CHANCES - Battle Of Heart : Online

CHANCES - Battle Of Heart : Online
Interlude VIII. Bianca's Heart


__ADS_3

...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️ 』...


Sebenarnya sih, gue gak mau jadi tuan putri.


"Kamu tuh ya, udah Ibu bilangin jangan main keluar dari istana lagi!" cecar Ibu. Ekornya mengibas ke sana kemari dan wajahnya yang putih berubah menjadi tomat kepanasan.


Aku mendengus dan menyilangkan tanganku sambil mencoba terlihat mendengarkannya tetapi membuang ucapannya lagi dengan lamunanku. Enaknya nanti malam kemana ya? Ke bar kayak biasanya atau main ke rumahnya Eliot ?


Hihihi, udah lama deh gak main berduaan sama Eliot, pikirku sambil cengengesan. Ibuku langsung mendamprat wajahku dengan kibasan ekornya. "Aduhhh, emaaakk!! Sakit tauk!" aku mengerang sambil mengelus-elus wajahku dengan mengeluarkan bulu dari lenganku dan menggunakannya.


Ahhh, menjadi demi-human itu enak sekali. Bulu-bulu ku ini sangat lembut dan hangat.


"Kamu tuh ya, dengerin kalau orang tua lagi ngomong! Awas aja nanti kalo kamu keluar istana diem diem lagi buat ketemu pria nakal seperti Eliot! ...nanti ku kirim kau ke negri lain lewat gerbang keramat!" ibuku mengancam dan langsung pergi namun menoleh ke arahku, "Juga...tuan putri tidak boleh menggunakan kata-kata seperti itu yang sangat tidak sopan!"


Setelah melihat beliau pergi dari ruang kamar tidurku, aku mendengus dan melemparkan tubuhku ke atas kasur. Ini dia, kalau jadi tuan putri harus inilah itulah. Membosankan banget. Kan enak kayak Eliot yang kerjaannya bisa main ke mana aja bebas gitu sama teman-teman yang lainnya.


Memangnya apa salahnya dengan Eliot. Dia kan ganteng, baik, banyak temennya...


Gue gak tahu kalau ini perasaan suka atau cinta tapi gue gamau aja gak bisa gak ketemu sama dia...


Aku menghela napas panjang dan menutup mataku hingga aku jatuh tertidur.


...****************...


Aku bangun terlambat, waktu sudah menunjukkan jam 22.00 malam. Tidak ada yang membangunkan ku untuk makan malam. Meskipun aku merupakan anggota keluarga Kerajaan dé Blanc, tidak ada yang menganggap ku seperti itu.


Karena aku bukan putri pertama ataupun pewaris mahkota, aku seperti anak tambahan saja di keluarga ini. Jadi, daripada menerima perlakuan jahat kakak-kakak ku, lebih baik aku pergi keluar dan bermain dengan anak-anak kota dan Eliot.


Berpikir aku bisa pergi ke bar untuk mencari makanan dan bertemu Eliot, aku melompat keluar jendela dengan cakar ku. Dengan mudah aku melewati dua penjaga kerajaan yang sedang berpatroli dan berjalan menuju perkotaan dengan cepat.


Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 malam namun jalanan masih ramai oleh demi-human yang berlalu lalang dan penjual makanan di pinggir jalan. Kerajaan dé Blanc memiliki beberapa kota kecil dan ini adalah kota utamanya yaitu Kota Vælco. Perjalanan menuju bar membuatku sedikit bersemangat dan juga senang karena sejauh mata memandang tidak ada penjaga yang berpatroli di kota malam ini.


Dentingan bel berbunyi saat aku mendorong pintu bar yang langsung disambut oleh seekor kucing setengah manusia bernama Tania, "Selamat datang~. Ah, Nona Bianca!" Dia tersenyum namun begitu menyadari bahwa itu diriku, wajahnya menjadi terlihat bingung dan was-was. Aku memandanginya dengan penasaran, "Kenapa Tania? Kenapa lu liat gue kayak gitu?"


Oh, sekilas aku melihat Eliot duduk di salah satu meja yang ada di sudut bar.


