Aku melihat ke arah lantai, lalu melemparkan pandangan ku menuju gelas es rasa jeruk itu, "Ini...ini juga dari pengetahuan yang kamu dapatkan saat kamu hidup sebagai Kaoru?"
Dia mengangguk dan tiba-tiba bertanya, "Benar sekali...tapi...tiga hari yang lalu.. apakah terjadi sesuatu pada Kyle?"
Ah...ini dia...
Akhirnya aku mengerti kenapa dia berubah...
Ini tidak mungkin..tetapi ini terjadi...
"Dia...sempat sakit" akhirnya aku membuka mulutku dengan lemah.
"Sakit?" Dia sempat tersentak dan menungguku melanjutkan ucapanku.
"Iya...dia sakit, lalu kemudian esok harinya dia tiba-tiba sembuh seperti semula.."
Mendengarku, tiba-tiba dia terdiam beberapa saat sebelum jatuh terduduk. Aku sebisa mungkin menahan tubuhnya sebelum menyentuh tanah. Saatku sentuh, tubuh kecilnya itu bergetar dengan hebat dan dia menatapku dengan nanar.
"Ma..maafkan aku Nina...." hanya itu yang dia ucapkan sebelum langsung menangis tersedu-sedu.
...apakah dugaan ku benar ?
Kyle Heart yang sebenarnya sudah mati.
Aku membunuhnya.
Tanpa sadar aku ikut menangis dengannya dan mencoba menghibur jiwa baru yang berada di dalam tubuh tuanku ini. "Tidak apa, tidak apa...tidak apa..."
Setelah beberapa saat menangis, akhirnya kami berhenti menangis dan menertawakan wajah dan mata kami yang membengkak. Dia bersandar di pundakku dan berkata sambil memejamkan matanya, "Kuharap, Kyle Heart kini hidup di tempat yang lebih baik."
Mendengarnya berkata seperti itu, aku kembali menangisi semuanya.
Kesalahanku...
"..iya...aku juga berharap seperti itu," balasku sambil menghapus air mataku. Kami terdiam selama beberapa saat dan bisa kurasakan tubuh Tuanku semakin berat, mungkin dia kelelahan. Namun, suara langkah kaki yang mengarah ke kamar ini mengejutkannya dan dia langsung menghilang dari hadapanku.
Tunggu, apa dia baru saja memakai sihir portal kemana saja?
Ternyata, orang yang datang adalah pelayan lainnya yang memintaku untuk membantunya membeli bahan-bahan makanan yang baru.
Sedikit merasa aneh karena biasanya yang membelinya adalah juru masak Kerajaan, aku mengiyakannya dan pergi keluar kastil menuju perkotaan.
...****************...
Aku sudah dilatih untuk membuntuti orang lain dan dalam beberapa tugas kecil sebelumnya, aku selalu membuntuti seseorang dengan mudah tanpa ketahuan.
Bagaimana jika orang seperti itu dibuntuti oleh orang lain ?
Tentu saja mereka akan menyadarinya dengan mudah.
Merasa yang mengikuti ku dari belakang cukup banyak, aku mencari jalan kecil yang kecil dan sepi. Untung saja aku mengenal seluk beluk kota ini sebelum menghadapi tugas menjadi mata-mata Kerajaan.
Sesampainya di tengah gang kecil dan sepi, satu persatu orang yang mungkin adalah bandit mengerubungi ku dengan seringai jahat terpasang di wajah mereka.
Kebetulan sekali...
Aku menarik keluar dagger yang selalu ku sembunyikan di balik apron baju pelayan yang sudah kupakai seperti rumah.
Hari ini aku sedikit ingin mencari hiburan..
Setelah dengan cepat menyayat setiap anggota tubuh bandit yang mencoba menyerang ku, akhirnya jumlah mereka berkurang signifikan. Kemudian aku mendengar langkah seorang anak kecil.
Aku menghentikan gerakan ku. Baru telinga ku dapat mendengar suara rintihan dan erangan dari beberapa bandit yang sudah ku cincang menjadi beberapa bagian dan wajah pucat pasi bandit lainnya yang masih hidup.
Aku mengarahkan pandanganku ke anak kecil yang berdiri tak jauh dariku. Wajahnya terlihat sangat terkejut...hm?
Kenapa dia terlihat khawatir ?
Ya sudahlah, aku akhirnya membuka mulutku, "...yah, padahal aku tidak ingin kamu melihat ku dalam keadaan seperti ini.."
...****************...
"..."
"..."
