
...『⚠️ Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi bukan kejadian nyata ⚠️ 』...
Previously :
Permintaanku sontak mendapatkan tatapan terkejut dan mulut yang terbuka.
Kenapa mereka malah memasang wajah seperti itu? Membebaskan semua budak kan sangatlah mudah..
Ya kan ?
...****************...
"Itu sangat tidak mungkin."
Raven berhenti memeluk lenganku, berjalan kembali ke depan meja dan mengangkat satu bungkus kepingan emas sebelum melempar dan menjatuhkan kepingan-kepingan emas itu ke tanah. Aku tersenyum dan berjalan menghampirinya dan duduk di kursinya.
"Aku tahu itu," jawabku singkat dan dia mengangguk, "Tentu saja, tak peduli sebanyak kepingan emas yang akan kamu berikan pada para penjual budak ataupun satu persatu Raja kamu berikan uang-uang ini. Tidak ada gunanya, tawanan dan para budak yang berasal dari keluarga miskin ataupun orang telah dijual akan tetap ada."
Mendengar ucapan Raven, Nina membalikkan pandangannya ke arah lain sambil menggenggam erat lengannya yang memiliki bekas luka. Aku menghela napas panjang, apa yang dikatakan Raven benar. Terlalu naif untuk mengandalkan uang yang sistem berikan, apa yang terjadi jika mereka terus meminta-minta dan akhirnya akan budak lain yang baru...
Kalau begitu...
"Aku tahu ini sedikit lebih tidak masuk akal dan akan merepotkan... bagaimana kalau kita memperkerjakan semua penjual budak?"
"Maksudnya?" Raven mengangkat sebelah alisnya. Aku terdiam sesaat sebelum melanjutkan, "Sama seperti yang kulakukan padamu, kita berikan donasi pada setiap penjual budak sehingga saat mereka menangkap dan mengurung budak, setidaknya mereka dapat mengurusi budak itu dengan baik...tentu saja dengan pengawasan dari pihak kita... begitupun ketika budak itu dibeli...aku ingin memberikan semacam jimat sehingga pembeli budak tidak dapat bersikap semena-mena pada budak itu... merepotkan bukan? Banyak lubang di dalam rencana ini.."
"Seperti, bagaimana jika para penjual budak itu berbohong ataupun akan ada pemberontakan dan semacamnya..." aku melanjutkan dengan muram.
Raven akhirnya bertanya, "Memangnya kenapa kamu ingin menyelamatkan para budak-budak yang tidak ada hubungannya langsung denganmu?"
Aku hanya terdiam namun tatapanku terarah pada Nina yang akan membuka mulutnya namun dia mengatupkan nya lagi. Raven yang sepertinya mengerti langsung menyeringai, "Ohoo, begitukah? Aku merasa sedikit iri dengan pelayan ini..."
Aku menggelengkan kepalaku, "Bukan hanya untuknya...mungkin..aku berharap untuk mengumpulkan banyak individu individu yang berpotensi untuk berkembang menjadi lebih kuat..." ucapanku membuat Raven terperangah. "Jangan bilang kamu akan membuat pasukanmu sendiri dimulai dari anggota-anggota ku?" tanyanya.
Aku menganggukkan kepalaku secara perlahan, "Mungkin ini terdengar tidak masuk akal...tetapi dibalik ini semua sepertinya ada satu pihak yang ingin menghancurkan semua Kerajaan di Cyrus ini...pihak itu jugalah yang ada kaitannya dengan kutukan kamu, Raven."
Raven terdiam dan dia melirik ke arah kedua anak buahnya yang terkejut begitupun dengan Nina. Hanya Night yang terlihat bingung, sepertinya dia tidak mengerti.
"Kita perlu berbicara.." Raven akhirnya membuka mulutnya. Aku menganggukkan kepalaku dan menoleh pada Nina dan Night. Night menganggukkan kepalanya dan pamit untuk pergi melanjutkan tugas sedangkan Nina menghampiriku namun matanya terus terarah pada Raven yang menatapnya balik.
