CHANCES - Battle Of Heart : Online

CHANCES - Battle Of Heart : Online
Chapter 5. Myles's B'Day Party 《 III 》


__ADS_3

...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️ 』...


Previously :


...apa ???


Secara mengejutkan, status sang Raja tidak sebesar yang kubayangkan.


...****************...


"Terimakasih kepada para tamu yang telah hadir untuk memberikan ucapan selamat pada putra pertama saya, Pangeran Myles Heart yang sudah menjejaki umurㅡ"


Aku tidak mendengar lagi ucapan pembuka dari Ayah. Aku mengusap mataku, mencubit pipiku, dan ketika melihat status yang muncul seperti jempol yang kesakitan, tidak ada yang berubah. Aku harus menerima fakta bahwa...


Bahkan status Pak Sebastian lebih tinggi dibandingkan Raja!


Iya, mungkin ini karena potensinya yang lebih kecil dari orang-orang lain yang kulihat sebelumnya... rata-rata mereka memiliki potensi B. Sistem, apakah ada tabel tingkat kemampuan? Aku sedikit bingung sekarang.


...「Tentu saja.」...


...「Memuat data...↺」...


...「Memuat data selesai.」...


...「Menampilkan data.」...


...『Petunjuk』...


...Tingkat Kemampuan;...


...0 ⇉ 19〈 F 〉...


...20 ⇉ 39〈 D 〉...


...40 ⇉ 59〈 C 〉...


...60 ⇉ 79〈 B 〉...


...80 ⇉ 89〈 A 〉...


...90 ⇉ 99〈 S 〉...


...100 ⇉ 109〈 SS 〉...


...110〈 SSS 〉...


Hmm, aku mengangguk mengerti dan kembali memerhatikan Raja Grim yang masih membuka pidatonya yang cukup panjang itu.


Tidak kuduga, ternyata nama aslinya adalah Reaper dan Ayah sebenarnya juga sangat menyayangiku sama seperti ibuku.


Aku terlalu banyak membaca dan menonton drama dimana menjadi anak yang terbuang akan dibenci banyak orang bahkan oleh ayah dan ibu sendiri.


Akan tetapi, Ayah memilih untuk tidak menunjukkan kasih sayang secara terang-terangan padaku dan ibuㅡjangan-jangan karena dirinya sendiri lemah?


Ahahaha, sulit sekali ya menjadi Ayah sekaligus penguasa di Kerajaan.


Beberapa menit kemudian, akhirnya pidato pembukaan Ayah selesai, semua orang mulai menyebar dan banyak yang menghampiri Raja, Ratu dan Myles. Ibuku berjalan menghampiriku yang berdiri di sudut Aula bersama dengan para pengawal Kerajaan yang ada di setiap sudut ruangan.


Mereka hormat kepada ibuku tetapi padaku tidak. Tidak masalah, akan sangat menyeramkan jika ibu menggunakan Soul Eater miliknya pada mereka. Ibuku tersenyum melihatku dan merapikan dasiku yang kurasa sebenarnya sudah rapi.


"Ini adalah acara pertama bagimu, Kyle. Apalagi ini adalah acara terbesar pertama di seluruh Kerajaan. Kamu bisa menemukan beberapa teman baru bersama dengan Myles," suaranya yang lembut seakan menjadi musik yang indah di tengah kebisingan lebah di Aula Kerajaan ini.


"Baik, ibu. Tapi... sebenarnya aku tidak terlalu yakin dapat berteman. Mungkin aku akan menghampiri Myles saja dan mengucapkan selamat," aku menjawab sambil tersenyum ragu. Ibuku memperhatikanku dan pandangan nya yang hangat, seketika menjadi tajam. Aku bisa merasakan suhu yang barusan cukup hangat menjadi sedingin dalam kulkas mahal.


"Kau siapa?"


Tentu saja sedari awal ibuku sudah menyadari keberadaanku. Bagaimana ini? Perlukah kukatakan yang sebenarnya bahwa anaknya tidak diketahui ada dimana?


Melihatku yang cukup kelabakan dan bingung, Karina melanjutkan, "Jika kau berniat untuk mengambil anakku, akan ku makan jiwamu!" Badanku kaku dan kulihat mata Karina mulai berwarna violet, pembicaraan kami sepertinya ditutup dengan sihir sehingga tidak ada yang menyadari ketegangan di sekitar sini.