Aku dan Tuanku sedang duduk di dalam sebuah restoran kecil yang dekat dengan jalan kecil sebelumnya. Aku melihatnya memainkan sendok di dalam gelas.
Saat dia berhenti melakukannya, aku kembali menggunakan ekspresi dinginnya.
"..."
"..."
Setelah menghela napas, dia malah memakan kue coklat setelah meminum air lemon yang dipesan. Mau tidak mau aku menegurnya,
__ADS_1
"..Tuan, Tuan belum makan siang dan sudah makan makanan penutup adalah tindakan yang buruk Tuan," saat melihatku membuka mulutku, dia kembali tersenyum.
Dia hanya tersenyum dalam diam.
Kenapa dia terus tersenyum seperti itu ?
"Tuan? Apakah Tuan baik-baik saja?? Salah satu bandit itu bilang bahwaㅡ"
Dia memotong ku berbicara dan mengatakan bahwa dia langsung ber teleportasi mencari ku setelah berhasil menangkap kepala bandit sekaligus pembunuh bayaran yang ingin membunuhnya. Tunggu, apa ?!
"Kenapa Tuan langsung pergi kesini? Tempat ini berbahaya untuk Tuan," Aku bertanya dengan serius yang dia balas dengan senyuman lagi.
"Maafkan aku, habisnya aku juga khawatir denganmu yang akan disergap oleh anak buah Night," jawabannya sontak membuat wajahku terasa panas.
Ada yang salah denganku sekarang...
Padahal dia adalah anak kecil..kenapa..uugh..
"Nina, tolong temani aku untuk pergi membeli kebutuhan memasak dan peralatan untuk membuat camilan," permintaannya yang tiba-tiba membuatku otomatis memiringkan kepalaku dengan bingung.
Sekarang...apa lagi ?
Ketika kamu sedang mencari bahan-bahan yang sepertinya untuk membuat coklat, dia bertanya dengan santai, "Oh iya, dagger milikmu itu memiliki bilah pedang yang bersinar. Apakah itu semacam senjata mahal atau semacamnya?"
"Itu adalah dagger yang kutempa menggunakan barang-barang spesial yang kukumpulkan dari dungeon," aku membalas sambil melihat perbedaan buah coklat yang satu dengan yang lainnya. Dia melanjutkan bertanya, "Kalau begitu, di Cyrus ini akan ada item dan semacamnya? Seperti aksesoris yang dapat dibubuhi sihir?"
Untuk apa dia tiba-tiba tertarik dengan itu... lagipula kenapa dia bertanya padaku soal hal yang seharusnya dia tahu.
Dia kan sudah membuka semua buku di dalam perpustakaan dalam Kerajaan.
Aku menganggukkan kepalaku, "Benar, salah satu contohnya adalah setiap sudut gerbang Kerajaan Heart diberikan pahatan lambang menggunakan besi yang sudah dibubuhi sihir pelindung," jawabku sambil memilih antara dua buah coklat. Dia langsung mengambil keduanya dari tanganku yang sontak membuatku memperhatikannya.
"Tapi, sepertinya sudah ada yang mulai menargetkan Tuan ya?"
Dia terlihat bergidik setelah mendengar pernyataan itu dariku.
"Kalau begitu, Nina. Biarkan aku membayarnya," ucapnya dengan santai. Aku menatapnya bingung, Raja Grim tidak pernah memberikannya uang secara langsung setahuku. Tapi saat dia mengeluarkan sekantung penuh kepingan perak.
Hm, apakah aku ternyata salah mendapatkan informasi mengenai hal itu ?
Pada akhirnya, dia memintaku untuk kembali sendiri dan dia akan menggunakan kemampuannya yang dapat berteleportasi. Sebelum itu, dia bahkan dengan sengaja mengambil kantung bahan-bahan yang lebih besar sedangkan dia membiarkan ku membawa yang paling kecil.
Sesampainya di taman, dahiku kembali berkerut saat melihat ke sekeliling taman. Dia yang melihatku sudah datang langsung tersenyum, "Lubangnya sudah ku tutup dan lihat! sekarang tamannya sudah indah dan rapi!" dia membentangkan tangannya. Aku menganggukkan kepalaku dengan pelan sambil memperhatikan sekeliling taman.
Setelah diam beberapa saat, dia bertanya, "Nina, ayo makan siang bersamaku disini?"