"Tuan...apakah Tuan benar-benar harus berbicara berdua dengan 'gadis' ini?", tanya Nina sambil menunjukkan wajah mengancam nya pada Raven, aku berdiri dari kursiku dan menghampirinya, karena saat ini tubuhku adalah Akai, aku lebih tinggi darinya (Akhirnya !).
Nina memandangiku dan aku mengambil tangannya dan memegangnya dengan erat, "Kami hanya berbicara saja, tidak akan lama. Tenanglah dan tunggu aku diluar ya?"
Wajah Nina sempat memerah sesaat dia menggenggam erat tanganku kembali. Lalu dia menghela napas panjang sebelum menganggukkan kepalanya perlahan. Sambil tersenyum padaku dan menatap tajam Raven, akhirnya dia berjalan keluar dari ruangan dan menutup pintunya. Raven yang memperhatikan itu langsung tersenyum menyeringai padaku, "Jadi, kau sudahㅡ" sebelum dia melanjutkan ucapannya dengan mengangkat telapak tangannya untuk menunjukkan suatu kode yang tidak sopan, aku menepuk belakang kepalanya.
"Ouch !" rintihnya.
"Berhenti berbicara yang tidak-tidak. Cepat ceritakan bagaimana kamu mendapatkan kutukan aneh itu..." balasku sambil menduduki meja disamping nya.
Raven menarik napasnya panjang-panjang, kemudian mengeluarkannya dengan sangat perlahan. Sambil menahan tangisannya, dia menatap ke arah kepingan emas yang ada di tanah dan memainkannya dengan ujung sepatunya, "Sepertinya kau sudah tahu aku ini bukan manusia," dia melirik padaku yang mendengus dan mengangguk.
"Iya," jawabku dengan singkat.
Dia menyeringai seraya menggumam sudah kuduga sebelum melanjutkan ucapannya, "Kau harus tahu bahwa ras sepertiku yang campuran sebenarnya adalah sebuah hal yang sangat tabu. Baik untuk manusia dan ras lainnya...dahulu sekali...terjadi perang besar dimana iblis akan menghancurkan Cyrus. Saat perang itulah kedua orangtuaku bertemu karena mereka berdua sama-sama petualang. Saat Hero dari Kerajaan Spade berhasil membunuh Ratu Iblis, semua pasukan Iblis langsung menghilang begitu saja, selain para monster yang hidup di dungeon yang entah kenapa tidak ikut menghilang." Aku berpikir itu mungkin agar Hero dapat menaikkan levelnya saat berpetualang ke dungeon.
"Kala itu, ibuku yang merupakan seorang Elf mengandungku saat dia sedang sakit...sakit yang tidak diketahui...banyak yang bilang itu ulah dari Dark Magic tetapi ayahku menyangkalnya karena dia mengenal Dark Magician ataupun Dark Witch bukanlah orang yang akan menggunakan kekuatan mereka untuk membunuh orang yang tak bersalah..."
Raven menghela napas lagi, kini suaranya mulai semakin parau, "Ketika ibu melahirkan ku, dia meninggal. Aku terlahir dengan kutukan itu semenjak lahir. Ayah harus selalu berpindah-pindah tempat tinggal agar aku tidak membunuh orang di waktu aku tidur. Waktu itu, yang kuingat hanyalah aku menyerang seseorang dalam mimpi dan saat aku terbangun...darah ada dimana-mana, di bajuku..tanganku...dan yang terakhirㅡ"
Dia menatapku, "ㅡyang terakhir aku akhirnya membunuh Ayahku sendiri dengan tanganku."
Aku hanya diam memandanginya, karena aku tak kunjung membuka mulutku akhirnya dia melanjutkan, "Setelah itu, aku melanjutkan jejak ayahku, pergi ke sana kemari dan pada saat aku menemukan beberapa bandit yang akan menyerang ku, mereka berakhir menjadi bawahanku dan aku menciptakan Gang ini agar saat aku merasa aku harus membunuh," ucapannya terhenti.
