
...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️ 』...
Previously :
DUK
KRAK
Terdengar suara ujung sepatuku yang menabrak samping kakinya, kemudian diikuti suara tulang yang retak sebelum terdengar teriakan "ARGH!" dari Ryder.
Ah, padahal aku hanya menuruti keinginannya untuk membuatku tersandung ?
...****************...
"Ada apa ini?!" tanya Pak Heinz sambil membetulkan kacamatanya menggunakan jari telunjuknya. Ryder sudah terjatuh dalam keadaan tersungkur ke depan kursinya, tepat dibawah kakiku, tangannya ia arahkan padaku yang sedang melihatnya sambil berdiri.
"Di-dia, Pak! Di-dia pelakunya, Pak! Dia melukai kaki saya, Pak!"
Kelas menjadi hening dan semuanya tengah memperhatikanku dan Ryderㅡ
GRAAKKK
Amy tiba-tiba berdiri dari kursinya dan menyahut, "Apa yang sudah kamu lakukan pada Tuan Ryder, Bajingan?!"
"Tidak boleh ada penggunaan kata-kata kasar di kelas saya! Nona Amy Blackspade, segera minta maaf pada Tuan Kyle. Lalu, kalian berdua! Apa yang sudah terjadi disini?!" suara berat Pak Heinz seketika membuat suasana di kelas semakin mengeruh. Amy kembali duduk sambil mendengus pelan dan menyilangkan kedua tangannya, "Maaf."
Aku mengangkat bahuku sesaat sambil menghadap ke arah Pak Heinz dengan berdiri tegap, agar suaraku terdengar percaya diri, "Dengan segala hormat Pak Heinz, saya sama sekali tidak melakukan apapun, selain hanya berjalan kembali menuju kursi saya."
"Dia bohong, Pak! Buktinya kaki saya seperti ini Pak! Dia sengaja melukai saya Pak! Argh!" sahut Ryder ditengah erangan kesakitannya seraya menaruh tangannya ke atas pergelangan kakinya.
"Pak Heinz!"
Terdengar suara dari seseorang yang duduk di samping Haylee, dia mengangkat tangannya dan semua perhatian mengarah padanya, "Saya melihat kejadiannya. Kyle sedang berjalan kembali menuju kursinya, namun Ryder tiba-tiba mengeluarkan kakinya dari bawah kursinya untuk menjegal kaki Kyle. Kaki Kyle tersandung tapiㅡaku tidak tahu bagaimanaㅡketika kaki Kyle menyentuh kaki Ryder, seketika kakinya Ryder hancur, Pak!"
Ohh, hebat sekali nona ini menjelaskan tentang runtutan kejadian tanpa membolak-balik kata kakiku dan kaki Ryderㅡseperti kaki kakakku kaku kaku kena paku.
Kenapa aku jadi teringat lagu A, I, U, E, O, Okashi shita. Ka, ki, ku, ke, konna ni mo. Sa, shi, su, se, sofutokuriimuㅡeh, kenapa aku jadi bernyanyi?? Ahahaha!
__ADS_1
...「Host」...
Ketika aku memfokuskan kepalaku kembali ke dalam kelas, Pak Heinz kini tengah memeriksa kaki Ryder dan menoleh ke arahku, "Apakah yang dikatakan Nona Clara itu benar, Tuan Kyle? Ryder berusaha membuatmu terjatuh namun dia malah terkena batunya sendiri??"
Aku menganggukkan kepalaku sedangkan wajah Ryder memerah padam sambil menggigiti bibirnya sendiri. Entah karena malu atau marah, atau keduanya.
"Tuan Ryder, jika ada masalah lagi seperti ini di dalam kelas. Saya tidak akan segan-segan untuk mengurangi poin anda. Sekarang, Kyle...bawa Ryder ke ruang medis," ucap Pak Heinz kembali berdiri. Aku menarik lengan Ryder dan menaruhnya di bahuku, dia menggeram sebelum berbisik, "Awas kau!"
"Awas jatuh," aku balik menjawabnya sambil membopongnya untuk berjalan keluar kelas, sekilas mataku menangkap Haylee sedang mengacungkan jempolnya ke arah temannya, Clara. Namunㅡ
GRAAKK
Kami semua menoleh ke arah kursi yang terdorong, terlihat Sharence berdiri dari kursinya. Dia menghampiriku dan mendorongku pelan ke arah kursinya, seperti memintaku untuk mendudukkan Ryder.
"Ada apa, Nona Sharence?" tanya Pak Heinz. Aku membopong Ryder untuk duduk di kursi Sharence ketika ia menjawab, "Pak Heinz, biarkan saja saya yang mengobati lukanya. Dia mengalami keretakan pada tulang baji pertama hingga tulang dadunya. Jika dia dibawa turun melalui tangga ke ruang medis. Rasa sakitnya akan semakin parah."
Apa tidak ada yang akan menanyakan mengapa ia bisa luka separah itu hanya karena aku tendang? Menjadi orang yang diabaikan benar-benar menyenangkan!