Pada akhirnya, aku menurutinya dan melihat berbagai hal baru seperti dia dengan cepat membuat sebuah meja dan kursi yang terlihat nyaman di tengah taman. Lalu dia juga memintaku untuk mengajarinya cara bertarung. Mungkin itu karena dia melihatku melawan bandit-bandit sebelumnya...
Haaahh, aku merasa lelah sekarang...
"Disini tidak ada yang tahu aku ini dapat bertarung," sergahku. Dia tersenyum tipis dan mengangguk singkat, "Benar juga..."
"Iya, oleh sebabnya...aku tidak dapat melatih Tuan untuk bertarung."
"Bisa kok."
Saat aku mengerutkan dahiku tanda aku tidak setuju, dia malah menjelaskan Space magic dan Illusion Magic.
Aku hanya mendengarkannya tanpa mencoba memahaminya.
Akhirnya setelah mendengar penjelasannya yang panjang selesai, aku bertanya , "Kalau begitu, kita mulai berlatih hari ini?"
"Tidak, besok saja. Kamu baru saja melawan bandit-bandit itu, jadi lebih baik kamu temani aku saja ke dapur di barak Tentara."
Aku menahan ekspresiku yang ingin terus mengerutkan dahiku dan bertanya dengan nada ragu, "Kenapa kita harus ke dapur di barak Tentara? Kenapa tidak di dapur Kastil?"
Dia menggelengkan kepalanya dan menyilangkan tangannya, "Jika aku memakai dapur Kastil maka pelayan lainnya akan semakin tidak suka padaku dan lagipula aku bisa meminta Gregory untuk mengosongkan dapurnya untuk beberapa jam."
"...apakah Tuan benar-benar akan membuat coklat sendiri?" aku kembali bertanya dengan ragu. Sejak kapan dia dapat memasak? Apa karena dia adalah orang lain bernama Kaoru ?
Dia lalu berdiri dari kursi dan mengedipkan sebelah matanya padaku dan ku balas dengan kerutan dahi yang lebih mendalam dari sebelumnya, dia berkata sambil tersenyum bangga, "Lihat saja sendiri, nanti."
Apa-apaan dengan sikapnya itu ?!
...****************...
Tentu saja Gregory akan memperbolehkannya menggunakan dapur baraknya. Aku tahu dia adalah salah satu orang yang dapat dipercaya oleh Raja dan Karina.
Wajah Gregory yang bingung saat mengetahui bukan aku yang akan memasak cukup menghibur diriku karena merasa sedikit kesal dengan anak kecil yang berkedok menjadi Tuanku.
Ucapannya yang sombong tadi ternyata ada alasannya, dia dengan mudah membuat cukup banyak camilan coklat dan begitu membuatnya dia banyak menunjukkan berbagai macam jenis tipe sihir yang tidak mungkin dapat dipelajari oleh anak berumur 6 tahun. Wajah terpukau Gregory benar-benar menunjukkan dengan jelas maksudku.
Saat dia sedang membekukan coklatnya yang ada ditangannya, dia sempat akan bertengkar dengan Gregory. Namun pada akhirnya dia tahu bahwa Gregory akan menjaga rahasianya sama seperti aku...
Aku paham kenapa Gregory ingin menjaga rahasia anak itu...
Tapi...kenapa aku mau menjaga rahasianya juga? Aku bukanlah warga dari Kerajaan ini.
Aku adalah musuhnya.
Entah mengapa, setelah hatiku mengucapkan itu...aku merasa sedikit terganggu.
...****************...
Setelah coklat itu selesai, aku sempat bertanya mengapa dia membuat coklat coklat itu secara tiba-tiba.
"Oh, tentu saja aku ingin kamu memakannya agar kita lebih kuat untuk melawan musuh."
Ah, jawabannya mengartikan sesuatu...
...bolehkah...aku yang jauh lebih tua darinya merasa bergantung padanya?
Tanpa sadar hari sudah berlalu, kini aku berdiri di depan pintu kamarnya. Biasanya aku langsung pergi untuk pamit...
kali ini..aku merasa ingin lebih menghabiskan waktu yang banyak dengannya...
"Hm? Ada masalah apa, Nina?" menyadari aku yang terdiam, dia bertanya.
mungkin...
Jika itu diaㅡ
"...aku bersedia."
"Hah?"
Aku menggigit bibirku dengan malu.
"Ku ulangi...kubilang, Iya. Aku bersedia," aku mengulangi perkataanku sambil mencoba mengalihkan mataku darinya.
Dia malah mengerutkan dahinya kemudian bertanya, "... bersedia apa?"
Ugggh, apa dia sengaja ?