"Saat kamu harus membunuh anggota Gang sudah menyiapkan korban yang dibunuh dari pekerjaanmu sebagai pembunuh bayaran?"
Dia mengangguk dan mulai membereskan kepingan emas yang tadi ia buang ke tanah, aku mengikutinya dan membantunya. Dia tersenyum tanpa menatapku dan terus mengambil satu-persatu kepingan emas sebelum memasukkannya ke dalam kantong.
"Aku tidak tahu bagaimana malapetaka sepertimu malah berakhir menolongku tetapi aku sangat berhutang padamu... terimakasih banyak," dia mendongak dan tersenyum padaku sebelum kembali mengambil kepingan emas dari bawah meja.
"Oh, menurutku rencana mu yang merepotkan itu, yang menggunakan uang untuk meyakinkan para penjual budak agar memperlakukan budaknya dengan baik dapat kucoba, tetapi itu akan berjalan sangat lama...kamu akan baik-baik saja soal itu?" dia bertanya saat kami selesai membereskan semua kepingan emas itu. Aku mengangguk, "Itu tidak masalah."
...「Kenapa kau tidak menggunakan GG GOD MODE saja untuk menghilangkan penggunaan budak di dunia ini?」...
Aku tiba-tiba saja tertawa dengan keras dan Raven menatapku dengan nanar, "Kamu tiba-tiba tertawa sendirian lagi, apa sebenarnya kamu ini gila?"
Aku hanya menggelengkan kepalaku dan menghela napas panjang. Lalu, Sistem apa yang akan terjadi jika penggunaan budak menghilang di dunia ini? Apakah itu menutup kemungkinan bahwa orang yang akan memperbudak orang lain muncul lagi?
...「Tidak juga, jika itu muncul lagi kemungkinan Host perlu melakukan hal yang sama menggunakan GG GOD MODE」...
Berarti hanya berakhir sama saja, lagipula aku tidak ingin terlalu bergantung pada GG GOD MODE kecuali untuk menyembuhkan dan membantu orang lain.. tunggu, apa GG GOD MODE bisa digunakan untuk membangkitkan orang yang sudah mati ?
...「Tidak bisa」...
Hm, sudah diduga.
"Hei, Akai?! Bocah? Kenapa kau melamun sekarang?" Raven menepuk pundakku dengan keras sehingga lamunanku buyar. Aku menganggukkan kepalaku, "Maafkan aku. Kalau begitu soal budak aku serahkan padamu...dan ikuti perintah Night nanti setelah dia menyelesaikan tugasnya karena anggotanya akan digabungkan dengan anggota Gang-mu."
Raven terdiam beberapa saat setelah mengangguk dan bertanya, "Malam ini aku harus bertemu dengan Josh Blackspade di suatu bar di kota. Bagaimana ini? Aku tidak bisa membawa kepalamu sehingga dia akan marah besar..."
Aku menyeringai, "Kalau begitu, biar aku pergi denganmu sebagai Akai...aku ada rencana."
Raven memiringkan kepalanya dengan tanda tanya yang muncul di atas kepalanya.
...****************...
Setelah meninggalkan markas Red Gang, aku dan Nina pergi ke toko untuk membeli perlengkapan melukis sebelum kembali ke kastil. Di dalam kastil, aku mendapat berita yang menggemparkan dari Raja dan dari keluargaku lainnya yang menungguku di ruang tahta.
"Kerajaan Spade meminta kita menghentikan perang dan membuka kembali jalan perbatasan dan jalur perdagangan antar Kerajaan Spade dengan Kerajaan Heart?" aku mengulangi kata-kata Myles. Kakakku mengangguk dan melihat ke arah Ayah.
__ADS_1
"Kalau begitu apakah Sekolah Khusus Pelatihan Perang akan dibatalkan, Ayah?"
Sekolah apa tadi ?
Ayahku, Raja Grim menggelengkan kepalanya. "Ini adalah sebuah kewajiban untuk seluruh warga Kerajaan Heart tidak terkecuali kamu Myles. Karena tradisi ini sudah berlangsung sangat lama sebelum ayah lahir jadi menghapusnya akan sangat sulit. Anggap saja pelatihan ini sebagai bekal nanti saat masuk ke Unity Academy."