Tania berusaha berdiri di hadapan ku untuk menutup pandanganku yang mengarah ke Eliot. "Kenapa Tania? Itu ada Eliot kan? Kenapa lu nutupin pandangan gue??" cecarku sambil berusaha untuk melihat ke arah Eliot dan saat aku berhasil mendorong pelan Tania, aku melihat Eliot sebelum ingin berteriak memanggil namanyaㅡ


Akan tetapi, suaraku terhenti saat melihat Eliot kini sedang merangkul seorang wanita setengah rubah dengan mesra dan mereka saling berbisik-bisik sambil tersenyum. Sesekali Eliot berteriak kegirangan saat wanita rubah itu menciumi pipinya.


Tania menepuk punggungku dan berbisik pelan, "Maaf, Nona Bianca. Saya tidak bermaksud untukㅡ"


Aku menggelengkan kepalaku pada Tania dan langsung berjalan keluar dari bar dengan terburu-buru sambil menahan tangisanku.


...****************...


Sakit? Tidak juga. Kecewa? Tidak juga.


Eliot kan bukan siapa-siapa bagiku begitupun sebaliknya, dia hanya baik padaku karena aku adalah anggota keluarga Kerajaan.


Aku berjalan dengan cepat tanpa memperhatikan jalan sehingga menabrak orang yang langsung akan meneriaki ku namun berhenti karena melihatku adalah manusia setengah macan putih.


Satu-satunya ras terakhir dan merupakan ras asli anggota keluarga Kerajaan dé Blanc.


Begitu mereka menyadari siapa diriku, aku langsung berlari dengan cepat kembali masuk ke dalam Kerajaan. Melihat beberapa pengawal yang ternyata mengetahui bahwa aku lari dari kamar kini sedang mencari ku.


Aku mengurungkan niatku untuk kembali ke kamar dan berlari masuk menuju taman labirin yang ada di samping istana. Berjalan tanpa mempedulikan arah, aku hanya terus berjalan dan berjalan.


Jika saja aku bukan anggota keluarga Kerajaan...Apakah Eliot akan memperhatikan ku sama seperti saat dia memperhatikan wanita rubah itu?

__ADS_1


Sesampainya di ujung labirin, mataku terpaku pada pintu besar yang ditutupi oleh ikatan dedaunan dan tanaman menjalar yang liar.


Gerbang ini adalah Gerbang Keramat menuju ke dunia lain. Tidak ada yang tahu mengapa gerbang itu ada dan bagaimana itu diciptakan. Tapi, menurut rumor yang beredar di istana. Sekali kamu masuk ke dalam gerbang itu, kamu tidak akan kembali lagi.


Aku duduk di pinggir pancuran yang dikenal keramat juga karena dapat mengabulkan permohonan seseorang yang memiliki hati yang suci. Aku memperhatikan Gerbang Keramat dengan seksama dari tempat dudukku. Ornamen pintunya terlihat sangat mewah dan berbentuk seperti seorang manusia dan salah satunya adalah ras demi-human macan putih ?


Aku menghela napas dan menggerutu dalam hati. Mereka terlihat mesra dan cocok sekali.


Aku cukup penasaran, apakah pria yang tepat untukku juga sebenarnya adalah seorang manusia yang hebat dan tampan ?


BRAKK


"Eh?!" tiba-tiba saja pintu Gerbang itu terbuka sendiri secara perlahan dan air mancur di belakangku mulai mengalirkan air dengan deras diikuti dengan cahaya yang sangat terang. Begitu aku menyadari apa yang terjadi, aku ditarik oleh sesuatu untuk masuk secara paksa ke dalam gerbang itu.


BLAAAMMMM


Pintu Gerbang itu tertutup dengan sendirinya.


...****************...


Singkatnya, aku masuk ke dunia lain.


Dunia ini sepertinya adalah dunia manusia namun aku sempat melihat beberapa yang memiliki ras setengah-setengah sepertiku.


Akan tetapi, sebelum aku menyadarinya kini aku sudah berada di balik jeruji besi di dalam sebuah ruangan bawah tanah dengan kedua tangan, tubuh dan kakiku di rantai. Aku lapar. Aku belum makan apapun semenjak aku dimarahi oleh ibuku.


Apakah aku akan diberi makan disini? Apakah aku menjadi budak sekarang? Anehnya, aku sama sekali tidak merasa sedih sedikitpun.


Sesekali seorang pria bertubuh besar dan gemuk berjalan ke arah ku sambil menggosok-gosok tangannya sambil memberikan ku sepiring makanan. Lalu, dia mengatakan sesuatu yang tidak dapat kupahami. Aku membuka mulutku, "Apa kata lu? Gue gak ngerti!"