Baiklah, aku akan mengatakannya untuk anak kecil palsu ini...
"Iya! Aku bersedia untuk menjadi pacarmu!"
Wajahnya yang memucat membuatku sedikit ragu, namun akhirnya dia menjawab, "Nina, aku senang kamu menerimaku," kemudian berjalan mendekatiku sebelum melanjutkan, "Tapi, aku masih sangat kecil sekarang. Aku akan tetap melindungi mu tapi jika masalah berhubungan seperti sepasang kekasih yang sesungguhnya, kumohon kamu menunggu hingga aku sudah cukup dewasa," aku menganggukkan kepalaku dan menjawabnya.
"...aku tahu itu. Karena aku sudah bersedia, apakah kamu akan berjanji padaku?"
"...tentu, aku akan berjanji," ucapannya terdengar cepat. Apa dia penasaran ?
Aku membuka mulutku,
"Berjanjilah padaku, kamu akan membiarkanku membunuh ibumu. "
Ucapanku membuatnya mengerutkan dahinya dan untuk pertama kalinya dia menatapku dengan dingin, "Apa maksudmu? Kenapa kamu memintaku untuk berjanji seperti itu?"
"Menurutmu aku kesini hanya untuk melaporkan perkembangan tentang hidupmu dan jika kamu berbahaya, aku akan menghabisi mu begitu saja?" jawabku sambil melihat keluar jendela.
"Aku terlahir menjadi seorang putri dari keluarga Baron yang sangat miskin. Hasil panen keluarga kami hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari dan ayahku terus-menerus berhutang pada keluarga Blackspade." Aku menggenggam tanganku dengan erat sambil menatapinya, "...suatu hari, karena mereka kesal ayahku tidak berhasil membayarkan semua hutangnya, gelar Baron keluargaku di cabut. Aku...satu satunya putri dari keluargaku...berakhir dijual pada Blackspade."
Melihatnya yang terlihat khawatir membuatku sedikit tersenyum, "Waktu itu, usiaku berumur 8 tahun...aku takut sekali waktu itu...untung saja...aku tidak diapa-apakan selain dipukuli dan dicambuk." Aku menarik tangannya menuju lenganku dan menunjukkan bekas goresan yang menjijikkan.
"Suatu hari, aku melawan dan berhasil membunuh satu orang pegawai keluarga Blackspade dan menawan putri mereka..."
"...putri mereka? Amy?" dia langsung bertanya dengan terkejut.
Aku mengangguk, "Aku berhasil menahan dia dan menyanderanya, namun aku tidak berhasil kabur. Pengawal Kerajaan menangkap ku dan menyelamatkan Amy. Saat mereka akan mengeksekusi ku..." ucapanku terhenti disana.
"Kamu dilatih untuk menjadi mata-mata?"
Aku kembali mengangguk, "Bukan hanya itu, kami dilatih untuk menjadi bayangan Kerajaan dan pembunuh. Mengumpulkan informasi dari berbagai Kerajaan dan lebih buruknya lagiㅡ"
Aku berhenti berbicara sesaat dan memperhatikan sekitar sebelum berbisik padanya, "Mata dan telinga mereka tidak hanya aku. Aku hanyalah salah satu anggota dengan tingkat menengah. Aku tidak pernah menemui anggota yang merupakan tingkat tertinggi. Mereka lebih kuat dariku."
"Lebih kuat dari Nina?! Inilah mengapa Kerajaan Heart kalah dari Kerajaan Spade dari segi kekuatan mereka?" dia ikut berbisik.
Aku mengangguk, "Kau tahu, Kerajaan Spade adalah tempat dimana Hero selalu lahir selama 1000 tahun sekali."
"Kamu belum menjelaskan mengapa kamu ingin membunuh ibuku.." dia membalas dengan bertanya soal itu. Aku menarik nafasku dengan berat.
"Ibumu...dia membunuh Ayahku dalam perang 7 tahun yang lalu. Tepat setelah itu dia diangkat menjadi selir Raja Heart karena telah menghabisi lebih dari 10 juta jiwa tentara Kerajaan Spade. Salah satunya adalah ayahku. Ibumu memakan nyawanya semudah memakan roti...aku...tidak akan memaafkan itu...tidak akan pernah..." air mataku mulai terjatuh, aku mencoba mengusapnya namun air mata lainnya terjatuh hingga akhirnya mengalir deras. Aku akhirnya terisak, "Aku ingin membunuhmu...untuk menunjukkan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat penting baginya..."