"Yaaah," sebelum Myles akan mengeluh lebih jauh lagi. Pandangan dari Ratu Milan membuatnya terdiam membisu. Raja Grim bertanya padaku, "Kalau begitu Kyle, kuharap kamu tahu bahwa meskipun perang dengan Kerajaan Spade sudah berakhir kuharap kamu lebih menjaga sikapmu dengan Kerajaan Spade agar tidak timbul alasan lain untuk mereka memerangi kita semua."
Aku menganggukkan kepalaku perlahan, dalam hati ku berucap "Nah loh, memangnya ini semua salahku ?!"
...「Ini semua salahmu, Host. Tidak menggunakan GG GOD MODE untuk menghilangkan seluruh perang yang akan terjadi ataupun menghilangkan pasukan iblis」...
Saat Raja Grim membubarkan kami semua, aku berjalan bersama Nina. Aku menjawab Sistem dalam hati. Karena memang kita berkomunikasi dari hati ke hati.
Kenapa kamu sangat menginginkanku menggunakan kekuatan yang menyeramkan itu? Meskipun God's Blessing membiarkanku untuk menggunakan sebagian kekuatannya mengendalikan dunia ini, aku tetap tidak percaya 200% bahwa kekuatan ini tidak menimbulkan butterfly effect terhadapku.
...「God's Blessing adalah hadiah untukmu yang sudah menderita di kehidupan lamamu」...
Lalu, bagaimana dengan orang lain yang hidupnya lebih menderita dan mengerikan dariku?! Bukan hanya aku yang dikhianati!
...「Memangnya hanya kamu saja yang mendapatkan kesempatan kedua seperti ini?」...
Hah ?
...「Aku sudah menemui banyak Host. Mereka semua berakhir mengendalikan seluruh dunia sesuai dengan keinginan mereka dan pada akhirnya menghancurkan diri mereka sendiri oleh keserakahan mereka. Mereka selalu melupakan bahwa kekuatan ini tidak memberikan mereka kehidupan yang abadi」...
.........
...「Oleh karena itu, aku...」...
Kamu...apa ?
...「Tidak penting. Lebih baik kamu nikmati saja apa yang diberikan padamu」...
Tidak, aku hanya akan menggunakan kekuatan itu saat benar benar benar benar genting sekali dan aku benar-benar terjepit.
...「Terserah padamu」...
Setelah itu, Sistem tidak berkata apapun dan aku memilih untuk diam dan menikmati makan malam ku sambil mendengar ocehan Myles tentang latihan pedangnya.
Lalu, obrolan kami berubah ke soal Kerajaan Spade, "Aku benar-benar tidak percaya! Kukira Kerajaan kita akan tetap berperang melawan Kerajaan Spade meskipun ada rumor yang mengatakan bahwa Ratu Iblis sudah terlahir kembali!" seru Myles dengan semangat hingga beberapa air ludahnya terbang kesana kemari. Sebastian yang berada di belakang nya langsung berdeham dan Myles terlihat sangat malu dengan tindakannya.
Setelah meminta maaf padaku dan Nina yang juga di belakangku, dia melanjutkan, "Kamu tahu kan Kyle, jika salah satu anak pelayan dari kastil kita ada yang memiliki bakat sihir meramal? Meski sedikit samar, dia bilang padaku dan anak-anak lainnya bahwa Perang melawan iblis akan terjadi saat kita sudah berada di dalam Unity Academy! Coba apakah kamu percaya dengan itu?!" Myles bertanya padaku yang aku jawab dengan tenang, "Ramalan ya? Meskipun tidak sepenuhnya benar tetapi kupikir itu dapat terjadi. Nina, apakah kamu percaya dengan ramalan?"
Nina menggelengkan kepalanya, "Meskipun ramalan akan menjadi kebenaran ataupun tidak. Saya tidak terlalu percaya dengan hal semacam itu," jawabnya dengan singkat. Myles menganggukkan kepalanya dan bertanya pada Sebastian.