Pria gemuk itu kemudian langsung pergi meninggalkanku sendirian di dalam ruang bawah tanah itu. Sesekali, pria itu membawa orang lain. Begitu mereka melihat ku banyak yang melihatku dengan mata yang tidak sopan. Seraya menahan tangis, aku berharap tidak dijual ke setiap orang disana yang melihatku. Mungkin di dunia ini aku merupakan ras yang langka.


Akhirnya, pria itu menutupi depan jeruji besiku menggunakan kain merah karena aku hampir membunuh seseorang saat aku mencoba mengeluarkan sihir hipnotis ku untuk kabur dari tempat ini.


Beberapa lama, waktu pun berlalu dengan cepat hingga, saat itu datang. Kudengar beberapa langkah kaki mengikuti langkah kaki berat pria gendut itu. Apa ini? Dia akan menjualku lagi ? Sebelum itu, aku akan menggunakan kekuatan untuk sihir ku yang terakhir. Saat aku sudah bersiap dan melihat bayangan di balik kain merah itu.


Perlahan-lahan kain itu terbukaㅡ


Terdengar bunyi pria gemuk itu menarik sebuah tuas sehingga menimbulkan bunyi yang kuat yang biasa ia lakukan dan dengan perlahan kain merah terangkat..


Kau tahu saat bagian slow motion saat tokoh utama wanita dan tokoh utama pria bertemu dalam sebuah pertemuan dramatis dalam novel-novel romantis ?


Ini terjadi padaku, begitu kain merah itu tersingkap...selain senyuman lebar dari si pria gemuk. Aku terkesiap melihat seorang pria di tengah dua wanita yang berdiri di belakangnya. Niatku yang awalnya ingin membunuhnya tiba-tiba terlintasㅡ


Aku kan kemari karena akan bertemu calon pasanganku...apakah pria ini? aku memperhatikannya yang juga sama-sama memperhatikanku dengan seksama.



Rambutnya yang berwarna merah gelap terlihat berkilauan dengan matanya yang berwarna hijau gelap yang rindang...saat aku berpikir dia langsung menggumam, "Apa kamu Atla?! Bukan ya? Kalau begitu..." Dia langsung menutup mulutnya dan menatapku lagi dalam diam. Siapa Atla ?


Aku tidak terlalu peduli dengan siapa Atla sebenarnya tapi kenapa pria ini kelihatan sedih saat menyebutkan namanya ?


Aku menatapnya balik dengan mata biruku.


Tunggu, dia satu-satunya orang yang bahasanya dapat ku pahami !!!


"Siapa...kamu?" akhirnya dia kembali bertanya padaku. Aku membuka mulutku sebelum berkata dengan nada kesal, "Memangnya peduli apa Lu sama nama Gue?!" mulutku berbicara dengan cepat dan dia langsung menengok ke arah pria gemuk itu. Pria gemuk itu mengatakan sesuatu dengan panjang lebar. Pria yang ku takuti adalah calon pasanganku mengernyit, "Maksudmu..kamu tidak paham apa yang dia ucapkan tadi?" Dia bertanya ke setiap orang dan hanya mendapatkan gelengan kepala dan wajah bingung mereka.


Pria itu menoleh ke arahku dengan ragu sebelum berkata, "Aku adalah Akai, cepat beritahukan namamu padaku juga agar aku bisa membebaskan kamu dari tempat ini."

__ADS_1


Aku sedikit terkejut dengan nada memerintah darinya dan akhirnya mengangguk, "Kalo Lo maksa gitu ya udah, Nama gue Bianca dé Blanc, gue udah kelamaan stuck disini dan jadi bahan tontonan orang-orang macam elu...gua gak tahu gimana caranya balik ke Kerajaan gue, huhu."


Akai memegangi kepalanya seakan dia merasa pusing mendengar ucapanku. Ibuku bilang bahasa yang ku gunakan untuk berbicara sangatlah tidak sopan dan membuat kepala pusing tujuh keliling. Memangnya benar-benar seperti itu?


"Akan ku beli dia sebanyak 50 keping emas dan perak. Cepat bebaskan dia," sahutnya dengan tenang pada pria gemuk itu yang terlihat terperangah.


Singkatnya, Akai membeli kebebasanku.


Setelah dilepaskan dari semua rantai, Aku berjalan menghampiri Akai sambil mengelus-elus lenganku, ekornya bergerak ke kiri dan kanan dengan senang, "Makasih banget dah. Akhirnya gue keluar juga, tapi lu kayaknya kaya banget ya? Lu bukan Sugar Daddy kan? Cewek-cewek ini tu cewek lu?" aku bertanya dengan bercanda sambil melirik ke arah dua gadis cantik dibelakangnya yang memasang ekspresi campur aduk.