Mulutku...terus berbicara...
"Akulah yang memberi racun pada makanan untuk Kyle Heart makan. Itu sebabnya dia sakit...dan di hari seharusnya dia meninggal...dia masih tetap hidup...aku sangat menyesal dan merasa lega bahwa aku...tidak menghabisi nyawa nya...namun...aku...benar-benar telah membunuhnya..."
Aku akhirnya mengatakan nya...
Aku kembali menangis tersedu-sedu, dia langsung menghampiriku, kemudian memelukku dengan erat dan menepuk-nepuk punggungku dengan pelan.
Apa...kenapa !?!
"Oleh karena itu...aku ingin membunuh ibumu," Aku langsung mendorongnya namun dia tidak bergeming dan memelukku dengan semakin erat.
"Kau yakin? Kau sudah membunuh Kyle Heart dan ibunya tidak tahu soal itu. Kemudian kamu ingin aku membiarkanmu membunuh ibuku? Apa kau sudah gila?!" dia melepas pelukannya dan langsung menamparku dengan telapak tangan kecilnya.
PLAK
Meskipun tangannya kecil, aku merasa sedikit sakit dari tamparannya.
Saat aku menatapnya dia langsung mengatakan, "Aku tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang penting dengan cara seperti itu, tapi, kuharap kamu tidak melakukan hal yang sama seperti ibuku, kumohon jangan balas dendam. Tolong maafkanlah ibuku...Nina," dia memohon padaku sambil menggenggam erat telapak tanganku, tangannya sedikit bergetar.
"Aku tahu permohonan ku ini sangat egois, sangat tidak menghargai apa yang ingin kamu lakukan...bahkan aku juga bisa membalas dendam untuk memuaskan hasrat ku, tapi apa yang akan terjadi? Seperti lingkaran iblis, kita akan terjebak dalam keputusasaan karena balas dendam tidak akan mengobati hati kita yang terluka..." Dia mulai mendekatkan wajahnya padaku yang terpaku, menarik ku agar aku membungkuk dan menaruh dahinya tepat di atas dahiku.
Matanya menahan pandanganku.
__ADS_1
Mata hitamnya yang berkilau dan seakan menarik ku ke dalamnya.
"Menerima apa yang sudah terjadi lalu memaafkannya...setelah itu, jalani hidup dengan baik untuk selanjutnya...ibuku sudah kehilangan anaknya...kamu Nina, masih dapat melanjutkan hidupmu...jika kamu membunuhnya, aku akan merasa sangat sedih...tolong...jangan lakukan itu...untukku?" dia mengatakannya sambil terus mataku dalam-dalam.
Aku mencari sesuatu di matanya, apakah dia berbohong? Apakah dia mencoba membujukku agar tidak membunuh seseorang yang bukan ibunya?
Tidak ada...
Dia menatapku dengan tulus seakan-akan dia tidak aku jauh lebih terpuruk...
Apakah... apakah aku akan dimaafkan ?
Ayah? Apakah kamu akan memaafkan aku ?
Akhirnya aku mengangguk dan bersandar ke bahunya yang kecil, aku terus menangis selama beberapa saat sebelum jatuh tertidur di bahunya.
Baru kali ini aku merasa sangat tenang dalam hidupku, selepas kepergian ayahku..
...****************...
Keesokan paginya, aku terbangun di atas kasurnya dan melihatnya tidur di atas kursi.
Dengan panik aku membangunkannya dan meminta maaf dan memintanya untuk kembali tidur di atas kasur. Dia hanya tersenyum dan memintaku pergi makan siang bersamanya sebagai ungkapan permintaan maaf dariku.
Meskipun aku tahu itu godaan klise para petualang terhadap seorang gadis, tetapi aku tetap menerimanya...
Namun ketika ia tiba-tiba menyebut nama Red Eye yang akan ditemuinya, aku langsung menurut untuk mengikutinya. Aku harus melindunginya meskipun aku tahu dia sangat kuat dariku...
Dia berhasil menangkis serangan Red Eye dengan pedangnya yang kukenal sangat kuat tersimpan di suatu dungeon di daerah Dark Forest. Aku sedikit bingung bagaimana dia dapat memilikinya?
Sebelum aku menyadarinya, dia sepertinya berhasil menjadikan Red Eye menjadi rekannya sama sepertiku. Akan tetapi aku merasa tidak senang, terutama setelah..