"Tunggu, Ibu." Akhirnya aku membuka mulutku. Karina, ibuku berhenti merapalkan mantra sihirnya dan memperhatikanku lagi.


"Meskipun aku berubah, aku tetaplah anak ibu, waktu itu aku bermimpi jika aku tidak mengubah sifat ku maka bencana akan datang ke keluarga kita. Aku ingin melindungi kalian semua, maka dari itulah aku ingin berubah ibu," tutur ku dengan lembut.


Aku memusatkan pandanganku tepat ke arah mata ibuku. Dia terdiam beberapa saat dan tersenyum, "Benarkah? Meskipun semuanya bersikap buruk padamu? Kamu ingin melindungi mereka semua?" pertanyaannya terdengar dipenuhi oleh amarah yang mendalam namun ibuku berhasil mengatakannya dengan tenang.


Kugenggam tangan ibuku dan mengangguk perlahan, "Itu benar. Tidak peduli seburuk apapun yang mereka katakan, lakukan padaku. Aku akan menjadi kuat dan melindungi mereka semua. Aku tidak perlu membalas dendam, hal itu hanya akan menyakiti kita, ibu."


Air mata terjatuh dari ujung matanya.


Aku menjadi semakin kelabakan dan mengeluarkan sapu tanganku dan mengusap air mata dari wajah ibuku dengan lembut sambil berusaha menahan kakiku yang sudah cukup kesakitan karena berjinjit terlalu lama.


Sial, tubuhku di sini masih kecil dan pendek.


Melihatku yang kesulitan mengusap air matanya menggunakan saputangan, ibuku tertawa kecil dan menundukkan wajahnya agar aku lebih mudah mengusap air matanya.


Apakah ini rasanya ketika kamu ingin terlihat keren malah mempermalukan diri sendiri?


Saat aku mengusap air mata ibuku yang entah mengapa terus mengalir dengan cepat, matanya sedikit berbinar ke arahku dan ibuku mengatakan, "Terimakasih Kyle, kamu benar-benar putraku yang sangat baik."


...〈 +30 Rasa Suka Karina (Penuh) 〉...


...〈 +30 Kepercayaan Karina 〉...


Ahahaha, sekarang aku sudah bersahabat dengan ibuku sendiri. Untuk apa aku mencari teman lainnya...

__ADS_1


...「Untuk membuka fitur Cheat」...


Balasan Sistem yang entah bagaimana terasa menusuk hati, membuatku terpaku sesaat, ibuku bertanya ada apa dan aku kembali mengusap air matanya yang sudah mengering. Sepertinya tamu yang lain juga sudah mulai berhamburan dari Myles.


Melihatku yang memperhatikan Myles membuat ibuku tersenyum lebar, "Ayo sana, sapa kakakmu dan ucapkan selamat. Jangan nakal ke bangsawan lainnya ya." Mendengar ucapan itu membuatku cukup malu karena sepertinya setelah menangis, sihir penghalang suara yang dirapalkan ibuku sudah dihilangkan, sehingga pengawal yang ada di dekat kami sedikit terkekeh mendengar diriku di nasihati seperti itu.


Melewati banyak orang dewasa yang sedang berbincang dan anak-anak bangsawan lainnya yang sedang memilih makanan, akhirnya aku dapat menghampiri Myles yang sedang meminum jus di dekat meja. Ketika matanya bertemu denganku, dia langsung mengangkat tangannya sambil sedikit berteriak kecil, "Kyle!!!"


Beberapa pasang mata terarah menuju kami dan mulai terdengar sedikit bisikan-bisikan yang sepertinya tidak mengenakkan.


Untung saja telepati milikku belum mencapai tingkat yang tinggi..


"Kak Myles! Selamat ulang tahun yang ke 9 tahun! Semoga Pencipta memberkati kakak!" aku mengatakannya sambil tersenyum sebelum Myles menarik diriku ke dalam pelukannya yang hangat. "Terimakasih adikku! Ohh, aku sudah melihat hadiahmu, aku benar-benar menyukainya. Apakah Sebastian yang memberitahumu bahwa aku sedang membutuhkan pedang sihir?" seru Myles setelah melepas pelukannya.


Aku hanya menggelengkan kepala dan terkekeh, "Tidak, melihat kakak yang kesulitan belajar mengayunkan sihir angin melalui pedang membuatku ingin membelikannya."