"Terlepas benar atau tidaknya suatu ramalan, saya pikir itu dapat membantu kita untuk terus melakukan yang terbaik setiap harinya agar tidak menyesal di kemudian hari," jawaban yang cukup bijak dari seorang Sebastian. Aku tidak heran dia dinamakan Sebastian si Kepala Pelayan.
Setelah itu, Myles tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebelum melanjutkan pembicaraannya. Pada akhirnya aku menanyakan hal sedari tadi kupikirkan.
"Kak, kakak sempat membicarakan Sekolah apapun itu... Sekolah apa itu kak? Unity Academy?" aku bertanya dengan ragu.
Wajah Myles yang biasanya senang menjadi sedikit muram, lalu dengan lesu dia menjawab, "Besok saja ya Kyle aku katakan padamu? Hari ini aku ingin tidur lebih awal.." Myles langsung menyelesaikan makanannya dan pergi begitu saja. Aku bertanya pada Sebastian dan Nina apakah aku salah mengatakan sesuatu dan jawaban dari mereka berdua adalah,
...****************...
Malamnya, tanpa sepengetahuan Nina, aku menyamar kembali menjadi Akai dan pergi menemui Raven yang sudah menungguku di depan suatu bar yang terlihat terpencil.
"Bahkan untuk mengetahui jika kamu sudah mati atau tidak, Josh Blackspade sengaja pergi ke Kota Heart untuk menemui ku. Kuharap apapun rencanamu tidak akan menyebabkan masalah besar, sebenarnya aku tidak ingin mengotori tanganku dengan darahnya," bisik Raven dengan kerutan di dahinya. Setelah itu dia melihatku dari atas kebawah sebelum tersenyum menyeringai, "Sebaiknya kita selesaikan urusan kita dengan Josh lebih cepat agar aku dapat berkencan denganmu," lanjutnya sambil mengelus lenganku.
Aku tersenyum menyeringai dan langsung menggenggam tangannya sehingga membuatnya terkejut, "Bersabarlah, aku akan pastikan waktu untukmu akan datang, oke?" melihatku yang balik menggodanya, dia akhirnya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dengan wajah memerah.
...〈 +35 Rasa Suka Raven 〉...
...〈 +34 Kepercayaan Raven 〉...
...notifikasi ini masih ada ?
Kami pun memasuki bar yang ternyata sepi dan hanya ada seorang pria yang sedang duduk sambil menegak botol minuman. Dia menoleh ke arah kami dan dahinya mengernyit seketika. Raven berusaha tersenyum dan berjalan menghampirinya, aku mengikutinya dari belakang.
Saat kami sudah berada di dekatnya, tercium bau alkohol dari tubuhnya. Dia dengan kesal mengatakan, "Red Eye? Aku tidak melihat kepala Pangeran di tanganmu... apakah kamu akan bilang jika kamu gagal lagi seperti pembunuh bodoh lainnya?!"
Aku cukup cepat untuk melihat kepalan tangan Raven semakin menguat, "Josh, sebelum itu...aku ingin memperkenalkan mu dengan salah satu rekanku bernama Akai."
Aku tersenyum pada Josh yang sepertinya baru saja menyadari keberadaan ku, "Akai? Hm, kamu memakai baju yang terlihat mahal, apakah kamu adalah bangsawan? Apa nama keluargamu?" tanyanya dengan mata yang mencoba menilai ku. Aku menyodorkan tanganku sebelum berkata, "Bagaimana jika..kamu menyebutkan dahulu namamu baru kamu menanyakan hal seperti itu?"
Dia mendengus keras dan mengambil tanganku sebelum memerasnya dengan sangat kuat, "Kamu tidak tahu?! Aku ini Josh Blackspadeㅡ"
"OHHHH!!!!" aku memotongnya dengan terkesiap seperti baru teringat sambilㅡ
...「Status」...