"Jadi...apa rencanamu, bocah? Josh Blackspade ingin kepalamu dan aku berhutang cukup besar padamu. Apa aku harus menyingkirkan Josh? Dia sebenarnya dompet dari organisasi kami...jadi aku sedikit ragu untuk menyingkirkannya," suara wanita merah itu membuatku mengerutkan dahiku dan membuka mulutku, "Perhatikan ucapanmu, dia adalah Pangeran Kyle. Jangan bicara seperti itu lagi atau aku akanㅡ"
"Kau akan apa? Aku dapat mencincang mu dengan mudah seperti ikan," potong wanita merah itu sambil menyeringai menantang ku.
Ohh, aku mungkin akan menyelesaikan memotong lidahmu bahkan sebelum kamu menyadarinya...
Sambil mengeluarkan dagger dan menatap tajam ke arah wanita merah itu aku berkata, "Aku akan dengan senang hati untuk memberi mu permainan baru." Raven melihat dagger ku dan mengangkat dagunya dan tersenyum lebar seperti baru saja menyadari sesuatu yang menyenangkan untuknya.
"Ahhh, kamu adalah salah satu budak Kerajaan kita? Pantas saja kamu terlihat sangat kuat...dilatih keras oleh Kerajaan toh? Tunggu... kamu menjadi pelayan Pangeran di Kerajaan Heart? Ohooo, sungguh menarik.."
Tentu saja dia akan tahu...
Melihatku yang terdiam, Tuanku langsung membuka mulutnya, "Sudah cukup kalian berdua, jika ingin dekat denganku, saling akur saja," serunya dengan tenang.
Apa? Apa ini maksudnya ...
Aku tahu keluarga Heart akan memiliki banyak pasangan...tapi dia baru saja berusia 6 tahun dan dia sudah menandai wanita lain..
Percakapan terus berlanjut dan aku semakin tidak senang dengan wanita merah itu ketika,
Tuanku menganggukkan kepalanya dan menoleh pada Night, "Benar sekali...Night, lanjutkan rencananya dan beritahukan pada Raven. Kita dapat menggabungkan keduanya...oh iya!" Dia lalu menggunakan Illusion Magic yang mengubahnya menjadi seorang pria berumur 20-an. Rambutnya berubah menjadi warna merah gelap dan matanya berwarna hijau gelap.
Wanita merah itu langsung menyahut ditengah keheningan sambil tertawa, "Oho! Sekarang bocah ini sudah berubah menjadi seorang pria yang tampan!"
Apa?! Beraninya diaㅡ
Sebelum aku sempat membuka mulutku, Tuanku langsung berkata, "Mulai saat ini, kalian akan mengenaliku sebagai..hmm..'Akai' saja. Sehingga identitas ku sebagai Pangeran tidak ketahui banyak orang."
"Akai?" Wanita merah itu tersenyum sebelum dia langsung meraih lengan Tuanku dan memeluknya dengan erat, "Tadi aku sedikit ragu karena kamu adalah bocah, sekarang sepertinya kita dapat mendiskusikan caraku membayar hutang padamu 'berdua', bagaimana?" Raven mengatakan itu sambil berbisik dengan nada menggoda.
Apa?!
.........
Tidak masalah...aku tidak cemburu, aku baik-baik saja. Ahahaha.
Tuanku yang sempat melirikku langsung menaruh jari telunjuknya di atas bibir wanita merah itu dan mengedipkan sebelah matanya padaku. "Kalian berdua akan mendapat waktu kalian denganku nanti di masa depan...sekarang biarkan aku kembali ke kastil untuk menyusun rencana mengurus Josh dan Blackspade... Raven, aku dapat bergantung padamu kan?"
Wanita merah itu tersenyum lebar dan memeluk lengannya lebih erat, melihat itu membuatku merasa gusar. "Kamu dapat menyerahkan semuanya padaku, katakan apa yang kamu inginkan?" suaranya sekarang terdengar sangat menjijikkan.
"Ini cukup mudah, aku ingin kamu dan para anggota lainnya membebaskan semua budak yang ada di Cyrus."
Sungguh permintaan yang sangat tidak masuk akal dari Tuanku membuatku ikut tersentak bersama dengan yang lainnya.
Kenapa tiba-tiba dia ingin menyelamatkan budak ?
Namun pertanyaan yang muncul dalam pikiranku langsung terjawab saat,
Raven, si wanita merah itu akhirnya bertanya, "Memangnya kenapa kamu sangat ingin menyelamatkan para budak-budak yang tidak ada hubungannya langsung denganmu?"