Myles tertawa dan menepuk punggungku dengan pelan, "Beraninya kamu mengolok-olok kakakmu ini sekarang?" Aku akhirnya tertawa lepas begitupun kakakku. Kami berbincang-bincang selama beberapa saat, mengenai harinya dan hari saat aku masih dikurung dalam kastil.


"Kamu seperti tuan putri saja, Kyle. Lihat kulitmu, sangat putih dibandingkan gadis-gadis bangsawan yang barusan menyapaku."


"Yang benar, kak? Mungkin mereka perlu menggunakan skin care yang sama sepertiku setiap hari," aku menjawabnya sambil mengusap-usap tengkuk leherku dengan canggung.


"Skin care?" melihat wajah Myles yang kebingungan membuat diriku teringat, setelah mengatakan bukan apa-apa yang dibalas dengan tatapan kebingungan, akhirnya aku pamit dari kakakku. Setelah aku mundur, langsung banyak gadis-gadis bangsawan yang sepertinya seumuran dengannya langsung mengerubunginya seperti gula yang dikerubungi oleh semut.


Aku berjalan mengitari Aula Kerajaan yang megah ini. Memperhatikan lampu yang begitu besar dan berkilau hingga pola marmer lantai yang memiliki ornamen berbentuk hati. Aku memperhatikan itu semua seraya mengambil makanan ringan dan juga permen, tidak ada orang yang menghampiriku.


Saat aku berdiam di satu tempat yang ramai, semua orang langsung menghindar dan menjauh bagaikan burung yang bertebaran karena ada badai. Sedikit menyakitkan, tetapi tidak masalah. Aku jadi mendapatkan lebih banyak permen dan coklat.


Berpikir sudah memakan dan mencoba semua camilan manis di ruang Aula, aku berjalan menuju koridor yang mengarah ke ruang dansa. Saat menyusuri koridor yang cukup luas ini, langkahku terhenti ketika mendengar isak tangis seorang perempuan.


Lebih tepatnya, isak tangis anak perempuan.


Bulu kudukku meremang. Tentu saja, ini bukan video game horror yang baru ku beli sebelum aku bercerai. Ini adalah game biasa...iya, bukan game horror. Aku berjalan menelusuri setiap sudut koridor dan semakin lama, suara isak tangis itu terdengar lebih jelas. Aku mempercepat langkahku, mungkin ada anak orang kesasar di kastil orang kan, mana tahu? Nanti berabe, Ayahku pula yang kena. Setelah itu Hero datang dan membunuh kita semua secepat kilat.


Mari kita lihat...


Sesampainya aku di ruang tengah koridor yang menyambung pada empat arah berbeda, aku menemukan sumber isak tangis itu.


Seorang anak perempuan, sedang menangis tersedu-sedu hingga suaranya terdengar parau dan menyedihkan.



Aku berjalan menghampirinya, dia berhenti menangis sesaat aku berjalan mendekatinya, namun kembali menangis lebih keras.


"Ibuuuu....Ayaaahh...uhuhuhu, aku benci tempat iniiii..hik...aku ingin puyaaaanggg!!!"


"Ingin kuyang, dek? Kebetulan dek, ini Abang punya kekuatan Dark Magic. Boleh deh buat pelanggan pertama dapat diskon 60 %."


Sambil menertawakan bercandaan diri sendiri dalam hati, aku bertanya pelan pada anak perempuan yang sangat cantik itu.


Pasti dia salah satu anak bangsawan yang tersesat. Rambutnya yang panjang berwarna keunguan yang terlihat indah, matanya yang berwarna biru langit tanpa awan itu mengeluarkan air mata yang terus mengalir sederas air terjun Niagara Falls. Dia mengusap wajahnya dari air mata dan memandangiku dengan tajam, "Kamu sendiri masih kecil...hik...mengapa orang yang lebih pendek dariku memanggilku...hik...adik kecil?!" Suaranya menyadarkan ku lagi, benar juga, aku ini masih anak kecil disini !


Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat sambil melambaikan tanganku, "Tidak, umm, maksudku karena kakak terlihat lebih muda dan manis jadi ya...ku panggil seperti itu."


Dia berhenti menangis dan memperhatikanku selama beberapa saat sambil menarik ingusnya yang berceceran dari hidung kecil yang terlalu mancung itu.


Ahhh, kenapa di hari ulang tahun kakak yang cerah ini, aku malah menghibur 2 wanita yang menangis tersedu-sedu ??


