
...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️』...
Previously :
"ROYY! APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN DI TEMPAT INI?!!"
Pak Dante, sudah berdiri di ambang pintu kantin seraya menatap tajam ke arahku yang sudah terjatuh sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Roy, yang wajahnya sudah pucat pasi.
Ahahaha, kepergok deh lu.
...****************...
Pak Dante langsung menarik tubuh Roy keluar dari kantin semudah dia membawa karung kosong. Teman-temannya langsung memunguti kepingan emas yang berjatuhan sebelum berlari mengikut Pak Dante yang menyeret tubuh Roy.
Kini tersisa hanya ada aku, Amy dan Lyle. Mungkin, selebihnya sudah mengambil langkah seribu saat perhatian kami fokus pada Roy. Atau ketika Roy sedang fokus terhadap kami. Entahlah.
Lyle melihatku dengan bola mata yang bergetar sebelum membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, "Terimakasih banyak, Tuan Kyle Heart! Saya benar-benar akan membayar kepingan emas milik Tuan!"
"Tidak perlu, aku hanya ingin dia cepat pergi saja," balasku acuh tak acuh sebelum kembali duduk di atas kursiku untuk kembali makan.
"Sa-sa-saya akan benar-benar membayarnya kembali!!! Saya permisi!" Lyle langsung berlari keluar dari kantin, meninggalkan ku bersama dengan Amy saja.
Amy menghela napas berat sebelum kembali duduk di kursi sebelah mejaku. Sesekali, matanya mencuri-curi pandang ke arahku.
Amy berusaha untuk melakukannya secara diam-diam, tetapi karena rambut kuncir duanya bergerak kesana kemari, sangat mudah mengetahui apa yang sedang ia lakukan.
"Ada apa? Kamu juga lapar? Mau?" Aku menyodorkan coklat padanya. Dia tersentak dari kursinya dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Aku tidak mau makanan milikmu, bajingan..."
"Ya sudah," aku mengangkat bahu tidak peduli dan memasukkan coklat itu ke dalam mulutku sebelum mengunyahnya.
Setelah beberapa saat terdiam, Amy kemudian memainkan ujung rambutnya dan bertanya, "Apakah kamu benar-benar tidak tahu seberapa bahayanya tadi? Kamu hampir saja ketahuan menyerang seorang senior, bahkan dia adalah ketua dari Unity Arena."
"Aku tidak tahu," ujarku tidak peduli.
Mendengar jawaban dariku membuat seluruh kekhawatiran di wajah Amy terganti oleh rasa kesal, "Kamu tidak tahu bahwa jika berurusan dengan klub Unity Arena adalah kesalahan besar! Mereka tidak akan pandang bulu walaupun kamu ini adalah murid Elit kelas A. Banyak hal buruk yang akan terjadi jika mencoba melawan mereka! Apa kamu tidak takut jika kamu tiba-tiba menghilang tidak jelas?!!"
"Lalu, kenapa tadi kamu tidak takut untuk melawan mereka?"
__ADS_1
"Yang kulakukan itu berbeda! Memang mereka bertindak tidak sopan...tapi! Mereka tidak akan menghabisi ku karena koneksi yang kumiliki dengan Kerajaan Spade. Bagaimana denganmu? Mereka pasti dengan mudah dapat melenyapkan mu!"
"Itu tidak masalah. Biarkan saja mereka melakukan apa yang mereka inginkan."
Menautkan kedua ujung alis matanya, Amy menunjukkan ekspresi ternganga keheranan setelah mendengar jawabanku itu. "Kenapa?" Aku bertanya padanya sambil mengunyah roti coklat yang lainnya.
"Kamu benar-benar sudah gila ya, bajingan? Sudahlah! Nanti jika terjadi sesuatu padamu, jangan salahkan aku yang sudah memperingati mu!" Amy mendengus kesal sambil berdiri dari kursinya sebelum menghentakkan kakinya keluar dari kantin.
Melihat Amy yang sudah pergi, aku memperhatikan keadaan kantin yang menyedihkan. Menggunakan sihir Item Reverse, aku mengembalikan seluruh meja dan kursi hancur ke bentuk semula dan membersihkan semua kekacauan Roy.
Selesai memperbaiki seluruh kekacauan, aku mendongakkan kepalaku pada salah satu kamera yang sangat kecil, di sudut ruangan tepat di atas area meja memesan makanan.
Seseorang pasti terus memperhatikan kejadian barusan, orang itu memilih untuk tetap membiarkanku menyerang Roy, namun begitu Roy menyerangku secara terang-terangan, orang itu langsung memanggil Pak Dante kesini.
Itu mengartikan orang dibalik kamera berpihak padaku. Aku dapat menebak dengan mudah, siapa orang itu, orang yang memiliki akses penuh terhadap seluruh Akademi ini.
Tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah Kepala Akademi ini, KITSUNEEEEEEEEEEE.