【 Nama: Josh Blackspade 】
【 Usia: 32 tahun 】
【 Gelar: Putra Adipati Blackspade 】
【 Nama Asli: ??? (Level belum mencukupi) 】
【 Level: 30 】
【 Okupasi: Wakil Walikota Blackspade 】
【 Ras: Manusia 】
【 Kekuatan: 51(C) / Potensi B 】
__ADS_1
【 Kesehatan: 50(C) / Potensi B 】
【 Kelincahan: 52(C) / Potensi B 】
【 Magis: 55(C)/ Potensi B 】
【 Perlawanan Magis: 56(C) / Potensi B 】
【 Pengetahuan: 31(D) / Potensi B 】
【 Keberuntungan: 51(C) / Potensi C 】– Spesial
【 Rasa Suka: 0 (Normal) 】
【 Kepercayaan: 0 (Normal) 】
【 Bakat 2/5 】 ▶
【 Skill 3/5 】 ▶
"ㅡOUCH, " rintihan Josh terdengar saat aku langsung balik menggenggam telapak tangannya lebih keras darinya. Aku tidak melepaskan tangannya setelah dia mencoba menariknya dariku. Dengan geram dia melototi ku sambil berteriak, "Beraninya kamu?! Lepaskan tanganku!! Akan kuㅡARGH!" genggaman tanganku lebih keras dan saat aku hampir menghancurkan tulang telapak tangannya aku langsung melepaskan genggamannya sehingga membuatnya terjatuh dan melihat ke arah tangannya yang memerah dan mungkin agak 'remuk'.
Dia menggeram dan sebelum sempat merapalkan sihir apinya, aku langsung mencekik lehernya dan mengangkatnya hingga wajahnya berada di hadapanku.
"Ohok...si...siapa..ohok..ka..kau?!" serunya dengan mata memerah dan tangannya mencoba melepaskan cekikan ku yang tentu saja tidak mungkin dia dapat lakukan.
Aku menyeringai lebar sambil berbisik, "Sudah kubilang aku ini Akai. Sepertinya kamu cukup mabuk? Bagaimana jika aku membuatmu kembali segar?"
Dia membelalakkan matanya dan berusaha menggelengkan kepalanya dengan cepat dan wajahnya yang sebelumnya sangat merah menjadi pucat pasi,
"Tidak...tidak...tidak...ohok... ampuni...ampuni saya,Tuan Akai...ohok....tuan...ampuni...ohok!" ketika cekikan ku semakin menguat dia langsung berusaha meminta maaf dan menggosok-gosokan tangannya ke arahku.
Aku langsung melemparnya duduk kembali ke kursi, bahkan dari ujung mataku, Raven terlihat bergidik dan memperhatikanku dengan pucat pasi.
"Ohok ohok ohok !!!" Josh mencoba menarik napas kuat disela batuk nya. Aku langsung duduk di hadapannya yang membuatnya sedikit meringkuk dariku, "Tidak perlu takut, aku hanya datang kesini untuk menawarkan sesuatu padamu..." ucapanku membuatnya mengerutkan dahinya namun dia langsung mengangguk-anggukkan kepalanya, "Baiklah! A..apapun akan ku terima! Ampuni aku...aku tidak ingin mati!" teriaknya memohon padaku.
"Katakan padaku, apa urusanmu dengan membunuh Pangeran bajingan itu?" aku bertanya dengan tenang namun tanganku bersandar di bahunya. Dia bergetar dan mencoba menjawab,
"Itu..itu...itu..karena...karena Pangeran bajingan itu sudah mempermalukan adikku...iya...karena dia sudah mempermalukan adikku di depan banyak orang...aku ingin membalasnya..."
Aku menganggukkan kepalaku dan berbisik, "Bagaimana jika Pangeran itu memintaku untuk membunuhmu disini sekarang?" Dia langsung berlutut di kakiku, "Tolong aku hanya melakukan apa yang dikatakan adikku! Bukan aku, bukan aku pelakunya! Adikku! Adikku yang ingin Pangeran bajingan itu mati! Iya, datangi saja adikku!"
Apa dia ini sakit jiwa atau memang bedebah? Baru saja bilang ingin melindungi martabat adiknya malah menyalahkan adiknya ketika nyawanya terancam...