Tuanku hanya terdiam namun tatapannya terarah tepat padaku yang membuatku ingin membuka mulut untuk mengatakan sesuatu namun aku menutupnya lagi. Raven yang sepertinya mengerti sama sepertiku dari maksud Tuanku langsung menyeringai, "Ohoo, begitukah? Aku merasa sedikit iri dengan pelayan ini..."
Dia hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan, "Bukan hanya untuknya...mungkin..aku berharap untuk mengumpulkan banyak individu individu yang berpotensi untuk berkembang menjadi lebih kuat..." ucapannya itu membuatku berpikir bahwa dia sebenarnya sedang mengelabui kami semua.
"Jangan bilang kamu akan membuat pasukanmu sendiri dimulai dari anggota-anggota ku?" tanya Raven.
Dia menganggukkan kepalanya secara perlahan, "Mungkin ini terdengar tidak masuk akal...tetapi dibalik ini semua sepertinya ada satu pihak yang ingin menghancurkan semua Kerajaan di Cyrus ini...pihak itu jugalah yang ada kaitannya dengan kutukan kamu, Raven."
Raven memiliki kutukan? Itulah mengapa dia sangat kuat dari membunuh banyak orang ?
Raven terdiam dan dia sempat melirik kepadaku yang terpaku. "Kita perlu berbicara.." Raven akhirnya membuka mulutnya. Tuanku menganggukkan kepalanya dan menoleh padaku dan Night. Night menganggukkan kepalanya dan pamit untuk pergi melanjutkan tugas sedangkan aku berjalan menghampirinya namun mataku terus terarah pada Raven yang juga balik menatap ke arahku.
"Tuan...apakah Tuan benar-benar harus berbicara berdua dengan 'gadis' ini?" tanya ku sambil menunjukkan wajah mengancam ku pada Raven yang membalas dengan kedipan mata...ugh..
Tuanku yang kini terlihat dewasa akibat Illusion Magic berdiri dari kursinya dan menghampiriku, karena saat ini tubuhnya adalah Akai, dia jadi lebih tinggi dariku.
Aku memandanginya dan dia mengambil tanganku sebelum memegangnya dengan erat, "Kami hanya berbicara saja, tidak akan lama. Tenanglah dan tunggu aku diluar ya?"
Wajahku sempat terasa panas sebelum aku menggenggam erat tangannya yang besar kembali. Akhirnya aku berjalan keluar setelah menatap tajam ke arah Raven dan tersenyum pada Tuanku.
Tidak masalah..aku tidak se-posesif itu..
...****************...
Saat pertama kali aku dan Tuanku berlatih, dia malah melongo seakan terpesona melihatku mengeluarkan kedua dagger yang kumiliki dari apron ku seperti biasanya sebelum berteriak padanya, "Musuh tidak akan membiarkanmu untuk berpikir!"
Dia seketika mengeluarkan pedang Dark Soul Slasher untuk menabrakkannya pada bilah dagger ku, namun dengan cepat aku mengarahkan dagger ku ke sampingnya untuk menusukkan dagger ku ke arah leher pucat nya.
Aneh, dia malah menangkap lenganku sehingga kami terjatuh dengan aku yang menimpa tubuhnya yang kecil.
BRUUK
Aku dengan cepat berdiri darinya sambil menggerutu, "Apa-apaan itu?! Apa kamu berencana menggoda setiap musuhmu yang melawan mu?!" Dia terkekeh mendengarku dan mengambil dagger ku yang terjatuh sebelum memberikannya padaku.
Kami pun memulai lagi untuk berlatih, setiap aku menyerangnya, dia balik menyerang ku namun serangannya sangat aneh... seperti dia sengaja bermain-main denganku..
TRANGGG
Dentingan keras terdengar saat dia terus menghindar dari tebasan dagger ku, ketika tangan kiriku akan mengayunkan salah satu dagger ku, dia menunduk dan menendang kakiku yang membuatku terjatuh namun begitu dia akan menghunuskan pedang di kepalaku, aku langsung menendang kakinya sehingga dia terjatuh.
GEDEBRUKK
Aku melompat dan duduk di atas tubuhnya dan menempelkan dagger ku ke lehernya, dia tersenyum sebelum menghela napas panjang saat dia terengah-engah...
"Apa kamu sengaja berpura-pura?"
Aku bertanya padanya.
"Hah?"
Aku tahu dia sedang berpura-pura tidak tahu..
"Kamu mencoba menahan kemampuanmu...aku tahu itu. Berikan satu alasan yang kuat agar aku tidak membunuhmu disini" ancamku.