"Benarkah? Kalau begitu, akan saya serahkan padamu," balas Pak Heinz terdengar sedikit panik sambil mempersilakan Sharence. Ryder langsung tersenyum lebar, sesaat sebelum ia mencoba menutupi ekspresi senangnya.
Tentu saja, dia sudah berubah.
Melihatnya menggunakan sihir Light Magic tingkat menengah untuk menyembuhkan kaki Ryder lebih cepat dari yang kudugaㅡ
Terdengar semua orang, termasuk Ryder dan kecuali Ellen, menarik napas mereka karena begitu terkesima melihat sihir penyembuhan Sharence yang terbilang sempurna. Beberapa saat kemudian, Ryder sudah kembali berdiri dan berjalan seperti biasa.
"Terimakasih banyak, Sharence!" ucapnya dengan wajah bahagia. Terdengar suara gertakan gigi dari arah meja Amy di sudut sana. Sharence hanya mengangguk singkat dan membiarkan Ryder kembali ke kursinya, sebelum ia kembali duduk ke atas kursi miliknya. Akhirnya, mata rubinnya menatap ke arahku sebelum ia bertanya dengan suara datar mirip Nina, "Ada apa, Kyle? Kamu juga terluka? Jika tidak, tolong jangan berdiri disini. Kamu menggangguku."
Whoaaa, apa ini gap moe atau bagaimana? Kenapa Sharence yang manis, imut dan lucu ini berubah jauh seperti ini??
Aku berdeham kecil sambil mengusap-usap tengkuk leherku dengan canggung sebelum pergi kembali menuju kursiku, "Kamu benar juga...maafkan aku."
"Baiklah, kelas kembali dimulai..." ucap Pak Heinz, suaranya terdengar lelah. Setelah memeriksa bahwa semua murid sudah mengumpulkan seluruh kertas selebaran sebelumnya, Pak Heinz kembali melanjutkan untuk menerangkan akumulasi poin penilaian sebagai bentuk penentuan ranking.
Setiap tahunnya, murid akan mendapatkan poin sebesar 100 poin dan poin tersebut dapat berkurang maupun bertambah, tergantung dengan tindakan serta aktivitas keseharian murid dalam menjalani waktunya di dalam Akademi.
__ADS_1
Jika murid kehabisan poin hingga mencapai nilai minus, maka murid tersebut akan mendapatkan sanksi untuk mengulang tahun ajaran dan jika terjadi selama dua kali, maka Akademi akan mengeluarkannya. Hal ini dikarenakan, nilai poin minus hanya diberikan jika murid tersebut melakukan pelanggaran.
"Jika kejadian seperti sebelumnya terjadi lagi...saya akan langsung mengurangi poin orang-orang yang mencari dan membuat masalah sehingga mengganggu pelajaran. Karena hari ini adalah hari pertama..akan saya beri kelonggaran. Saya anggap, kalian mengerti maksud saya, Mengerti?"
""Mengerti, Pak.""
Semuanya menjawab dengan serentak, entah menjawabnya menggunakan hati atau tidak.
Chae Rin, apakah poinku yang sebanyak 9999 lebih itu bisa dikonversi ke poin akademi ini?
...「Tentu sajaㅡtidak, bodoh. Poin yang kuberikan padamu itu, khusus hanya untuk sistem ini. Poin Akademi adalah poin yang ada di dalam dunia ini tanpa mengetahui ada bentuk nilai poin dari sistem ini」...
Oh.
Beberapa saat berlalu, terdengar suara bel berdering dan Pak Heinz menepuk pelan telapak tangannya, "Baiklah. Sekarang adalah waktunya untuk mengikuti jadwal yang kalian isi. Silahkan keluar dari ruangan ini secara tertib sambil menerima kartu tanda siswa akademi ini. Di dalamnya, kalian dapat melihat jadwal yang sudah kalian pilih sebelumnya, jadwalnya secara otomatis dapat berganti sesuai dengan waktunya. Ayo, sebaiknya kalian bergegas."
Dimulai dari absen pertama, Ellen yang mengambil kartu sebesar telapak tangan bayi, kami satu-persatu keluar dari ruangan setelah menerima kartu dari Pak Heinz.
Sebagai orang terakhir dalam absen dan tentu saja dalam menerima kartu, hanya ada aku dan Pak Heinz saja yang kini ada di dalam kelas. Sebelum aku menerima kartuku dari tangannya, Pak Heinz menatapku sesaat dan membuka mulutnya, "Tuan Kyle... sepertinya anda memiliki jadwal yang bertabrakan."
"Hah?!"
Apa?? Bukannya aku sudah memeriksanya tadi? Aku mengambil kartu itu dari tangan Pak Heinz dan melihatnya...
...〔 Kyle Heart 〕...
...〔 Kelas Elit A - 11 〕...
...〔 Poin : 100 〕...
...〔 Jadwal saat ini yang wajib dihadiri : Ketahanan Fisik dan Histori Cyrus 〕...
Oh, yang benar saja ???
......................
BERSAMBUNG..
__ADS_1