Menggerutu dalam hati, akhirnya aku menepuk-nepuk pundaknya, "Tentu saja aku bercanda, kubilang aku ingin menawarkan sesuatu padamu. Kudengar kota Blackspade sedang membutuhkan donasi karena banyak hasil panen yang gagal?"
Dia langsung menganggukkan kepalanya dan menatapku dengan berbinar-binar, "Apakah tuan akan berdonasi pada kotaku?!"
Aku tersenyum lebar, "Tentu saja! Tapi dengan satu syarat." Josh dengan senang berdiri dan menganggukkan kepalanya.
"Apa itu syaratnya, Tuan?"
"Katakan pada adikmu untuk berhenti mengganggu Pangeran Bajingan itu hingga dia dapat bertemu dengannya di Unity Academy... hanya itu."
Dia terdiam tapi langsung menganggukkan kepalanya, "Tentu! Akan ku sampaikan pada adikku! Akan ku pastikan tidak akan ada yang mengganggu Pangeran bajingan itu sampai mereka bertemu di Unity Academy!"
Aku menganggukkan kepalaku dengan puas sebelum melempar tiga kantong kepingan emas dan perak. Dia langsung membelalakkan matanya dengan senang, "Itu bayaran pertamamu, aku akan terus berdonasi setiap bulannya...jika aku mendengar bahwa kotamu masih kesulitan...akan ku datangi lagi kamu."
Dia pucat pasi lagi sebelum menganggukkan kepalanya dengan kaku, "Ba..baik, Tuan! Terimakasih atas kemurahan hatimu, Tuan!" Dia menundukkan tubuhnya 90°.
Baiklah, aku sudah membereskan urusanku untuk saat ini...biarkan diriku yang di masa depan mengurus Amy dan yang lainnya.
Setelah pergi dari tempat itu, Raven terlihat ingin mengatakan sesuatu padaku dengan melakukan ritual ikan koi seperti Sharence namun segera mengurungkan niatnya sebelum kami pergi ke tempat masing-masing.
Apa aku tadi terlalu menyeramkan barusan ?
...****************...
Keesokan paginya, aku bersama dengan Myles pergi sarapan bersama dan akhirnya aku mendapatkan jawaban yang kutanyakan dari semalam.
"Begini Kyle, maksud dari sekolah itu adalah Sekolah Khusus Pelatihan Perang...setiap warga dari Kerajaan Heart diwajibkan untuk mengikuti sekolah itu saat usia mereka beranjak 9 tahun..." terang Myles dengan perlahan sebelum melanjutkan lagi, "Sekolah ini muncul karena Kerajaan kita perlu siap menghadapi pasukan dari Kerajaan Spade. Namun karena kita berhenti berperang dengan Kerajaan Spade kukira sekolah ini juga akan dihapus tapi sepertinya tidak..."
"Usia 9 tahun... berarti kakak sebentar lagi akan??" tanyaku yang dijawab dengan anggukan lesu.
"Benar sekali, adikku... Ahhh, aku tidak ingin melakukannya karena kita akan dilatih menjadi seperti tentara...itu akan sangat menakutkan dan membosankan," gerutunya.
Kenapa aku seperti pernah mendengar ini? Apakah ini semacam wajib militer ?
"... kira-kira berapa lama kita perlu melakukan itu, kak?"
Myles berpikir beberapa saat kemudian menjawab, "Hmm, untuk sekolah khusus laki-laki selama 5 tahun penuh sedangkan untuk sekolah khusus perempuan hanya 3 tahun saja."
"5....5 tahun penuh?!" aku terkesiap.
Myles mengangguk dengan serius.
.........
Lama sekali...
Apa aku harus menghapusnya?
ㅡtapi itu berarti aku akan menjilati ludahku sendiri...
Bermacam-macam ide terlintas di kepalaku sambil menggerutu.
5 tahun di sekolah khusus anak laki-laki ?
..aku punya firasat buruk tentang hal ini.
__ADS_1
......................
BERSAMBUNG..