Dia tersenyum dan menatapku dengan tenang, "Karena aku menyukaimu tentu saja aku menahan kekuatanku. Itu akan membunuhmu," jawabnya sebelum mengerang perlahan..
"Ugh, Nina? Aku tidak bisa bernapas...tubuhku terlalu kecil untuk kamu timpa sekarang," ucapnya yang sontak membuatku membantunya berdiri dengan perasaan khawatir. Benar juga...aku sempat lupa tubuhnya lebih kecil dariku..
Dia kan sudah kuat...jadi,
"..kalau begitu, kenapa kamu mengajakku berlatih? Sepertinya kamu sudah dapat bertarung sendiri?" aku bertanya.
Dia terlihat malu-malu sambil menggaruk belakang kepalaku, "Ah, aku hanya ingin banyak menghabiskan waktu denganmu, Nina...ahahaha."
Oh, begitukah ?
Aku berdeham sambil terbatuk-batuk. Setelah beberapa saat aku seperti itu untuk menghilangkan rasa maluku, akhirnya aku mengalihkan pandanganku darinya, "Um, kamu kelihatannya sudah lelah. Mari kita akhiri latihannya disini..."
"Benar juga...ayo kita beristirahat di meja seperti biasa?"
"Tentu, Tuan," aku mengangguk.
Saat kami sedang makan siang bersama, Myles datang bersama dengan Sebastian. Melihat meja kayu itu, Myles bertanya siapa yang membuatnya dan Tuanku dengan cepat langsung menjawab bahwa akulah yang membuatnya.
Aku secara diam-diam menatap dingin Tuanku yang bergidik sebelum menerima nasihat oleh Sebastian. Tetapi dari senyuman Sebastian dan lirikannya pada Tuanku, Kyle.
Sepertinya beliau ini tahu bahwa bukan akulah pelakunya...
Memang Pak Sebastian yang terbaik !
...****************...
Saat siang hari, Kyle ingin mengunjungi tempat Raven dan aku ingin ikut dengannya. Namun setelah memberikan banyak alasan utama akhirnya aku menurutinya untuk menunggu dirinya karena akan aneh jika ada yang mencarinya dan aku tidak ada untuk memberikan alasan kepergiannya.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya dia kembali. Dengan khawatir aku bertanya bertubi-tubi, "Apa yang wanita merah itu lakukan padamu? Kenapa kamu sangat lama?" mendengarku dia hanya tertawa.
Dia mencoba menenangkanku dan mengatakan bahwa Raven hanya berbicara dengannya soal harinya dan pekerjaannya yang belum selesai. Masih merasa aneh, aku menunduk dan mendekati nya sebelum mengendus lehernya.
Dia berbau sama dengan Wanita Merah itu.
Kyle akhirnya mengatakan bahwa Raven sempat duduk di pangkuannya yang membuat ku muram. Melihatku seperti itu dengan panik, Kyle menambahkan, "Ayolah, sekarang juga aku bisa memangku mu tapi tubuhku terlalu kecil, bersabarlah? Bagaimana kalau aku yang duduk di pangkuan mu?" pertanyaan itu langsung membuatku tersenyum dan langsung mengangkatnya ke atas pangkuanku.
Dari belakang terlihat tengkuk dan daun telinganya memerah.
Hehehe, dia sangat lucu sekali.
Tanpa sadar, aku mulai bersenandung pelan sambil mengelus-elus kepalanya. Saat aku merasakan tubuhnya semakin berat dan akan jatuh tertidur di pangkuankuㅡ
"Kyle? Ayo bermainㅡ?!" Myles menerobos masuk kamar dan melihatnya di atas pangkuanku. Sebastian yang melihat kami menahan senyumannya sedangkan Myles menghampirinya yang sudah berwajah tomat.
"Ahahaha, Kyle kamu terlihat lucu, aku baru ingat kamu ini masih kecil, ayo duduk di atas pangkuanku juga!" lalu Myles mengangkat Kyle ke atas pangkuannya..
Uh, kenapa Pangeran Pertama malah datang mengganggu...
Secara bergantian, kami pun memangku Kyle yang sudah pasrah dengan keadaan.
Pada akhirnya, dia malah jatuh tertidur di atas pangkuan Sebastian...
Aku tarik kembali kata-kataku...
Pak Sebastian bukan yang terbaik...itu harusnya adalah tempatku...
__ADS_1
......................
...「 Interlude V. Nina's Heart (II) 〈 selesai 〉」...