Aku mengambil tisu yang juga kubawa, dan menyodorkannya pada anak perempuan yang mengaku lebih besar dariku.


Memang...tubuhnya sedikit lebih tinggi dariku...curang sekali.


Dia tidak mengambilnya dan meneruskan untuk menangis. Aku menghela napas dan langsung mengelap ingusnya yang sudah berceceran ke lantai. Dia mengerutkan dahinya padaku dengan tidak senang, tapi membiarkan tanganku mengelap hidungnya.


"Kenapa kamu menangis? Tuh kan, riasanmu yang sudah dipasang hingga membuatmu menjadi sangat cantik jadi belepotan kemana-mana..."


"..tapi aku tidak memakai riasan apapun.."


Oh..kukira..


Melihatku yang terpaku dan seperti kebingungan, dia tertawa renyah. Mendengar suara tawanya yang merdu, aku ikut tersenyum lebar. Dia berhenti tertawa seakan terkejut, "Ah, aduh!" Diikuti dengan meringis, aku melihat ke arah kakinya membengkak.


"Kamu terkilir? Apa yang sebenarnya terjadi?" aku bertanya sambil dengan perlahan dan selembut yang kubisa menyentuh pergelangan kakinya, dia meringis dan tubuhnya merinding.


"Aku ingin pergi ke toilet...di ruangan itu ramai sekali dan aku terpisah dengan ibuku. Aku berlari kemari karena tidak tahan lagi...hik...tapi aku malah tersandung kakiku sendiri dan terjatuh...hingga..hik...seperti ini...uhuhuhu...aku ingin ke toilet."


Mendengar kisahnya, mau tidak mau aku menjadi kasihan padanya. Dia tersesat dan terpisah dari ibunya. Juga dia ingin pergi ke toilet di kastil yang sangat luas ini. Pasti dia tidak ingin merepotkan siapapun dan memilih untuk tidak bertanya ke pengawal yang berjaga di setiap sudut Aula.


Aku membisikkan mantra yang baru kupelajari pagi ini. Perlahan cahaya muncul dari telapak tanganku dan kudekatkan ke area pergelangan kakinya yang membengkak. Dia memperhatikan tanganku dengan seksama.


Dalam sekejap, pergelangan kaki kirinya yang bengkak, menghilang tidak berbekas dan tetap semulus sebelumnya. Dia terkesiap melihat kakinya yang sudah tidak bengkak lagi. Dengan terburu-buru, dia berdiri dan memakai sepatunya sambil memelototi kakinya seperti benar-benar tidak percaya.


"Ah, aku sudah bisa berdiri dan berjalan! Lihat!" Dia memanggilku dengan penuh semangat sambil memutar tubuhnya dengan elegan. Melihatnya yang berputar seperti itu membuatku teringat sesuatu, aku melihat isi map kastil dan menggenggam lengannya dengan lembut untuk menyadarkannya yang masih terlihat senang dan berputar-putar seperti orang gila.


"Ayo, ku antar ke toilet." Dia melihatku dengan bingung namun berjalan mengikutiku dari belakang dengan telapak tanganku yang menggenggam lengan tangannya yang sangat kecil. Sesampainya depan toilet yang ada di ruang dansa yang ternyata kosong, dia langsung berlari masuk ke dalam dengan terburu-buru. Sepertinya dia baru ingat dia sedang terburu-buru mau ke toilet.


Benar-benar anak kecil...aku terkekeh menertawakannya dari dalam hati.


Tak lama, anak perempuan itu keluar dari toilet dengan wajah memerah bahkan lebih merah dari tomat. Aku tersenyum ke arahnya, "Sekarang apa lagi?"


Dia menggenggam erat gaunnya dengan tangan mungilnya yang putih seputih susu. Matanya bergerak kesana-kemari dan alis matanya mengerut. Akhirnya, setelah beberapa lama dia seperti itu, dia menunduk ke arah lantai dan berkata dengan suara yang sangat kecil, "....sih..."


"Iya? Maafkan aku, tapi suaramu terlalu kecil?" aku bertanya dan berjalan selangkah mendekatinya sambil berkonsentrasi untuk mendengarkannya.


"...mau sampai kapan kamu mempermalukan ku?...kubilang... terimakasih banyak atas bantuannya..." Dia menggerutu dan air matanya mulai berlinang lagi. Lalu, dengan kasar dia menarik dan meremas kemejaku menggunakan kedua tangannya, aku pun dia guncang-guncang ke depan dan belakang hingga kepalaku mulai semakin pusing.