Sebagai seseorang yang memiliki kemampuan insight seperti Valeria, Kepala Akademi Kitsune sepertinya sudah tahu seberapa besar kekuatanku. Atau tidak?
Mungkin, setengahnya.
Begitupun dengan apa yang terjadi saat hari pertamaku di dalam akademi ini, aku curiga bahwa hukumanku yang begitu berbeda dari Ryder beserta kroninya, merupakan salah satu rencananya.
Mataku terus memicing tajam ke arah kamera itu, mencoba terus menatap pada orang dibaliknya secara tidak langsung. Lensa kamera itu terlihat membesar, sepertinya dia menyadari bahwa aku sudah menyadarinya dan memperhatikannya balik.
Bel seketika berdering, mengisi kekosongan di sekitar kantin. Aku menghela napas dan memberi lirikan terakhir ke arah kamera itu, sebelum berjalan keluar dari kantin.
...「Host dapat dengan mudah menemuinya kapan saja untuk menanyakan apa yang sedang Host pikirkan」...
Tidak Chae Rin, kita biarkan saja dahulu dia bertindak sesukanya. Dia juga pasti tahu kapan waktu yang tepat untuk kita bertemu secara langsung.
Aku akan menunggu saat itu tiba barulah aku akan mengunjungi Kepala Akademi ini.
Firasatku juga mengatakan bahwa dia bukanlah demi-human biasa.
...「Baiklah, aku ada disini jika Host membutuhkan bantuanku」...
__ADS_1
Tentu saja, terimakasih Chae Rin.
...「Tidak masalah」...
Kakiku menuruni anak tangga satu persatu sebelum keluar dari gedung Elites untuk bergegas menuju gedung Create Center di dekat dengan gedung Regular.
Menyusuri jalan bebatuan, memperhatikan pemandangan yang diisi oleh pepohonan, aku menghirup napas secara perlahan. Merasa tenang, akhirnya aku sampai di depan gedung dimana kelas Seni akan dimulai. Mencari ruangan yang tepat selama beberapa menit, aku menemukan satu ruangan yang begitu luas dengan peralatan melukis berjajar secara rapi dari sudut ke sudut.
Sudah ada beberapa murid yang duduk di belakang kanvas sambil mengobrol dengan teman mereka, bisikan pelan mengisi seluruh ruangan, jadi begitu kakiku melangkah masuk ke dalam, mereka berhenti mengobrol dan menoleh untuk memandangiku.
Mungkin karena pintu masuk berada di belakang sehingga membelakangi para murid, bisa saja mereka mengira guru sudah datang. Akan tetapi, begitu menyadari aku juga murid seperti mereka, mereka kembali melanjutkan perbincangan mereka.
Mencari tempat duduk yang tertutup dan sepi, aku memilih kursi tepat berada di paling sudut dengan minim cahaya. Aku dapat bersembunyi jika aku mau, tapi aku memilih duduk saja dan mengikuti kelas.
Lagipula, aku senang melukis. Oleh karena itu, sepertinya tidak ada yang perlu aku takutkan selain jika tiba-tiba saja ada sesi perkenalan diri satu persatu ke depan ruangan atau menjelaskan karya lukis yang sudah diciptakan ke depan semua murid ini tepat di tengah ruangan.
...「Memangnya kenapa jika seperti itu? Bukankah itu saat yang tepat untuk menunjukkan pada para gadis bahwa Host merupakan orang yang terpelajar mengenai hal estetika dan seni?」...
Tidak-tidak, Chae Rin. Aku ini bukan pembicara yang handal. Mungkin, jika saat itu terjadi, bisakah kamu mengendalikan tubuhku atau semacamnya ??
...「Walaupun aku dapat melakukannya, aku tidak ingin melakukannya Host. Tolong jangan minta hal aneh semacam itu padaku」...
Ayolah, bantu aku Chae Rin...
...「Tidak」...
"Selamat siang semuanya! Sepertinya kalian sudah siap untuk memulai kelas Seni di hari yang sangat cerah ini??"
Suara yang menggelegar, menggema ke seluruh ruangan ketika seorang pria tua dengan rambut putih dan kumis yang terlihat begitu tidak asing, masuk ke dalam ruangan.
Jalannya tegap seperti seorang tentara dan dia menenteng tas berbentuk persegi sebesar kurang lebih 50x50 cm.
Begitu dia berdiri di depan kelas, aku sangat terkesiap memandangi seseorang yang sangat kukenal. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Kukira dia masih berada di kampung halamannya.
Gregory, veteran perang dari Kerajaan Heart, tersenyum lebar ke arah seluruh murid sambil memilin ujung kumisnya yang putih.
"Selamat datang di kelas Seni Unity Academy anak-anak! Perkenalkan saya Gregory. Guru Seni kalian di tahun pertama hingga tahun ketujuh kalian!"
......................
__ADS_1
BERSAMBUNG..