Akai pun terdiam sesaat sebelum memintaku untuk mengikutinya keluar dari tempat yang ternyata benar-benar tempat penjualan budak.


"Oke, sekarang lu mau bawa gue kemana? Kapan gue bisa balik? Gue tau gue tahanan lo, budak lo...tapi lo ga bakalan apa-apain gue kan?" sahutku yang berjalan di sampingnya.


Beberapa pasang mata terhenti melihat ku namun ketika menyadari ada kalung budak di sekitar leherku, mereka langsung berjalan seakan tidak pernah peduli sama sekali. Awalnya Akai tidak ingin kalung ini dipasangkan ke leherku namun dia akhirnya berkata jika aku berkeliling ke daerah kota tanpa kalung itu, maka aku akan ditangkap lagi seperti sebelumnya.


Tentu saja, aku menurutinya. Sepertinya aku harus bertingkah baik sekarang.


Aku tidak ingin lagi terjebak di balik jeruji besi itu dan dirantai...rasanya...sangat sesak.


Akai yang terdiam beberapa saat, langsung menoleh ke arahku dan segera menarik tanganku sebelum membawaku menuju tempat yang sepi. Kedua gadis yang ada di belakangnya juga mengikuti kami berdua.


Apa...apa yang akan mereka lakukan padaku?


Aku mulai merasa takut dan mencoba melepaskan tangannya Akai dari lenganku, "Lo jangan berani-berani buat nyerang gue disini nantiㅡ"


"Gua bakal kirim lo pulang," Akai memotong perkataanku dan aku terdiam melongo menatapnya. Apa tadi dia bilang?


"Tunggu, lu bisa bahasa gue?" tanyaku dengan mata terbelalak, dia hanya mengibaskan tangannya ke arahku sebelum tiba-tiba penglihatan ku menjadi gelap.


...****************...


Begitu terbangun, aku sudah berada di tengah dekapan ibuku yang menangis tersedu-sedu. "Maafkan ibu nak, tolonglah ibu untuk segera bangun. Ibu akan membiarkanmu melakukan apapun, ibu berjanji tidak akan memarahi mu lagi nak," suaranya terdengar parau.


Aku perlahan memeluknya kembali dan tubuhnya membeku sebelum beliau melihatku, "Biancaaaa!!!!"


"Iya, Ibu. Ini Bianca."


Aku terus memeluk ibuku dan akhirnya tahu bahwa aku jatuh pingsan dan tidak terbangun lagi selama beberapa bulan di dunia ini padahal sebelumnya aku ada di dunia lain.


Pada akhirnya, aku menceritakan semua yang kualami pada ibuku yang langsung geram ketika mengetahui aku dijadikan budak.


Namun, aku langsung menenangkannya dan ibuku akhirnya bertanya padaku, "Tapi, setahu ibu...belum ada yang pernah kembali jika menggunakan gerbang itu...kenapa kamu bisa kembali???"


Aku tersenyum tipis saat mengingat seorang pria berambut merah yang bertingkah sedikit aneh, "Ada seseorang yang menolongku ibu. Aku tidak tahu kenapa tetapi aku yakin dia adalah orang yang saaangat kuat. Bahkan lebih kuat dari ayah..."


"Oh, apakah kamu sudah melupakan Eliot?"


Aku mengerlingkan mataku, "Eliot bahkan tidak ada bandingannya dengan pria itu...tetapi sepertinya dia memiliki banyak pasangan..." gerutuku. Ibuku tertawa, "Begitulah nak, mungkin dia terlalu bersemangat dan menaruh hatinya ke setiap gadis yang dia jumpai."


Perlahan aku berbisik pada ibuku, "Ibu...apakah boleh aku menemuinya lagi nanti? Nanti saja...setelah aku menjadi gadis yang sempurna untuknya...aku benar-benar tidak berdaya di dunianya dan aku ingin bertambah kuat agar aku tidak lagi merepotkannya..." mendengarnya ibuku langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat dan bahagia.


Tunggu aku, Akai.


Aku Bianca dé Blanc, seorang demi-human macan putih, akan segera kembali padamu !


......................


...「 Interlude VIII. Bianca's Heart 〈 selesai 〉」...

__ADS_1


__ADS_2