__ADS_1


Aku dengan panik langsung menghiburnya lagi, ku tepuk pundaknya secara pelan dan menyodorkan coklat serta permen yang kusimpan. "Ayolah, aku benar-benar tidak mendengar suaramu yang indah itu. Cepat makan coklat dan permen ini agar suasana hatimu membaik."


Anak perempuan itu melepas kemejaku yang menyedihkan, menyapu air matanya dan mengambil coklat dan permen dari tanganku, "Kenapa kamu sejak tadi terus memujiku cantik, indah, imut..lucu..." sambil menggerutu dia memakan salah satu coklat setelah membuka bungkusnya. Aku tersenyum lebar dan mengangkat bahuku, "Mau bagaimana lagi, kamu benar-benar terlihat sangat cantik dan manis, kukira kamu lebih muda dariku.."


Dia menggumam sambil mengunyah coklat dengan wajah memerah, dari kejauhan, terdengar suara teriakan orang dewasa, seperti suara pria dan wanita yang memanggil-manggil nama seseorang.


"Violeta?! Kamu dimana???"


"Violeta, anakku???"


Seketika wajah anak perempuan di hadapanku itu kembali menjadi tenang, dia mengelap sisa air matanya dan tersenyum ke arahku seakan dia tidak pernah menangis sebelumnya. "Aku berhutang padamu, cowok aneh," setelah mengatakan itu, dia berjalan melewatiku dengan setengah berlari.


Aku memperhatikannya yang berlari dan tiba-tiba dia berhenti di antara koridor dan menoleh ke arahku. Sambil tersenyum manis dan matanya yang mengerling, dia berkata pelan dengan suaranya yang merdu...


"Oiya, perkenalkan aku ini Violeta Club."


Dia langsung membalikkan tubuhnya dan berlari, meninggalkanku yang termangu..


...〈 +100 Rasa Suka Violeta 〉...


...〈 +100 Kepercayaan Violeta 〉...


"OHHHHHHHH!!!" kali ini, aku terkesiap begitu heboh hingga suaraku menggema. Dia melirik ke arahku dan tertawa renyah sambil kembali berlariㅡ


...「Status」...


【 Nama: Violeta Club 】


【 Usia: 8 tahun 】


【 Gelar: Putri Keempat Kerajaan Club 】


【 Nama Asli: Vanessa Club 】


【 Level: 11 】


【 Okupasi: Putri Kerajaan Club 】


【 Ras: Manusia 】


【 Kekuatan: 36(D) / Potensi A 】


【 Kesehatan: 35(D) / Potensi B 】


【 Kelincahan: 45(C) / Potensi A 】


【 Magis: 35(D)/ Potensi B 】


【 Perlawanan Magis: 36(D) / Potensi B 】


【 Pengetahuan: 40(C) / Potensi C 】


【 Keberuntungan: 25(D) / Potensi D 】– Spesial


【 Rasa Suka: 100 (Pasangan) 】


【 Kepercayaan: 100 (Sahabat) 】


【 Bakat 3/5 】 ▶


【 Skill 4/5 】 ▶


...《 Selamat anda berhasil menyelesaikan tahap pertama SP Q1 \= Harem Starter 》...


...《SP Q1 \= Harem Starter》...


...《Pada quest ini, Host perlu menaikkan angka status Kepercayaan dan Rasa Suka pada 3 wanita hingga penuh.》...


...《 3 wanita ▼ 2 wanita tersisa 》...


...《Tersisa 2 wanita lagi sebelum anda dapat membuka fitur Cheat.》...


...「Selamat, Anda naik level!」...


...《 Level 8 ▲ Level 18 》...


...《 TUTORIAL Q20 \= Berhasil menyelamatkan tuan putri seperti pangeran sejati (Selesai) 》...


...《 Mendapatkan 30 point. 》...


...《 + 30 Point 》...


...《 LOVE Q1 \= Berhasil membuat individu jatuh cinta pada pandangan pertama (Selesai) 》...


...《 Mendapatkan 100 point. 》...


...《 + 100 Point 》...


.........


Kesampingkan semuanya...


Pantas saja Violeta terjebak posisi menyedihkan seperti itu...status keberuntungannya saja tidak mencapai tingkat C..


......................

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2